Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Anakku


__ADS_3

"Halo?"


"Papa?" Bian datang bersama neneknya.


"Sini dong peluk Papa dulu." Gerald mengulurkan kedua tangannya.


Bian datang dengan berjalan ke arah pria itu. Setelah sampai, pria itu memeluk dan mencium keningnya. Bahkan mengangkat dan mendudukkannya di pangkuan pria itu. "Kamu baru mandi ya?"


Bian mengangguk.


"Pantas, wangi anak Papa." Gerald mencium pelipis bocah itu. "Oya, Papa bawa robot yang bisa jalan. Mau lihat gak?"


Bian kembali mengangguk. "Mau."


Gerald mengambil sebuah kotak besar di samping kursi yang dibungkus plastik. Ia membukanya di depan Bian.


Sebuah boneka robot dari bahan plastik setinggi 50 senti dikeluarkan dan tombol di bagian punggungnya ditekan. Boneka itu mulai menggerak-gerakkan tangan dan kakinya membuat bocah itu terkejut dan melongo. Gerald meletakkannya di lantai dan boneka itu berjalan meninggalkan mereka dengan bunyi-bunyian aneh dan suara-suara dalam bahasa Inggris.


"Bagus 'kan?" tanya pria itu.


Bian masih melongo melihatnya.


"Ibu buat teh dulu ya?" Ibu beranjak berdiri.


"Oh iya, Bu." Gerald memperhatikan wanita paruh baya itu hingga jauh. "Bian, kamu mau gak tinggal sama Papa, mmh?"


Bocah itu hanya menatapnya.


"Papa akan sangat senang bila kamu dan Mama bisa tinggal bersama di rumah Papa. Papa akan belikan apa saja yang kamu mau. Mainan, mobil-mobilan, rumah-rumahan, bahkan jalan-jalan tiap hari. Kamu suka jalan-jalan 'kan?"


Bian mengangguk.


"Makanya bujuk Mama menikah dengan Papa, ya?"


Bocah itu hanya menatapnya.


"Bian gak mau tinggal sama Papa?"


Bocah itu hanya diam.


Sulit sepertinya. Aku harus melakukan pendekatan lain. "Bagaimana kalau hari Sabtu ini kita pergi jalan-jalan dengan Papa? Ajak Mama, gimana?"


"Jalan-jalan?"


"Iya."


"Sama Om?"

__ADS_1


"Kok sama Om?"


"Jalan-jalan sama Om!" ucap bocah itu bersikeras.


"Eh ...." Gerald menggaruk-garuk kepalanya. "Kita jalan-jalan bertiga saja. Papa, Bian sama Mama."


"Sama Om!" Bocah itu karena terbiasa dengan Iwabe, ia tidak ingin pria itu ditinggal.


Pria bule itu menghela napas pelan. Bagaimana lagi caranya aku membujuknya?


-----------+++------------


"Pak, ini sudah banyak lho, Pak. Lima kandidat. Kelima-limanya bagus semua track record-nya(perjalanan karier) jadi Bapak segini saja sudah cukup untuk memilih," terang Iwabe pada berkas-berkas yang ada di hadapan.


"Cari lagi," sahut Kobayashi tanpa menoleh. Ia tengah sibuk dengan HP-nya.


"Pak!"


Pria paruh baya itu menoleh.


"Hargai sedikit usahaku, Pak," ucap Iwabe kesal.


Kobayashi berdehem sebentar dan lalu melihat kertas-kertas yang bertumpuk di hadapannya. Ia melihat satu-satu. "Lumayan." Ia meletakkan semua kertas-kertas itu di atas meja dan kembali melihat HP-nya.


"Pak."


"Aku sudah melihatnya. Mau apalagi?" Kini Kobayashilah yang dongkol.


"Rasanya tidak ada yang cocok. sudah cari lagi sana!"


"Pak! Saya saja jauh dari pilihan Bapak, tapi kenapa Bapak memilih saya? Begitu juga dengan mereka. Bapak harus meng-interview mereka agar tahu cocok atau tidaknya. Tidak bisa berdasarkan CV saja, tidak cukup."


Pintu depan terbuka. Pegawai hotel membawakan makan malam.


"Aku lapar. Kita makan dulu," ajak Kobayashi seraya mengalihkan pembicaraan.


"Aku pulang saja, Pak." Iwabe meraih jasnya yang ia gantung disandaran kursi.


"Iwabe, temani aku makan." Kobayashi menatapnya.


Iwabe sebenarnya kesal dengan tingkah pria paruh baya ini karena tidak mau melihat CV kandidat yang sudah ia carikan dengan benar tapi melihat pria paruh baya itu memohon ... Iwabe menghela napas pelan.


Mereka kemudian duduk mengelilingi meja dan mulai makan.


"Oh, ya. Tolong kau ambilkan obatku di meja nakas," pinta Kobayashi.


Iwabe kemudian berdiri dan melangkah ke kamar Kobayashi. Saat itulah, Kobayashi memasukkan sesuatu ke dalam minuman Iwabe. Ia kemudian mengaduknya sebentar.

__ADS_1


Iwabe kembali keluar kamar Kobayashi dengan sebuah botol obat. "Yang ini?"


"Oh ya, benar."


Iwabe memberikannya pada pria paruh baya itu.


"Terima kasih."


Iwabe meminum sedikit jus jeruk miliknya dan Kobayashi hanya meliriknya. Mereka kemudian menyelesaikan makan malam tanpa banyak bicara.


Saat hendak berdiri, Iwabe mulai merasakan pusing. Pandangannya berkunang-kunang ketika berdiri. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan mata tapi pandangannya mulai tak jelas.


"Kau kenapa Iwabe?" Kobayashi memastikan.


"Entah." Pria muda itu hampir jatuh hingga berpegangan pada meja.


"Iwabe, kalau kau tidak sehat sebaiknya kau menginap saja di sini. Kau tak mungkin pulang." Kobayashi menjentikkan tangan pada bodyguard-nya hingga dua orang dari mereka mendatangi Iwabe dan memeganginya.


"Tapi aku ...." Iwabe tak lagi bisa melanjutkan karena ia tiba-tiba pingsan.


Salah seorang dari bodyguard itu menggendong Iwabe dengan kedua tangan dan membawanya ke kamar kosong yang biasa ditempati Iwabe. Di sana ia dibaringkan di atas tempat tidur dan diberi selimut. Kemudian bodyguard itu pergi dan meninggalkan Iwabe dengan Kobayashi berdua di dalam kamar.


Pria paruh baya itu mendatangi Iwabe dan merogoh kantung celana anaknya. Ia mengambil HP milik Iwabe dan mematikannya. Ia meletakkan begitu saja HP itu di atas meja nakas dan menatap Iwabe. Mmh, Maiko. Bagaimana rasanya kehilangan anakmu dalam sekejap, heh!


Kobayashi mencoba duduk di tepi tempat tidur dan mengusap kening dan rambut Iwabe lalu tersenyum. Tak pernah sebegitu senangnya ia menyentuh seseorang dibanding menyentuh Iwabe. Anaknya. Kita lihat bagaimana wanita galak itu kelabakan. Pria itu tertawa dengan pemikirannya sendiri.


Kobayashi menarik satu tangan Iwabe keluar dari selimut dan meletakkan di atas punggung tangannya. Lalu ia menepuk-nepuk tangan anaknya itu dengan tangannya yang lain, pelan. Tidur yang tenang ya, Otousan(ayah) di sini.


----------+++---------


Aneh, Iwabe tak biasa-biasanya begini. Biasanya dia yang menelepon tapi kini, sudah tak menelepon, dia juga tak bisa dihubungi. Ada apa ini? HP-nya sepertinya dimatikan. Nasti sudah menelepon pria itu berulang kali, tapi tak bisa dihubungi. Akhirnya ia menyerah. Semoga tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya, batin Nasti.


Maiko juga cemas. Ia tidak bisa menelepon Iwabe, sedang Sastra Dirga telah menelepon pengurus asrama dan mereka mengatakan bahwa Iwabe tak ke sana sementara Nasti pulang tepat waktu dan kini berada di kamarnya. Mereka pusing harus mencari Iwabe ke mana.


"Apa kau tahu nomor telepon bos Iwabe?" tanya Maiko pada suaminya.


"Tidak, aku tidak tahu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya di jalan karena kalau di tempat kerja, mereka pasti memberi tahu kita."


Maiko mengangguk. "Apa kita tidak lapor polisi saja?"


"Tidak akan diproses karena belum 24 jam."


"Kenapa polisi sangat lamban? Apa mereka menunggu ada yang celaka, begitu?!!" teriak wanita itu, naik darah.


"Maiko ...," ucap pria itu pelan.


Wanita itu langsung meraih lengan pria itu dan memeluknya. "Bagaimana dengan Iwabe?"

__ADS_1


"Kita sebaiknya berbaik sangka saja. Mungkin HP-nya terjatuh atau hilang tapi dia pasti baik-baik saja."


Maiko menyandarkan kepalanya pada bahu Sastra. Ia masih khawatir.


__ADS_2