Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Hilang


__ADS_3

Iwabe masih sempat mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum membuka pintu.


Udara malam tak terlampau dingin dan sinar rembulan juga cukup untuk menerangi pemandangan di tempat parkir di depannya. Tak ada yang aneh di sana.


Pria itu masih menggenggam senter dan berusaha berjalan mengelilingi daerah itu tapi tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ia sengaja tak menyalakan senter agar tidak menarik perhatian dan membuat mereka yang ingin berbuat jahat, kabur seketika.


Pria itu kemudian berpindah ke gedung serba guna. Ia mencoba membuka pintu dan terkejut karena pintu itu tidak terkunci. Ia melihat seseorang di dapur. Dengan mengendap-ngendap dan bersembunyi, ia mendatangi tempat itu. Segera ia menyalakan senter dan menyoroti orang itu. "Nasti?" Ia terkejut.


"Eh, Pak?" Wanita itu sama terkejutnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?!!" hardik pria itu.


"A-aku mencari anakku, Pak. Anakku hilang. Dia pasti sedang main keluar saat aku tidur, karena di rumah juga sering begitu." Wanita itu terlihat ketakutan. "Maafkan aku, Pak. Aku biasanya mencarinya sendiri tanpa mengganggu orang lain yang sedang tidur. Maaf mengganggu tidur Bapak."


Iwabe menghela napas pelan. "Ok, sekarang kita cari di mana?" Nada suara Iwabe mulai melunak.


"Ba! Mama, aku di sini!" Bian keluar dari pintu belakang dengan senyum lebar.


"Bian!" Nasti segera menarik bocah itu dan mencubit tangannya.


"Mamaaaa ...." Bocah itu langsung menangis.


Nasti langsung menggendongnya. "Mama sudah bilang jangan ke mana-mana, sudah malam! Kamu masih juga main ke mana-mana!" Wanita itu sendiri saat memarahi anaknya, matanya berkaca-kaca. "Mama 'kan takut kamu Kenapa-kenapa."


Karena dimarahi, Bian menangis kencang. "Maamaaaa!"


Iwabe menggaruk-garuk kepalanya melihat situasi ini, tapi kemudian ia melihat ke arah pintu belakang. Aneh, kenapa bocah itu bisa keluar dari pintu itu karena pintu itu seharusnya sudah terkunci. Bian mungkin bisa membuka pintu itu tapi dengan berjinjit, dan untuk membuka kunci pintu, rasanya tak mungkin. "Apa Bian bisa membuka kunci pintu?"


"Eh, tidak, Pak. Aku yang lupa mengunci pintu kamarku."


Benarkan dugaanku. "Mmh." Iwabe membuka pintu itu dan melihat ke luar. Tidak ada apapun di belakang kecuali tempat sampah. Iwabe kemudian mengunci pintu itu. "Ayo kita keluar."


Sambil melangkah ke pintu depan ia berpikir. Setahunya, gedung serba guna itu dikunci bila sudah jam 11 malam, tapi kenapa petugas tidak menguncinya bahkan sampai pintu belakang. Pantas saja Bian bisa masuk ke dalam gedung itu.


Tangis bocah itu sudah mulai mereda. Ia bersandar pada bahu ibunya sambil menyelesaikan isak. "Mama."


Nasti hanya diam tak bicara.


"Bian itu umur berapa sebenarnya?"


"2 tahun," jawab Nasti pelan.


"2 tahun, tinggi juga badannya ya? Bicaranya juga sudah lancar."


"Tapi perbendaharaan katanya tidak banyak. Banyak yang terkecoh dipikir dia anak umur 3-4 tahun karena dia tidak cadel dan tubuhnya tinggi. Padahal kalau diajak bicara masih belum banyak yang dia mengerti."

__ADS_1


"Mmh." Iwabe mengusap punggung bocah itu. "Sebaiknya kau harus lebih waspada karena anakmu bisa saja hilang keluar dari mess ini. Jangan lupa mengunci pintu kamarmu sebelum tidur."


"Iya, Pak maaf."


Mereka sampai ke pintu depan dan keluar. Iwabe mengunci pintu itu dan mengantongi kuncinya.


-----------------+++------------


Seperti hari kemarin, setelah mengantar Bian ke rumah orang tua Nasti, bus sampai juga ke perparkiran kantor.


Walaupun Nasti sangat berterima kasih dengan bantuan Iwabe, ia berusaha menjaga jarak dengan pria itu, berusaha profesional agar tidak mempermalukan pria itu lagi di hadapan pegawai yang lainnya.


Iwabe bisa merasakan perubahan itu. Entah kenapa, ia lebih suka Nasti yang sebelumnya.


"Mbak Nas, ayo meeting," panggil Lia.


"Lagi?"


"Ngak tau tuh, GM baru mau bikin perubahan, kali."


"Masa?"


"Udah, yuk!"


Meeting dibuka dengan pembahasan produk dan penjualan. Ternyata, GM yang baru menginginkan target penjualan dinaikkan. Banyak yang protes karena target yang diminta di atas 15 persen dari biasanya.


"Ya, tapi naiknya gak sebanyak itu, Bu. Itu tidak mungkin. Kita juga gak bakal dapat bonus kalau begitu dari perusahaan," ucap Ulfa, seorang marketing supervisor lainnya.


"Belum dicoba kok sudah menyerah? Marketing itu adalah tonggak penjualan. Kalau marketing bisa memperbaiki kinerjanya, bukan tidak mungkin, seluruh perusahaan akan ikut sejahtera."


Nasti ikut bicara. "Itu betul, tapi pada dasarnya kita bisa saja menaikkan penjualan setinggi langit asal peluang ada. Yang aku lihat dari angka pertumbuhan sebelumnya, kenaikkan penjualan itu tidak lebih dari 2 persen, jadi alangkah baiknya kenaikan itu dilihat dari angka pertumbuhan penjualan sebelumnya."


"Betul," jawab Aldi, marketing supervisor yang lain. "Sebelumnya juga kita melakukan pertimbangan ini sebelum mengeluarkan angka target penjualan berikutnya. Apa tidak sebaiknya Ibu Sarah mempertimbangkan ini juga?"


"Kita tidak usah mengikuti gaya lama yang akan membuat perusahaan tidak berkembang. Coba, kerjakan dulu sebelum berkomentar." Sarah tetap pada pendiriannya.


Pada akhirnya, meeting berakhir dengan pendapat Sarah yang tak terbantahkan. Banyak pegawai yang kecewa dengan keputusan itu.


"Uh, tau begitu, aku ngak ikutan meeting dari awal," gerutu Ulfa yang juga berjilbab seperti Nasti.


"Mmh, ya sudah lah. Kita coba saja peruntungannya. Mudah-mudahan saja ada rejeki," ujar Nasti mencoba berpikir positif.


"Ya, enggaklah, Mbak kalau sebanyak itu. Mana mungkin, kecuali kita punya suami orang kaya yang bisa borong semua produk di gudang pabrik, barulah kita bisa bermimpi dapat bonus."


Ucapan Ulfa disambut tawa oleh Lia.

__ADS_1


"Eh, Mbak Nasti katanya sudah cerai ya? Janda?" ujar Ulfa sedikit berbisik.


"Ya begitulah."


"Anaknya masih kecil satu, ada di mess tuh!" sela Lia.


"Iya? Bisa gitu, Mbak bawa anak ke mess? Kalau kerja dititipin ke siapa?"


"Oh, rumah orang tuanya dekat ternyata, jadi dibantu sama Pak Iwabe antar jemput anaknya sekalian naik bus."


"Wah, enaknya ... tapi memang Pak Iwabe orangnya baik kok, walaupun tegas dan disiplin. Banyak tuh yang naksir sama dia tapi seleranya tinggi kelihatannya. Pinginnya dapat cewek cantik. Biasalah, orang ganteng selalu begitu."


Ketiganya tertawa.


"Tapi Mbak Nas suka 'kan dibaikin sama Pak Iwabe?" ledek Lia.


"Apaan sih!" jawab wanita itu merah padam.


"Ya ... Mbak. Aku aja pengen, Mbak tapi gak pernah kesampaian." Lia tertawa.


"Aku tuh udah tua, pikiranku sudah fokus sama anak saja."


"Kata siapa? Baru juga tiga puluh. Pak Iwabe juga paling 2 tahun di bawah, Mbak. Lagian, Mbak juga keren punya anak bule."


"Bule? Beneran?" Ulfa ikut nimbrung. "Mantan suaminya bule ya?"


"Eh, yang bener?" Pegawai yang lain juga ikut mendatangi meja Nasti. Bahkan seluruh karyawan yang berada di dekat situ ingin tahu. Wajah Nasti memerah karena malu.


____________________________________________


Halo reader, masih semangat baca 'kan? Jangan lupa penyemangat author, vote, like, komen, atau hadiah biar seneng. Ini visual Nasti yang bekerja di kantor. Salam, ingflora 💋



Yuk, intip novel author yang satu ini.


Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO


Author: SyaSyi


Clara Wilson dan Elena Gloria adalah dua wanita yang berbeda, tetapi memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sangat mirip. Mereka seperti kembar. Namun, mereka memiliki sifat yang berbeda. Clara memiliki sifat angkuh, sedangkan Elena memiliki sifat ramah dan lembut.


Demi sebuah karier, Clara rela memutuskan hubungan dengan Alexander Dimitri. Pria yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. Bahkan dua bulan lagi mereka berencana menikah, dan sudah bertunangan. Pertemuan Alexander dengan Elena merubah segalanya. Alexander menjadikan Elena sebagai wanita pengganti, kekasihnya yang telah pergi meninggalkan dirinya.


Akankah Alexander jatuh cinta dengan Elena, wanita sang pengganti? Bagaimana kisah selanjutnya hubungan mereka? Apa reaksi Clara saat dirinya mengetahui sosok pengganti dirinya?

__ADS_1



__ADS_2