
"Hanya masalah kecil," gumam ayah Iwabe menjatuhkan pandangan. Ia benar-benar tidak ingin kalimatnya didengar.
"Masalah kecil yang bagaimana yang bisa membuat kalian bercerai?" Iwabe kembali duduk dan melipat tangannya di dada. Ia menatap serius ke arah Iwahara.
"Aku hanya mabuk."
Pria muda itu mengangkat alisnya. "Lalu?"
"Aku terbangun dengan seorang wanita."
"Dan bukan Ibu," sela Iwabe.
"Tentu saja!" Namun kemudian disesali pria paruh baya itu. Ia menghela napas panjang.
"Otousan, kau keterlaluan! Pantas saja Ibu minta cerai." Iwabe sampai berdiri karena kesal.
Iwahara segera duduk. "Tapi wanita itu tidak hamil. Aku sudah memastikannya."
Iwabe tercengang. "Otousan! Ini bukan masalah hamil atau tidak. Ini masalah kepercayaan dan Otousan sudah menghancurkan kepercayaan Ibu."
"Itu 'kan hanya pengaruh alkohol dan semua orang Jepang melakukannya. Kalau 'terpeleset' sedikit, itu bukan masalah besar."
Iwabe tak habis pikir dengan cara berpikir ayahnya. "Otousan! Jangan karena semua orang melakukannya, jadi menganggap itu lumrah. Itu tidak benar dan sangat-sangat tidak menghargai perasaan orang lain!" Iwabe kembali melipat tangannya di dada.
"Kenapa sih, hal seperti ini dibesar-besarkan?" omel pria paruh baya itu cemberut.
Iwabe membulatkan mata dan mulutnya. "Otousan! Bagaimana kalau seorang pemabuk tak sengaja membunuhku? Apa kau masih menganggap itu hal yang wajar?"
"Aku akan mencin*cang tubuhnya!"
"Lalu apa bedanya dengan yang Otousan lakukan?" omel pria berjas rapi itu.
Iwahara menatap Iwabe tajam. Matanya terlihat seram. Sebelum Iwabe sempat melakukan sesuatu, pria itu telah meraih tangan anaknya itu dan menggenggamnya erat. "Tapi kau tetap harus memegang janjimu!"
"Otousan saja tidak bisa memegang janji pada Ibu," ledek Iwabe kesal.
Pria paruh baya itu kini mencengkram tangan anaknya itu membuat Iwabe kesakitan.
"Ah, Otousan!"
"Kau sudah janji tidak akan meninggalkanku!" bentak Iwahara tapi kemudian dadanya terasa sakit. Ia membungkuk memegangi dada hingga cengkraman tangannya terlepas.
"Otousan?" Pria itu segera menyentuh punggung ayahnya.
"Kau tidak boleh ...," ucap pria paruh baya itu, pelan dalam menahan sakit.
__ADS_1
"Maaf, maaf. Apa Otousan masih terasa sakit? Sakit di mananya?" Iwabe coba memperhatikan wajah pria itu.
Iwahara hanya menggeleng. Nyeri di dada itu perlahan hilang.
"Ya sudah. Sekarang Otousan tidur ya?" Iwabe mengusap-usap punggung pria itu sebentar dan merebahkan tubuh sang ayah kembali ke tempat tidur lalu menyelimutinya. Saat ia menarik lagi tangannya, Iwahara kembali meraih tangan anaknya itu.
"Kau jangan ...."
"Iya, iya. Maaf. Aku menyinggung masalah itu." Iwabe menghela napas panjang. Ia terlalu penasaran hingga tak memikirkan akibatnya. Padahal ayahnya baru saja dapat serangan jantung. Harusnya ia bisa lebih bersabar untuk tidak menanyakan sesuatu yang akan membuat ayahnya emosi. Seharusnya ia ....
Reiko masuk ke dalam ruang perawatan dan kemudian berbicara dengan Iwabe. Saat Iwabe ingin mendengar lebih jelas, ia menarik tangan yang sedang digenggam Iwahara tapi pria itu sama sekali tak lepaskan. Iwabe terpaksa mendiamkan saja pria itu melakukan keinginannya.
Ia mendengar dari Reiko bahwa ayahnya harus dirawat karena baru saja kena serangan jantung. Ternyata ini bukan pertama kali. Ayahnya pernah terkena serangan jantung beberapa bulan yang lalu dan sempat dirawat di rumah sakit itu juga.
Serangan jantung itu lebih berbahaya dari pada penyakit jantung itu sendiri karena bisa menyebabkan orang yang terkena serangan jantung meninggal dunia. Karena itu, ayahnya harus dirawat di rumah sakit dan mengikuti diet yang disarankan oleh dokter. Ia pun juga harus hidup sehat dengan berolahraga dan mengurangi stres dalam kesehariannya.
"Otousan ... kau harus dirawat."
"Aku ingin di rumah bersama kamu, Nasti dan Bian," pinta Iwahara.
"Tapi, Otousan ...."
"Tolong. Apa kamu janji tidak akan meninggalkanku?" Pria itu masih menggenggam tangan Iwabe.
Terdengar ketukan di pintu dan Maiko, Sastra, Nasti dan Bian masuk ke dalam ruangan itu. Mereka mendatangi ranjang Iwahara.
"Mmh, Ibu. Bisakah kita bicara bertiga dengan Otousan?" tanya Iwabe pada ibunya.
Sastra langsung membawa Nasti yang sedang menggendong Bian dan juga Reiko duduk di kursi sofa, menjauh dari mereka bertiga.
"Ibu bisa duduk di sini?" Iwabe memberikan kursinya yang berada di sebelah ayahnya pada ibu. Iwahara masih belum melepaskan genggamannya. "Otousan ...." Ia menatap ayahnya, ingin dimengerti.
"Tapi kau ...."
"Bisakah kau mendengar permintaanku? Katanya Otousan akan mendengarkan permintaanku," tagih pria muda itu lagi.
Dengan berat hati Iwahara melepas genggamannya.
Iwabe memberikan kursinya pada ibu dan kini ia menghadap keduanya. Ia mulai bicara. "Tahukah kalian, aku malu melihat kalian bertengkar di depan orang banyak dengan membuka aib kalian masing-masing."
"Itu, ayahmu yang memulai," tunjuk ibu pada Iwahara.
"Aku hanya membela diri. Dia selalu menyalahkanku. Aku dulu diam tapi sekarang tidak lagi. Kau 'kan juga harus tahu ibumu yang sebenarnya, jadi kau tak gampang dipengaruhi."
Maiko melotot kesal pada Iwahara.
__ADS_1
"Tapi 'kan memang itu kesalahanmu 'kan, Otousan. Hingga ibu meninggalkanmu?" tanya Iwabe lagi.
Maiko tersenyum menatap mantan suaminya itu. Jadi kau katakan penyebab aku meninggalkanmu? Huh, bodoh!
"Jadi selama bertahun-tahun itu kau tak pernah menengokku, Otousan? Seingatku tidak." Pria itu meminta kejelasan pada ayahnya.
"Karena permintaan Maiko, aku jadi tidak bisa menengokmu, tapi bukan berarti aku tidak pernah mau tahu tentang dirimu. Aku mengirimkan orang yang bisa membuntutimu. Mereka mengambil foto bahkan videomu sejak kecil. Aku bahkan punya beberapa album fotomu dari kecil hingga sekarang. Aku tidak pernah melewatkan tumbuh kembangmu hingga dewasa sedetik pun. Aku selalu memantaunya walau aku tak ada di sana bersamamu." Pengakuan itu keluar dari mulut pria paruh baya itu membuat Iwabe terkejut.
Maiko terlihat marah dan berdiri. "Berarti selama ini kau tak pernah memegang janjimu, Iwahara."
"Memang kenapa? Dia 'kan anakku juga? Aku berhak melakukannya. Lagipula aku tidak boleh bertemu muka dengannya, itu janji yang kau minta dulu. Kalau begitu, aku tidak menyalahi janjiku sama sekali 'kan?"
"Tapi 'kan ...."
"Cukup!" Mendengar keduanya memanas, Iwabe terpaksa menengahi. "Aku minta kalian ke sini itu bukan untuk bertengkar tapi berdamai. Kalian orang tuaku tapi sampai umurku sekarang ini, kalian masih memperebutkanku."
Iwabe beralih pada Iwahara. "Otousan. Aku anakmu dan sudah dewasa. Aku tidak suka cara Otousan melakukan kekerasan agar aku ikut dengan keinginanmu."
"Tapi aku melakukannya demi kebaikanmu," elak pria paruh baya itu.
"Biarkan aku memilih apa yang aku inginkan, Otousan. Bukankah kamu ingin aku juga mendengarkanmu?"
Iwahara terdiam sementara Maiko tersenyum penuh kemenangan.
"Ibu juga." Pria muda itu menoleh pada Maiko. "Tolong dengarkan permintaanku, Bu."
"Bukankah kamu tumbuh dengan nasehat dan arahan ibu?" Wanita itu mengingatkan.
"Tapi aku sudah dewasa, Bu. Sudah bisa memilih jalannya sendiri."
"Dan ibu ada untuk memastikan kau berada di jalan yang benar."
"Tugas ibu sudah selesai. Biarkan aku mencoba mandiri."
"Jadi untuk apa ada ibu?"
"Untuk melihat hasil didikan ibu."
"Tapi kau sering salah dalam memilih Abe. Jadi ibu harus membantumu."
"Maiko, Iwabe memang lahir dari rahimmu, tapi dia bukan kamu. Dia punya kehidupannya sendiri yang ia ingin jalani jadi, berhentilah menjadi Tuhan untuknya." Iwahara ikut bicara.
Maiko mengerut kening, dan menatap mantan suaminya itu dengan kesal.
___________________________________________
__ADS_1
Yuk, intip novel keren berikut ini.