
Nasti mendekati tempat tidur dan duduk di tepian. " Kata Ibu, kamu lembur ya semalam."
"Mmh." Mata pria itu masih terpejam.
"Jadi orang kepercayaannya bos besar ya?" ledek wanita itu.
Iwabe membuka matanya. "Kenapa? Kamu mau bantuin?"
Wanita itu tertawa.
"Serius ini. Aku butuh bantuanmu." Pria itu meluruskan tubuhnya hingga terlentang.
"Bantuan apa, aku 'kan juga ke kantor?"
"Malam ini saja kok."
"Oh. Hari ini 'kan aku ada di sini."
"Iya, tapi kita tidak bisa bawa Bian."
"Bantuan apa?"
"Pergi ke acara nikahan."
"Lah, kalau itu 'kan Bian bisa ikut?"
"Ngak bisa. Ini acara nikahan anak rekan bosku."
Nasti mengerut kening. "Harusnya gak apa-apa."
"Bukan begitu, Nasti. Aku butuh bantuanmu karena bosku itu datang dari Jepang. Dia sudah lama tidak ke Indonesia dan ternyata banyak orang Indonesia yang menginginkannya untuk kerja sama. Kalau bawa Bian nanti takut kamu gak bisa fokus."
Kembali wanita itu mengerut kening. "Perusahaan apa sih?"
"Kobas."
"Oh, Kobas. Perasaan kamu gak melamar di perusahaan itu deh." Wanita itu mengerut kening.
"Iya, memang, tapi perusahaan yang aku masuki itu kebetulan kerjasama dengan perusahaan ini dan ternyata aku ditarik langsung kerja dengan owner-nya(pemiliknya)."
"Kok bisa?"
"Entahlah. Mungkin karena sama-sama orang Jepang."
"Kamu bisa bahasa Jepang?" Nasti takjub.
"Tidak. Justru dia marah-marah di awal karena aku tidak bisa bahasa Jepang."
Nasti tertawa. "Lucu juga, sama-sama orang Jepang tapi berkomunikasi dengan bahasa Inggris."
"Lho, justru dia gak bisa bahasa Inggris," terang pria itu. Ia langsung duduk dan meraih tubuh Bian ke pangkuan.
"Lah, kalian berkomunikasi dengan bahasa apa? Indonesia?"
"Iya."
"Wah, ini lebih seru lagi ini." Wanita itu bertepuk tangan.
"Maka itu, bantu aku ya?" Iwabe meraih tangan Nasti.
"Bantu apa?"
"Jadi asistenku, bantu menerangkan karena mungkin akan ada banyak orang yang ingin kerjasama, karena itu kita mungkin gak bisa fokus jaga Bian."
"Aku rasa, tidak apa-apa. Itu 'kan pesta pernikahan. Pasti banyak orang juga bawa keluarganya."
"Terserah kamu saja, yang penting kamu mau bantu aku."
__ADS_1
"Boleh saja."
"Kalau begitu kita pergi ke mall saja hari ini."
"Lho 'kan memang mau ke sana?"
"Kamu pasti gak punya pakaian pesta."
"Yang pink kemarin itu 'kan bisa?"
"Itu pasti Gerald yang belikan ya?"
"Memang kenapa?"
"Beli saja yang baru. Bosku itu rewel soal pakaian. Dia sudah memberikan aku uang untuk beli pakaian untukmu."
"Serius?" Wanita itu tak percaya.
"Iya, bahkan untuk beli pakaian untuk Bian juga cukup."
"Ya, ampun."
"Bisa 'kan, Nas, bantu aku nanti malam."
"Ya sudah. Sekarang sarapan dulu saja." Nasti menepuk lengan Iwabe.
"Ok!" Pria itu nampak bersemangat. Ia menggoyang-goyang tubuh Bian sambil memeluknya erat sehingga bocah itu kembali terkekeh.
---------+++---------
"Itu mahal, Be." Nasti menatap baju yang dipilih Iwabe. Dari awal ia enggan masuk butik itu tapi Iwabe memaksa.
"Ini bukan pesta nikahan biasa. Banyak bos besar yang akan datang ke sini jadi tolong, Nasti. Aku juga tidak ingin memaksamu tapi keadaannya seperti itu."
"Apa kamu yakin uangmu cukup?"
"Dia siapa? Bosmu?"
"Iya, siapa lagi?"
Nasti melangkah mendekati gaun yang dipegang Iwabe. "Tapi aku kok merasa, dia sepertinya perhatian denganmu?"
"Pria itu? No way!(Tidak mungkin!) Bicaramu kok mirip dengan ibumu."
"Ya, 'kan aku anaknya." Nasti tertawa. "Ya sudah, aku coba dulu."
Setelah itu, mereka juga membelikan pakaian pesta untuk Bian.
"Kamu tidak beli?" tanya wanita berjilbab biru itu saat mengantri di sebuah restoran cepat saji.
"Aku sudah dibelikannya kemarin. Wow, sejam lebih memilih baju." Iwabe menyugar dengan kasar rambutnya dengan kedua tangan.
Nasti tertawa. "Nanti ceritakan tentang perusahaannya ya, biar aku bisa menjawab pertanyaan orang-orang yang tertarik bekerjasama dengan beliau."
"Ya, BELIAU," ucap pria itu penuh penekanan.
"Apa beliau?" tanya Bian yang berdiri di belakang Iwabe.
Nasti dan Iwabe tertawa.
Setelah makan siang mereka pulang. Iwabe menunjukkan website perusahaan pada Nasti di laptop sambil menerangkan tentang perusahaan yang dimaksud.
-----------+++---------
Iwabe masuk ke dalam ruang hotel itu bersama Nasti yang menggandeng Bian. Nasti baru kali itu masuk ke dalam ruang kamar hotel sebesar itu hingga ia tak sadar, pegangannya pada Bian terlepas. Bocah itu seperti biasa berlari ketika menemukan ruang lapang seperti itu.
"Eh, Bian," panggil Nasti.
__ADS_1
Pintu kamar Kobayashi terbuka dan Bian menabrak kaki pria itu.
"Eh," Nasti dan Iwabe hanya bisa terkejut.
Begitu pula Bian. Bocah itu dan Kobayashi saling pandang. Sedetik kemudian Bian menangis karena tidak mengenal Kobayashi. Pria itu menggendong bocah itu dan memperhatikan wajahnya. "Anak siapa ini?"
"Oh, anakku, Pak. Maaf." Nasti mengambil Bian sambil membungkuk meminta maaf.
"Mmh? Bule?" Kobayashi menoleh pada Iwabe. "Suaminya ...."
"Mantan suami." Iwabe menegaskan.
Kobayashi mengerut kening. Kenapa harus di tegaskan? Ia menoleh pada wanita itu. "Kalian ...."
Nasti dan Iwabe saling berpandangan dan tersenyum.
"Pacaran?" tanya pria paruh baya itu penasaran.
"Mantan." Nasti menjawab lebih dulu.
"Ck, Nasti." Iwabe mengerucutkan mulutnya.
Wanita itu tersenyum lebar.
Kobayashi langsung mengerti, tapi ia ingin fokus ke pekerjaan. Karena itu ia langsung berdehem. "Kalian telah siap?"
"Oh, iya, Pak. Aku lupa mengenalkan. Ini Nasti, Marketing Manager di perusahaan tempatku bekerja sebelumnya, dan aku biasa bekerjasama dengannya kalau sedang ada tugas kantor." Iwabe memperkenalkan Nasti.
Nasti menganggukkan kepalanya pada Kobayashi.
"Mmh, selama kamu nyaman bekerja dengannya tidak masalah bagiku. Ayo berangkat."
Ternyata Kobayashi telah menyewa mobil Limousine untuk pergi ke pesta itu sehingga ruang mobil di kursi belakang menjadi luas. Bian yang terlihat senang dengan mobil seluas itu.
Selama di perjalanan Iwabe dan Nasti saling curi pandang. Nasti mengagumi penampilan Iwabe yang semakin terlihat matang dan Iwabe mengagumi penampilan Nasti yang semakin cantik dengan gaun yang dibelinya, membuat Kobayashi gerah melihat keduanya.
Pria paruh baya itu kemudian berdehem pelan. "Apa temanmu ini bisa membantumu nanti?" tanyanya pada Iwabe yang duduk di sebelahnya.
"InshaAllah."
Kobayashi mengerut kening. "Apa itu InshaAllah?"
Iwabe menoleh menatap pria itu. "Sejauh ini, tidak pernah mengecewakan."
Kobayashi berdehem kembali. "Bagus."
Ketika lampu merah dan mobil berhenti, Bian yang tidak bisa diam, turun dari kursi mobil dan melangkah ke tengah.
"Eh, Bian," seru Nasti.
"Oh, sini. Mau duduk sama Om?" Iwabe mengulurkan tangannya.
Namun kemudian mobil bergerak. Bian jatuh ke pangkuan Kobayashi. Mereka kembali saling pandang. Iwabe menarik bocah itu kepangkuannya tapi baik Bian maupun Kobayashi masih terus saling pandang. Iwabe memangku bocah itu.
Kobayashi mencoba menyentuh tangan bocah itu dan mengangkatnya. Bocah itu tidak menangis. Ia heran karena biasanya banyak anak kecil yang takut melihat wajahnya yang galak tapi bocah ini tidak. "Siapa namamu?"
"Bian."
___________________________________________
Halo reader. Tetap dukung novel ini ya, dengan like, komen, vote atau hadiah. Jangan lupa subscribe novel author ini, biar authornya senang. Ini visual Nasti dengan pakaian pesta yang dibelikan Iwabe. Salam, ingflora 💋
Sambil menunggu bab selanjutnya. Bisa baca novel teman author yang berikut ini.
__ADS_1