Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Tak Pasti


__ADS_3

"Eh ...." Walaupun begitu, Nasti masih saja bingung.


Iwabe kemudian menggandeng wanita itu keluar restoran.


"Hei! Nasti!" teriak Gerald yang amarahnya kini sudah di ubun-ubun, tapi Nasti hanya mengikuti saja ke mana pria Jepang itu membawanya.


Di sekitar, para tamu yang terdiri dari kaum elit, merasa terganggu. Namun dengan berakhirnya drama Nasti pergi dengan Iwabe, membuat mereka bernapas lega. Mereka kembali dengan aktifitas mereka.


Pengelola restoran juga sedikit tegang melihat adegan itu yang akhirnya berakhir damai.


Namun salah seorang pelayan menyetop Iwabe di pintu keluar agar melakukan pembayaran pada makanan yang telah di pesannya sehingga terpaksa pria itu berhenti sebentar untuk menyelesaikan administrasinya.


Di saat itu, Nasti khawatir Gerald muncul, tapi yang dikhawatirkan tak kunjung keluar, dan ia lega saat Iwabe telah selesai dan membawanya keluar. Mereka kemudian pergi dengan mobil Iwabe.


"Bapak tak harus berbohong begitu, Pak, di tempat itu, karena banyak petinggi perusahaan yang sedang makan di sana." Nasti melepas cincinnya dan memberikan pada pria itu.


"Nasti, kamu pikir aku apa? Bohong, begitu?" tanya pria itu yang tengah menyetir. "Cincin itu pas di jarimu, karena itu aku memberikannya untukmu."


"Aku tidak mau."


"Nasti, aku pacarmu. Aku memberikannya untukmu."


"Sudah, Pak. Aku rasa tidak ada gunanya berpura-pura pacaran. Suatu saat, Gerald pasti tahu, kau hanya pura-pura demi agar aku bisa menghindarinya, tapi itu hanya sementara, Pak. Bian itu anaknya, aku takkan pernah bisa pergi jauh darinya."


Tiba-tiba Iwabe menepikan mobil membuat wanita itu terkejut. Ia melepas seatbelt dan mencondongkan tubuh ke arah wanita itu sambil berpegang pada dasbor dan sandaran kursi wanita itu. Karena ada Bian di tengah mereka, kini pria itu bertanya pada bocah itu dengan mimik serius. "Bian, Om tanya. Apa wajah Om terlihat bercanda?"


Bian menggeleng.


"Terlihat bohong?"


Bocah itu kembali menggeleng.


"Tuh! Anakmu saja tahu, masa kamu tidak." Iwabe menunjuk Bian.


Nasti melongo.


"Nasti."


Wanita itu terbangun dari lamunannya, dan ia tidak percaya ini. Bahkan saat ia berpikir ini pura-pura saja, butuh waktu lama untuknya memutuskan tapi Iwabe menyatakan ia serius? "Pak, Bapak tahu apa yang Bapak bicarakan, 'kan?" Ia memastikan.


"Lho, ada apa memangnya?" tanya pria itu bingung.


"Aku ini janda, Pak," ucap wanita itu dengan wajah sedikit memerah.


"Lantas?"


"Aku punya anak dan punya mantan suami."


"A-aku benar-benar tak mengerti apa yang kau bicarakan." Pria itu menegakkan tubuhnya dan melipat tangan di depan dada.


"Hidupku rumit."


"Lalu?"


Nasti tak tahu bagaimana mendeskripsikannya pada pria itu. "Sebaiknya tidak, Pak."


"Kenapa begitu?" Pria itu mulai terlihat kesal.

__ADS_1


"Karena ...." Nasti berusaha menemukan istilah yang tepat tapi pada akhirnya ia harus berterus terang. "Hubungan ini sulit."


"Apa sulitnya?" Iwabe masih penasaran dengan jawaban wanita itu yang masih mengambang.


"Pak, Bapak tidak diposisiku makanya takkan mengerti."


"Mengerti apa? Nasti, tolong katakan padaku sebab aku menyukaimu. Tidak bisakah rintangan itu kita lewati bersama hanya dengan cinta? Kenapa kamu begitu khawatir."


"Pak, anda masih muda, masih banyak yang akan Bapak lewati beserta cita-cita yang tinggi tapi dengan saya, mungkin akan sangat sulit."


"Apanya yang sulit? Nasti, tolong, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud."


"Pak, aku sudah jelaskan padamu aku janda."


"Aku tak peduli."


"Aku punya anak dari mantan suami yang selalu membayangi."


"Aku tak peduli."


"Bagaimana dengan orang tua Bapak?"


Pria itu menghela napas. "Aku tak peduli," ucapnya pelan.


"Pak, aku tak mau gara-gara saya, Bapak durhaka pada orang tua."


Pria itu menunduk. "Biarkan itu aku yang mengurusnya."


"Kalau begitu aku ingin putus!"


"Untuk apa, kita tak sepemikiran."


"Bohong!"


"Apanya?"


"Kau 'kan juga menyukaiku 'kan, Nas?"


Wajah wanita itu memerah. "Itu bukan alasan."


Bian yang sedari tadi mendengarkan masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dan hanya mendengarkan.


"Justru itulah alasannya, karena itu aku berani mengajakmu pacaran."


Nasti merengut walau pipinya masih memerah.


"Nasti, ayo mengakulah," bujuk Iwabe pada wanita itu.


Nasti tak mau bicara dan hanya berusaha melepaskan diri dari pegangan pria itu, tapi Iwabe dengan cerdiknya meminta bantuan bocah bule itu.


"Bian, Mama gak mau di sayang sama Om. Gimana tuh, Bian? Bujuk dong!"


Bocah itu langsung berdiri dan melingkarkan tangan di leher ibunya sambil bersandar di tubuh wanita yang melahirkannya itu dengan manja. "Mama sayang Om. Ya, ya, ya?"


Nasti tersenyum melihat mimik lucu Bian saat memohon membuat ia tak tahan untuk tersenyum. "Kamu ini ...." Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut.


"Nah, sudah ada satu yang dukung. Bagaimana?"

__ADS_1


Nasti menoleh pada pria itu. "Kenapa Bapak begitu yakin, aku menyukaimu?"


"Memangnya ada yang mau menolak pesonaku?"


"Ih!" Nasti berusaha mencubit pinggang pria itu tapi Iwabe sudah menghindar seraya tertawa. "Percaya diri sekali."


"Ya sudah, pasang lagi cincinnya. Mana?"


Nasti pun lupa menaruh di mana. "Rasanya tadi aku pegang ...." Ia menemukannya di pangkuan, diinjak sepatu Bian. "Oh, ini dia."


"Sini aku pasangkan." Iwabe memasukkannya pada jari wanita itu. Pipi Nasti terlihat kemerahan.


"Sekarang, ayo kita makan. Aku lapar sekali sejak kamu ajak berdebat tadi."


Nasti tertawa.


Pria itu kemudian menyalakan mesin mobil sambil memasang seatbelt-nya. "Kita mau makan apa?"


"Aku tak tahu. Apa saja."


"Bian?"


"Kentang!" Itu satu-satunya pembicaraan yang bocah itu tahu dari keduanya. Ia kemudian duduk kembali di pangkuan Nasti dan mobil mulai dijalankan.


----------+++-----------


Mereka akhirnya makan di restoran cepat saji. Makan kentang, burger dan nugget. Orang-orang memperhatikan pakaian Iwabe dan Nasti yang terlalu rapi bahkan 'wah' untuk restoran seperti itu, tapi mereka tak peduli. Terutama Nasti yang terus memandangi cincin yang diberikan Iwabe padanya.


"Bagus 'kan?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Nasti merengut. "Terlalu berlebihan. Kita 'kan cuma pacaran."


"Aneh. Biasanya wanita suka kalau diberi cincin."


Wanita itu menepuk bahu Iwabe. "Itu kalau mereka menikah," sahutnya.


"Mmh." Iwabe mengangguk-angguk. Ia mendekatkan wajahnya pada Nasti. "Bagaimana kalau kita menikah saja."


Wanita itu kembali menepuk bahu pria itu. "Ck! Jangan aneh-aneh deh! Untuk apa buru-buru." Namun wajah wanita itu terlihat semringah.


"Ya, kenapa tidak?"


"Tidak ah!" Netra wanita itu masih memandangi cincin itu.


"Nasti ...."


"Aku tidak yakin."


"Kenapa? Karena alasan kamu janda lagi?"


Nasti kini menatap pria itu. "Kadang orang menganggap itu buruk dan banyak yang menghindarinya."


"Bagimu mungkin itu luka tapi bagiku itu sebuah kesalahan masa lalu. Tak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan jadi pasti bisa diperbaiki."


"Tapi pandangan orang berbeda."


"Kalau begitu, pandang saja aku." Pria itu kembali mendekatkan wajahnya dengan senyum yang hampir tertawa, sedang Nasti, pipinya kembali kemerahan dipandang dari dekat oleh pria itu.

__ADS_1


__ADS_2