
Iwabe membuktikannya. Ia makan sarapan yang dibuat Nasti dengan lahapnya.
"Pelan-pelan, Pak nanti tersedak." Walaupun tidak duduk dekat pria itu yang berada di atas tempat tidur, wanita itu masih memperhatikan Iwabe makan.
Nasti duduk di lantai dan sedang menemani anaknya main kapal-kapalan. Bocah itu berlari-lari di dalam kamar pria itu dan pintu dibiarkan terbuka.
Sebenarnya pria itu pusing melihat Bian jalan berputar-putar di dalam kamar tapi ia berusaha abai dan berkonsentrasi dengan sarapannya. Lama-lama, ia mulai terbiasa dengan gaya bocah itu bermain.
Saat ia suka berputar-putar, ia akan berputar di dalam ruangan. Saat ia suka melompat-lompat, ia akan melompat sesuka hati. Anak itu di umurnya, hanya melakukan apa yang kata hatinya katakan. Itulah kegembiraan anak kecil seusia Bian.
"Bian. Sudah jangan lompat terus, nanti muntah, Nak."
Bocah itu mendatangi Nasti dan bermanja di lengan ibunya.
"Kamu gak capek, lari-lari terus dari tadi. Ini lagi, sekarang loncat-loncat terus."
"Mama, ayo main." Bocah itu memeluk ibunya sambil membujuknya.
"Main apa?"
"Kita gak rumah Nenek?"
"'Kan Nenek sakit. Tadi telepon."
Ketika Iwabe asyik makan sambil melihat keakraban ibu dan anak itu, seekor kucing lewat di depan kamar pria itu. Kucing itu melirik makanan yang dimakan pria itu.
Nasti melihatnya. "Eh, hus, huss!" Ia segera beranjak berdiri dan mengusirnya. "Pak, saya tunggu di luar saja ya, Pak." Ia melangkah ke arah pintu.
Bian mengikuti ibunya. "Mama, kucing!" Ia berlari dan meraih rok Nasti.
"Iya, ibu usir dulu kucingnya ya? Kasihan, nanti acak-acak kamar Omnya." Nasti keluar dan membawa Bian, lalu menutup pintu. Masih terdengar sayup-sayup suara keduanya berbicara di depan kamar pria itu.
Pria itu segera menyelesaikan makannya. Saat ia membawa baki itu ke depan pintu dan membukanya, ia melihat ibu dan anak itu sedang mengobrol di dekat kucing itu. Bian mencoba menyentuh kucing itu yang sedang berbaring malas di lantai.
"Mama, kucing," ucap bocah itu dengan wajah gembira menatap Nasti.
"Iya, kucing."
"Eh, maaf."
Suara pria itu membuat Nasti dan Bian menoleh.
"Terima kasih sarapannya. Aku tak tahu lagi harus bilang apa," ujar pria itu sedikit canggung. Ia menyerahkan baki, yang diterima wanita itu dengan berdiri.
"Terima kasih, sudah cukup. Aku mau ke pasar dulu dengan Bian. Bapak istirahat saja, mudah-mudahan cepat pulih." Nasti menatap anaknya. "Ayo, Bian. Ikut Mama ke dapur."
Bocah kecil itu dengan cepat berdiri dan mengikuti wanita itu yang tengah membawa baki ke arah ruang serba guna. Sesekali bocah itu lari mengelilingi sang ibu karena senang hari itu bisa bersamanya. "Mama!"
__ADS_1
"Bian, jangan lari-lari begitu, nanti jatuh."
Melihat ibu dan anak itu membuat Iwabe tersenyum. Keakraban keduanya mengingatkan pria itu pada masa kecil dengan sang ibu. Ia kini tahu perjuangan ibunya dulu padanya dan membuat ia salut pula pada perjuangan Nasti untuk Bian.
-----------+++----------
Di siang hari, di saat Nasti sedang memasak di ruang serba guna ditemani Bian, Iwabe datang, membuat wanita itu terkejut.
Pria itu masuk ke dapur.
"Bapak sudah sehat?"
"InshaAllah." Wajah pria itu mulai kemerahan.
"Alhamdulillah," ucap Nasti yang masih sedang memasak.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Tapi tidak ada makanan untuk Bapak."
"Hah?"
Nasti tertawa terkekeh. "Bercanda, Pak. Aku hanya bercanda."
Iwabe bernapas lega. Bisa juga dia bercanda di saat seperti ini?
"Oya?" Pria itu menatap ke arah bocah yang sedang bersandar di kaki ibunya. Ia mengulurkan tangannya. "Bian, sini sama Om."
Bocah itu perlahan mendatangi Iwabe. Ia sudah mulai mengenal pria itu sehingga mau saja diajak Iwabe keluar dari dapur.
"Bian gak bawa mainanmu?"
"Bosan."
"Kita tunggu Mama di meja makan ya?"
Bian hanya menengadah menatap pria teman ibunya itu. Ia diam saja digandeng pria itu ke salah satu meja dan pria itu mendudukkannya di salah satu kursi, tapi cuma sebentar. Kemudian ia minta turun karena bosan. Iwabe harus membantunya turun karena kursi itu cukup tinggi untuknya.
Ternyata Nasti sudah menyelesaikan masakannya. Ia membawa nampan berisi masakan ke arah pria itu sementara ia sempat melirik anaknya yang berlari-lari di ruang besar itu. Ruang itu terasa sangat besar ketika hanya mereka bertiga yang makan siang di tempat itu.
--------------+++-----------
"Mbak Nas!"
Nasti menoleh. "Lia? Tumben kamu ke sini. Mau masak?" ledek Nasti pada rekan kerjanya ini. Ia tahu rekan kerjanya satu ini tidak pernah terlihat di ruang serba guna karena tidak bisa memasak. Lia selalu makan diluar juga saat makan malam.
Lia memperlihatkan bawaannya di tangan. Sebuah bungkusan plastik. Sepertinya ia membeli makanan di luar dan membawanya ke sana.
__ADS_1
"Mau makan di sini?"
"Iyalah." Wanita itu menarik kursi di sebelah Nasti dan sempat melirik Bian yang tengah berdiri di samping ibunya memperhatikan Lia. "Mmh, kamu ganteng banget. Seandainya Tante punya anak cewek, Tante jodohin deh!" ucapnya pada bocah itu.
"Pasangan aja belum punya, sudah mikirin anak orang!" ledek Nasti lagi.
Keduanya tertawa. Mereka kemudian makan bersama.
"Mbak tahu gak, Ibu Sarah dapat pujian di kantor karena perusahaan akan membuat produk baru, membuat makan kaleng."
Nasti terkejut.
"Gila ya tuh orang gak tahu malu banget, ngambil ide orang gak ada rasa bersalahnya. Itu 'kan idemu, Mbak. Semua orang marketing juga tau. Aku mau bantah tapi kamunya gak ada, Mbak. 'Kan cuma Mbak yang berani ngomong sama dia. Lawan, Mbak!"
"Ah, tidak usah. Tidak perlu juga pengakuan itu. Yang penting, usahaku sudah disetujui jadi tim marketing bisa dapat tambahan uang dan bisa memenuhi target yang diminta Ibu Sarah."
Iwabe yang duduk tidak jauh dari situ terkejut. Jadi itu ide Nasti? Kenapa wanita itu curang?
"Eh, orang yang mengunci Pak Iwabe kemarin sudah ditangkap polisi lho, Mbak." terang Lia.
"Masa? Kok bisa secepat itu?"
"Karena dia tidak tahu, sejak kejadian pencurian kemarin itu, di pabrik sudah dipasang CCTV di area tersembunyi. Pastinya apa yang dilakukannya sudah terekam oleh CCTV itu." Iwabe yang melewati meja mereka membawa nampan, memberi tahu.
Nasti dan Lia melongo dan saling berpandangan.
-----------+++---------
"Nasti, kau mau ke rumah orang tuamu lagi ya?" Iwabe yang baru saja keluar kamar, melihat ibu dan anak itu sudah berpakaian rapi.
Sabtu pagi itu, udara cerah dan matahari tidak terlalu terik, membuat sinarnya terasa lembut di kulit.
"Ke rumah Nenek, Om!" sahut Bian. Bocah cilik itu mulai bisa berbicara pada pria Jepang itu.
"Mau Om anterin?"
"Mau, mau!" Bocah itu meloncat-loncat seraya memegangi lengan ibunya. Nasti tersenyum sambil menepikan rambut Bian yang pirang itu.
"Mau menginap lagi ya?" tanya Iwabe pada wanita itu di dalam mobil. Ia memasang seatbelt.
"Iya. Bapak juga?"
"Mmh, iya."
____________________________________________
Kepoin punya temen author yang satu ini.
__ADS_1