Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Pilihan


__ADS_3

"Nasti, apa kau masih memerlukanku?" tanya Iwabe memastikan.


"Sudah tidak apa-apa, Iwabe. Kamu bisa pergi," ucap Nasti pelan.


Pria Jepang itu melirik Gerald dengan dongkol. Gerald tersenyum penuh kemenangan.


Iwabe bangkit dan mendatangi Nasti. Bian yang sudah bangun, melihat Iwabe datang merengek ingin dipeluk.


"Eh, jangan ya, Nak. Omnya mau ke kantor." Nasti mengingatkan.


Dengan mengusap lembut pucuk kepala Bian, Iwabe memandangi bocah itu. "Cepat sembuh ya? Nanti main sama Om lagi."


Gerald kadang geram melihat kedekatan Iwabe dengan anaknya.


Iwabe pun pamit. Nasti mengantarnya hingga pagar. Setelah itu ia ke ruang tamu menemani Gerald. Mereka mengobrol dengan santai.


"Nasti, apa kau benar-benar tidak ingin kembali padaku? Aku sudah berusaha untuk menembus semua kesalahanku, Nasti, dan aku sadar, aku hanya mencintaimu."


"Gerald, untuk sekarang ini rasanya sulit memikirkan hal itu. Apalagi, maaf, aku juga sudah menyukai orang lain."


"Iwabe maksudmu? Nasti, pria seperti itu tahu apa tentang berkeluarga? Dia hanya tipe pria yang suka saat senangnya saja, saat susah, dia pasti akan pergi," hasut Gerald.


Nasti, menatap Gerald tanpa berkedip. "Seperti dirimu?"


"Nasti ...."


"Gerald, sudahlah, jangan bicara lagi. Bian butuh istirahat, dan aku rasanya takkan mungkin memenuhi keinginanmu, Gerald. Kita sudah tak sejalan. Sadarlah, dan mungkin mulai sekarang kau harus mencari penggantiku, karena aku dan Iwabe sudah sangat serius."


Penolakan Nasti yang walau diucapkan secara halus, sempat membuat pria bule itu merapatkan gerahamnya karena merasa telah mati langkah. Namun ia mencoba untuk meluaskan pikirannya. "Mmh, mungkin benar Bian hari ini butuh istirahat. Tak apa, aku pulang, tapi Nasti, aku akan buktikan bahwa cintaku tulus padamu, Nasti. Takkan berubah. Aku akan menunggu sampai kamu sadar akan hal itu." Gerald beranjak berdiri.


"Gerald."


Pria itu pamit pulang. Nasti memperhatikan punggung pria itu dari belakang yang mendatangi pagar dan membukanya. Ada sedikit rasa bersalah karena pria itu tak juga bisa pindah ke lain hati tapi ia sudah memantapkan diri pada Iwabe sehingga ia harus tegas bicara pada Gerald. Ia hanya bisa mendoakan agar pria bule itu secepatnya mendapatkan pengganti.


-----------+++---------


"Iwabe? Apa katanya?" tanya Kobayashi yang melihat pria itu mematung di depan layar.


Iwabe seperti tersadar. "Mmh? Oh, ya." Ia mengusap wajah dengan kasar.


"Kau kenapa, Iwabe, sejak pulang tadi kau tak fokus bekerja?"


"Maaf, Pak."


Kobayashi menghela napas kasar. "Sudah matikan saja, layarnya. Kita berhenti bekerja dulu."


"Maaf, Pak. Aku janji ...."


"Matikan!"

__ADS_1


Iwabe mematikan layar laptopnya. Ia menundukkan kepala.


"Masuk kamarmu dan istirahat di sana."


Iwabe mengangkat kepalanya dengan wajah heran.


"Lakukan apa yang aku suruh!" Kembali Kobayashi memarahi pria itu.


"Eh, terima kasih, Pak." Iwabe menganggukkan kepala sebelum melangkah ke kamar. Walau masih bingung, ia mengikuti ucapan pria itu. Ia bersyukur, Kobayashi memberinya jeda untuk beristirahat.


Di kamar, ia merebahkan diri. Memang sejak tadi pikirannya tak bisa fokus sejak meninggalkan Nasti dan Gerald berdua di rumah itu. Walaupun ada ibu Nasti di sana tapi ia tetap saja khawatir.


Nasti memilih berdua dengan Gerald membuat Iwabe was-was wanita itu kembali bimbang dan memilih kembali pada pria bule itu. Apalagi ada Bian di antara mereka.


Ia mengeluarkan handphone-nya tapi ragu untuk menghubungi. Apa sebaiknya tidak usah menghubunginya? Pria itu ragu tapi rasa penasaran terus menggelitik pikirannya membuat ia akhirnya menelepon wanita itu.


"Iya, halo."


"Nasti, maaf aku menelepon."


"Kenapa, Be?"


"Mmh ...." Pikiran Iwabe buntu. Ia tak tahu ingin bicara apa.


"Iwabe, ada apa?"


"Ya?"


"Mmh ...."


"Apa kamu cemburu?"


Iwabe terkejut. "Eh, tidak."


"Iwabe, aku sekarang ada di kamar. Bian sedang tidur. Nanti malam saja ya, telepon lagi. Kamu 'kan sedang kerja."


"Eh, iya benar." Penjelasan singkat Nasti membuat pria itu lega. "Aku ... aku pasti akan meneleponmu nanti malam, Nasti. Pasti."


"Bye."


"Bye." Iwabe menutup teleponnya. Seketika ia bersemangat bekerja. Ia melangkah ke luar kamar dan mengintip keberadaan Kobayashi. "Pak, ayo kita kerja lagi!"


Kobayashi yang sedang membuat kopi, terkejut. "Apa? Ck, anak ini."


-----------+++----------


Iwabe pulang ke rumah. Di ruang tamu, ibunya bicara dengan 2 orang tamu wanita.


"Oh, Abe. Ke sini sebentar," panggil ibu ketika melihat Iwabe datang.

__ADS_1


Pria itu mendatangi ibu dengan perasaan bercampur aduk. Ia sudah menduga apa yang terjadi di sana.


"Masih ingat dengan Tante Ririn 'kan? Ayo beri salam."


Iwabe menyalami wanita itu.


"Dan ini anak perempuannya Faza. Dulu waktu kalian masih kecil-kecil, kalian sering berlarian di taman setiap bertemu. Apa kau tak ingat, Abe?"


Iwabe menyodorkan tangannya pada wanita muda bercadar itu, tapi wanita itu hanya menganggukkan kepala dan menyatukan tangan di dada. Ia kemudian menarik tangannya kembali.


Wanita itu menjatuhkan pandangannya saat melihat wajah pria Jepang itu dan seketika pipinya merah merona, tapi Iwabe tak bisa melihatnya karena wanita itu memakai cadar.


"Rencananya Faza akan bekerja di perusahaan kita. Ia terlalu sering sekolah ke sana kemari dan akhirnya ia menyelesaikan S3-nya di London kemarin. Tadinya ia mau melanjutkan lagi kuliahnya tapi ibunya mengharapkan untuk bekerja dulu. Jadi ia akan mencoba bekerja di perusahaan kita yang kebetulan cocok dengan bidang studi yang diambilnya."


"Oya? Bidang apa?" tanya Iwabe pada wanita bercadar itu.


"Food and technology (makanan dan tehnologi)," jawab wanita itu langsung pada pria itu. Setiap Iwabe menatap padanya, wanita itu selalu menjatuhkan pandangan, tapi pria itu tak begitu memperhatikannya.


"Mmh, cocok memang."


"Abe, bagaimana kalau kau meluangkan lebih banyak waktu di kantor ketimbang di tempat kerjamu agar kamu bisa membimbing Faza di perusahaan."


"Ibu, 'kan di kantor ada Refan, Bu."


Ibu mengerucutkan mulutnya. "Dia 'kan baru. Sama dengan Faza."


"Jadi bagus 'kan? Biar sama-sama belajar. Lagi pula ada Ibu dan Ayah. Aku rasa itu lebih dari cukup."


"Abe."


"Aku datang kok Bu, tiap hari ke kantor kita. Ibu jangan takut, tapi kalau ibu minta waktuku lebih dari yang sudah aku berikan, aku tidak bisa. Aku 'kan juga terikat dengan pekerjaanku yang sekarang ini, jadi aku tidak bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja di kantor."


Ibu merengut, kesal.


"Maaf ya, aku baru pulang. Capek. Aku istirahat dulu di kamar," ucap pria itu berusaha sopan. Ia kemudian undur diri dan melangkah ke arah tangga.


Ririn menepuk tangan Maiko pelan. "Sudah, jangan dipaksa. Dia 'kan baru pulang kerja. Mungkin pekerjaannya hari ini melelahkan. Biarkan saja dia istirahat."


Maiko memandang Ririn dengan rasa bersalah.


Ririn malah terlihat senang. "Aduh, aku tak menyangka anakmu sudah dewasa dan terlihat matang. Tampan pula wajahnya. Iya 'kan Faza?"


Di panggil namanya, wanita itu tertunduk malu.


Memang terlihat aneh, Ririn tidak memakai jilbab sedang Faza anaknya malah memakai jilbab hingga cadar tapi kedua anak dan ibu itu saling akur dan saling menghormati.


"Kelihatannya mereka cocok. Bagaimana kalau kita biarkan saja mereka bertemu nanti di kantor. Mungkin karena ada kita mereka sungkan."


Maiko mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2