
"Iwabe, ah syukurlah."
"Kenapa? Ban mobilmu kempes ya?" Iwabe menutup pintu mobil dan mendatangi keduanya.
"Iya. Parah banget. Pasti kalau di bengkel, akan lama, sedang kita harus buru-buru ketemu klien karena kliennya juga mau ketemu orang lain lagi di tempat lain. Aku sudah panggil orang bengkel untuk derek aja, setelah itu mau pesan taksi untuk ke sana."
"Masih lama orang bengkelnya?" tanya Iwabe lagi.
Terdengar suara klakson yang membuat ketiganya menoleh.
"Pak, mobilnya," sahut Lia.
Pria itu segera masuk ke dalam mobilnya dan menepikan karena sudah berderet mobil yang mengantri di belakang mobil itu.
"Jadi bagaimana?" tanya pria itu yang kembali mendatangi Nasti dan Lia.
"Aku tidak tahu berapa lama aku harus menunggu orang bengkel itu datang karena tadi waktu dicek mereka sudah di jalan, katanya," Nasti sedikit khawatir.
"Oh, kalau begitu, pakai saja mobilku. Biar aku tunggui orang bengkelnya." Iwabe menyerahkan kunci mobilnya pada wanita berjilbab kuning itu.
"Eh, tapi nanti kamu bagaimana?" Sambil menerima kunci mobil mewah Iwabe, Nasti mengerut kening, sedikit bingung dengan maksud pria ini.
"Oh, kalau aku sih tidak apa-apa. Aku cuma iseng keluar, tidak ingin pergi ke mana-mana jadi pakai saja mobilnya. Aku akan tunggui mobil ini sampai diderek dan ya, aku nongkrong di sini saja. Kalau sudah selesai bertemu kliennya, tolong jemput aku lagi di sini."
"Yang bener nih, Iwabe?" tanya Nasti memastikan.
"Iya, aku tunggu terus di sini, ok? Kalau tidak ada aku di sini berarti aku ada di ...." Iwabe melihat ke seberang jalan. "Warung itu." Ia menunjuk warteg yang ada di seberang jalan. "Ok?"
"Ok, makasih." Nasti menyentuh lengan pria itu. "Kuncinya ada di dalam mobil ya?"
"Ok."
Nasti dan Lia pun meninggalkan pria itu dan membawa mobilnya.
"Keren sih, kalau ikut sama Mbak Nasti. Pangerannya selalu datang menolong dan rela berkorban, bahkan meminjamkan mobil mewah yang sedang dipakainya untuk tugas ibu negara," ucap Lia yang terlihat bangga.
"Ah, kamu ada-ada saja," sahut wanita berjilbab itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lia terkekeh.
__ADS_1
--------+++-----------
Menjelang makan siang, Nasti menjemput Iwabe di warung itu. Ia turun dan mencari pria itu di dalam warung tenda pinggir jalan. "Lama ya?"
"Oh, tidak. Aku sedang mengobrol dengan bapak ini." Iwabe menunjuk seorang pria yang ternyata adalah suami pemilik warung pinggir jalan itu.
Beberapa orang sudah datang hendak makan siang di sana.
"Kau mau makan di mana?" tanya Nasti pada pria itu.
"Oh, aku ada permintaan. Aku ingin makan di rumahmu."
"Rumahku?"
"Iya. Aku ingin makan bareng Bian dan ibu." Iwabe rindu suasana rumah di mana ia tidak bisa mendapatkannya di rumah sendiri. Sikap ibunya yang semakin banyak mengatur di rumah dan di tempat kerja membuat ia tidak bisa bernapas.
Padahal sebenarnya ini berhubungan dengan Iwabe yang telah memutuskan untuk berpacaran dengan Nasti. Saat itulah Maiko mulai 'memasang pagar' di sekeliling Iwabe, membuat pria itu kini merasa gerak-geriknya diatur dan dibatasi.
"Gak nyesel nanti, menunya apa adanya lho!" tanya wanita itu memastikan.
"Gampang, nanti tinggal pesan aja, delivery(pengiriman)."
"Ok, tapi nanti drop-in(menurunkan) Lia dulu di kantor ya?"
Mobil kemudian mengantar Lia ke kantor dan lalu ke rumah Nasti. Ada satu hal yang mengejutkan di sana, ada mobil Gerald parkir di depan rumah Nasti.
"Ada Gerald sepertinya," sahut Iwabe.
"Mmh." Nasti memarkir mobil pria itu di belakang mobil Gerald.
Kemudian keduanya masuk karena pintu terbuka. Nasti cukup terkejut melihat Bian bisa akrab dengan Gerald. Bocah itu tengah main sebuah mainan merangkai balok bersama pria bule itu.
"Mama?" Bian terkejut akan kedatangan Nasti. Terlebih ada Iwabe ikut datang bersama ibunya. "Om!" Bocah itu berlari menghampiri Iwabe dan menengadah menatap pria Jepang itu sambil menarik-narik celana pria itu. Ia mengangkat kedua tangannya sambil melompat-lompat. "Gendong."
Iwabe tertawa lepas. "Iya, iya." Pria itu menggendongnya. Memang ini kejutan karena Iwabe datang tidak di jam biasa. Terlebih kemarin mereka tidak bertemu karena Iwabe sakit. Bian ternyata sangat rindu pada Iwabe.
"Oh!"
Bian memeluk leher pria itu kencang. Saat itu, Gerald sangat iri pada Iwabe, tapi mau bagaimana? Ia kalah start(memulai). Kemajuannya hingga sampai sekarang bisa dekat dengan Bian saja patut disyukur, tapi sampai disayangi seperti pria Jepang itu memang butuh waktu.
__ADS_1
"Dari jam berapa kamu ke sini Gerald?" tanya Nasti heran.
"Sejak Bian sakit, dia setiap hari ke sini," sahut ibu yang datang kemudian.
"Oya," jawab Nasti. "Tapi kenapa ibu gak bilang?"
"Ibu lupa, setiap mau bilang kamu. Lagipula kamu sering terburu-buru jadi ibu tak sempat bilang."
"Ibu, aku dan Iwabe mau makan siang di sini, Bu."
Pria bule itu kaget. "Oh, aku juga ingin makan siang di sini. Boleh 'kan?" sela Gerald.
"Lho, tadi katanya mau ketemu dengan klien jadi mau buru-buru pulang," tanya ibu.
Nasti dan Iwabe kini menatap Gerald.
"Aku berubah pikiran karena kita ramai di sini. Boleh 'kan? Ada banyak orang yang bisa aku ajak bicara."
Semuanya terdiam. Iwabe berdehem sebentar. "Boleh saja. Bagaimana dengan yang lain?"
Melihat Iwabe tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan, Nasti dan Ibu akhirnya mengizinkan Gerald untuk makan siang bersama.
Gerald begitu senang. Ia sebenarnya ingin tahu perkembangan hubungan Nasti dengan Iwabe, karena itu ia ingin ikut makan bersama, walaupun nantinya akan banyak pemandangan yang tidak menyenangkan tapi ia berharap ia salah. "Jangan khawatir, kalian aku traktir. Biar aku memesan makanan tambahan." Pria itu kemudian sibuk memesan makanan.
Nasti membantu ibu di meja makan sedang Iwabe diajak Bian menemaninya main menyusun balok yang berada di atas meja. Iwabe mengajaknya main di lantai agar leluasa. Pada akhirnya Gerald hanya menonton Iwabe bermain dengan bocah itu karena ia menunggu makanan delivery datang.
Kemudian saat makan, formasi duduk menjadi masalah tapi Gerald terpaksa mengalah. Iwabe di samping kiri Nasti dan di samping kanan wanita itu adalah Bian. Setelah Bian barulah Gerald duduk. Ibu di samping Iwabe.
Mereka tadinya menikmati makan siang sampai Iwabe menyinggung sesuatu. "Eh, menurut ibu, Nasti sebaiknya menikah pakai adat apa, Bu?"
"Mmh, sudah ada niat ke situ toh? Mmh, ibu terserah pengantinnya saja. Mau pakai adat apa saja terserah. Mau pakai ada Jawa, bisa. Adat Jepang, boleh. Atau pakaian yang konvensional saja, memakai kebaya dan jas. Terserah saja, ibu tidak masalah."
"Wah, kebaya dan jas boleh, juga Nasti. Gimana menurutmu?" Iwabe menoleh ke arah Nasti tapi juga melirik Gerald sekilas. Ia sengaja ingin tahu reaksi Gerald bila mereka akan menikah dan terlihat sekali pria itu menahan kemarahannya agar tak diketahui tapi Iwabe bisa melihatnya.
"Mmh, apa ya? Adat-adat itu agak rumit kalau buru-buru."
"Iya 'kan, yang lebih praktis memang kebaya dan jas dan tempatnya sederhana saja. Seperti di taman bunga, atau di rumah ini kita nikahnya."
"Mmh, boleh juga, tapi memang ibumu ...."
__ADS_1
"Ibu akan menyerahkan perusahaannya 2 tahun lagi padaku, jadi ibu berusaha mengejar target membangun pabrik."
"Mmh," sahut ibu Nasti.