
"Bagaimana, Nasti? Sebentar lagi orang-orang dari butik akan datang mengepas pakaian nikah untukmu, Sayang." Pria itu mendatangi ranjang tempat wanita itu duduk. "Aku harap kau jangan berbuat yang macam-macam atau aku akan mengambil Bian darimu."
Mendengar ancaman Gerald, Nasti menatapnya dengan wajah sedih. Walau diucapkan dengan pelan tapi tetap itu sebuah ancaman. "Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Maaf, tapi aku takkan bisa mencintaimu lagi. Luka yang kau torehkan untukku terlalu dalam untuk aku bisa mencintaimu lagi."
Gerald kaget mendengar pengakuan Nasti. Ia segera meraih kedua tangan wanita itu dengan lembut. Ia duduk di samping wanita yang telah memberinya seorang keturunan.
Bian yang ketakutan, naik ke atas tempat tidur dan berdiri di belakang ibunya.
"Nasti, mungkin kau sulit menerimaku sekarang, tapi aku tidak saja berjanji, tapi bersumpah. Aku takkan mengecewakanmu, menyakitimu, atau berbuat yang melukai perasaanmu lagi bila kau menikah denganku.
Aku akan buktikan, bahwa aku sungguh-sungguh dengan perkawinan ini, Nasti, dan hidup kita akan bahagia. Dan untuk itu, aku bersedia menunggu lukamu kembali sembuh dan bisa menerimaku apa adanya. Aku akan menunggu saat-saat itu, Nasti. Saat di mana kau akan bisa mencintaiku dengan sepenuh hati."
"Karena itu, tidakkah kita bisa menunda dahulu pernikahan ini?" Terlihat sekali Nasti berusaha menahan air mata sambil memohon pada Gerald. Ia belum siap dengan pernikahan mendadak dengan pria yang sudah masa lalu baginya kini. Ia berharap bisa membujuk pria itu baik-baik agar ia bisa menata hati.
"Tidak." Pria itu menatap jauh ke dalam mata lembut mantan istrinya itu. Ia tidak mau kehilangan kesempatan ini, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Ia harus memburu waktu karena Iwabe yang tiba-tiba menghilang, bisa saja setiap waktu datang. "Aku tetap akan menikah denganmu besok, karena itu istirahatlah dengan tenang dan jangan terlampau stres. Tidak baik untuk wajah cantikmu esok hari."
"Gerald ...."
Pria itu beranjak berdiri. Ia tidak ingin mendengar penolakan Nasti lagi. Ia sempat menoleh saat berdiri di pintu sebelum keluar kamar. "Nasti, tak usah kau khawatir tentang apa yang akan terjadi besok karena semua pasti akan baik-baik saja." Gerald menutup pintu.
Nasti hanya tertunduk. Pelukan Bian di leher, satu-satunya penghiburan.
------------+++-------------
Ayah Nasti menutup telepon.
Ibu menatap pria paruh baya itu dengan wajah khawatir. "Kita harus bagaimana, Pak?"
"Aku tidak bilang kalau Nasti akan menikah besok, tapi sedang pergi dengan mantan suaminya. Aku tidak bohong 'kan, Bu?"
"Tidak, tapi kenapa Iwabe juga menghilang? Apa Gerald menculiknya agar Nasti mau kembali menikah dengannya?"
__ADS_1
"Entahlah, Bu. Ayah tidak ngerti. Yang kita tahu, Nasti akan menikah besok di sini dan orang-orang dari pelaminan itu telah menghias ruang tamu kita, itu saja. Perkara Nasti setuju atau tidak, aku tidak tahu."
"Ya, pastilah tidak, Ayah. 'Kan kita tahu, Nasti sedang bersama Gerald. Kalau ia setuju, pasti dia ada di sini bersama kita menerangkan kenapa ia harus menikah besok."
"Kenapa Gerald harus pakai cara kekerasan sih, Bu? Ayah bingung. Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" Ayah mengusap rambutnya. "Apa Gerald menyekap Iwabe? Kalau benar, ini akan jadi masalah karena Ayah Iwabe tadi yang menelepon ayah. Ini bakal jadi perang besar." Ia menatap istrinya.
"Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan Nasti ya, Yah. Ibu takut." Ibu menggenggam erat kepal tangannya. "Kenapa nasib Nasti selalu tidak beruntung, padahal dikelilingi oleh orang-orang kaya. Apa memang begini nasib kita kalangan orang bawah?"
Ayah menepuk-nepuk tangan ibu. "Kita doakan saja yang baik-baik. Hanya itu yang bisa kita kerjakan sekarang."
Ibu mengangguk pelan.
----------+++-----------
Iwabe membuka matanya pelan. Ia masih setengah mengantuk. Perlahan ia menyusuri pemandangan pertama yang dilihatnya. Ia, berada di sebuah kamar. "Mmh?" Bukankah aku ....
"Oh, kau sudah bangun, Iwabe."
Iwabe terkejut hingga buru-buru duduk. Kepalanya yang masih berat sedikit pusing untuk tiba-tiba duduk. Ia menyentuh dahinya seketika. "Ah ...."
"Iwabe, kau tidak apa-apa?" Pria paruh baya itu mengkhawatirkan anaknya.
"Mmh." Iwabe masih memejamkan matanya. Ia ingat kembali apa yang terakhir terjadi. Jadi aku sekarang ada di mana? Di Jepangkah? Jadi Nasti telah ... Ia tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. "Apa kau benar orang tuaku?"
Ia membuka matanya dan mengangkat kepala, menatap Kobayashi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua di masa lalu tapi kenapa aku yang kena imbasnya? Kenapa kemarahan kalian tidak kalian ungkapkan satu sama lain? Kenapa pula aku yang harus menanggung akibatnya? Aku sedang mencari kebahagiaanku sendiri, tapi kenapa aku harus ikut campur dalam pertengkaran orang tua yang tiada ada habisnya?
Aku ingin menikah dengan Nasti, tapi kenapa aku harus dipusingkan tentang masalah perusahaan? Katanya aku harus mengaturnya, tapi pada akhirnya aku harus mengikuti keinginan kalian, lalu apa yang disebut pemimpin kalau bergerak saja aku harus ikut peraturan kalian?" Ia menghela napas pelan.
"Aku bukan anak kecil lagi. Aku punya kemauan dan aku tak ingin dipaksa karena aku sudah cukup dewasa. Tak bisakah aku memilih apa yang aku inginkan?" Ia menatap nanar pria paruh baya itu yang kini menatapnya dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Kobayashi akhirnya bicara. "Lalu sekarang kau mau apa?"
__ADS_1
"Tentu saja menyelamatkan Nasti, tapi itu sudah terlambat, 'kan?"
"Nasti akan menikah pagi ini, kata mata-mataku di sana."
"Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa." Wajah pria itu terlihat putus asa.
"Bisa saja. Kita perlambat acaranya di sana. Kau maunya bagaimana?"
Iwabe segera menghapus air matanya. "Be-benarkah? A-apa aku bisa ke Jakarta? Tapi ... bagaimana? Eh, aku harus bagaimana? Bisakah pernikahan itu digagalkan saja karena aku jauh, masih di Jepang, iya 'kan?" Ia panik dan menatap Kobayashi.
"Kata siapa kita di Jepang? Kita sekarang ada di Singapura. Kau sendiri 'kan yang bilang duniamu hanya dengan wanita itu, karena itu aku berhenti dan mampir di Singapura. Aku ingin tahu lebih dalam apa yang kau inginkan." Pria paruh baya itu tersenyum pada anak laki-lakinya.
Iwabe tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menatap kedua bola mata pria paruh baya yang ternyata ayahnya itu. Ia tak menyangka, pria itu malah mengabulkan keinginannya. Iwabe segera mendekat dan memeluknya.
"Oh!" Kobayashi terkejut dan tertawa. Ia menepuk-nepuk punggung anaknya dengan rasa lega. Lega karena anaknya mengetahui keberadaan dirinya dan lega Iwabe mengakuinya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pelukan ayah dan anak yang sudah lama saling merindukan.
"Otousan."
"Mmh."
"Aku boleh ke Jakarta?"
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?" Iwabe melepas pelukan dan menatap pria paruh baya itu.
-----------+++-----------
"Ada kemacetan apa sih, kok bisa selama ini?" Gerald geram dengan kemacetan yang terjadi di tol. Padahal niat ingin masuk tol karena agar cepat sampai, tapi ia bisa kemungkinan terlambat bila kemacetan itu belum juga usai setengah jam ke depan. Pria dengan pakaian jas mahal berwarna abu-abu itu terlihat merengut kesal.
Ia mengintip lewat cermin di atas, Nasti yang duduk di belakang dengan dandanan cantik dan baju muslim berwarna abu-abu. Di sebelahnya duduk Bian dengan baju jas lengkap yang membuat bocah itu terlihat makin tampan. Hanya Nasti terlihat murung.
__ADS_1