Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Minta Tolong


__ADS_3

Sebenarnya waktu itu Pak Iwabe tidak salah, menolong Bian agar tak jatuh di bianglala itu, tapi kenapa dia diam saja, sewaktu sudah menolong Bian, dan malah menatapku seperti itu. Aku 'kan malu! Sebagai wanita normal pasti berpikiran macam-macam. Aku takut tak bisa menampiknya karena dia terlalu tampan.


Hah ... Nasti mengusap dahinya karena resah. Mengingat itu saja, jantungnya kembali berdegub kencang. Aku ini sudah tidak muda lagi. Pria muda seperti dirinya kadang tidak berpikir, telah menggoda wanita serius seperti aku ini, dan aku sudah tidak ingin bermain hati lalu tersakiti. Aku cukup dengan Bian saja, masa depan yang pasti bagi hidupku kini.


Nasti merapikan selimut dirinya dan Bian. Bocah itu terlelap tidur dengan nyenyaknya dalam pelukan.


------------+++-----------


"Pak Topik, kenapa ruang serba guna tidak pernah lagi dikunci, di malam hari? Bukannya itu tugas Bapak?" Iwabe mendatangi seorang pria yang sedang berada di pos penjagaan pintu masuk mess. Teman prianya yang berada di samping hanya menoleh pada Topik seraya menyesap kopi.


Pria itu terlihat panik dan merapikan duduknya saat melihat Iwabe datang.


"Eh, anu, Pak," ucap pria itu pelan.


"Apa?"


"Kuncinya hilang." Pria itu menunduk.


"Kamu kenapa gak lapor?"


"Saya takut dibilang tidak becus bekerja," ucap pria itu sedikit takut.


"Justru kalau kamu tidak lapor, kalau terjadi apa-apa di dalam gedung, kamu yang lebih dulu dicurigai," terang Iwabe dengan lugas.


"Maaf, Pak." Pria itu masih menunduk.


Iwabe meletakkan sesuatu di atas sebuah meja kecil. "Tuh, kuncinya."


Pria itu memperhatikan kunci yang diberikan pria Jepang itu. "Kunci serepnya, Pak?"


"Bukan. Itu kunci yang hilang."


"Apa?" Pria itu semakin takut melihat Iwabe.


"Kunci itu ada di pintu gedung ditinggalkan pencurinya. Kalau aku tidak mencuri dengar apa yang dikatakan pencuri itu, mungkin aku sudah memasukkanmu ke dalam penjara."


Topik masih tertunduk, tafakur di tempatnya.


"Karena itu, kamu kuberi hukum. Karena aku kehilangan sopir satu, kamu menggantikan tugasnya membawa bus antar jemput karyawan setiap harinya. Biar Joko sendiri dulu, jaga gerbangnya."


Topik mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Terima kasih, Pak Iwabe."


--------------+++-------------

__ADS_1


"Makanan kaleng? Hah, untuk apa?" Sarah bertelak pinggang dengan satu tangan.


"Ya ... untuk menambah varian, juga untuk melebarkan sayap dan menaikkan angka penjualan. Bukankah minggu kemarin, Ibu minta kami menaikkan angka penjualan yang signifikan tapi kalau varian tidak ditambah, akan sulit bagi kami memenuhi target yang ibu minta," jelas Nasti pada meeting mingguan, pagi itu.


"Tapi ini gak bisa instan. Perusahaan perlu menanam modal banyak dulu karena ini sudah bergeser ke proyek baru, bukan saja penjualan. Perlu membeli mesin, membuat formula untuk resep, dan melatih buruh untuk penanganan produk baru. Belum biaya iklan dan promosinya," sanggah Sarah.


"Ibu tidak usah memikirkan itu, Bu. Yang penting pemilik perusahaannya menyetujui atau tidak ide Saya ini. Kalau setuju, serumit apapun, sebanyak apapun modal yang dibutuhkan, pasti terlaksana karena selebihnya tinggal pelaksanaannya saja."


"Aku rasa ini terlalu berlebihan dan memakan waktu karena soal target penjualan itu, sekarang bukan nanti."


"Tapi lebih cepat lebih baik, Bu."


Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saat memulai proyek baru pasti rugi, jadi tidak mungkin mengharapkan adanya kenaikan penjualan di awal."


Para Manager Marketing itu hanya bisa menonton.


"Tidak ada salahnya mencoba 'kan, Bu?" Nasti masih membujuk Sarah.


"Perusahaan sudah banyak merugi akibat pabrik dihentikan 3 hari dan harus membiayai buruh yang masuk rumah sakit. Ditambah pencurian barang produk pabrik yang dilakukan tiap hari."


"Barang yang dicuri cuma sedikit. Lagipula buruh ada asuransi kesehatannya 'kan?"


"Kamu tahu berapa puluh juta perusahaan harus merugi dalam sehari karena tidak produksi? Belum lagi, bahan yang rusak."


Sarah mengerut kening. "Kamu terus saja membantahku. Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa."


Nasti ingin bilang ia tak bermaksud membantah GM itu tapi kalau diteruskan juga percuma. Sarah sangat keras kepala. Apalagi umurnya lebih muda dari Nasti, ia tak ingin atasannya itu merasa tidak dihormati.


Padahal ia berusaha agar permintaan atasannya itu sesuatu dengan keadaan agar teman-temannya juga bisa memperjuangkan sesuatu yang masuk akal, tapi ia terpaksa harus berlapang dada karena atasannya itu sepertinya tidak menyetujui idenya.


Nasti baru saja keluar dari ruang meeting ketika Iwabe muncul di kantor itu, membuat semua orang terkejut.


"Nasti, kamu bisa bantu aku gak?" Iwabe langsung pada intinya.


Semua orang melirik pada Nasti, termasuk Sarah yang keluar belakangan.


"Bantu apa?"


"Kamu gak lagi banyak kerjaan 'kan? Aku ditunjuk untuk cari katering pengganti tapi aku gak tahu daerah sini."


"Kata siapa gak ada kerjaan? Dia 'kan bagian marketing," sahut Sarah dengan mengerut kening mendatangi mereka berdua.


"Ya sudah, aku pinjam pegawaimu. Lagipula, marketing 'kan tidak bisa full kerja hari ini karena pabrik baru berproduksi. Yang terpenting sekarang, aku harus cari makan siang buat buruh pabrik hari ini," jawab pria itu santai.

__ADS_1


"Eh, enak saja. Salah sendiri kenapa mendadak? Padahal kemarin-kemarin masih banyak waktu untuk mencari, kenapa tidak dikerjakan?"


"Aku baru ditunjuk, IBU SARAH," sahut pria itu penuh penekanan karena gemas.


Kini Sarahlah yang mengucapkannya dengan santai seraya melipat kedua tangan dengan menaikkan alis. "Ya sudah, tanggung sendiri masalahmu. Jangan ikutkan pegawai marketing ke dalam pekerjaan yang bukan urusannya," ejeknya.


Iwabe dibuat kesal. Pegawai yang lain hanya mampu melihat karena mereka tahu seperti apa Sarah saat berdebat.


"Aku hanya pinjam setengah hariii, saja. Tidak lebih," pinta pria itu memohon. Ia bingung karena Sarah tak kunjung mengerti.


"'Kan karyawan di pabrik banyak. Kenapa harus ambil divisi lain?"


"Karena karyawan pabrik sekarang sedang sangat sibuk mengejar target yang diminta." Pria itu mencoba menerangkannya dengan menahan perasaan kesal. Ia tahu, ia sedang berbicara dengan orang berposisi GM, dan ia mencoba bersabar.


"Itu bukan urusan kami," ucap wanita itu ketus.


"Ah, sudah, sudah, sudah. Pak Iwa—" Nasti baru saja hendak melerai tapi keburu pria itu mengambil keputusan.


"Oh, ok. Aku akan membayar gajinya hari ini, dengan gajiku? Selesai 'kan masalahnya?!!" ucap pria itu mengakhiri perdebatan pagi itu dengan emosi yang hampir meledak.


"Apa?" Nasti terkejut mendengar jawaban pria itu.


Sarah membulatkan matanya dengan mulut terperangah. Ia mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya karena tak tahu lagi harus berkata apa pada pria itu. Ia kalah!


"Ayo, Nasti. Ikut aku, kita tak punya banyak waktu lagi." Iwabe segera menarik tangan wanita itu.


Di dalam lift.


"Bapak kenapa sih cari Saya?" tanya Nasti bingung. "Apa tidak ada orang lain lagi yang bisa membantu Bapak?"


"Tidak. Aku sudah mencoba mencari beberapa orang kepercayaan, tapi nyatanya tidak bisa diandalkan. Aku memilihmu, bukan apa-apa. Aku tahu kau orang daerah sini, karena itu pilihan jatuh padamu. Aku mendapatkan beberapa alamat katering terdekat tapi aku tidak tahu letak persisnya."


"'Kan bisa lihat di peta online, Pak."


"Ini daerah pinggiran Jakarta, Nasti. Banyak nama jalan yang tidak tertulis di peta."


"'Kan bisa di telepon." Nasti ingin memastikan pria itu tidak mencari-cari alasan dengan memilihnya.


Iwabe menatap wanita itu dengan kesal. "Aku tahu, pasti kau takkan percaya, tapi aku diberi setumpuk kartu nama dan harus mengecek semuanya dan aku bukan tidak mencobanya. Aku mencoba pergi sendiri tadi pagi tapi malah nyasar ke rumah bordil." Pria itu memperlihatkan beberapa lembar kartu nama dari kantongnya dan Nasti, ia hanya menahan tawa.


___________________________________________


Cek novel yang satu ini yuk?

__ADS_1



__ADS_2