Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kembali


__ADS_3

"Bagaimana kalau ia anak angkat?"


Pria itu mengerut dahi tapi kemudian mengembangkan senyumnya. "Tidak mungkin 'kan? Dia sangat mirip denganku. Tidak mungkin dia anak orang lain."


Bian mulai tak betah. Ia menggeser duduknya dan turun dari pangkuan Nasti. Ia berlari ke ruang tengah.


"Nasti, bisakah kita memulainya kembali? Kita punya anak yang harus kita jaga dan besarkan bersama."


"Kau punya anak dari rubah itu juga 'kan?"


"Tidak, itu bukan anakku."


Nasti terkejut. Ternyata mantan suaminya telah tertipu oleh selingkuhannya sendiri. Saat itu juga wanita itu ingin tertawa, tapi ditahannya. Entah kenapa ia merasa lega karena rasa sakit hatinya kini terbalaskan.


Hati terasa ringan walau jauh dilubuk hati, ia tidak membenarkan perasaan yang salah ini dengan mensyukuri kemalangan yang terjadi pada mantan suaminya. Jadi, sebenarnya apa yang dicarinya dari diriku sekarang ini? Aku atau anakku?


Gerald melihat perubahan pada wajah mantan istrinya itu. "Mmh, kau boleh mentertawakanku, tapi aku telah mendapat pelajaran dari sikap buru-buruku ini."


Nasti merubah raut wajahnya kembali serius. "Kau sudah menikah, Gerald. Berbahagialah dengan istrimu."


"Aku sungguh menyesal, Nasti, menceraikanmu. Kau ternyata yang terbaik. Aku tidak bisa hidup dengan wanita sampah itu, karena dari awal dia sudah menipuku."


"Kau sudah memilihnya, Gerald kini perbaiki hidupmu dengannya." Nasti menasehati.


"Tidak, tidak bisa, Nasti. Karena dia bukan kau."


"Kalau ini tentang anak, kau bisa membuatnya lagi dengan istrimu 'kan?"


"Karena itu. Ini bukan masalah anak. Ini tentang dirimu."


"Walaupun aku tak bisa memberimu keturunan?" Nasti menyangsikan.


"Kau sudah memberinya, Nasti." Pria itu tersenyum.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Walau tanpa anak." Pria itu dengan mantap menjawab.


Nasti memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Masih terasa rasa sakit itu dan cinta? Entah terbang ke mana. "Aku rasa kita tidak bisa memulai apa-apa."


"Nasti, ayolah ... Apa kamu masih sakit hati karena aku ceraikan waktu itu? Ok. Aku memang berengsek. Pria yang sangat berengsek tapi aku ingin menebusnya kini. Menebus semua kesalahanku padamu.


Tolong, Nasti beri aku kesempatan untuk menunjukkan padamu bahwa aku sudah berubah. Aku janji aku takkan menyakitimu lagi. Aku menyesal, kenapa dulu aku tidak sabar menanti buah hati itu hadir di antara kita." Pria itu tertunduk. Terlihat penyesalan yang dalam dari wajah pria itu dan Nasti bisa merasakan penyesalan itu bukanlah pura-pura.


"Entahlah, Gerald. Aku sudah tak ingin kembali padamu."


Nasti kemudian dikejutkan oleh gerakan tiba-tiba Gerald yang turun dari kursinya dan berdiri di atas lutut di hadapan wanita itu.

__ADS_1


"Nasti, tolong kembali padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Pria itu menyentuh tangan Nasti.


Nasti seketika menarik tangannya. "Maaf Gerald, aku tidak ingin mengambil suami wanita lain."


"Aku sudah katakan ...."


"Kalau kau akan menceraikannya? Ini malah makin salah, Gerald. Kau sudah punya istri. Hiduplah dengannya dan miliki anak keturunan dengan wanita yang sudah kau pilih. Jangan lagi melihat masa lalu. Aku masa lalu bagimu, juga kamu masa lalu bagiku jadi kita hidup saja sendiri-sendiri tanpa harus membuat ini jadi rumit."


"Kau tidak rumit bagiku, Nasti. Kau yang paling indah."


"Penyesalanmu sudah terlambat, Gerald. Hatiku sudah tidak bisa diperbaiki." Sebutir air mata lolos dari mata teduh milik Nasti. "Kalau kau mau memperbaiki hidupmu, kini hiduplah dengan pilihanmu. Aku sudah tak ingin kembali padamu." Wanita itu mengusap sisa air matanya di pipi.


Pria bule itu menatap dalam wanita yang telah disakitinya, yang kini tertunduk di hadapan. Ia baru menyadari telah melukai mantan istrinya itu demikian dalam hingga sulit bagi wanita itu untuk kembali.


Ia tahu, dosanya begitu banyak pada mantan istrinya itu, tapi hatinya hanya tertambat pada wanita itu. Ia tidak bisa ke lain hati dan ia baru menyadarinya kini.


Sejak ia tertipu istrinya yang sekarang, ia bertekad untuk mendapatkan mantan istrinya itu kembali, apalagi di antara mereka ada anak yang bisa merekatkan hubungan mereka. Ia yakin ia bisa membuat mantan istrinya itu kembali ke dalam pelukannya.


"Nasti, apa keberadaan anak kita tidak bisa membuatmu memaafkanku?"


Nasti tersenyum dan menatap Gerald. "Aku mungkin bisa memaafkanmu tapi tidak untuk kembali."


Mungkin, aku jangan memaksanya sekarang. Biar dia lihat kesungguhanku padanya agar dia bisa luluh dengan sendirinya, pikir Gerald.


Tiba-tiba Bian datang dengan berlari. "Mama!" Namun ia terkejut melihat Gerald berdiri di atas lutut di hadapan ibunya. Langkahnya segera terhenti.


"Sini, Nak sama Mama," panggil wanita itu pada Bian.


Bocah itu mendekat dengan was-was menatap Gerald. Pria itu membuat Bian sedikit takut untuk mendekati ibunya karena dia tidak kenal pada pria itu dan pria itu terus saja menatap ke arahnya.


Ketika sudah dekat, pria itu malah meraih tubuh bocah itu dan mencium pelipisnya. Pergerakan yang mendadak itu membuat Bian kaget dan menangis. "Huahhh."


Nasti tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Sini, Nak. Mmh, kaget ya?"


Gerald menyerahkan bocah itu pada Nasti dan duduk di sampingnya. Bian segera diam saat Nasti memeluknya.


Pria itu mencoba menyentuh punggung bocah itu. "Siapa namanya?"


"Bian." Wanita itu masih tersenyum mengingat bocah itu yang menangis karena terkejut dicium ayahnya sendiri itu.


Senyum Nasti kembali membuat Gerald jatuh cinta lagi pada wanita itu. Sudah lama ia tak melihat senyum itu. "Fabian?"


"Kata siapa?" Nasti melirik pria itu.


"Lho, bukan?"


"Biantoro. Biantoro Akmal."

__ADS_1


"Lho kenapa pakai nama keluargamu?"


Wanita itu mengerut kening. "Suka-suka akulah. Aku ibunya."


"Oh, ok." Sepertinya aku harus punya strategi untuk mendekatinya kembali. Pelan-pelan dan Nasti, kau akan kembali padaku. Pria itu memandangi wajah mantan istrinya yang telah lama dirindukan. "Bagaimana kalau aku sering datang menengok Bian?"


Nasti terlihat bingung. Ia mengangkat bahu. "Kau kan ayahnya," jawabnya singkat.


Bagus. Kesempatan itu ada.


"Kau bisa datang ke sini karena aku sering menitipkan Bian pada orang tuaku bila sedang bekerja."


Oh. "Apa kau harus bekerja sekarang?"


Nasti melihat jam tangannya. "Sudah terlambat."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan bertiga?"


"Apa?"


"Biar aku bisa mengenal Bian."


Nasti sedikit bingung. Ia tak mau pergi bersama mantan suaminya itu tapi Bian pasti tak bisa pergi berdua dengan ayahnya karena belum mengenalnya. Lagipula, ia masih belum mempercayai mantan suaminya itu bila harus membawa Bian. Ia terpaksa harus ikut.


Bian yang telah berhenti menangis, menegakkan kepala.


"Bian, ini siapa?" tanya Nasti pada bocah kecil itu dengan menunjuk Gerald.


Bocah itu menggeleng.


"Ini Papa."


"Papa?" Bocah itu menoleh pada pria yang berusaha tersenyum ke arahnya. Ia terus memandangi pria itu karena heran.


"Mmh, bagaimana kalau kita pergi ke Mall jalan-jalan bertiga? Kamu 'kan tidak bisa masuk kerja karena kesiangan," usul pria itu.


"Lah, kamu sendiri apa tidak pergi kerja?"


Pria itu tertawa. "Nasti ... Nasti. Aku 'kan pemilik perusahaan." Ia melipat tangannya di dada.


Ayah dan Ibu yang mengintip sedari tadi, lega.


"Apa mereka sudah baikan?" tanya Ibu.


"Mungkin."


"Kembali rujuk?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu," sahut Ayah yang masih mengamati.


__ADS_2