Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Bukan Sekedar Pesta


__ADS_3

"Bian, Kek." Iwabe mengajari.


"Bian, Kek," beo Bian.


Kobayashi mengembangkan senyumnya dan mengusap kepala Bian. "Laki-laki pemberani."


Nasti dan Iwabe saling pandang dan kemudian tersenyum.


----------+++----------


Iwabe mendampingi Kobayashi dan Nasti mengekor dengan menggendong Bian memasuki gedung yang ditata berkesan mewah itu. Saat masuk, mereka digiring untuk datang ke bagian penerima tamu. Iwabe menuliskan nama Kobayashi dan pria paruh baya itu mentransfer uangnya lewat mesin tranfer kartu. Suvenir diterima oleh Nasti.


Baru saja masuk ke ruangan besar itu, sudah ada yang ingin mendekati Kobayashi karena rumor tentang kedatangannya ke Jakarta telah menjadi buah bibir di kalangan para pengusaha.


Pria itu berusaha segera menghindar karena ia ingin mendatangi sang pemilik acara untuk beramah tamah terlebih dahulu sebelum ia bertemu dengan yang lain. Para bodyguard-nya juga membantunya menghalangi siapapun mendekati keempat orang ini.


"Pak Karnadi. Selamat ya?" Kobayashi menyapa rekan kerjanya dengan menjabat tangan.


"Oh, terima kasih sekali Bapak menyempatkan diri hadir di acara pernikahan anakku ini."


"Kebetulan aku ada di Jakarta." Ia menepuk-nepuk lengan teman bisnisnya itu. Mereka sempat berfoto bersama, mengobrol, dan memperkenalkan Iwabe sebagai asistennya. Kemudian menyalami sang pengantin, lalu turun dari panggung.


Mereka kemudian bergerak mendekati tempat makan. Di saat Kobayashi memilih makanan, kembali seseorang datang menghampiri.


"Pak, masih ingat saya?"


Kobayashi mengerut kening. "Siapa ya?"


"Aku pernah kerja di salah satu perusahaan Bapak."


Kalau itu, mana aku ingat! Hah! "Maaf aku tidak tahu," ucap Kobayashi santai.


Pria itu tidak putus asa. "Ah intinya, saya senang pernah mendapat kesempatan bekerja di perusahaan Bapak dan sekarang saya telah keluar dan mendirikan perusahaan sendiri bermodalkan pengetahuan yang didapat dalam perusahaan Bapak itu.


Saya ingin bekerjasama dengan perusahaan Bapak karena saya merasa perusahaanku punya misi yang sama dan cara kerja yang sama dengan perusahaan anda, Pak. Bahkan sistemnya juga dibuat sama seperti perusahaan Bapak."


"Eh, kalau begitu, kau bisa bicara saja langsung dengan asistenku, Iwabe." Kobayashi menepuk bahu Iwabe yang berada di sebelahnya yang telah mengambil makan lebih dulu.


"Oh, begitu?" Pria itu lalu beralih pada Iwabe.


Sementara itu, Nasti asyik makan bersama anaknya. Ia telah lebih dulu mengambil makanan dan duduk di sebelah meja bulat besar tak jauh dari sana. Ia menyuapi Bian puding. Bocah itu berlari-lari saking senangnya.


"Bian, ayo sini!" teriak Nasti.


Bocah itu kembali dengan berlari. "Mama!"


"Enak ya?" Nasti menyuapinya lagi.


Apa yang dilakukan Nasti, tak lepas dari perhatian Kobayashi yang menggeleng-geleng kepala. Ia ingin mengadukannya pada Iwabe tapi pria itu sibuk dengan pebisnis barusan. Terpaksa ia mendatangi Nasti dan ingin menasehatinya tapi wanita itu malah membantunya menarikkan kursi.

__ADS_1


"Eh, terima kasih."


"Kok Bapak belum ambil minum?"


"Eh, itu ...."


"Sebentar saya ambilkan, Pak." Wanita itu berdiri. "Titip Bian sebentar." Ia pergi ke tempat Iwabe berada.


Kobayashi kesal dan menoleh pada Bian yang ternyata tengah memperhatikannya.


"Lihat ibumu. Santai sekali ia bekerja?!" Kobayashi mencurahkan rasa kesalnya pada Bian.


Bian merengut dan mulai terlihat ingin menangis.


"Eh, eh, bukan begitu maksudku."


Bian menangis membuat pria itu terpaksa meraih dan memangkunya. Ia menengok kiri kanan. Agak memalukan juga karena ia tidak tahu cara mendiamkan seorang bocah yang sedang menangis, membuat ia panik. Ia mendekap Bian. "Sudah, sudah. Aku tak bermaksud memarahimu," ucapnya pelan.


Tak disangka bocah itu diam. Kobayashi jadi tak berani bicara untuk sesaat. "Mmh, sudah ya?"


Bian menegakkan kepalanya. Ia menatap Kobayashi. "Makan."


"Apa?"


"Ini." Bocah bule itu menunjuk cake yang ada di piringnya.


"Kamu mau?"


"Eh, tadi maksudnya apa? Kamu suruh aku makan atau mau makananku?" Kobayashi semakin bingung.


Bocah itu mengambil garpu dan memotong kue itu dengan sedikit miring lalu ia menusuk kue itu dengan garpu dan menyodorkan pada pria itu. Mau tak mau Kobayashi membuka mulutnya dan memakan potongan kue yang ternyata kecil itu.


"Enak?" tanya Bian.


Kobayashi mengangguk. Bocah itu pun ikut mengangguk.


"Oh, Pak. Cucunya ya?" Seorang pria paruh baya mendatangi keduanya.


"Oh, itu ...."


"Saya mendengar perusahaan yang dimiliki Bapak, bergerak dalam bidang ekpor impor juga."


"Oh, itu ...."


"Bapak mau mendengar lebih jelasnya?" Ternyata Nasti sudah datang dengan membawa segelas air mineral. Ia meletakkannya di atas meja dekat Kobayashi.


"Oh, iya. Tentu saja."


Nasti kemudian mengajak duduk pria itu di samping Kobayashi dan ia duduk di samping pria itu. Kemudian wanita itu menjelaskan pada pria itu tentang perusahaan Kobayashi dan mendengarkan apa yang pria itu inginkan.

__ADS_1


Bian asyik makan kue yang dibawa Kobayashi. Mau tak mau, Kobayashi mengurus Bian.


Mengurus Bian ternyata tak sesulit yang pria itu kira. Bian mengikuti ke mana pria itu pergi. Lama-lama Kobayashi jadi terbiasa dan bahkan bisa menggandeng bocah itu yang memang tidak banyak bicara.


Ini pengalaman baru bagi pria itu karena sebelumnya dunianya hanya bekerja dan bekerja. Atau bersama wanita-wanita cantik saat ia mabuk. Itu hiburan saat ia lelah bekerja. Sekarang setelah umurnya merangkak naik, ia mulai mengurangi kebiasaan minum minuman keras dan bertemu Bian membuat ia menyadari sesuatu. Ia sudah tua. "Kamu mau es krim?"


"Mau," jawab bocah itu sambil mengangguk-angguk.


Baru saja ia mendatangi gubuk es krim, seorang pria mendatanginya. "Bapak Kobayashi ya? Kenalkan saya Toriq. Saya dengar anda pengusaha Jepang yang pintar berbahasa Indonesia. Wah, saya jadi tertarik ingin bekerjasama dengan Bapak."


Kobayashi membalas uluran tangannya. "Kalau kau ingin tanya tentang perusahaanku kau bisa datangi asistenku. Satu di meja itu." Ia menunjuk Nasti. "Dan satu lagi di dekat makanan prasmanan." Ia menunjuk Iwabe.


"Oh, ok. Terima kasih, Pak."


"Mmh." Kobayashi menoleh pada Bian yang sedang berlari-lari. "Bian!"


Bocah itu berlari ke arah Kobayashi. "Apa, Kek?"


"Jangan jauh-jauh nanti kamu hilang." Pria itu menggandeng Bian.


"Iya, Kek."


Dan Bian pun makan es krim bersama Kobayashi.


Seorang pria bule datang ke pesta itu. Ia terkejut saat melihat Nasti dikelilingi para pengusaha, padahal itu adalah tempat pesta pernikahan.


Netranya langsung mencari keberadaan Iwabe dan akhirnya ia menemukannya dengan kondisi yang sama. Dikelilingi para pengusaha.


Ada apa ini? Apa Nasti tengah membantu Iwabe?


Kesempatan itu dipakai pria itu untuk mendekati Nasti. Ia mengambil beberapa potong makanan kecil dalam piring serta segelas minuman bersoda. Ia meletakkannya di meja tempat Nasti duduk. Tentu saja wanita itu terkejut.


"Eh, teruskan saja. Aku akan menunggumu." Pria itu mengambil kursi dari tempat lain dan menariknya dekat Nasti.


Karuan saja Nasti merasa terganggu. "Maaf, aku sedang bekerja."


"Teruskan saja aku takkan bicara," ucap pria bule itu dengan enteng.


"Apa tidak sebaiknya, kamu mendatangi tuan rumah dan memberi selamat, karena kamu datang ke sini untuk itu 'kan Gerald?" sindir Nasti yang secara halus mengusirnya.


Beberapa pria yang bersama wanita itu kini memperhatikan Gerald yang mau tidak mau berdiri dan melangkah ke arah panggung dengan berat hati. "Nanti aku kembali," ucapnya sebelum pergi.


Tanpa disadari Iwabe dan Kobayashi melihatnya dari jauh. Iwabe terganggu tapi ia ingat tugasnya dari Kobayashi hingga ia melirik ke tempat di mana pria paruh baya itu berada. Kobayashi langsung tahu apa yang terjadi karena ia melihat kemiripan wajah Bian dengan pria itu hingga ia memberi kode Iwabe untuk tetap tenang di tempatnya.


Ia mengkode anak buahnya yang tengah bersiaga di tempat berbeda, untuk datang menghampiri. Sambil memeluk Bian yang tertidur di pangkuan, ia memberi instruksi.


___________________________________________


Sambil menunggu sambungan bab ini, ayuk lihat novel teman author yang lain.

__ADS_1



__ADS_2