Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kompromi


__ADS_3

Iwabe datang dengan mengendong Bian. Bocah itu menyandarkan kepalanya pada tubuh pria itu karena masih mengantuk.


"Oh, sini." Nasti segera berdiri sambil menyodorkan tangannya.


Namun Bian tak mau beranjak dari gendongan pria itu. Ia malah merengek dan memeluk pria itu erat.


"Bian!" Nasti memarahinya.


Bocah itu malah menangis.


"Sudah, Nasti. Dia masih mengantuk." Iwabe membelanya.


"Usahakan jangan berisik pagi-pagi ya? Kepalaku pening ini," keluh Iwahara yang tengah makan.


"Oh, maaf." Nasti menganggukkan kepala. Ia serba salah. Mau mengambil anaknya, Bian malah tak bisa diajak kompromi.


"Sudah, buatkan saja sarapanku. Aku mau roti isi coklat." Iwabe mendekati meja dan menarik kursi di samping istrinya. Ia kemudian duduk sambil masih menggendong bocah itu.


"Mau di bakar?"


"Tidak usah." Pria itu melirik Bian dalam pelukan. "Kamu tidak mau roti?"


Bocah itu mengangguk. "Mau."


"Mau rasa apa?"


"Coklat."


"Nasti, buatkan satu lagi buat Bian."


"Iya."


Nasti yang masih canggung dengan suasana baru, merasa serba salah, tapi ia berusaha untuk mengikuti peraturan yang ada.


"Iwabe, nanti kamu siap-siap, ya? Aku akan membawamu ke kantor jam 9," sahut Iwahara.


"Otousan, aku 'kan tidak bawa pakaian sama sekali. Apa Otousan tidak memperhatikan, aku memakai pakaian yang sama sejak kemarin," protes Iwabe.


Iwahara menghela napas pelan seraya memperhatikan ketiganya. "Ok, hari ini kita pergi berbelanja saja. Nasti dan Bian juga harus belanja karena pakaiannya juga tidak cocok untuk posisi mereka sekarang ini. Ok. Nanti kita kerja online dulu, Iwabe."


"Baik, Otousan."


"Nasti, apa pagi ini selagi Iwabe bekerja, kau mau belajar bahasa Jepang? Aku akan mendatangkan gurunya, nanti."


"Oh, boleh, Otousan. Terima kasih."


"Mmh."


Tak lama Iwabe menikmati rotinya bersama Bian. Bocah itu duduk manis di samping Iwabe.


"Mmh, ternyata bocah akrobat ini bisa juga duduk diam ya?"

__ADS_1


Komentar Iwahara membuat Nasti dan Iwabe tersenyum lebar. Iwabe dengan sayangnya menepikan poni bocah itu yang asyik makan rotinya sendiri.


------------+++----------


Pagi itu Maiko memberitahukan keberangkatannya ke Jepang pada Refan dan Faza. Keduanya terlihat saling pandang tak percaya dibebani tugas seberat itu pada mereka.


"Kalian akan baik-baik saja selama saling bertanya dan memberi pendapat. Ingat, SALING BERTANYA DAN MEMBERI PENDAPAT, sebelum memutuskan sesuatu. Itu kuncinya." Maiko menasehati.


"Tapi Ibu gak lama 'kan ke Jepangnya?" Faza terlihat ragu.


"Aku ingin membawa Iwabe pulang. Iwabe sudah menikah dengan Nasti dan dibawa ayahnya ke Jepang, jadi aku tidak tahu berapa lama aku akan berada di sana."


"Menikah?" Faza terkejut.


"Iya."


"Kapan?"


"Kemarin."


"Pantas saja keduanya tak kelihatan dari tadi. Kenapa mendadak sekali? Apa ayahnya ... jadi ayahnya ...." Faza bingung mengatakannya sambil melirik Maiko dan Sastra. Ia baru tahu bahwa Sastra bukan ayah kandung Iwabe.


"Kau mengerti 'kan sekarang? Jadi ini persoalan rumit tapi segera setelah aku bisa menyelesaikan persoalan ini aku akan segera pulang ke Indonesia."


Faza terpaksa menerima tugas itu. Sepeninggal Maiko dan Sastra, Faza menatap Refan masih dengan kebingungan. "Apa kita bisa melakukan tugas ini ya?"


"Kalau harian, pastinya tidak ada masalah. Kalaupun ada coba kita pecahkan bersama. Pokoknya kalau yang lebih rumit dan butuh pertimbangan matang, kita tunda saja. Tunggu sampai Presdir dan istrinya datang. Gitu aja."


"Dan kalau mereka lama datangnya?"


"Kalau tidak sesuai dengan keinginan mereka, bagaimana?"


"Ya itu nanti dipikirkan setelah mereka kembali. Yang penting sekarang, kitalah yang memegang wewenang saat ini. Sebenarnya bisa saja kita telepon mereka saat bimbang tapi rasanya tidak mungkin. Ibu Maiko sangat menyayangi Iwabe, jadi tak mungkin persoalan perusahaan kita ceritakan padanya, bisa ngamuk-ngamuk dia mendengarnya." Refan yang memasukkan kedua tangan di kantong celananya, tersenyum.


Faza menghela napas pelan. "Asal jangan marah saja kalau kita memutuskan sesuatu tak sesuai harapannya."


"Oh, pasti tak masalah. 'Kan dia sudah memberikan wewenang itu pada kita."


"Kamu sepertinya kenal dekat dengan mereka. Sudah berapa lama kamu bekerja dengan mereka?"


"Baru sebulan."


Wanita itu kembali terkejut. "Apa? Berarti tidak jauh beda denganku dong?"


Refan tersenyum lebar. "Tahu rahasianya bagaimana aku mengenal mereka?" Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Faza. "Karena aku adalah anaknya Pak Sastra Dirga."


Faza membulatkan matanya dan melongo. Tentu saja mulutnya yang terbuka tak dapat dilihat pria itu karena ia bercadar.


----------+++-----------


Acara belanja menjadi ramai karena keluarga ini. Mereka datang berombongan ke beberapa butik mahal dengan mencoba berbagai baju merek terkenal. Bahkan untuk membeli baju tidur saja, mereka harus membeli baju dari keluaran desainer terkenal.

__ADS_1


"Aku hanya butuh pakaian tidur, Otousan," keluh Iwabe yang dipilihkan baju oleh pria paruh baya itu dan ia lebih suka yang sederhana.


"Kamu itu bodoh atau bagaimana?" omel Iwahara. "Lihat istrimu. Dibelikan apa saja dia tidak mengeluh. Masa kamu kalah seleranya dari Nasti, mmh!"


Nasti tersenyum lebar. Ia tentu saja, karena pernah menikah dengan Gerald, tahu bagaimana menempatkan diri. Ia pernah membeli pakaian mahal jadi ia tidak canggung bila harus melakukannya lagi.


"Untuk apa aku punya uang banyak bila tidak dipakai dengan maksimal? Gaya hidup bukan untuk dipamerkan tapi memberi tahu posisimu sekarang ada di mana. Itu yang harus kau pelajari, Iwabe."


Pria muda itu merengut dimarahi ayahnya.


"Nasti! Bantu dia belanja. Aku sedikit emosi bila dia susah diberitahunya!" seru Iwahara yang meminta bantuan wanita itu.


"Iya, Otousan." Nasti tersenyum dan menarik lengan suaminya, sedang Iwahara menggandeng Bian mencari tempat duduk.


"Kenapa sih cari barang mesti mahal. Aku 'kan lebih suka pakaian yang nyaman dipakai. Masa begitu saja gak boleh," gerutu Iwabe.


"Ada kok pakaian yang mahal tapi nyaman dipakai."


"Ya udah, itu saja." Iwabe masih menggerutu.


"Sebentar ya, Sayang. Aku carikan dulu," ucap wanita itu dengan sabar. Ia kemudian melirik pakaian yang digantung di rak dan memilih beberapa. "Kamu mau coba yang ini, Sayang?"


"Ke kamar ganti saja."


"Apa?"


Iwabe menarik istrinya ke kamar ganti yang sudah ia lihat sebelumnya. Kemudian menutup pintu. Ia menyandarkan wanita itu ke dinding dan mulai mengecup bibirnya.


"Iwabe." Wanita itu tersenyum lebar. "Kamu ngapain sih?"


"Aku sedang memikirkan punya anak denganmu hingga spontan saja pikiran itu ke situ."


"Ya, 'kan bisa nanti?" ucap Nasti manja.


"Payah nih kalau tidak ada bulan madu. Untung Otousan mau dititipi Bian."


"Sudahlah, Sayang. Kita 'kan bisa melakukannya nanti malam."


"Bener ya, nanti malam?" Pria itu menatap manik mata milik istrinya lekat.


"Iya! Memang kita mau ngapain lagi selain melakukan itu, nanti malam?"


Pria itu mendekap sang istri dan mengecup keningnya. Tiba-tiba Nasti menarik kerah kemeja Iwabe sehingga wajah pria itu tertarik ke arahnya.


"E, e, eh ...."


Nasti menyatukan bibir mereka dan permainan kecil dimulai. Sampai ... salah satunya menyerah karena hampir kehabisan napas.


"Maaf," sahut pria itu.


"Tidak apa-apa," jawab wanita itu dengan sedikit malu. Pipinya terlihat merah merona.

__ADS_1


"Jangan diteruskan, Nasti. Nanti otakku tak bisa diajak kompromi." Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.


Nasti tersenyum lebar.


__ADS_2