
"Jangan bicara seakan kau tahu segalanya. Kau tidak tahu bagaimana aku membesarkan Abe."
"Aku tidak pernah mengusirmu keluar Jepang, Maiko. Kau sendiri yang menyusahkan diri sendiri. Padahal kau punya orang tua dan saudara di sini, yang bisa membantumu membesarkan Iwabe, tapi kau malah pergi jauh. Apa karena kau tak ingin aku melihat anakku sendiri? Apa kau tak merasa dirimu egois? Aku ayahnya, biar bagaimanapun ada darahku mengalir dalam darahnya."
"Dan aku menyesal ada darahmu dalam darahnya," ujar wanita itu dengan mata nanar. Ia hampir menangis.
"Maiko ...," Iwahara mendesah pelan. "Tidak bisakah kau melupakan masa lalu? Demi masa depan anak kita. Yang lalu takkan terulang tapi yang di depan masih bisa direncanakan."
Maiko menitikkan air mata membuat Iwabe tak tega. "Ibu ...."
"Aku bukan mau menang sendiri tapi ... kau tidak pernah merasa bersalah." Maiko masih berbicara pada Iwahara.
"Maiko ...."
"Kau tidak pernah merasa apa yang kau lakukan menyakitiku. Aku memendamnya lama dan berharap kau mencariku tapi tidak. Kau tidak pernah mencariku."
"Bukankah kau minta a—"
"Dan akhirnya aku memilih Sastra dan menikah dengannya."
Maiko dan Iwahara bertatapan, tapi kini dengan cara berbeda. Mereka telah salah paham dan waktunya telah berlalu lama. Maiko akhirnya menunduk.
"Maiko, beri Iwabe kepercayaan, karena untuk jadi lelaki ia harus membangun kepribadian yang tangguh dengan mandiri. Beri dia kesempatan. Aku berjanji akan membantunya menjadi pria yang kamu inginkan asal kamu percaya, dia bisa."
Iwahara menatap kedua mata bening dan bercahaya milik Maiko. Mata yang dulu ia elu-elukan karena berhasil mengambil seluruh perhatiannya. Mata yang ia gagal pahami lukanya hingga bertahun-tahun lamanya.
Ia berharap Maiko masih seperti dulu. Percaya ia tidak pernah berbohong demi janji. "Maiko ... maafkan aku."
Wanita itu kini menangis. Iwabe mengambilkan kotak tisu untuk ibunya. Wanita itu mengusap pipinya yang banjir air mata.
Tentu saja Sastra, Nasti dan Reiko mendengar semua. Hanya Reiko yang tidak mengerti apa yang Iwahara dan Maiko ucapkan.
Iwahara menghela napas pelan. Bila, Maiko tidak mengizinkan dan Iwabe ingin kembali pada ibunya, ia bisa apa. Toh, dari awal ia juga sendiri.
"Ibu, boleh 'kan aku tinggal dengan Otousan?"
Iwahara terkejut dengan permintaan Iwabe pada ibunya. Keduanya kini menatap ke arah Maiko di mana wanita itu menatap balik kedua ayah dan anak itu bergantian. Ia masih menyelesaikan isak. "Tapi kau jangan lupa menjaga kesehatannya ya?"
"Baik, Bu." Iwabe tersenyum lebar.
"Dan jangan lupa tengok kami di Jakarta."
"Maiko, terima kasih," ujar Iwahara terharu.
"Kau jangan minum-minum lagi."
Pria paruh baya itu tersenyum. "Aku sudah berhenti, Maiko."
"Apa kami sudah boleh bergabung?" Sastra datang disusul Nasti dan Reiko.
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
Iwabe senang, orang tuanya yang berpisah kembali akur walau mereka tak kembali bersama.
---------+++--------
Iwabe kemudian mulai memimpin perusahaan menggantikan ayahnya. Iwahara lebih banyak di rumah bersama Nasti dan juga Bian. Apalagi diketahui kemudian, Nasti hamil.
Iwabe makin rajin bekerja dan di malam hari juga kursus bahasa Jepang agar ia bisa berbicara dengan bawahannya di kantor pusat, di Tokyo.
Di banding semua, Bianlah yang paling cepat menguasai bahasa Jepang. Bahkan ia cepat belajar bicara sejak belajar bahasa Jepang. Ia adalah bocah yang paling disayang oleh Iwahara. "Ojiichan ... bengkyo, bengkyo!(Kakek ... belajar, belajar!)." Ia berlari ke arah guru privatnya yang datang ke rumah pagi itu.
Iwahara yang melihatnya langsung menggendong bocah itu. "Ii ko ne?(anak baik ya?)"
"Mmh!(Iya!)" Bian mengangguk seraya memeluk leher kakeknya.
Nasti datang belakangan. "Otousan, sudah minum obat?"
"Sudah. Tanya saja pada suamimu."
"Iya, Otousan sudah minum obat." Iwabe mendekati sang istri dan menyentuh bahunya. Ia mencium kening wanitanya. "Aku pergi dulu ke London ya, Sayang. Nanti secepatnya aku pulang."
"Menginap?"
Pria itu tersenyum. "Yang paling enak tidur tuh, di rumah. Sama istri tercinta. Itu udah guling idaman."
"Ih, apaan sih, Mas." Nasti mencubit pinggang suaminya, manja.
"Aduh, tangan kamu tuh kreatif makanya aku tuh, suka gemes sama kamu." Iwabe ingin menggelitiki tapi wanita itu dengan pintarnya memeluk tubuh sang suami hingga Iwabe menyerah karena pelukan yang hangat. Apalagi ada calon buah hati mereka kini berada di perut Nasti.
"Kamu sudah ke dokter 'kan? Jaga kesehatanmu, jangan sampai batuk-batuk seperti kemarin." Ia mendekap balik istrinya.
"Mmh, boleh saja."
Terdengar Iwahara berdehem. Keduanya melepas pelukan.
"Eh, aku harus segera berangkat ke London." Iwabe mengambil berkasnya di atas meja makan lalu bergegas melangkah ke luar.
"Dah, Sayang." Nasti melambaikan tangan pada suaminya.
Pria muda itu membalas lambaiannya.
"Nasti, kau belum bilang pada Abe, tentang Gerald yang mau datang menjenguk Bian?"
"Tidak usah, nanti Mas Abe gak bisa kerja, Otousan. Dia cemburuan. Lagipula di sini banyak penjaga, aman kok rasanya. Bulan lalu 'kan juga begitu dan dia gak berani aneh-aneh lagi."
"Ya, sudah terserah kamu saja. Hahh .... " Iwahara merentangkan tangan. "Aku akan jalan-jalan di taman belakang, mumpung pagi."
"Ya, Otousan." Nasti kemudian duduk bersama Bian belajar bahasa Jepang dengan guru privatnya.
-----------+++---------
Faza duduk sendirian dan merengut. Refan tak tanggung-tanggung, sudah sejam telat. Ia tak suka ada orang telat datang dan tak juga memberi kabar. Ia gengsi harus telepon duluan.
__ADS_1
Tiba-tiba pria itu datang dengan wajah tegang menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Ia memasuki kafe itu.
Faza masih merengut dan ketika pria itu sudah sampai di hadapan, pria itu seketika mengeluarkan sesuatu dari belakang punggungnya. Seikat bunga mawar merah.
Seketika itu juga wanita itu terkejut. Ia tak bisa berkata apa-apa.
"A-aku ingin eh ... maukah kau menikah denganku?"
Faza masih terpaku. Bibirnya serasa sulit digerakkan.
"Faza, aku sudah lama menyukaimu. Bahkan sejak pertama kali bertemu. Sudikah kau hidup bersama denganku, Faza." Refan berlutut di depan wanita itu dan mengeluarkan sebuah kotak. Ia membukanya. Sebuah cincin yang di sodorkan pada Faza.
"Tapi, kau 'kan belum pernah melihat wajahku?" sahut Faza akhirnya.
"Tapi entah kenapa, aku sangat yakin." Refan menunduk sambil masih menyodorkan cincin itu.
"Mungkin, kau lihat dulu sebelum kau menyesal."
"Tidak usah, Faza. Aku bisa lihat nanti, setelah menikah. Tidak apa-apa."
"Kau boleh melihat dan menolaknya kok." Faza membuka cadarnya dan saat itu Refan bisa melihat bahwa ia tengah melamar wanita yang sangat cantik. Ia bahkan menjatuhkan buket bunga dan kotak cincin ke lantai karena saking terkejutnya.
"Aku menerima lamaranmu."
"Faza ...."
Sebulan kemudian mereka menikah dihadiri pula oleh Iwabe dan keluarganya dari Jepang. Pesta berlangsung meriah. Iwabe dan Nasti mendoakan keduanya agar langgeng dan cepat mendapat momongan.
Beberapa bulan kemudian giliran Iwabe yang didatangi ke Jepang karena Nasti melahirkan. Anaknya perempuan dan diberi nama Himawari. Himawari Kobayashi.
"Himawari artinya bunga matahari. Lihat, rambutnya seperti bunga matahari," sahut Iwabe pada Refan.
"Mmh, lebih mirip preman. Jangan-jangan besarnya galak nih!"
"Itu mirip rambut Mas Abe waktu masih gondrong," sela Nasti.
"Oya?"
"Nasti jangan cerita-cerita!" teriak Iwabe kesal.
Mendengar teriakkan pria itu bayi itu mulai menangis.
"Eh, Himawari. Ayah gak marah sama kamu." Iwabe menggoyang-goyangkan tubuh bayi itu agar diam. Bahkan mencium kening dan mengusap rambutnya yang lebat berdiri. "Sayang Ayah. Reader, Himawari 'kan anak yang manis ya?"
T A M A T
___________________________________________
Terima kasih bagi reader yang sudah mengawal novel ini sampai akhir. Jangan lupa kritik dan saran serta like, vote juga hadiah. Sementara, author akan menyelesaikan novel 'Author And The Baby' kemudian ke novel yang baru. Ini visual Himawari Kobayashi. Salam, ingflora💋
__ADS_1
Kepoin novel keren ini yuk!