Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Ke Rumah Orang Tua


__ADS_3

Perputaran bianglala terasa lama. Bianglala itu harus berputar sekali lagi untuk menyelesaikan tugasnya, tapi mereka sudah terlanjur terjebak dalam kebingungan yang tak membuat mereka nyaman. Detak jantung mereka pun tak menolong.


Diam-diam saat Nasti berusaha melihat pemandangan sekitar, pria itu kembali meliriknya. Wow, betapa dasyatnya wanita ini sampai bisa membuat jantungku begini. Apa yang terjadi denganku hingga aku jadi bodoh seperti ini? Ah, tidak. Dia di luar standarku, jadi tak mungkin ....


Iwabe memalingkan wajahnya melihat pemandangan sekitar, tapi lagi-lagi matanya melirik ke arah Nasti. Wanita ini, sederhana dan membuatku nyaman. Ya, dia tipe teman yang menyenangkan. Mungkin aku hanya belum pernah punya teman wanita makanya seperti ini. Ya, dia teman yang menyenangkan.


Bianglala pun berakhir dan mereka turun. Nasti buru-buru berjalan di depan sambil menggendong Bian.


"Nasti tunggu! Bian belum mencoba yang lainnya."


"Tidak usah, aku mau pulang!" teriak wanita itu tanpa menoleh.


Pada akhirnya, Iwabe menyerah dan hanya mengekor di belakang.


-------+++---------


"Semuanya sudah." Nasti menutup tas selempangnya dan menatap Bian yang sedang belajar memakai kaus kaki. Baru satu kakinya yang coba bocah itu pasang, dan itu pun belum selesai.


"Sini, Nak ibu bantu." Nasti berjongkok dan membantu memasangnya. Juga sepatunya. "Sudah, yuk!"


Keduanya berdiri dan melangkah ke pintu. Nasti mengunci pintu kamarnya saat keluar. Baru saja ia menapaki perparkiran sambil menggandeng Bian, sebuah mobil sedan datang dan berhenti di depan mereka.


Iwabe keluar dari mobil itu dengan penampilan rapi berkemeja bunga-bunga berwarna biru, membuat wajah tampannya semakin menarik. "Mau ke mana? Sini aku antar."


Aneh, katanya aku tidak boleh dekat-dekat dia karena menyusahkannya, tapi sekarang? Dari semalam dia mengajak Bian dan ini apa lagi?


"Tidak usah, Pak! Saya hanya mau ke rumah orang tua kok," ucap Nasti kesal dan berjalan menggandeng Bian melangkah mengitari mobil pria itu. Ia masih dongkol dengan kejadian semalam. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan pria manapun karena ia kini hanya ingin mengurus Bian.


"Naik angkot bisa dua kali. Lebih baik naik mobilku saja, karena aku kebetulan ingin ke rumah orang tuaku juga, jadi sekalian."


Nasti berhenti dan menoleh pada Iwabe yang tersenyum ke arahnya. Apa benar, ia tidak membuntutiku? Apa reaksiku terlalu berlebihan ya?


"Bagaimana?"


"Ya sudah." Nasti kemudian masuk ke dalam mobil pria itu.


Mobil itu tidak mewah tapi termasuk mobil keluaran terbaru.


"Ini mobilmu?" tanya Nasti heran.


"Oh, bukan. Ini mobil tetanggaku. Karena dia punya banyak, aku coba meminjamnya dan diberi."


"Oh, baik sekali tetanggamu itu ya?"


Bian yang dipangku Nasti sibuk memandang ke arah jendela.


"Mau kukenalkan pada tetanggaku?" Iwade tersenyum karena ingin tahu, seperti apa wanita ini sebenarnya.

__ADS_1


"Oh, tidak. Hanya saja, aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli mobil. Mungkin yang bekas agar bisa membawa Bian jalan-jalan."


Mmh, wanita mandiri.


Tak lama mereka sampai di depan rumah Nasti. Wanita itu dan anaknya turun.


"Mau mampir, Pak?"


"Mmh, tidak usah. Lain kali saja. Salam untuk orang tuamu."


"Terima kasih, Pak." Nasti menutup pintu dan memandangi mobil itu hingga kemudian pergi jauh.


"Nasti."


Wanita itu menoleh. "Ayah!"


Seorang pria paruh baya keluar dari rumah dan menyambutnya.


"Kakek!" teriak Bian antusias. Ia melompat-lompat.


-----------+++----------


"Ibu!"


Seorang wanita paruh baya dan masih terlihat cantik di usianya yang mulai merambah naik, menoleh ke arah datangnya suara. Tentu saja ia tahu siapa karena itu adalah anak satu-satunya. Mata Jepangnya makin menyipit saat ia menyambut anaknya dengan senyuman. "Bagaimana kabarmu, Abe?"


"Baik, Ibu."


"Mmh, pas sekali. Ibu baru saja mau membelinya."


"Ini sekaligus kado ulang tahunnya ya, Bu. Gaji Abe tidak cukup kalau harus beli kado buat Ibu."


Ibu mencubit lembut pipi anaknya. "Kamu itu. Ibu lebih senang kamu sering kemari daripada mendapat kado barang. Lagipula, Ayah sering menawarimu kartu hitam tapi kamu tidak mau."


Pria itu tersenyum lebar. "Ya, tidak cocoklah, Bu. Sekarang 'kan jabatanku bukan siapa-siapa."


"Tapi, kenapa mau sih kamu, terima pekerjaan dari Ayah sebagai buruh sana sini. Kau 'kan bisa kerja di luar, dan pasti jabatanmu sudah tinggi sekarang."


"Tapi kerja di tempat lain gak boleh gondrong 'kan, Bu rambutnya?"


Ibu segera mencubit pinggang anaknya tapi Iwabe mampu menghindar. "Ini ayah sama anak sama saja."


Iwabe tertawa lepas. Ibu menatap pakaian yang dipakai anaknya dan pria itu segera tahu apa yang diinginkan ibunya.


"Bu, aku ke atas dulu ya ganti baju."


"Mmh."

__ADS_1


Tidak acara mewah hanya ada acara makan siang bersama orang tuanya saja dan itu sangat menyenangkan. Iwabe yang jarang pulang sangat dirindukan oleh ibunya karena ia adalah anak satu-satunya.


"Be, kapan kamu mau menikah, ibu sudah ingin gendong cucu," gerutu ibu pada anak semata wayangnya itu.


Iwabe menarik dagu ibunya. "Ibu 'kan masih muda, kenapa mau buru-buru jadi nenek-nenek sih?"


Iwabe dan Ayah tertawa.


Ibu menepuk tangan anaknya dengan kesal. "Ah, kamu itu, diajak ngomong serius susah sekali. Sama dengan ayahmu ini." Ibu mencubit rahang yang ditumbuhi rambut halus milik suaminya itu, membuat pria itu kesakitan.


"Aduhduh!"


Iwabe tertawa.


"Ah, Ibu kemarin ketemu dengan temen ibu di ho—"


"Sudah, ah! Ibu bahasnya itu terus, setiap kali aku ke sini."


"Tapi kamu sudah cukup umur, Abe."


"Biarkan dia memilih yang diinginkannya, Maiko," sela Ayah.


"Yah, belain, Yah!" Iwabe memberi semangat ayahnya.


"Tapi umur siapa yang tahu. Kalau umurku pendek dan belum menimang cucu bagaimana?"


Ayah langsung memeluk Ibu. "Yah, jangan. Yang menemaniku siapa?" Ayah melirik Iwabe. "Abe, cepat turuti permintaan ibumu," titahnya pelan dengan sedikit kedipan mata.


"Yah, Ayah curang!" Tetap saja, Iwabe merengut kesal.


"Tentu saja Ayah harus begitu, Ayah 'kan harus membela istrinya."


Iwabe dongkol sekali dan memutar-mutar garpu di atas potongan kue ulang tahun ibu.


------------+++-----------


Iwabe tak bisa tidur. Sudah larut malam Nasti belum juga pulang. Biasanya kamar di sebelah berisik dengan suara Nasti dan Bian. Kadang terdengar wanita itu memarahi anaknya, mengajaknya tidur, atau menyuruhnya berpakaian.


Padahal suara-suara itu baru mengisi telinganya seminggu belakangan ini tapi rasanya kini kamarnya sepi sekali tanpa suara-suara itu. Ia kini merindukannya.


Ah, apa yang kutunggu? Mereka mungkin menginap di rumah orang tuanya dan itu wajar 'kan? Salah sendiri kenapa tidak menginap di rumah orang tua sendiri, tadi. Untuk apa pula ia buru-buru ke sini? Apa yang dicarinya karena semua orang yang ada di mess pasti pulang ke rumah keluarganya bila rumah keluarganya dekat seperti Nasti. Bahkan menginap. Itu sangat wajar. Yang tidak wajar adalah rindu ini.


____________________________________________


Reader, masih lanjut baca 'kan? Beri author penyemangat juga seperti komen, like, vote atau hadiah. Ini visual Iwabe di hari ulang tahun ibunya. Salam, ingflora💋


__ADS_1


Yuk, intip novel yang satu ini!



__ADS_2