Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Makan Siang Dengan Bian


__ADS_3

"Ya, sudah. Jangan lupa, katakan itu pada bosmu ya?" Ibu mengingatkan.


"Iya, Bu. Aku ingat kok." Iwabe menggigit rotinya.


----------+++----------


Iwabe melirik jam di pergelangan tangan. "Oh, sudah jam segini." Ia menoleh pada Kobayashi yang duduk di sampingnya. "Pak, sudah mau jam makan siang."


"Iya. Kamu mau makan apa, pesan saja," ujar pria itu yang sibuk dengan HP-nya.


"Oh, aku mau makan di luar. Ada janji."


Pria itu kini menoleh pada Iwabe. Tidak biasanya ia makan di luar. Janji dengan siapa? "Nasti?"


"Ah ...." Iwabe tersenyum. "Boleh 'kan?"


Kobayashi tak menjawab ketika pria muda itu berdiri dan meninggalkannya. "Jangan telat kembali!"


Iwabe sempat menoleh. "Iya, Pak. Terima kasih."


Dalam perjalanan ke lift, Iwabe menelepon Nasti. "Nas, kamu di mana?"


"Di rumah."


"Kita makan siang keluar, yuk? Sama Bian. Sekarang aku jemput."


"Ok."


Sesampainya di rumah Nasti, bukan main senangnya Bian melihat kedatangan Iwabe. Ia berlari ke arah pria itu dan Iwabe langsung menggendongnya.


"Om datang 'kan, ke sini cari kamu." Iwabe menyentuh hidung mungil bocah itu.


Bocah itu terlihat sumringah dengan memeluk leher pria itu dan menyandarkan kepalanya pada leher Iwabe, sejenak. "Iya." Ia mengangkat kepalanya.


"Mmh, kamu mau makan apa?"


"Kentang."


"Masa kentang terus? Kamu nanti gak tinggi-tinggi lho. Makan yang lain dong!"


"Apa?"


"Mmh, gak tahu Om. Kita ke Mall aja ya? Lihat di sana?"


Bocah itu mengangguk.


"Sebentar ya? Om sholat Zuhur dulu." Iwabe menurunkan Bian ke lantai.


Setelah sholat, mereka berangkat dengan mobil Iwabe ke Mall.


Mall terlihat ramai tapi Iwabe membiarkan Bian berlarian di tempat yang luas itu. "Om!" teriaknya kegirangan.


Mereka kemudian naik lift menuju lantai tempat bermacam-macam restoran berada. Sebuah restoran Eropa menjadi pilihan karena menunya yang beragam.


"Kau mau makan apa, Nasti. Pesan saja."


"Ini mahal semua, Be," celetuk Nasti tak yakin.


"Tidak apa-apa, pesan saja."


"Tapi kamu belum gajian 'kan?"

__ADS_1


"Belum sih, tapi uang makan siangku belum pernah aku pakai karena makan siang terus dengan bos. Jadi uangku masih utuh."


"Beneran nih?"


"Iya. Ayo pesan saja."


Keduanya kemudian sibuk melihat buku menu masing-masing.


"Bian mau ini?" tanya Iwabe sambil menunjuk sebuah gambar pada Bian.


Bocah itu berlari-lari mendekat. "Apa?"


"Ini."


"Itu apa?" Bocah itu tidak mengerti gambar itu.


"Roti selai dengan buah."


Bocah itu menatap Iwabe, bingung.


"Manis. Rasanya manis."


Bian mengangguk dan kembali berlari sambil menjelajahi restoran. Iwabe kemudian memesan makanan.


Pria itu melihat sebuah kursi yang sedikit tinggi untuk anak-anak. "Tolong bawakan kursi itu ya, ke sini. Buat anakku."


Pelayan restoran itu sedikit bingung dengan ucapan Iwabe 'anakku' karena Bian bule dan tidak ada orang bule di antara Nasti dan Iwabe tapi pelayan itu tetap mengambilkan. Tak berapa lama, makanan pun juga datang.


"Bian!"


Bocah itu berlari-lari mendatangi Iwabe. Pria itu langsung menggedong bocah itu dan memasukkannya ke dalam kursi anak-anak. Bian terlihat kebingungan karena kursinya yang tinggi dan sulit untuk keluar dari kursi itu sendiri.


Iwabe meletakkan makanan dan minumannya yang berupa air mineral di atas meja kecil yang menempel pada kursi itu, lalu menatap bocah itu dengan tersenyum. "Sekarang, belajar makan sendiri ya?"


"Nanti berantakan, Iwabe. Terbuang ke lantai," sahut Nasti.


"Tidak apa-apa. Dia sudah dua tahun lebih, harus belajar makan sendiri." Pria itu kembali fokus pada Bian. "Bisa 'kan?"


Bian menatap makanannya. "Pake ini?" Ia mengambil sendok.


"Terserah, Bian. Yang penting bisa makan sendiri. Bisa 'kan?"


Bian memegang sendok dengan caranya sendiri, lalu menyendok buah. Awalnya sedikit canggung tapi kemudian ia menganggapnya mainan yang bisa dimakan. Kadang kalau sulit, ia pakai tangan untuk makan makanannya. Ternyata dengan makan sendiri, bocah itu bisa duduk diam dan sibuk dengan makanannya.


"Mmh, pintar," puji Iwabe yang mengacak-acak poni pirang bocah itu, tapi sepertinya bocah itu tak peduli karena ia tengah sibuk dengan makanannya.


"Mmh, steak-nya enak juga. Udah lama gak makan ini," sahut Nasti senang.


Pria itu melirik makanannya. Ia mengambil pisau dan mulai memotong steak. "Aku pulang karena saudara tiriku itu." Iwabe mulai bercerita.


"Kenapa dengannya?"


Pria itu kemudian menceritakan semuanya dan Nasti cukup terkejut dengan kenyataan yang diceritakan pria itu. "Kau benar, Nasti. Seharusnya aku menanyakan kebenaran itu pada ayah juga, tapi tetap saja aku tak salah karena aku sudah bertanya pada ibu tapi ibu tidak mengatakan semuanya."


"Katanya ibumu mau menerangkan tapi kamunya langsung pergi karena sudah terlanjur kecewa. Harusnya waktu itu kamu dengarkan, jadi gak seperti ini jadinya," ucap Nasti sambil mengunyah.


"Kamu tidak tahu ibuku sih. Dia terlalu membatasi ruang gerakanku dan sering kali tidak menyebutkan alasannya."


"Misalnya?"


"Apa tidak aneh, ibuku yang asli orang Jepang tidak pernah mengajariku bahasa Jepang?"

__ADS_1


"Kamu pernah tanya?"


"Sudah. Katanya, tidak perlu. Padahal, kakek dan nenekku dari Ibu masih ada dan setahun sekali mereka datang, tapi karena aku tidak bisa bahasa Jepang aku tidak bisa dekat dengan mereka. Aku sebenarnya pernah belajar sendiri bahasa Jepang sembunyi-sembunyi waktu SD, tapi akhirnya ketahuan ibu dan akhirnya bukunya semua dibakar."


"Masa?" Nasti membulatkan matanya karena heran.


"Iya. Sejak itu aku tak berani lagi belajar bahasa Jepang, tapi sedikit-sedikit aku ingat sih, kata-kata bahasa Jepang." Iwabe kembali memotong daging steak dan menyendok sayur di sampingnya.


"Seperti apa?" Nasti kembali memasukkan ke mulut, steak beserta mashpotato.


"Okaasan untuk ibu atau otousan untuk ayah."


"Eh, kamu sudah tanya tentang ayahmu?" Nasti tiba-tiba teringat tentang ayah Iwabe.


"Nah, itu dia. Aku juga tanya tentang ayahku kemarin, tapi ibu selalu menghindar."


Nasti terdiam sejenak. "Sepertinya, mereka tidak pisah baik-baik ya?"


"Kenapa begitu?" Iwabe mengerut kening.


"Apa kau tidak pernah pergi ke Jepang?"


"Jangankan aku, ibu saja sudah tidak pernah pergi ke Jepang lagi."


"Masa?"


"Iya. Padahal, kata ayah, ibu itu bukan anak tunggal. Dia punya seorang kakak perempuan dan beberapa rumah dan villa di Jepang. Kakaknya juga punya perusahaan."


"Mmh." Nasti terlihat berpikir.


"Kenapa?" Iwabe melihat reaksi wanita itu yang berbeda.


"Ibumu mengingatkan aku pada hubunganku dengan Gerald. Aku sempat trauma tidak mau keluar rumah sampai setahun lamanya. Aku takut bertemu dengannya dan kembali terluka."


"Nasti ...." Pria itu ikut prihatin.


"Sekarang sudah tidak," ucap wanita itu dengan tersenyum. "Tapi pasti ibumu masih trauma, Iwabe, dengan pernikahannya yang terdahulu."


"Tapi apa hubungannya dengan aku tak boleh belajar bahasa Jepang?"


Nasti tersenyum. "Aku juga punya anak, Iwabe, yang warna kulit dan wajahnya sama sekali tidak mirip denganku."


"Eh, maksudnya?" Lagi-lagi Iwabe tak kunjung mengerti.


"Aku takut suatu saat suamiku akan mengambil anakku, karena Bian memang lebih mirip Gerald dari pada aku."


"Maksudmu, aku mirip ayahku?"


"Mirip Pak Kobayashi!" canda Nasti sambil tertawa. "Ya, aku mana tahu," ucapnya jujur.


"Aku tidak mirip dia ya, manusia cerewet itu! Mana galak lagi."


"Pamali ngomongin orang. Nanti tiba-tiba dia ayahmu, bagaimana?"


"Aku sudah bilang aku tidak mirip dengannya," tolak Iwabe cemberut.


"Iya sih, kamu, wajahmu mirip ibumu." Nasti menyuap lagi daging steak-nya. "Tapi aku sangat yakin, ibumu sebenarnya takut bila kamu bertemu ayahmu dan memutuskan tinggal dengannya."


___________________________________________


Masih terus mengikuti novel ini 'kan reader? Jangan lupa penyemangat author, vote, like, komen, atau hadiah. Ini visual Bian yang sedang belajar makan sendiri. Salam, ingflora💋

__ADS_1



__ADS_2