Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Rumah Nasti


__ADS_3

Mmh, untung ada kesempatan ini. Nasti tanpa Iwabe, jadi aku punya cukup waktu untuk berduaan. Huh! Salah sendiri, kenapa pacarnya disuruh mengurusi bisnis, ketika datang ke acara pernikahan.


Gerald ikut antrian hingga tiba giliran menyalami pengantin dan teman bisnisnya. Setelah itu ia turun dari panggung. Baru saja ia turun, seorang pria mendekat dengan menempelkan belati dipinggangnya dengan cara sembunyi. Pria itu memegangi lengannya.


"Mmh?"


Pria itu memberi kode untuk ia berjalan lurus ke pintu utama. Gerald tak bisa menolak karena belati dan genggaman kuat pria itu. Sesampainya di luar, ia pun ditarik menepi di parkiran yang sepi. Ternyata di sana ia bertemu dengan 2 pria lagi yang mengikuti pria ini.


"Kalian siapa? Orang-orang Iwabe kah?" Gerald menatap pria-pria itu yang memang berwajah Jepang. "Oh, sekarang dia punya bodyguard ya? Mmh ... Hah! Dulu dia bilang aku laki-laki pengecut karena menyerangnya dengan membawa bodyguard, tapi sekarang? Apa tidak sama saja? Dia bahkan lebih pengecut karena tidak memperlihatkan batang hidungnya dan menyerahkan semuanya pada kalian!"


Pria-pria itu tidak bereaksi apa-apa selain memperlihatkan wajah sangarnya dan bergerak mendekat.


"Sial! Baik, aku pergi." Gerald berbalik arah, tapi sebuah tangan menarik kerah bajunya dari belakang dengan kasar. "Ahh!"


Seseorang bertugas memegangi dan yang satu lagi memukuli tubuh pria bule itu hingga jatuh tersungkur. Setelah dirasa cukup, ketiganya pergi.


Gerald menggerakkan tubuhnya perlahan dalam kengiluan. "Eghh!" Ia mencoba untuk duduk. "Sialan kau Iwabe!" Untung saja mereka tidak memukul wajahku.


---------+++---------


Malam semakin larut dan tamu-tamu mulai berkurang. Kobayashi meminta agar keduanya tidak melayani lagi orang yang ingin kerjasama dengannya karena ia ingin pulang. Iwabe dan Nasti kemudian menyelesaikan pertemuan dengan klien terakhir mereka dan bergabung dengan Kobayashi.


"Maaf ya, Pak. Bian jadi tidur sama Bapak." Nasti mengangkat Bian dari tubuh Kobayashi.


"Mmh."


Mereka kemudian kembali ke mobil. Kobayashi kemudian mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jas dan memberikannya pada Nasti. "Ini upahmu hari ini."


Nasti melihat isinya. "Wah, ini banyak sekali," ucapnya terkejut.


"Aku sudah menetapkan harga jadi terima saja."


"Oh, terima kasih, Pak." Wanita itu menganggukkan kepala.


"Karena sudah terlalu malam, aku antar saja kalian pulang."


"Ah, terima kasih, Pak." Kembali wanita itu bicara.


Kobayashi melirik pada Iwabe. "Kamu sudah bekerja padaku, kenapa kamu masih gak pintar-pintar juga sih?"


"A-apa maksudnya, Pak?" Iwabe melongo.


"Kenapa kau masih naik taksi pulang pergi kerja, hah? Sewa mobil, aduh anak ini!"


"Oh, iya, Pak."


Nasti tertawa.


"Belajar bahasa Jepang!"


"Ah, iya." Iwabe mengangguk.


Nasti hanya tersenyum.


Mobil akhirnya sampai ke rumah Nasti.


"Nasti, kamu di sini saja. Besok saja kamu balik ke mess. Ini sudah terlalu malam," bujuk Iwabe yang membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Tapi 'kan tidak jauh dari sini?"


"Tapi nanti jadi gosip kalau kamu ke sana dengan mobil ini. Sudah tidur di sini saja."


Kobayashi melihat rumah yang tampak sederhana itu. "Ini rumah siapa?"


"Rumah Nasti," jawab Iwabe dengan jujur.


"Rumah Nasti? Kamu tinggal serumah dengannya?"


"Oh, tidak, Pak. Aku numpang di rumah orang tuanya sedang Nasti tinggal di mess."


Hubungan mereka benar-benar aneh! Kenapa pemilik rumah malah tinggal di luar?


"Nasti ... ayok!" Iwabe telah menunggu di luar pintu.


Wanita itu terpaksa menurut. Iwabe mengambil Bian dari Nasti dan kemudian wanita itu turun.


Ibu Nasti keluar dari dalam rumah. "Oh, kalian baru pulang." Ia segera membuka pintu pagar. Sekilas ia melihat Kobayashi di dalam limousine dan mengganggukkan kepala. Pria itu membalasnya.


"Maaf, Bu, aku pulang malam," ujar Iwabe pada Ibu Nasti.


"Tidak apa-apa, itu bosmu?"


"Iya."


Pintu limousine ditutup oleh salah seorang bodyguard dari mobil lain. Ketiganya melihat mobil itu pergi dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Kobayashi termangu dan masih mengintip lewat kaca belakang mobilnya. Bukankah katanya mereka mantan pacar?


----------+++-----------


"Jangan sampai macam-macam ya?" Ibu memperingatkan di pintu kamar.


Iwabe menoleh.


Nasti menepuk lengan pria itu. "Itu, dengar kata ibu."


"Iya, Bu," jawab Iwabe.


"Udah, sana pergi." Nasti mengusir keluar Iwabe dari kamar dan menutup pintu.


"Ya Allah, Nasti. Baru juga sampai."


Ibu hanya tersenyum dikulum dan meninggalkan Iwabe sendirian. Nasti pun sama. Ia tersenyum dikulum dalam kamar.


Iwabe yang kamarnya berseberangan, segera masuk ke dalam kamar dan menghempaskan diri di atas tempat tidur. Ia melipat tangannya di belakang kepala dan menoleh ke arah pintu.


Nasti. Kapan kau dan aku bisa bersama? Rasanya aneh saat kita bisa serumah begini tapi tak bisa menikah. Apa kabar mereka yang tak sengaja bersama lalu digrebek dan harus menikah? Kenapa aku tidak seberuntung mereka?


---------------+++----------


Nasti mengetuk sekali lagi. Tak lama, wajah pria Jepang itu muncul dari balik pintu dengan menutup mulutnya yang menguap. Rambutnya sedikit kusut di atas kepala karena baru bangun tidur.


"Kamu belum sholat subuh ya?" tanya wanita itu mengerut kening.


"Sudah, tapi tidur lagi. Kenapa?" Iwabe berusaha membuka matanya yang masih menyipit.

__ADS_1


"Gak mau sarapan?"


"Bian sudah bangun belum?"


"Masih tidur tuh!" Nasti menunjuk dengan mulutnya.


"Ya sudah, aku tidur juga."


"Memangnya kamu anak-anak?" Nasti merengut.


"Nasti, ini hari Minggu. Kenapa aku tidak boleh tidur lebih lama?" gerutu pria itu.


"Karena kamu bukan anak-anak, tentunya."


"Nasti. Orang dewasa juga butuh istirahat yang lama, kalau sedang kelelahan. Apalagi ini hari Minggu."


"Dasar pemalas!" Nasti membalik tubuhnya hendak pergi.


"Eh, apa kau bilang?" Iwabe menyambar lengan wanita itu. "Aku tidak malas ya? Mau kau kunikahi?"


"Apa maksudnya itu?" tanya Nasti bingung.


"Ya, paling tidak, ada yang bisa kukerjakan pagi-pagi," ucap pria itu sedikit canggung.


Nasti langsung mencubit pipi pria itu keras-keras.


"Aduh, Nastiii!"


"Cabul!" Nasti melepaskan cubitannya. "Kan bisa olahraga lari di luar mumpung libur."


Pria itu mengusap-usap pipinya yang kena cubit wanita itu hingga memerah. "Nasti, kamu sadis banget sih," rengeknya.


"Biarin! Ayo sekarang sarapan setelah itu kita jalan sambil olahraga di luar." Nasti menarik Iwabe.


"Sama Bian, aku maunya sama Bian." Iwabe berusaha menahan dirinya.


"Aneh! Orang dewasa kok CS-an sama anak kecil." ledek Nasti sambil bertelak pinggang.


"Ya?" Pria itu masih menunggu persetujuan dari Nasti.


Akhirnya setelah membangunkan Bian mereka sarapan bersama orang tua Nasti. Setelah itu mereka jalan bertiga dengan Bian naik sepeda.


"Kita mau olahraga apa?" tanya Nasti pada Iwabe.


"Mana aku tau. 'Kan kamu yang ngajak."


Nasti cemberut.


Duh, susah sekali bicara sama wanita ini. Dijawab salah, gak dijawab salah, tapi kalau pertanyaannya dipertanyakan bisa bertanduk dia. "Ya udah jalan kaki saja." Iwabe mengekor Bian yang riang bisa membawa sepedanya ke jalan.


Ternyata Nasti membawa mereka ke sebuah taman dekat situ. Wanita itu mengikuti rombongan wanita-wanita yang sedang senam bersama mengikuti seorang instruktur senam.


Iwabe hanya duduk di kursi taman sambil memperhatikan Bian, tapi keduanya jadi perhatian orang-orang di sekitar karena wajah asing mereka. Yang satu bule dan yang satu Jepang membuat orang bertanya-tanya akan hubungan keduanya.


___________________________________________


Yuk, kita intip novel teman yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2