Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kencan Malam


__ADS_3

Sudah sejam berlalu dan Nasti bingung sendirian di kamar tanpa Bian. Ia menduga-duga apa yang sedang dilakukan Bian di kamar pria itu. Apa ia benar-benar tidur atau malah mengganggu anak presdir itu?


Ia menarik napas dalam. Sekedar berbaringnya, tetap saja membuat ia gelisah. Ia tak ingin merepotkan Iwabe tapi nyatanya anaknya telah membuat pria itu tak bisa berangkat ke kantor.


Wanita itu kemudian mencoba duduk dan menatap ke arah dinding. Di balik dinding itulah, kamar Iwabe berada.


Nasti mendatangi dinding itu dengan merangkak. Ia sentuh dinding itu dengan rasa penasaran. Apa yang terjadi di balik dinding itu, ia tidak tahu. Tiba-tiba ia mencoba mengetuk dinding itu.


Tok, tok.


Nasti tersenyum sendiri. Mana mungkin Iwabe mendengarnya.


Padahal di balik dinding itu, Iwabe tengah duduk di lantai bersandar pada dinding itu seraya memangku Bian yang tengah tertidur di dadanya. Ia mendengar suara ketukan itu dan ia pun penasaran. Pria itu mencoba mengetuk dinding itu juga.


Tok, tok.


Nasti terkejut. Ia mendengar ketukan itu. Pak Iwabe menjawabnya? Apa dia belum tidur? Kembali ia mengetuk dengan nada antusias.


Tok, tok, tok, tok!


Iwabe mengernyit alisnya.


Tok, tok, tok, tok! Nasti mengulang.


Kenapa sih perempuan ini tidak sabaran? 'Kan anaknya tidur denganku, apa ia tidak takut Bian tiba-tiba terbangun? Ck!


Tok ... tok.


Iwabe mengetuknya dengan pelan.


Nasti kecewa. Suara ketukannya lemah. Apa artinya itu? Ia baru akan menjawab ketukan itu tapi kemudian ia hentikan, sebab ia tidak tahu arti ketukannya itu, percuma saja dijawab dengan ketukan. Akhirnya ia menyerah.


---------+++---------


Nasti kembali mengetuk pintu dan menunggu. Tak lama pintu terbuka. Rambut pria itu sedikit berantakan ketika muncul di balik pintu. Matanya menyipit saat melihat Nasti di hadapan, karena sinar matahari siang yang menyinarinya mulai terik. Tangannya menutup mulut yang menguap.


"Kau tidur?"


"Iya. Kenapa?"


Nasti mengintip ke dalam. "Bian juga?"


Pria itu tersenyum. "Tentu saja."


"Mmh."


"Ada apa?"


"Titip anakku ya? Aku mau masak. Aku akan masak buatmu juga." Namun kemudian wanita itu menunduk dan melirik pria itu. "Kalau kamu tak keberatan," ucapnya pelan karena ia baru sadar telah memberi perintah seorang presdir.


"Mmh." Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa?" Wanita itu tak mengerti.


"Mmh? Iya."

__ADS_1


"Mmh, maaf. Apa aku mengganggu tidurmu?" Nasti tak mengerti jawaban pria itu yang datar.


"Mmh?" Iwabe melihat wanita itu kebingungan. Ia begitu karena baru terbangun mendengar ketukan di pintu. "Mmh, aku terima kasih karena telah dibangunkan." Ia berusaha tersenyum seraya sedikit mengangguk.


Wanita itu merengut. "Tidak tulus ...."


Aduh ... perempuan ini. "Aku tulus. Aku belum sembahyang. Untung kamu bangunkan," ucapnya asal.


"Sholat apa?"


"Eh, sholat ... Dhuha."


Nasti menautkan alisnya.


"Sudahlah, Nasti. Kamu itu terlalu curiga. Aku tulus kok, aku tulus!"


Nasti menatap mata Iwabe, memastikan.


"Nasti ...."


Wanita itu tersenyum lebar. "Iya, iya. Aku masak dulu," ucapnya sambil meninggalkan pria itu.


Pria itu hanya menghela napas kasar.


----------+++----------


Makan siang yang menyenangkan karena Bian sudah kembali sehat, walau masih sedikit demam. Seperti biasa ia berlari-lari di ruang besar serba guna itu dengan riangnya.


Nasti begitu senangnya melihat si kecil sehat hingga banyak tersenyum. "Ayo, sini, Nak. Aak lagi." Ia memanggilnya untuk makan.


"Om!" Bocah itu mendarat di kaki Iwabe dan bersandar di sana.


"Ayo, makan. Kok bengong?" Nasti menambahkan tumis ayam suir ke piring pria itu.


"Eh, sudah, Nasti. Sudah banyak."


"Tidak apa-apa, masih banyak kok," ucap Nasti dengan semringah.


Tiba-tiba terdengar dering telepon dan itu dari HP pria itu. "Halo?" Iwabe melirik Nasti dan kemudian berdiri. Ia menepikan Bian agar bisa melangkah menjauh.


Nasti sudah bisa mengira-ngira siapa yang tengah menelepon pria itu.


"Pak, Bapak sakit?" tanya Sarah.


"Oh, tidak. Sedang ada keperluan saja."


"Nanti malam, bisa gak kita kencan?"


"Mmh?"


"Makan malam, Pak. Di restoran."


"Oh, iya." Pria itu melirik Nasti.


"Ok. Nanti malam jemput ya, Pak. Nanti aku kasih tau restorannya."

__ADS_1


"Ok." Iwabe menutup handphone-nya dan kembali ke tempat duduk.


"Sarah?" tanya Nasti sekedarnya.


"Mmh? Heum." Pria itu mengambil sendok dan mulai makan. "Aku mau pergi dengannya malam ini."


"Oh."


Tiba-tiba suasana kembali kaku.


"Om!" Bian kembali mendatangi Iwabe dan bergelayut di pahanya.


"Ini, kamu duduk yang benar kalau makan." Pria itu mengangkat tubuh bocah itu dan didudukkan di pangkuan. Iwabe mencoba menyuapi bocah itu yang ternyata dengan lahap memakannya.


Kembali dering telepon berbunyi. Kini giliran HP Nasti yang berada di atas meja. Wanita itu kemudian mengangkatnya. "Halo?"


"Halo, Nasti. Apa nanti malam kita bisa makan malam? Bian sudah lumayan sehat 'kan?" tanya suara pria di ujung sana.


"Mmh." Wanita itu melirik Iwabe yang tengah menatapnya.


"Ok, nanti malam ya? Bawa Bian ikut serta. Oya, jangan lupa, pakai baju pink yang kemarin aku belikan."


"Iya." Kemudian telepon ditutup.


"Mantan suamimu?"


"Iya. Eh, dia ngajak makan malam, nanti."


"Oh."


Makan siang itu berubah sepi. Hanya Bian yang kemudian turun dari pangkuan Iwabe dan berlari-lari.


------------+++-----------


Iwabe keluar dan melihat Nasti yang sudah dijemput oleh Gerald. Baju yang dikenakan wanita itu saat itu membuatnya terlihat berkelas, cantik dan menawan dan menjadikan pria itu pangling, tak percaya. Wanita itu membawa Bian ikut dengannya.


Gerald hanya tersenyum miring melihat Iwabe memperhatikan Nasti memasuki mobilnya. Ia menunggu saat-saat pria itu bersama Sarah datang ke restoran yang sama dan melihat aksi Sarah memisahkan mereka. Berpikir itu saja, ia sudah merasa akan meraih segalanya. "Sudah, Nasti?"


"Eh, sudah."


Gerald pun menjalankan mobilnya.


Iwabe yang sudah berpakaian rapi, kemudian memasuki mobil dan menjemput Sarah.


Di restoran mewah yang dituju, Gerald membawa Nasti ke meja yang sudah dipesan. Mereka kemudian memesan makanan. Baru saja mereka mulai makan, Iwabe dan Sarah muncul di restoran itu. Kedatangan keduanya mengejutkan Nasti juga Iwabe sendiri.


Kenapa aku berada di restoran yang sama dengan Nasti, batin Iwabe. Tentunya ia mulai mencurigai Sarah yang sejak di mobil memaksanya mendatangi restoran itu karena sudah pesan tempat. Dan, ketika mencari meja, ternyata mereka duduk tidak jauh dari meja Gerald dan Nasti. Sungguh suatu kebetulan yang tidak mudah dipercaya!


Mau tak mau, walaupun ingin menghindar, tapi tatapan mereka suatu saat pasti bertemu. Iwabe melihat ke meja Nasti atau Nasti melihat ke meja Iwabe.


Apa yang sedang direncanakan Sarah sebenarnya? Kenapa memilihnya membuat hidupku jadi rumit?


"Aku sudah lama ingin ke sini. Terima kasih ya?" ucap Sarah riang.


Tiba-tiba sesuatu menyentuh pangkal pahanya membuat Iwabe menunduk. "Om!"

__ADS_1


__ADS_2