Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Masih Sakit


__ADS_3

Wanita itu menepuk-nepuk bahu Iwabe. "Pak."


Pria itu mengeliat sedikit dan membuka matanya pelan. "Ada apa?" Ia mengeratkan pelukan pada Bian.


"Bapak tidur di tempat tidurku! Masa Bapak ngak ngerti juga sih?" Setengah berteriak Nasti cemberut.


"Oh!" Pria itu membuka matanya lebar-lebar dan segera duduk. "Maaf, Nasti aku lupa."


Bian, karena gerakan Iwabe yang bangun cepat membuat tidurnya terganggu. Ia bangun dan mulai menangis. "Huaaaa."


Nasti segera mengambilnya. "Sini, Nak. Ngak papa. Kaget ya?" ucap Nasti lembut.


Bian langsung tenang saat dalam pelukan ibunya.


"Maaf, Nasti. Maaf." Pria itu mengusap belakang kepalanya.


"Itu sudah kumasakkan makan malam." Wanita itu menunjuk dengan dagunya ke lantai di sampingnya. Di sana di atas sebuah baki, tersaji nasi dan lauk pauknya. Juga teh hangat.


"Aku tidak minta ...." Namun pria itu melihat Nasti kembali merengut membuat ia menghentikan ucapannya. Rasanya tak sopan kembali membantah setelah susah payah wanita itu masak untuknya. "Eh, terima kasih, Nas."


Pria itu bergeser ke baki. Nasti mengeluarkan satu piring yang ternyata untuk Bian. "Ayo, Nak makan. Aaaa."


Bocah itu melahap dari sendok yang disodorkan ibunya dan sebentar kemudian ia telah menegakkan kepala. Ia turun dari pangkuan dan berjalan ke sudut ruangan.


Ternyata ia mengambil mainan yang berupa mobil-mobilan murah dari plastik. Bocah itu kembali dan duduk di samping Nasti sambil bermain mobil-mobilan. Ia kembali membuka mulutnya. "Aaa!"


Wanita itu kembali menyuapi bocah itu.


Iwabe tersenyum melihat tingkah Bian yang ternyata tidak senakal yang ia duga. Bahkan lucu juga rasanya melihat anak bule seperti bocah itu yang makan lahap dengan nasi. "Makannya tidak susah ya?" tanyanya sambil mengunyah.


"Bian? Tidak, asal makan di jamnya. Diluar itu dia tidak mau kecuali makan buah atau kue."


"Teratur sekali hidupnya. Kau selalu memberinya makan di jam itu?"


"Tidak juga. Dia mirip ayahnya yang ...," ucapan Nasti terhenti saat membicarakan mantan suami. Dadanya terasa sesak. Seperti baru kemarin kejadian itu tapi rasanya masih sama. Menyakitkan.


Iwabe bisa melihat sekilas ada luka yang tersimpan dalam-dalam yang tidak pernah keluar dari sarangnya dan ia tiba-tiba merasa bersalah karena tanpa sengaja membawa luka itu keluar begitu saja. "Eh, maaf."


Wanita itu menggeleng. "Tidak apa." Ia menatap Bian dan mengusap kepala bocah itu pelan. Kenapa kau sama persis dengan ayahmu. Wajahmu, gaya makanmu, sifatmu. Ah, tidak! Kau tidak akan sama dengan ayahmu 'kan, Nak membuang ibu, karena ibu sangat sayang padamu walau kau sama persis dengannya.


"Haciuh!" Iwabe bersin hingga mengagetkan Bian.


Bocah itu tertawa. "Mama, haciu." Ia menunjuk pria itu seraya menatap Nasti.


Iwabe menggosok hidungnya yang terasa geli.


Nasti menarik anaknya mendekat. "Ih, kamu flu ya?" Ia melihat hidung pria itu yang mengalirkan cairan bening. Segera ia mengambilkan kotak tisu. "Ini."


Pria itu mengambil tisu itu dan membersihkan hidungnya. "Mungkin."


"Sudah, jangan dekat-dekat anakku nanti ketularan!" Nasti menarik anaknya mendekat.

__ADS_1


"Mama, haciu." Bian masih mentertawakan pria itu.


"Sudah, Nak. Jangan begitu. Tidak baik mentertawakan orang." Nasti menasehati anaknya.


Namun Bian masih mentertawakan pria itu. Iwabe masih sibuk membersihkan hidungnya yang masih mengeluarkan cairan. "Maaf, Nasti," sahut pria itu pelan.


"Mana tadi tidur pelukan sama Bian lagi! Pasti besok dia flu juga, ketularan kamu," ucap Nasti kesal.


Iwabe tak berani bicara. Ia meneruskan makannya sambil membersihkan hidungnya yang masih saja melelehkan cairan bening itu.


"Mmh!" Wanita itu mengerucutkan mulutnya.


Walaupun begitu, wanita itu masih sempat membelikan Iwabe obat flu sebelum pria itu pergi tidur di kamarnya sendiri. Pria itu hanya bisa berterima kasih karena wanita itu masih memasang wajah cemberut.


-----------+++----------


"Pak." Ketukan pintu untuk kesekian kalinya masih dilakukan Nasti karena ia mulai khawatir. "Pak."


"I-iya sebentar." Terdengar suara dari dalam kamar.


Nasti mulai bernapas lega. Kemudian pintu terbuka.


Terlihat pria Jepang itu masih dengan pakaian yang sama. Sweater semalam dan rambut yang berantakan. Wajahnya masih nampak pucat.


"Bapak masih sakit?"


"Kepalaku masih pusing, Nasti. Aku izin dulu hari ini." Pria itu memicingkan mata saat matahari menangkap wajahnya. Rupanya ia menutup jendela kamar dengan gorden tebal sehingga kamar menjadi gelap dan matanya langsung terkejut melihat sinar matahari pagi.


"Kenapa, Nas?"


"Aku mau menitipkan Bian biar kamu ambil cuti, karena ibuku sakit, tapi kamu malah sakit betulan," gerutu Nasti kesal.


"Lho aku memang sakit, bukan bohongan," terang Iwabe seperti bingung dan ingin tertawa.


Nasti menyentuh dahi pria itu yang memang hangat. "Iyaaa," ucapnya dengan suara lemah.


Hidung pria itu kembali mengalirkan air bening menyebabkan ia tergopoh-gopoh ke dalam kamar dan mengambil tisu. Ia membersihkan hidungnya.


"Jadi gimana nih?" teriak Lia yang berada di dalam bus. Bus telah sarat dengan penumpang.


Refan yang merupakan staf HRD hanya bisa tersenyum. "Sepertinya Nasti juga gak bisa ke kantor ya?"


"Ya udah, Fan. Kita berangkat saja deh!" ujar Lia pada pria itu.


"Maaf ya, jadi membuat kalian menunggu." Nasti mendekati bus itu dengan wajah menyesal. Ia menyaksikan bus itu keluar dari halaman mess.


"Nasti, aku sebenarnya bisa menjaga Bian."


Wanita itu berbalik menatap Iwabe. "Dengan keadaanmu seperti ini?!" Ia menunjuk pria itu dengan telunjuk dengan wajah sengit.


Eh, salah lagi. Mau dibantuin tapi marah-marah.

__ADS_1


"Mama, haciu, Ma." Bian yang melihat hidung pria itu yang mulai memerah, menertawainya.


"Sudah." Nasti berusaha mendiamkan anaknya dengan suara rendah. Ia yang terlanjur berpakaian rapi terpaksa kembali ke kamarnya dengan langkah pelan seraya menggandeng tangan bocah itu.


"Mama, haciu." Bian masih mengucapkan itu sebelum masuk ke kamarnya dengan senyum lebar.


Iwabe menghela napas panjang. Kepalanya masih terasa pening dan pagi-pagi ia sudah dimarahi wanita itu akibat tak bisa menitipkan anaknya padanya. Padahal Nastilah yang meminta tolong. Kepalanya tambah pening saat memikirkan emosi wanita itu.


Pria itu kembali ke dalam kamar dan meringkuk di dalam selimut. Di saat seperti itu rasanya ia ingin pulang, karena terbayang ibunya pasti tengah memasakkan bubur dan menungguinya makan. Iwabe tiba-tiba merasa lapar, tapi ia belum cukup kuat kalau harus keluar mencari makanan sendirian.


Ia hanya bisa menenggelamkan diri dalam selimut saat keinginan itu menyergapnya. "Ibu," gumamnya dalam kerinduan.


Ia gelisah tak bisa tidur karena lapar. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu kembali diketuk.


Aduh, pasti Nasti lagi. Apalagi sih yang dia inginkan? Iwabe berdiri dengan malasnya.


Kembali terdengar ketukan.


"I-iya, sebentar!" teriak pria itu sambil menghela napas pelan. Ia membuka pintu. "Maaf, tapi aku ...."


Sebuah baki disodorkan di depan wajahnya. "Ini."


Pria itu terlihat bingung.


Kembali Nasti menyodorkannya. "Ini. Bapak 'kan belum sarapan 'kan?"


Netra Iwabe berkaca-kaca.


"Lho, kenapa, Pak?" tanya wanita itu heran.


"Aku lapar."


Nasti tersenyum mendengar jawaban pria itu.


___________________________________________


Ini novel terbaru author. Cekidot!


Sebuah kehilangan, meluruskan takdir menemukan jalannya.


Abigail lelah terus-terusan bertengkar dengan istrinya yang baru melahirkan dan mencoba mencari udara segar di luar.


Tak sengaja, ia bertemu dengan seorang wanita di sebuah kafe baru yang membuatnya sering tersenyum melihat tingkah konyol wanita itu. Ia kemudian ketagihan mendatangi kafe itu tiap hari hanya demi melihat kekonyolan wanita itu, hingga pada suatu hari, wanita itu absen datang. Abigail merasa kehilangan.


Di saat yang sama, istrinya menghilang bersama bayi mereka. Sang istri kemudian ditemukan bunuh diri dan bayi mereka menghilang.


Siapa yang harus dicarinya terlebih dulu? Di saat stres seperti itu ia membutuhkan keduanya. Mampukah ia mencari bayinya dan juga wanita itu?



Sambil menunggu kelanjutan novel author, baca novel ini yuk!

__ADS_1



__ADS_2