Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Buru-buru


__ADS_3

Gerald menelepon seseorang. "Tidak bisakah kau melihat, ada apa di depan sana?"


"Ah, siap, Bos!" ucap pria di ujung sana.


Pria bule itu menutup teleponnya. "Heran, segala sesuatu harus disuruh. Kenapa aku punya anak buah setolol ini sih," gerutunya kesal.


Sopir yang berada di samping hanya meliriknya saja. Dari arah mobil depan, keluar seorang pria berbadan kekar yang harus berjalan kaki ke depan untuk melihat penyebab kemacetan yang jaraknya cukup jauh untuk ditempuh. Bule itu harus menunggu.


Beberapa waktu kemudian, pria bule itu mendapatkan telepon. "Apa? ADA TRUK MUATANNYA TUMPAH? Benar-benar." Ia mengepalkan tangannya karena geram. "CEPAT bantu mereka agar MEREKA TAK MENGHALANGI JALANKU!" Ia segera mematikan ponselnya.


Gerald mengusap wajahnya dengan kasar. Pagi-pagi ada saja yang membuat dirinya naik darah padahal ia sedang buru-buru.


Lima belas menit kemudian, mobil-mobil di depan mulai bergerak. Pria bule itu akhirnya bisa bernapas lega. Tak butuh waktu lama, mobil kembali bergerak ke arah rumah Nasti.


Sesampainya di sana, mereka turun. Rumah Nasti yang sederhana hanya diberi hiasan sedikit di bagian luar dengan rangkaian bunga mawar di bingkai pintu bagian atas.


Gerald memimpin di depan dengan Nasti di belakang menggandeng Bian. Saat mereka masuk, sudah ada ruang lapang yang hanya berisi sebuah meja pendek. Dindingnya ditutupi kain satin berwarna pink lembut yang membuat mewah suasana ruang berukuran sedang itu.


Di dinding juga dihiasi beberapa bunga hidup yang dirangkai merambat hingga menambah cantik suasana ruangan itu.


Ayah dan ibu menyambut kedatangan mereka, hanya saja Gerald tidak mengizinkan keduanya mendekati Nasti lama-lama karena ia tak ingin wanita itu bicara macam-macam pada kedua orang tuanya.


Penghulu pun telah tiba. Gerald meminta pernikahan disegerakan. Mau tak mau acara digelar. Baru saja penghulu itu hendak memberi ceramah singkat, pria bule itu memotong.


"Maaf, ini bukan pernikahan kami pertama, jadi persingkat saja, karena kami sudah pernah menjalaninya." Komentar pria bule itu sedikit sarkas.


Penghulu terpaksa mempersingkat hingga langsung akad nikahnya. Gerald yang duduk di lantai berkarpet berhadapan dengan ayah Nasti, disatukan tangan mereka oleh penghulu.


"Eh, tunggu dulu. Kata-kata yang harus diucapkan mana?" tanya Gerald lagi.


"Oh, aku tidak bawa kertas. Bukankah aku sudah memberikan contohnya pada asisten Bapak?" sahut penghulu yang ternyata masih muda itu.


"Ck!" Gerald segera menarik tangan dan menelepon asistennya yang ternyata sudah mengirim contoh akad lewat pesan singkat di HP pria bule itu. Ia segera memeriksanya. "Ok." Ia melirik ayah Nasti. "Bapak juga sudah 'kan?" Ia melihat pria paruh baya itu telah memegang HP-nya.


"Eh, iya."


"Ok, mari kita mulai."


Nasti yang duduk di sudut ruangan hanya bisa tertunduk. Ia pasrah.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar rumah. Semua orang terkejut dan ingin tahu. Hanya Gerald yang panik dan memaksa ayah Nasti fokus pada akad nikahnya.


"Tapi ...," jawab Ayah ragu.

__ADS_1


Gerald kembali meraih tangan pria paruh baya itu dan menatap ke arahnya. "Ayo, Pak. Tidak ada waktu lagi."


Sementara Nasti yang penasaran bergeser ke arah pintu diikuti Bian tapi bodyguard Gerald yang berjaga di pintu menghalanginya hingga ia terpaksa urung.


"Cepat, Pak. Waktunya sempit ini!" perintah Gerald pada ayah Nasti, tapi sebelum pria paruh baya itu sempat bicara 2 orang pria masuk dan langsung menghajar bodyguard Gerald.


Karena ruangan sempit untuk begitu banyak orang yang masuk, Gerald terpaksa menepi dan menarik Nasti bersamanya.


"Gerald ...." Nasti bingung harus bagaimana. Siapa sebenarnya yang datang? Mungkinkah itu Iwabe?


Gerald langsung menggendong Bian membuat bocah itu kaget dan menangis. "Ayo, Nasti. Ikut aku! Kita lari lewat pintu belakang." Pria itu menarik tangan wanita itu dan bergegas ke arah pintu belakang, tapi tak di nyana, dari pintu belakang muncul 2 pria Jepang yang membuat langkah mereka terhenti.


Pria-pria itu mendatangi mereka membuat Gerald dan Nasti bergerak mundur.


"Ke mana sih, bodyguard-bodyguard sialan itu! Kenapa pintu belakang tak dijaga juga? Berengsek!" Sumpah serapah keluar dari mulut Gerald.


Saat berbalik, ada Iwabe telah masuk ke dalam rumah.


"Nasti."


"Iwabe ...." Namun Nasti tak berani mendekati Iwabe karena Bian disandera Gerald dalam gendongan.


Bian yang masih menangis, terkejut melihat ke datangan Iwabe. Ia mengulurkan tangannya minta digendong oleh pria itu. "Oooom, hu huuu ...."


"Keduanya milikku, beraninya kau mengambil harta milikku, hah?" sarkas Gerald.


Dari belakang Iwabe, keluar pria bertongkat yang mengarahkan tongkatnya pada Gerald. "Let them go!(biarkan mereka pergi!)"


"Or WHAT?(atau apa?)" ledek Gerald pada pria itu.


Gerald lupa, bahwa ada 2 lagi bodyguard Kobayashi di pintu belakang yang langsung menyergapnya saat ia lengah. Mereka juga menyelamatkan Bian. Nasti yang terlihat khawatir akan keselamatan Bian akhirnya bisa bernapas lega saat mereka berhasil menyelamatkan bocah itu dan menyerahkan pada wanita itu.


Nasti segera mendatangi pria Jepang itu dan bersandar di dada bidangnya. "Iwabe ...."


"Mmh."


"Aku tak terima! Ini harusnya hari pernikahanku!" Gerald mengamuk saat diringkus.


"Just take him out. I don't want to see him now,(bawa saja ia keluar. Aku tidak ingin melihat dia sekarang)" ucap Iwabe pelan dengan menggoyang-goyangkan tangannya, mengusir pria itu.


Pria bertongkat itu langsung mengerti dan menyuruh anak buahnya membawa pria bule yang masih mengamuk itu keluar.


Iwabe menatap kedua bola mata wanitanya yang kini mengalir air mata. Ia menghapusnya dengan kedua ibu jari dan mengangkat wajah wanita itu ke arahnya. "Bolehkah aku bertanya sekali lagi padamu, Nasti. Maukah kau menikah denganku?"

__ADS_1


"Tapi orang tuamu ...."


"Ayahku menyetujuinya," ucap pria itu cepat.


"Ayahmu? Kamu menemukan ayahmu?" Wanita itu terkejut.


"Iya. Sekarang ... bagaimana jawabanmu?"


Bola mata indah itu berkaca-kaca. Entah kenapa, manik mata wanita itu seperti tengah bersukacita. Ia tersenyum tapi air matanya kembali berjatuhan. Ia mengangguk dengan sungguh-sungguh membuat Iwabe lega.


"Alhamdulillah." Iwabe melihat Bian yang telah diam dan menggendongnya. "Bagaimana kalau kita menikah saja sekarang, mmh? Mumpung ada penghulu yang bisa mengesahkan pernikahan kita." Pria itu mencoba membantu wanita itu menghapus kembali air matanya.


"Memang ayahmu ada di sini?"


"Ada. Dia ada di depan. Ayo, kita ke sana." Iwabe menggandeng Nasti kembali ke ruang tamu.


Di ruang tamu ada Kobayashi yang sedang mengobrol dengan kedua orang tua Nasti.


"Pak Kobayashi?" Nasti menoleh ke arah Iwabe masih dengan tercengang.


Iwabe tertawa. "Selama ini bekerja padanya, aku pun tak tahu kalau ia ayahku."


Nasti masih melongo.


Iwabe mendatangi orang tua Nasti yang masih duduk di lantai. "Ayah, ibu, bagaimana kalau aku menggantikan Gerald menikah dengan Nasti, sekarang."


Ayah tersenyum dan menoleh pada anak perempuan satu-satunya itu. "Terserah anakku saja. Bagaimana, Nasti?" tanyanya dan seisi ruangan menatap Nasti dan menunggu jawabannya.


Nasti mengangguk sambil tertunduk malu.


Maka digelarlah akad nikah itu hingga kata sah diucapkan. Mereka kini telah menjadi suami istri. Iwabe mengecup kening istrinya untuk pertama kali. Keduanya tampak bahagia.


"Ok, Iwabe. Kita berangkat!" sahut Kobayashi.


Selain Iwabe, semua orang di dalam ruangan terkejut.


"Apa?" ucap mereka bersamaan.


__________________________________________


Halo reader, masih semangat baca kan? Jangan lupa terus semangati authornya juga dengan mengirim vote, like, komen atau hadiah. Ini visual Nasti dengan baju nikahnya. Salam, ingflora💋


__ADS_1


__ADS_2