
"Oh, ya. Mau kujemput besok?" Pria itu menawarkan.
"Ah tidak usah, Pak aku tidak mau menyusahkan Bapak. Lagipula, aku ingin pergi ke Mal membeli baju buat Bian."
"Oh, tidak apa-apa. Aku temani sekalian aku mau bayar hutangku. 'Kan kemarin baru gajian." Iwabe tahu, pasti wanita itu belum mendapatkan gajinya karena baru masuk kerja tengah bulan.
"E ...." Nasti menimbang. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan pria ini, apalagi kemarin itu ia membantu Iwabe atas dasar kemanusiaan, tidak lebih. Ia takut pria itu mengartikannya lain.
"Aku takut Bapak punya acara karena aku tidak tahu akan berangkat jam berapa." Nasti berusaha menghindar dengan cara halus.
"Kalau begitu, beritahu nomor teleponmu biar aku atau kamu bisa kasih kabar."
Nasti benar-benar tidak bisa menghindar lagi. Ia memberikan nomor teleponnya.
Saat mobil sampai di depan rumah Nasti, ternyata ayah ibunya menanti di beranda rumah. Mereka mendatangi pagar.
Nasti turun dan ayah mengintip pengendara.
"Oh, Nak. Ngak mampir dulu?" sahut ayah Nasti pada Iwabe.
"Oh, iya. Lain kali saja, Pak." Iwabe menganggukkan kepala.
Begitu pintu pagar dibuka Bian langsung berlari dan memeluk kaki sang kakek. "Kakek!" Bian menengadah.
Ayah tersenyum melihat tingkat cucunya. "Aduh, cucu kakek."
"Terima kasih, Pak," sahut Nasti pada pria Jepang itu.
"Iya, gak papa." Iwabe juga mengangguk sopan pada ibu Nasti. Pria itu kemudian menghidupkan mesin dan menjalankan mobil.
Setelah mobil berlalu, "dia siapa, Nas?" tanya ayah pada anaknya.
"Oh, dia pengurus mess, Yah."
"Bukannya dia sopir bus itu?" sela Ibu ikut bicara.
"Sopir bus?" kembali ayah dibuat bingung.
Nasti tertawa. "Iya, gak tau itu orang kerjanya banyak dan merangkap-rangkap. Dari supir bus, pengurus mess sampai kerja di kantor juga, sebagai pengawas pabrik."
"Mmh, hebat juga ya? Padahal itu kerjanya bisa dibilang 24 jam lho, non stop. Coba pikir. Pagi mengantar karyawan, terus kerja, terus setelah pulang juga harus mengantar karyawan. Belum kalau ada masalah di mess. Bisa dikatakan tidurnya pasti tidak penuh," terang ayah yang menggendong cucunya yang tak bisa diam.
Nasti pun sempat berpikir dan mengangguk-angguk. Benar juga ya?
------------+++-----------
Iwabe yang sudah sampai ke rumahnya di sambut dengan wajah heran oleh ibu.
"Kamu pulang lagi? Ada angin apa kamu ke sini?" Ibu terlihat curiga.
__ADS_1
"Lho, bukannya Ibu kemarin-kemarin bilang supaya aku lebih sering menengok Ibu di rumah. Sekarang setelah aku kerjakan, Ibu malah curiga." Iwabe memeluk ibunya dan memberikan kecupan di kedua pipinya.
"Beneran ini?"
"Ya, Allah, Ibu ... Masa gak percaya sama anak sendiri sih? Aku bahkan mau menginap hari ini. Apa ibu gak mau aku menginap?" Iwabe masih memeluk ibunya.
Wanita paruh baya itu tersenyum lebar. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang pria itu seraya menyandarkan kepala pada dada bidang anaknya yang kini telah menjadi pria dewasa. "Kangen Ibu."
Ia menegakkan kepala. "Ibu mau masak sop iga atau mau spagetti?"
"Terserah saja tapi pasti aku makan."
"Ibu mau masak suki yaki tapi sausnya habis."
"Eh, eh, siapa itu yang berani peluk-peluk istri Ayah?" Ayah muncul dari kamarnya dengan masih berpakaian piyama.
Iwabe hanya tertawa dan melepas Ibu. "Ayah, gitu aja cemburu."
"Eh, kamu bukan anak kecil lagi ya? Cari sendiri pasanganmu, jangan ambil pasangan Ayah," ledek Ayah pada anaknya.
Ibu tersenyum lebar.
-----------+++---------
Iwabe menemani ibunya belanja di supermarket dan di dapur. Pria itu bisa masak karena Ibu mengajarinya. Setelah itu mereka makan siang bersama.
"Be, kamu gak mau coba pacaran?"
"Masa masalah seperti itu kamu sensitif sekali. Memang kamu gak pernah berpikir untuk punya pasangan hidup dan keturunan?"
"Justru karena ini menyangkut masalah pasangan makanya aku sensitif, Yah!"
"Teruskan."
Iwabe malah berhenti dan menatap kedua orang tuanya. Ia mengambil serbet dan mengusap tangannya sedikit yang masih bersih dan melempar pelan serbet itu di atas meja. Ia melakukannya bila sedang kesal. "Ini pertanyaan jebakan ya?"
Ayah terkekeh. "Sudah cerita saja pada kami, mungkin saja kami bisa mencarikan. Betul gak, Bu?" Ia melirik istrinya.
Wanita itu tersenyum lebar.
"Ngak ah!" Iwabe melipat tangannya di dada.
"Eh, harus mau. Kamu apa mau hidup jomblo selamanya?" bujuk Ayah.
"Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Ayah."
"Ini bukan perjodohan. Kamu tinggal pilih. Nanti kalau tidak cocok akan kami carikan lagi."
Iwabe menatap keduanya dengan gemas. Ia menahan rasa dongkol di dada karena biar bagaimanapun mereka adalah orang tuanya, tapi juga tidak harus mengatur hidupnya 'kan?
__ADS_1
"Eh, apa kamu tidak tahu bahwa seorang Casanova hidupnya di keliling wanita? Masa kamu disodori hal yang sama malah pusing?"
"Karena aku bukan seorang Casanova, Yah!"
"Nah, karena itu Ayah minta kamu pilih satu."
Ibu tertawa.
"Ayah menjebak terus dari tadi, nih!" Iwabe mulai tertawa.
"Ayolah, Be. Orang tua pasti tidak akan menawarkan yang buruk padamu, percayalah." Ayah berbicara lembut.
Iwabe mulai memiringkan duduknya dan menyilangkan kaki. Ia menggoyang-goyangkan kakinya karena gelisah.
"Gimana?"
---------+++--------
Bian begitu takjub melihat suasana di Mal itu. Ia sudah lama tak pergi ke sana.
"Kita tunggu di sini sebentar ya? Om Iwabe katanya mau ikut." Nasti mengajak anaknya duduk di sebuah kursi panjang tapi tak lama. Bocah itu minta turun sehingga wanita itu menurunkan Bian.
Bocah kecil itu segera bergerak lincah berlari ke sana kemari tapi tak pernah jauh dari Nasti. Ketika bocah itu sudah merasa jauh, ia akan berlari kembali ke arah ibunya. Setelah sampai ia akan bersandar di kaki ibunya melepas lelah tapi itu hanya sementara. Kemudian ia berlari lagi menjauh.
Sambil menunggu ia melompat-lompat dan kemudian berlari lagi hingga tak sengaja menabrak kaki seorang pengunjung pria. Pria itu kesal dan segera menangkap lengan bocah itu dengan kasar.
Nasti yang melihat dari kejauhan, terkejut dan hendak memarahi pria itu, tapi apa yang terjadi? Ia terkejut melihat wajah pria bule yang telah menangkap anaknya dengan kasar itu. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Pria itu hendak memarahi bocah kecil yang kaget karena ditangkap olehnya, tapi ia terkejut melihat wajah bocah itu. Kenapa wajah anak itu mirip dengannya?
Saat itu juga Nasti lari dan bersembunyi bertepatan dengan pria bule itu mencari siapa orang tua bocah itu. Saking takutnya, wanita itu gemetaran di tempat persembunyiannya.
Pria bule itu memperhatikan anak itu dengan teliti. Benar-benar mirip. Adakah orang lain yang tidak ada hubungan darah dengannya bisa mempunyai anak seperti dirinya?
"Ah, lepas." Anak itu berusaha melepaskan diri.
"Tunggu, di mana orang tuamu?" Pria itu berusaha ramah pada bocah itu.
"Itu." Bocah itu menunjuk pada sebuah kursi yang kebetulan baru diduduki seorang ibu yang sudah tua.
"Itu nenekmu?"
"Bukan."
"Lalu?"
Netra Bian mencari-cari ibunya dan ia melihat Nasti tengah bersembunyi di balik sebuah toko. "Itu!" tunjuknya.
___________________________________________
__ADS_1
Ayo, lihat novel ini sambil menunggu kelanjutan novel author ini.