Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Terpaksa


__ADS_3

Jadi mereka kini akan merencanakan menikah ya? Heh, jangan harap itu terjadi. Lihat saja, aku akan pastikan itu takkan terjadi. Gerald tersenyum dengan geram.


"Kalau memang sudah sama-sama serius, kenapa tidak saling bertemu saja keluarga biar bisa dibicarakan. Kami pun siap di sini menunggu kehadiran sang calon besan," sahut ibu.


Iwabe dan Nasti saling berpandangan dan terlihat bahagia.


"Aku akan usahakan secepatnya, Bu." Iwabe terlihat senang. Padahal ia berbohong dan ingin membuat Gerald sadar dan berhenti terus-terusan mencari dan membujuk Nasti sebab wanita itu adalah calon istrinya. Ia senang berhasil mengelabui pria bule itu.


"Eh, maaf. Aku baru ingat, ada meeting di kantor setelah makan siang, jadi aku akan berangkat sekarang saja," ucap Gerald menyudahi makannya.


"Lho kok buru-buru?" Ibu terkejut. "Makannya 'kan baru sedikit," ucap ibu kala melihat makanan Gerald yang baru di makan setengahnya.


"Eh, tidak apa-apa, Bu. Aku tidak ingin stafku menunggu sebab meeting-nya cuma sebentar." Pria itu beranjak berdiri.


"Oh, kalau begitu terima kasih ya, makan siangnya," ujar ibu lagi.


"Eh, ya tidak apa-apa."


"Eh, ayo salim sama Papa," sahut ibu pada Bian.


Bocah itu turun dibantu Nasti. Ia digandeng ibu menuju Gerald dan mencium punggung tangannya.


Pria itu senang dan membungkuk. Ia mencium kening bocah itu sambil tersenyum. "Papa pulang dulu ya?"


Bian mengangguk. "Dah, Papa." Bocah itu melambaikan tangannya.


"Dah." Pria itu beranjak berdiri dan ikut melambai.


"Makasih ya Gerald, traktirannya," sahut Nasti.


"Makasih ya." Iwabe mengekor.


Gerald tersenyum pada Nasti dan segera keluar. Ibu dan Bian mengantar.


"Memangnya ibumu benar memberi izin?" Seketika Nasti bertanya curiga, soal pembicaraan baju nikah tadi, setelah ketiganya pergi keluar.


"Belum."


"Astaga, Iwabe." Mata wanita itu membulat padanya.


Pria itu tertawa. "Aku hanya ingin lihat ekpresi wajah kecewanya saat tahu kamu akan menikah denganku."


Nasti menepuk lengan pria itu. "Jahat itu namanya, Iwabe. Untuk apa? Lah, dari ibumu saja sampai sekarang belum ada kepastian."


Iwabe berdehem. "Pasti dapat. 'Kan aku berusaha mengikuti keinginannya sekarang. Pulang ke rumah dan kerja di perusahaan keluarga."


"Tapi pastikan dulu Iwabe, jangan sampai ternyata tidak bisa." Nasti menyuap nasinya.

__ADS_1


"Kamu sih suka berpikiran negatif, jadinya terbawa ke kenyataan. Coba berpikir positif, Sayang. Biar masa depan kita juga cerah," pinta pria itu.


"Wanita lebih suka kepastian daripada berandai-andai," terang Nasti.


"Iya, iya ....." Iwabe menghela napas pelan.


"Berandai-andai apa?" tanya ibu yang masuk bersama Bian.


"Oh, tidak apa-apa, Bu." Nasti menggeleng sambil melirik Iwabe.


Tiba-tiba terdengar dering telepon. Iwabe meraih ponsel dari kantong celananya. Ada nama Kobayashi tertera di sana. "Halo, Pak?"


"Iya, halo. Aku ingin menyerahkan gajimu yang belum sebulan kerja denganku. Apa kamu bisa datang ke tempatku lagi?"


"Eh, uang terakhir yang Bapak berikan masih aku simpan. Aku rasa itu sudah cukup untuk pengganti uang gaji yang belum sebulan itu."


"Tapi masalahnya, ada yang aku ingin bicarakan denganmu, Iwabe."


"Pak, kalau mengenai kerja di Jepang, aku sudah berkali-kali bilang, aku ngak bisa. Aku gak tertarik dan ibuku juga tidak mengizinkan, jadi percuma saja Bapak menawarkannya padaku."


"Bagaimana kalau memegang perusahaan yang sekarang kamu kerja di Jakarta? Kamu tidak perlu lagi mempelajarinya dan kamu tinggal mengatur perusahaan itu sekarang. Lagipula ...."


Iwabe memijit keningnya."Pak, maaf. Aku tidak bisa. Aku harus menjalankan perusahaan keluarga, tapi terima kasih. Maaf."


"Iwabe aku bisa menaikkan gajimu ...."


"Iwabe ...."


"Maaf." Iwabe menutup teleponnya. Rasanya berat. Bukan karena menolak rejeki yang akan datang, tapi ia merasa telah menyakiti perasaan pria paruh baya itu.


Kobayashi memang menelepon dari kamarnya. Ia duduk terdiam dan menatap ke arah dinding yang kosong. Pikirannya buntu dan itu membuatnya marah sehingga ia akhirnya melempar juga HP itu ke dinding di depannya. HP itu terpental dan jatuh di hadapan. Tentu saja tidak rusak karena ia mempunyai HP paling canggih dan mahal yang hanya dimiliki beberapa orang di dunia karena limited edition(edisi khusus yang jumlahnya terbatas).


Kalau rencana A tidak berhasil berarti ia harus melaksanakan rencana B.


-----------+++-----------


Pintu diketuk.


"Masuk!" teriak Iwabe dari dalam. Ia tahu, siapa lagi kalau bukan ibunya.


Saat wanita itu masuk, Iwabe masih berbicara di telepon dengan Nasti.


"Ok ya, Nasti. Nanti aku telepon lagi." Pria itu menutup teleponnya. "Ada apa, Bu." Iwabe memperbaiki duduknya di atas tempat tidur.


"Mulai besok, kamu sudah akan menjalankan perusahaan jadi aku minta kamu jangan jalan-jalan ke sana kemari kalau tidak perlu, seperti tadi siang." Ibu mengingatkan. "Dan satu lagi, lebih seriuslah sama Faza, jangan mengekor Nasti terus."


"Ibu ...."

__ADS_1


"Dengarkan sekali-sekali permintaan Ibu."


"Ibu ...."


"Apa pernah ibu menjerumuskanmu ke sesuatu yang salah? Tidak 'kan? Aku tidak ingin kau menyesal."


Iwabe tertunduk.


"Kau adalah anak ibu yang sangat ibu banggakan. Anak yang cerdas juga santun. Jangan sampai hal ini hilang dari dirimu!"


"Ibu, ini tidak ada hubungannya, Bu."


"Ada. Kalau kamu mulai menentang ibu."


"Ibu, ada saatnya ibu harus mempercayai pilihanku, Bu."


"Ibu mencegahmu dari berbuat kesalahan, Abe."


"Dan itu tidak perlu. Bu, biarkan aku mencari kebenaran itu sendiri dengan caraku."


"Tapi Ibu ingin kau sempurna, Nak, sepanjang hidupmu."


"Ibu, aku tidak butuh hidup yang sempurna, Bu. Aku hanya manusia biasa, di mana aku bisa khilaf dan salah, dan aku bahagia."


"Dengan bersama Nasti?"


"Ketidaksempurnaannya menyempurnakan hidupku."


"Abe."


"Itu yang aku rasakan."


"Abe."


"Ibu ... aku lelah jadi sempurna di mata Ibu." Iwabe tertunduk.


Mereka terdiam sejenak.


"Suatu saat kau akan berterima kasih atas apa yang Ibu kerjakan untukmu, Abe, tapi ibu tak butuh itu. Kerjakan saja yang ibu minta, itu sudah lebih dari cukup, Abe," ucap ibu sambil tertunduk.


Berbicara dengan anak semata wayangnya ini sungguh sulit, sesulit bicara dengan mantan suaminya dulu yang selalu tak pernah menemui titik temu dan berjalan sendiri-sendiri. Karena itulah ia memutuskan untuk bercerai dari pria itu. Namun dengan Iwabe, sampai kapanpun ia takkan mengalah.


Sepeninggal ibunya, Iwabe hanya bisa menjatuhkan tubuh miring pada sebuah guling. Sungguh saat itu ia ingin menangis. Kenapa sulit sekali memberi pengertian pada ibunya tentang pilihan hatinya. Ia tidak bisa kalau harus menikahi wanita lain. Lebih baik ia tidak menikah sama sekali kalau tidak dengan Nasti.


Nasti, kenapa kau selalu benar dan kebenaran itu selalu memisahkan kita? Kenapa? Iwabe menghela napas dengan susah payah dan membalikkan tubuhnya tidur terlentang. Ia menatap langit-langit.


Kau benar, Nasti. Benar-benar sulit mendapatkanmu karena kamu janda, tapi jangan takut, Sayang. Aku akan terus memperjuangkanmu. Iwabe terus saja menatap langit-langit sementara matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Mulai malam itu, Iwabe mulai sholat tahajjud. Ia berdoa agar dilapangkan jalan menuju bahagia.


__ADS_2