
"Halo, Nasti." Iwabe yang duduk bersandar di kepala tempat tidur, mulai tersenyum.
"Sudah pulang, Sayang?"
Iwabe mengembangkan senyumnya.
Terdengar suara anak kecil di samping Nasti. "Siapa Sayang?"
"Om," sahut Nasti pada Bian yang sedang bermain di sampingnya.
"Ada Bian ya? Coba aku mau ngomong sebentar sama dia." Iwabe terdengar antusias.
"Bian mau ngomong sama Om?" Nasti beralih pada Bian.
"Mau." Bocah itu melepas mainannya. Ia menerima HP ibunya dan ditempelkan ke dekat telinga dibantu wanita itu.
"Bian."
"Om." Bocah itu menatap ibunya. Ia masih bingung menggunakan handphone.
"Bian lagi apa?"
"Main tempat tidur Om."
"Sudah gak sakit lagi 'kan?"
"Iya."
"Besok-besok, kita jalan-jalan lagi ya? Jangan sakit-sakit lagi, nanti Om malas ke sananya."
"Iya."
"Mana Mamamu?"
Bian mendorong handphone-nya pada Nasti.
"Iya, Iwabe."
"Besok ada anaknya teman Ibu mau kerja di kantor, kamu bantu ya? Dia sepertinya belum punya pengalaman kerja."
"Oh, ok."
"Sayang."
"Iya."
"Janji jangan tinggalkan aku ya?"
Nasti tersenyum kecil. "Iya."
"Sayang."
"Mmh."
"I love you. (Aku cinta padamu)."
"Love you too(Aku juga mencintaimu)."
"Malam, Sayang."
"Malam, Cinta."
Iwabe melebarkan senyum di wajahnya.
"Aku jadi ingin ...."
"Sudah, Iwabe!"
__ADS_1
Pria itu tertawa. "Kenapa aku tidak boleh berkhayal?"
"Nanti beloknya ke sesuatu yang butuh penyaluran. Dosa ah!"
Iwabe terkekeh. "Iya, ok, ok. Aku nurut aja. Jadi ngak usah diucapkan, langsung praktek berarti."
"Iwabe!"
Pria itu kembali tertawa. "Iya, iya, maaf."
"Bye."
"Bye."
----------------+++-------------
Pagi itu, Iwabe baru sampai ke perusahaan keluarga setelah sarapan di rumah Nasti dan berangkat ke kantor bersama. Ia mendatangi ruang Presdir di mana ayah dan ibunya kini berada. Ibu sudah mulai bekerja dan satu ruangan dengan ayah.
"Oh, kau sudah datang," ujar ibu melihat kedatangan Iwabe. Hanya Iwabe yang terkejut melihat di ruang itu ada Refan dan Faza.
"Ibu. Ibu sedang melakukan briefing?(penjelasan)" tanya Iwabe.
"Bukan. Ada perubahan struktur organisasi, karena itu kamu harus mendengarkan."
"Aduh, rapat ya? Jangan lama-lama ya, Bu?" Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.
"Duduk saja dan dengarkan."
Iwabe duduk di sofa di samping ibu bersama yang lainnya.
"Ibu berencana membesarkan perusahaan ini dan itu membutuhkan kerja keras dari sekarang. Karena itu, ibu butuh keterlibatan banyak orang dan komitmennya untuk perusahaan.
Faza, ibu tunjuk untuk mengembangkan divisi makanan, divisi baru yang belum ada di perusahaan. Tugasnya untuk mengetahui tren-tren makanan dan membuatnya menjadi produk baru. Tentu saja karena dia baru, butuh banyak pihak untuk membantunya mewujudkan keinginan ibu.
Karena itu ibu tunjuk Refan dan Abe untuk membantunya sampai ia nanti punya staf yang bisa meringankan pekerjaannya. Ibu juga berniat membuat pabrik baru untuk produk-produk baru, tentunya."
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa," sahut Iwabe memotong pembicaraan ibunya.
Tak terbantahkan, hari ini ibu benar-benar tegas dalam menggunakan waktu sempit Iwabe hingga pria itu mau tak mau terpaksa mengerjakannya.
"Oya, kapan kamu akan resign(mengundurkan diri) agar ibu bisa memaksimalkan pekerjaan dengan kamu ada di dalam rencana."
Maiko benar-benar membuat Iwabe tak berkutik, dan ini cukup mengejutkan Iwabe. Sosok ibunya yang baru pertama kali dilihatnya. Padahal di keseharian, ibunya adalah sosok ibu manja yang gampang ngambek dan selalu minta dibela oleh ayah bila bertengkar dengannya. Iwabe belum pernah melihat ibunya yang tangguh dan mandiri seperti sekarang ini.
"Aku baru mengajukan beberapa kandidat, Bu, pada bosku, jadi masih belum ada hasilnya."
"Ya sudah, secepatnya saja beri kabar kalau ada perubahan."
Iwabe hanya terdiam.
"Lho, kok belum berangkat?"
"Iya, Bu."
Iwabe segera beranjak berdiri diikuti Faza. Keduanya keluar dari ruang itu.
"Nanti, di saat Iwabe masih absen, kamu bantu Faza ya, Refan?"
"Oh, iya, Bu," jawab Refan cepat. Diam-diam ia tertarik pada Faza, wanita bercadar itu. Padahal Refan tak tahu bagaimana wajah Faza, tapi itulah yang membuat Refan tertarik padanya. Pembawaan yang santun dan wajah misteriusnya.
Iwabe membawa Faza ke pabrik untuk memberitahukan produk-produk apa saja yang dimiliki perusahaan dan menjawab beberapa pertanyaannya sekitar produk.
Faza sangat detail bertanya hingga kadang ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Iwabe.
"Kami hanya membuat produk berdasarkan kemampuan mesinnya, jadi kami tidak pernah meminta pihak produsen pembuat mesin untuk berinovasi," terang Iwabe.
"Tapi kira-kira bisa gak jika pabrik pembuat mesin itu membuat sedikit perubahan bila diminta?" tanya Faza ingin tahu.
__ADS_1
"Kalau itu harus tanya pabrik pembuat mesinnya, Za. Soalnya aku tidak tahu apa pabrik itu hanya produsen pembuat mesin yang umum atau bisa juga untuk membuat sesuai pesanan."
Bertepatan dengan itu, datang Lia dan Nasti ke dalam pabrik.
"Eh, Nasti." Wajah Iwabe berseri-seri. "Ini ada orang baru ya? Tapi dia akan buka divisi baru yang dibuat ibu."
Faza heran melihat keakraban Iwabe dengan Nasti yang terasa lain. Nasti menyodorkan tangannya pada Faza yang disambut wanita itu dan berjabat tangan.
"Nasti."
"Faza."
"Ini Lia." Terang Iwabe.
Lia dan Faza melakukan hal yang sama.
"Mau apa, Nas?" tanya Iwabe basa basi.
"Oh, biasa. Memeriksa stok untuk klien."
"Oh." Iwabe melirik Faza. "Oh, iya. Aku lupa kasih tau kalau Nasti ini pacarku."
Apa?
"Iwabe!" rengut Nasti.
"Lho, 'kan benar 'kan?"
Lia menahan tawa.
"Kamu sepertinya senang sekali pamer aku pacarmu ke orang-orang."
"Lho, itu wajib, Nasti. Biar orang gak salah paham. Nanti diikiranya aku masih sendiri."
"Kita 'kan belum menikah," protes Nasti.
Lia kini tertawa.
Jadi benar ini pacar Abe. Eh, namanya Iwabe ya? Wanita itu benar-benar kebingungan. Lalu kenapa Tante Maiko ingin menjodohkan Abe denganku kalau ia sudah punya pacar? Apa ... mereka tidak direstui?
"Oh, iya. Nasti, tolong bantu aku dong. Aku sudah harus pergi kerja. Tolong bantu Faza ya, dia butuh mengenal product knowledge (pengetahuan tentang produk)."
"Ok. Oya, sebentar." Nasti mendekati Iwabe dan merapikan kerah bajunya.
Iwabe merasa tersanjung.
"Sudah."
"Terima kasih." Pria itu menatap wanita itu dengan senang.
"Kau mau pergi ke mana dengan jas ini, hari ini."
"Oh, aku mau ketemu klien bersama Pak Kobayashi."
"Ya sudah, hati-hati ya?"
"Iya, Sayang."
"Sst, kamu itu!" rengut Nasti kesal dan pria itu kembali tertawa.
"Itu benar pacarnya?" bisik Faza pada Lia hampir tak percaya.
"Iya, benar."
Dari wajahnya sepertinya wanita itu lebih tua dari Abe dan masih lebih cantik diriku dibanding wanita itu, apa Abe tidak bisa melihatnya dengan benar? Apa keistimewaan wanita ini? Faza tak habis pikir, kenapa Iwabe bisa menyukai Nasti.
_____________________________________________
__ADS_1
Masih semangat bacanya kan reader? Jangan lupa penyemangat author, like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Nasti dengan batik, saat kerja. Salam, ingflora💋