
Nasti gelisah. Sudah sekitar setengah jam menunggu, Iwabe tak kunjung datang. Begitu pun penumpang yang lain yang berada di dalam bus itu. Para buruh pabrik telah pulang satu setengah jam yang lalu hingga harusnya pria itu ada di dalam bus menunggu penumpang datang.
"Pak Iwabe ke mana sih?" tanya Lia bingung.
Nasti menggeleng. "Aku tidak tahu. Telepon saja."
"Aku tidak tahu nomor teleponnya."
"Aku juga tidak."
"Aku tahu." Seorang pria yang duduk di belakang Lia menyahut. Ia mengeluarkan HP-nya. Pria itu mencoba menelepon tapi tak ada jawaban. "Ngak diangkat. Ke mana ya dia?"
"Yuk, kita cari, yuk!" ajak Lia.
"Ke mana?"
"Ke pabrik dulu. Mungkin dia lagi ada kerjaan di sana, mungkin," sahut Nasti.
Nasti dan Lia beranjak berdiri tapi pria itu tidak.
"Refan! Ayo, ikut," ajak Lia lagi.
"Untuk apa? Kalian berdua 'kan cukup."
"Ikut saja. Feeling-ku gak enak. Takut terjadi apa-apa sama dia di sana. Biasanya 'kan dia gak begini," pinta Nasti.
"Tuh! Ayo Fan, bantuin kita-kita," bujuk Lia.
Pria itu dengan malasnya berdiri. "Ck, iya ... iya."
Mereka memasuki pabrik dan memeriksanya di dalam. Nasti dan Lia masuk ke bagian pengolahan dan Refan ke bagian pengiriman.
"Sepi, tidak ada siapa-siapa," sahut Lia melihat sekeliling. "Sudah, kita cari tempat lain saja. Ke mana sih, Pak Iwabe?"
Nasti sebenarnya enggan keluar dari situ. Ia melirik ruang pendingin. "Itu apa?"
"Itu ruang pendingin. Semacam lemari es. Yuk ah, kita keluar saja."
Sebelum keluar, mereka bertemu Refan yang masuk ke tempat itu.
"Ini ada HP-nya, orangnya mana?" Pria itu memperlihatkan HP Iwabe yang ia temukan di ruang pengiriman.
Nasti segera menoleh ke arah ruang pendingin itu dan menunjuk ke arahnya. "Bagaimana kalau kita periksa ruang pendingin itu. Mungkin saja dia terkunci di dalam dan tak bisa keluar."
Lia dan Refan terkejut dan saling berpandangan.
__ADS_1
"Bisa jadi," ujar pria itu.
Ketiganya bergegas ke arah ruang pendingin. Lia membuka pintu dan Refan menerobos masuk.
"Ya Allah!"
Nasti buru-buru masuk ingin melihat apa yang terjadi. Terlihat Refan sedang membungkuk di sudut ruangan memperhatikan sesuatu.
Seorang pria tengah duduk di lantai dengan memeluk lututnya. Tubuhnya mulai dipenuhi dengan bunga es.
"Astaghfirullah alazim." Nasti menutup mulutnya karena syok.
"Kenapa ... kalian ... lama sekali ... datangnya," ucap pria Jepang itu dengan susah payah. Ternyata ia masih sadar walau dalam keadaan menggigil kedinginan. Wajah dan bulu matanya pun mulai menempel bunga es di sana.
"Refan tolong bawa dia keluar. Aku akan cari kain untuk menutup badannya agar tidak kedinginan." Nasti berlari keluar.
Refan melingkarkan tangan pria itu di lehernya dan membantunya berjalan. Di luar Nasti menanti mereka dengan sebuah jaket yang ia temukan di tempat pengiriman barang. Ia menutup tubuh pria itu dari belakang.
"Ya Allah, Pak. Kenapa Bapak bisa terkunci di dalam?" tanya Lia yang baru melihat keadaan Iwabe yang sedang dipapah Refan. "Pintu ini 'kan tidak bisa terkunci sendiri."
"Seseorang ... mengunciku," ucap pria itu bicara pelan-pelan.
"Apa?"
"Sudah, sudah. Kita bawa dulu Pak Iwabe ke mess. Ayo, bawa dia ke bus," pinta Nasti pada Refan.
"Aku bisa," jawab Refan. "Aku pernah membantunya membawa bus ini sebelumnya."
Orang-orang di dalam bus terkejut melihat Iwabe yang datang dalam keadaan di papah Refan dan bunga es di sekujur tubuhnya, tapi tak ada yang berani bertanya.
Refan mendudukkan Iwabe ke sebuah kursi penumpang dan Nasti duduk di sampingnya dengan memastikan pria itu terbalut jaket. Wanita itu membersihkan wajah dan rambut pria itu dari bunga es yang mulai mencair. Sesudahnya pria Jepang itu bersandar pada jendela. Refan mengambil alih kemudi.
"Mbak, kita 'kan harus lapor polisi," ucap Lia dari belakang.
"Nanti saja, kalau dia sudah tidak kedinginan."
"Eh, sebenarnya ada apa?" seorang pegawai wanita di belakang Lia bertanya dan kemudian Lia menceritakan apa yang terjadi.
Iwabe sebenarnya hampir mau pingsan kedinginan di dalam ruangan itu. Untuk saja ketiga orang itu datang tepat waktu. Kalau tidak, entah apa yang terjadi padanya.
"Mbak Nasti, kita tidak jemput anakmu dulu ya?" ujar Refan dari depan.
"Iya tidak apa-apa." Wanita itu mengiyakan.
Tidak butuh waktu lama, bus sampai di mess. Refan membantu Iwabe turun dan membawanya ke kamar pria itu. Iwabe diturunkan di atas tempat tidur dan Nasti menutup tubuh pria itu dengan selimut tipis dan juga sebuah jaket. Refan segera keluar.
__ADS_1
"Bapak mau apa? Mau minum air hangat?" tawar Nasti.
"Aku tidak tahu." Mata pria itu setengah mengantuk. Es sudah mencair ditubuhnya hingga bajunya sedikit basah.
"Sebaiknya Bapak tukar bajunya dengan yang kering biar tidak masuk angin. Aku akan buatkan teh hangat dulu." Nasti kemudian keluar.
Di luar ada beberapa orang pegawai yang masih bergerombol mencoba mengintip ke dalam tapi setelah Nasti keluar mereka membubarkan diri.
Tak lama Nasti kembali lagi tapi ia tak menemukan pria itu di kamar.
"Oh, Nasti." Pria itu keluar dari kamar mandi dengan memakai sweater tangan panjang. Wajahnya masih sedikit pucat dan masih kedinginan. "Ah, air hangat." Ia meraih gelas yang dibawa Nasti. "Terima kasih."
Wanita itu terkejut pria itu pulih dengan cepat walaupun masih menggigil kedinginan.
"Untung kau suruh aku tukar pakaian. Membantu sekali." Pria itu menyesap teh manis yang berada di tangannya pelan-pelan. "Oya, ini kunci mobilku. Kau bisa jemput Bian dengan mobil ini. Kau bisa menyetir 'kan?"
"Eh, iya." Wanita itu menerima kunci mobil itu.
"Aku sudah minta Pak satpam di depan untuk menelepon polisi, jadi kau pergi saja. Sisanya aku bisa urus sendiri. Ah, enaknya air hangat ini." Pria itu kembali menyesapnya.
Nasti kemudian menjemput Bian.
Benar saja. Ketika wanita itu kembali, kamar Iwabe kedatangan polisi, dan Nasti juga dimintai keterangan oleh polisi mengenai apa yang dilihatnya di tempat kejadian. Tak lama polisi itu pun pergi.
"Ini Pak, kuncinya. Terima kasih." Nasti menundukkan kepala menyerahkan kunci mobil pria itu.
"Oh, tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Berkat kamu, aku selamat. Lia dan Refan tadi cerita, berkat insting kamu, aku di temukan."
"Oh, itu terlalu berlebihan," ucap wanita itu sambil tersenyum. Ia kemudian membawa Bian yang di gandengnya sejak tadi ke arah kamar tapi tiba-tiba Iwabe menghalangi di depan pintu.
"Eh, boleh minta bantuan lagi?"
"Apa?" tanya wanita itu terkejut.
Dengan sedikit malu Iwabe mengatakannya. "Bisa tukarkan sepreiku yang basah? Aku tidak kuat mengganti seprei karena masih menggigil. Aku ingin tidur."
Nasti menoleh pada Bian.
"Eh, biar Bian aku yang jaga di kamarmu." Pria itu menunjuk kamar Nasti.
Wanita itu menghela napas panjang. "Ya, sudah." Ia membuka pintu kamarnya. Segera ia pergi ke kamar pria itu dan mengganti seprei. Saat ia kembali ternyata keduanya telah tertidur berpelukan di atas tempat tidur Nasti. Kembali wanita itu menghela napas panjang.
___________________________________________
Karena ikut lomba, Author mengeluarkan novel baru ya, nanti malam. Judulnya Author And The Baby. Jangan lupa kepoin ya? Salam, ingflora 💋
__ADS_1
Ini novel temen author yang keren abis. Yuk, kita kepoin sama-sama.