Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Orang Tua


__ADS_3

"Kalau saya serius, Pak sama Nasti. Malah ingin ke tahap selanjutnya, tapi Nastinya ragu-ragu," terang Iwabe pada Ayah Nasti.


Pria itu masih memangku Bian. Bocah itu asyik memainkan jemari pria itu.


"Tolong, Pak. Bujuk dia."


Ayah Nasti hanya senyum di kulum.


"Ih, macam-macam saja," sela Nasti.


"Lho, biasanya kalau perempuan, ingin cepat dilamar. Ini dilamar malah gak mau. Kamu serius gak sih, sama aku."


Nasti melirik Iwabe dan ayah bergantian. "Udah, ah! Aku bilang, pikir-pikir dulu."


"Apa yang kamu pikirkan?"


Nasti kembali melirik keduanya.


"Nasti, apa yang kamu pikirkan? Kamu trauma?" tanya ayah.


"Aku ingin hati-hati aja, Yah."


"Ya sudah, tapi jangan terlalu lama. Kasihan, Nak Iwabenya."


"Iya, Yah."


Tak lama Iwabe pamit. Ternyata Bian sibuk bersandar dan bermanja-manja di pangkuan pria itu. Saat coba digendong Nasti, ia menolak. Nasti terpaksa menggendong paksa membuat bocah itu menangis.


"Eh, kita bukannya mau menginap di rumah nenek?" tanya Nasti pada Bian tapi bocah itu tak mau dengarkan.


Bocah itu menangis memanggil Iwabe. "Om, ikuttt ...." Ia mengulurkan tangannya pada pria itu.


Iwabe tersenyum melihatnya.


Apalagi ayah Nasti karena bocah itu biasanya hanya lengket pada Nasti, ibu dan juga dirinya. Baru kali ini bocah itu menginginkan orang lain. Bian bahkan tak dekat dengan ayahnya sendiri.


"Tumben," celetuk ayah.


"Eh, Omnya mau pulang dulu," ucap Nasti pada anaknya.


"Ikuttt," tangis bocah itu pada Iwabe.


"Mungkin dia tahu kalau sabtu-minggu waktunya untuk bermain dan jalan-jalan dengan orang terdekatnya, karena itu dia ingin pergi dengan Iwabe," terang ibu.


"Tapi kami belum pernah pergi secara khusus dengan Iwabe," sahut Nasti.


"Ada kok. Kemarin. Sama naik bianglala." Pria itu mengingatkan.


"Yang pasti, dia butuh figur seorang ayah," lanjut ibu.


Nasti terdiam.


"Jangan nangis. Nanti Om balik lagi ya?" bujuk pria itu.

__ADS_1


"Ngak mau. Ikutt." Bocah itu masih menangis. Wajah putihnya mulai memerah.


Iwabe tak tega. Ia kemudian mengambil Bian dari tangan Nasti. Saat itulah tangis bocah itu berhenti. Ia memeluk erat pria itu seperti takut kehilangan.


"Kenapa sih kamu jadi manja begini?" keluh Nasti seraya merapikan baju bocah itu dari belakang.


Iwabe hanya tersenyum lebar. "Jadi gimana nih?" Ia menatap ke arah wanita itu.


Nasti mengangkat bahu. "Sebenarnya kamu tadi pergi saja juga gak apa-apa. Di sini nanti bisa dibujuk sama ibu atau aku."


"Kasihan."


"Kamu sih, gak tegaan," protes Nasti.


"Ya, tapi ... kalau kita bisa, kenapa tidak?"


"Ya, tapi jadi merepotkan kamu jadinya."


"Ya, sudahlah. Namanya juga anak kecil."


"Kamu gak dengerin sih kalau aku ngomong."


"Nasti ...."


Ibu dan ayah hanya tersenyum melihat keduanya bertengkar.


"Kalian sudah cocok jadi orang tuanya Bian, apalagi," ledek ayah.


"Ayah nih." Nasti cemberut sedang pria Jepang itu hanya tersenyum kecil.


Keduanya pamit pada orang tua Nasti dan keluar menuju mobil Iwabe. Setelah menaiki mobil, mobil bergerak ke jalan raya. Iwabe memberi tahu arah rumahnya hingga mereka sampai di sana.


Keduanya tidak sadar bahwa mobil Gerald mengikuti mereka dari belakang. Pria bule itu berhenti tidak jauh dari rumah itu.


Ia kemudian menelepon seseorang. "Aku ingin kau membuntuti seseorang. Seorang pria keturunan Jepang. Alamatnya akan aku kirim setelah ini." Ia menutup teleponnya.


Pria itu tersenyum miring. "Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja setelah mempermainkanku, heh? Jangan harap! Semua orang yang berani mempermainkan Gerald Liman akan mendapatkan ganjarannya. Lihat saja nanti. Huh!" Pria itu memukul stir mobil dengan geram.


------------+++-----------


Ibu Iwabe terkejut mendapati ketiganya datang. Apalagi Bian yang berambut pirang dan berwajah Eropa. "Ini anak siapa, Be?"


"Anak Nasti, Bu." Pria itu melirik pada Bian. "Ayo, salam sama Nenek."


"Nenek? Nenek Bian ada banyak?" Bocah yang sudah berhenti menangis itu terlihat bingung.


"Bukan. Ibu Mama dipanggil nenek. Kalau ibu Om juga dipanggil nenek sama kamu."


Bian menoleh pada ibu pria itu. Iwabe menyodorkan tangan Bian pada Ibu untuk bersalaman.


Ibu menyambut tangan bocah itu dengan melongo. "Mantan suaminya ...."


"Oh, iya, Bu."

__ADS_1


Ibu memperhatikan Bian dengan teliti dan menoleh pada Nasti. Wanita itu menganggukkan kepala dengan sopan.


Dua orang pembantu rumah itu masuk dengan membawa beberapa dus dan koper.


"Oh, tolong bawa langsung ke kamarku ya?" pinta pria itu.


"Abe," panggil ibu dengan setengah berbisik dan mendekatkan wajahnya pada pria itu.


"Iya?"


"Kau pindah kemari?"


"Iya, Bu. Ibu suka 'kan?"


"Lalu perempuan temanmu ini, kenapa dia ikut denganmu kemari?"


"Oh, dia sudah jadi pacarku sekarang, Bu."


"Apa?" ucap wanita paruh baya itu dengan masih berbisik. Ia hampir tak percaya mendengar ucapan Iwabe barusan.


Bersamaan dengan itu, ayah datang dan bergabung dengan mereka. "Oh, apa aku ketinggalan sesuatu? Oh, anak siapa ini?"


"Anak Nasti." Ibu dan Iwabe berucap berbarengan.


"Oh!" ayah terkejut. "Anak ini anak temanmu ini?"


"Dia pacarku."


"Dia pacarnya." Ibu dan Iwabe berbarengan menyebut status Nasti, sedang Nasti sendiri merasa tidak nyaman tapi ia mulai terbiasa.


Sepanjang hidupnya setelah berpisah dari Gerald ia banyak jadi buah bibir orang. Statusnya yang janda juga anaknya yang punya warna kulit berbeda dengan dirinya sering menjadi bahan pembicaraan yang kadang terdengar menyakitkan.


"Apa?" Ayah baru saja akan menyentuh bocah itu tapi kemudian urung. Ia menoleh pada istrinya. Terlihat sekali wajah tidak suka ibu Iwabe yang diperlihatkan pada suaminya.


Iwabe bisa melihat tanda-tanda ketidaknyamanan bagi semua yang hadir di sana sehingga ia bertindak cepat. "Eh, Bu. Aku pamit dulu ya? Mau jalan-jalan dulu sama pacarku. Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam. Eh, Abe. Ibu mau bicara sebentar sama kamu."


"Nanti saja, Bu. Nanti malam 'kan aku pulang." Iwabe melangkah keluar dengan masih menggendong Bian.


"Abe!" teriak ibu pada anak semata wayangnya itu, tapi Iwabe tak lagi menjawabnya.


Nasti mengikuti pria itu setelah memberi anggukkan kepala pada kedua orang tua pria itu. Ia bergegas mengejar Iwabe.


"Iwabe, aku 'kan sudah bilang ...."


"Jangan bahas itu sekarang, Nasti. Sekarang kita pergi saja ke Mall."


"Iwabe." Nasti berhenti melangkah dan menunduk.


Pria itu melihat dan menghampirinya. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja. Kalau kau ingin bicara, kita bicara di mobil saja."


Nasti mengangkat kepalanya dan melihat pria itu dengan wajah serius mengangguk padanya. Wanita itu akhirnya melangkah ke arah mobil bersama Iwabe.

__ADS_1


Gerald melihat mobil Iwabe yang keluar dari rumah itu. Buru-buru ia menelepon. "Eh, kita pindah tempat. Tempat yang baru akan aku beri tahu nanti." Ia menutup teleponnya. Setelah mobil Iwabe berbelok ke arah berbeda, Gerald mengikutinya.


__ADS_2