
Iwabe segera pulang ke rumah ingin menemui ibunya. Ia ingin memastikan.
Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang gampang percaya cerita dari orang lain bahkan orang yang dikenalnya tapi ucapan pria angkuh itu entah mengapa mengusiknya.
Menurutnya, kata-kata pria itu hampir mendekati kebenaran karena ia memang tak mirip dengan ayahnya dan malah pria itu, yang baru dikenalnya, punya garis wajah mirip ayahnya. Ini tak terbantahkan, karena itu ia mendekati percaya akan omongan pria itu.
Ia mengetuk kamar orang tuanya dan masuk.
Terlihat ibu sedang menyisir rambut dan terkejut melihat putranya sudah ada di rumah saat itu. "Abe, kenapa kamu pulang, Nak? Ada yang ketinggalan lagi?"
Pria itu mendatangi ibunya dengan wajah serius.
"Oh, kamu kenapa, Be?"
"Ibu, tolong jujur ya ... aku mohon." Iwabe kini berhati-hati berbicara dengan ibunya. Ia tak ingin salah ucap yang terdengar kasar seperti pada ayahnya tadi.
"Ada apa, Be?" Ibu terlihat penasaran dan memutar tubuhnya menghadap pria itu.
Iwabe menatap dalam-dalam wanita yang melahirkannya itu ke dunia. Ia sendiri siap tidak siap untuk mendengarkan jawabannya. "Apakah ayahku bukan Sastra Dirga?"
Ibu terlihat pucat. Mulutnya seketika menjadi kaku.
"Bisakah aku membantahnya?" ucapnya setengah memohon. Ia berharap ibunya akan membantahnya tapi mulut wanita itu terkunci. Ia seperti ingin bicara dengan mulut berkomat-kamit bergerak tapi nyatanya tak ada satu pun suara yang keluar dari mulut yang selalu berkata lembut padanya itu. Jadi ....
"Ibu ...." Iwabe kehilangan harapan.
"I-itu bisa dijelaskan, Abe." Pada akhirnya ibu membuka suara walau terbata-bata.
"Ibu, kenapa kau tega ...." Lemas seluruh tubuh Iwabe mengetahui kenyataan yang sudah diduganya itu yang ia hampir-hampir ingin menutup mata saat menyadarinya. "Kenapa ibu tega mengambil suami orang, Bu. Nasti saja masih punya perasaan, tapi ibu bahkan lebih jahat dari yang kuduga."
"I-itu tidak seperti yang kau pikiran, Abe." Ibu menyentuh tangan anaknya tapi pria itu menepisnya dengan kasar.
Ibu terkejut.
"Maaf, Bu." Iwabe sebenarnya tidak bermaksud menyakiti hati ibunya yang kini terlihat cemas. "A-aku butuh ruang." Pria itu tertunduk dengan wajah penuh kebimbangan. "Tolong jangan cari aku, Bu." Pria itu berlari ke luar kamar. Ia menaiki tangga ke arah kamarnya.
"Abe!"
Tak berapa lama pria itu bergegas keluar dengan membawa tas besar dan menuruni tangga.
"Abe, dengar dulu ibu bicara," pinta Ibu memohon.
"Tolong, Bu. Aku ingin mendinginkan kepalaku dulu," ucap pria itu tanpa menoleh. Ia akhirnya keluar rumah lewat pintu depan.
"Abe ...." Ibu meneteskan air mata.
----------+++---------
Pria paruh baya itu baru saja sampai di kantornya ketika telepon genggamnya berbunyi. Ia segera mengangkat, ketika tahu siapa yang menelepon.
__ADS_1
"Halo?" Terdengar isak tangis di ujung sana. "Maiko? Ada apa?" Langkah pria itu terhenti.
"Ada seseorang yang memberi tahu Abe bahwa kau bukan ayah kandungnya."
"Siapa itu?" Dahinya berkerut.
"Aku tidak tahu, Mas," isak wanita itu.
Pria itu mengusap dahinya. "Aku sudah memberitahumu, Maiko. Abe harus tahu, tapi kau tak mau mendengarkan."
"Abe tak perlu tahu siapa ayahnya. Dia tidak pernah mempedulikan kami. Ia hanya hidup dari mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Beda dengan dirimu yang begitu hangat.
Di dalam hidup Abe, aku hanya ingin ia punya sejarah hidup yang baik-baik saja. Apa aku salah sebagai ibunya," tanya wanita itu yang wajahnya penuh dengan air mata.
"Tentu tidak, Maiko. Memang apa yang terjadi?" Pria itu mulai tahu, ke mana arah pembicaraan. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Abe. Dia pergi dari rumah dan tidak ingin dicari. Sedih rasanya saat ia bicara seperti itu. Sesak dada ini, Masss." Tangisnya semakin menjadi.
"Maiko, sudah hentikan tangismu. Aku janji, aku akan cari tahu siapa yang melakukan ini, ok?" Ia menutup teleponnya dan melangkah ke arah ruang kerja.
"Pak, ada tamu," ucap sekretarisnya.
"Tadi apa Iwabe ke sini?" tanya pria itu pada wanita itu.
"Sudah, Pak, bahkan ia bertemu dengan tamu Bapak tapi ngak tau kenapa dia minta saya membuatkan surat pengunduran dirinya, jadi terpaksa saya buatkan." Wanita itu sedikit menunduk seraya memberikan surat itu pada pria itu. Ia takut dimarahi tapi posisinya terjepit hingga harus melakukan itu.
"Iya, Pak. Dia menunggu Bapak dari tadi."
"Siapa?"
"Namanya Refan, tapi dia tidak mau menyebutkan dari perusahaan mana. Dia bilang, Bapak pasti tahu."
Pria itu mengerut dahi. Ia mencurigai seseorang hingga ia melangkah masuk ke ruangan.
Seorang pria muda ia temui tengah duduk mengarah padanya. Pria muda itu terkejut, juga dirinya. Selama bertahun-tahun pria paruh baya itu tidak pernah bertemu dengannya dan sekarang ... ia harus bertindak bagaimana?
Pria muda itu segera berdiri dan menatap pria yang berdiri di depannya. "Ayah."
Sastra memalingkan wajah dan melangkah ke arah meja kerjanya. Ia kemudian duduk di sana.
Refan sedikit kecewa tapi ditahannya. Ia ingat kata-kata sang ibu bagaimana agar ia bisa bicara dengan ayah kandungnya.
"Ibumu. Siapa nama ibumu?"
"Viona. Viona Bellinda."
Sastra menatap wajah anaknya. Dari garis-garis wajahnya terlihat sekali bahwa ia memang keturunan Dirga tapi sayang, ia berada di tangan yang salah.
Sastra menyandarkan punggungnya ke belakang. "Jangan pikir aku orang yang sama seperti dulu. Pengalamanku mengajarkan banyak hal. Jadi kita bicara blak-blakan saja. Apa yang sedang kalian inginkan sebenarnya dariku, mmh?"
__ADS_1
------------+++-----------
Nasti menutup teleponnya dan menoleh pada Lia.
"Iya, iya tau. Jagain Abang sayang ya?" ledek Lia lagi sambil membuka seatbelt-nya dan keluar dari mobil.
"Makasih!" teriak Nasti pada teman sekantornya itu. Untung mereka belum berangkat dan masih di kantor sehingga Nasti bisa segera menurunkan temannya itu di sana. "Maaf, aku gak bisa bantu carikan taksi, gak papa ya?"
"Udah gak papa, kayak sama siapa aja. Cepat ke sana, nanti keburu nangis dianya lho, repot lagi."
Nasti tertawa. "Iya, iya."
Mobil segera meluncur hingga sampai ke sebuah restoran, tapi Iwabe menunggu di depan restoran. Pria itu segera masuk ke dalam mobil setelah memasukkan tas besarnya di kursi belakang, ketika mobil yang di bawa Nasti menghampirinya.
"Lho, kita gak jadi ke restoran?"
"Tolong Nasti, aku ingin bicara berdua denganmu." Wajah pria itu tampak berada dalam kecewa yang dalam. Ia tak mampu mengangkat wajahnya.
Nasti memarkirkan mobilnya di area parkir mobil restoran itu. Pria itu masih diam.
Nasti menantinya dengan sabar. Tak berapa lama, pria itu akhirnya mulai bicara. "Nasti, aku sudah memutuskan untuk mandiri. Aku sudah menyerahkan surat mengundurkan diri pada Presdir."
"Kamu sudah yakin?"
Pria itu mengangguk. "Aku benar-benar kecewa."
"Begitulah kalau bergantung pada manusia."
Pria itu kembali mengangguk.
"Berarti aku boleh putus darimu?"
Iwabe segera menoleh. "Nasti, jangan mulai lagi ...," rengeknya.
"Kau sendiri yang mengatakan ...."
"Nasti," potong Iwabe. Ia segera meraih lengan wanita itu.
"Pria, yang dipegang kata-katanya. Kau tak boleh menjilat ludah sendiri."
"Kenapa kau suka sekali menyakitiku dengan kata-kata ini."
"Aku tidak mau bergantung pada manusia."
"Nasti, tolong jangan." Iwabe memohon.
"Aku melakukan ini agar aku bisa membantumu, Iwabe. Kita jadi teman saja ya?"
"Nasti ...."
__ADS_1