
"Itu 'kan salahmu sendiri, kenapa kamu harus kabur sampai keluar negri, dan malah menikah dengan teman bisnisku. Kau lari berarti kau salah!"
"Tidak!"
"Tidak bagaimana?" Iwahara tertawa sambil mengejeknya. "Kau mendekati teman bisnisku yang sudah bangkrut! Oh iya ... jangan-jangan kau sudah lama menyukainya ya? Atau bahkan, sudah lama juga kau bertemu dengannya di belakangku, hah? Ah, bodohnya aku ...," gumam Iwahara sarkas.
"Itu tidak benar," ujar Sastra membela Maiko sedang wanita itu terlihat bingung karena Iwabe tengah mendengarkan.
Wanita itu takut anaknya berpikir macam-macam tentang dirinya. Memang benar ia lari ke Jakarta karena mengejar Sastra. Ia mengetahui pria itu bercerai dengan istrinya setelah mengetahui perusahaan milik pria itu bangkrut.
Ia yang sempat mengenal Sastra saat itu, mengetahui pria itu sangat sabar dan lemah lembut dalam bertutur kata, berbeda dengan suaminya yang sering berubah-ubah. Keadaan mulai berubah saat ia bermasalah dengan Iwahara. Setelah bercerai, ia mencari pria itu sampai ke Jakarta. Ia mulai mendekati pria itu dengan membeli perusahaannya.
"Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membicarakan masa lalu, karena aku tidak ingin mengingatnya lagi. Lagipula untuk apa? Itu membuktikan bahwa kau bukan ibu yang baik bagi Iwabe. Karena itu, lepaskan saja Iwabe. Ia sudah tidak membutuhkanmu lagi sekarang," ucap Iwahara enteng.
"Apa? Enak saja. Dia anakku! Kau atau siapa pun itu, tidak akan bisa memutuskan hubungan ibu dan anak begitu saja. Dia anakku! Dia anakku!"
"Dia juga anakku, tapi dia memilihku jadi jangan buang energimu dengan memaksanya pulang karena itu sia-sia," ujar pria itu pelan dengan menggerakkan tangannya seperti berusaha mengusirnya dengan meremehkan ucapan Maiko.
Wanita itu menoleh pada Iwabe, tak percaya. "Tak mungkin! Kau pasti telah mempengaruhinya. Biarkan aku bicara dengan Iwabe." Maiko bergerak maju tapi ditahan oleh Iwahara.
"Ibu! Biarkan aku bicara dengan Ibu sebentar!" teriak Iwabe yang kedua lengannya kembali ditahan oleh para bodyguard Iwahara.
"Tidak! Tidak perlu. Ibumu hanya akan membujukmu saja, setelah itu ia akan menindasmu lagi," ucap Iwahara tegas. Ia menoleh pada ketiga tamunya.
"Nah, sudah selesai. Sudah tidak ada lagi yang ingin aku sampaikan jadi sebaiknya kalian keluar saja," usirnya. Pria itu meninggalkan para tamu sementara bodyguard-nya yang lain mengelilingi tamu itu untuk menggiring mereka keluar.
"Ibu!" Iwabe tetap berusaha ingin bicara tapi tertahan oleh para bodyguard. Iwahara bahkan memberi isyarat agak Iwabe dibawa ke kamar sedang Nasti yang menggendong Bian hanya bisa mengikuti ke mana suaminya pergi.
"Iwabe!" Maiko tak bisa berbuat apa-apa karena dihalau keluar rumah.
Tiba-tiba Iwahara merasakan sakit di dada. Ia tidak dapat menahan rasa sakit itu hingga ia ambruk ke lantai.
"Otousan!" teriak Iwabe.
Semua orang di ruangan itu terkejut. Kakak Maiko yang lebih dulu menerobos barisan para bodyguard dan memeriksa keadaan pria itu, sementara Iwabe datang kemudian.
"Otousan," ucap Iwabe dengan pandangan nanar.
__ADS_1
"Maybe he's got a heart attack.(mungkin dia terkena serangan jantung)," sahut Kakak Maiko, Reiko yang ternyata bisa berbahasa Inggris.
"What? Please, helped him,(Apa? Tolong bantu dia)" pinta Iwabe panik.
Wanita itu memberikan bantuan pertama dengan menepuk-nepuk lengan atasnya. "Just call an ambulance(panggilkan ambulan)."
Maiko segera meminta tolong pada bodyguard Iwahara untuk menelepon ambulan. Tak butuh waktu lama, ambulan datang.
Iwahara yang mulai sadar melihat dirinya diangkat ke atas brangkar oleh para medis, segera mencari Iwabe. "Iwabe." Tangannya berusaha menggapai anaknya.
Iwabe mengejar dan meraih tangan itu. "Aku di sini, Otousan."
"Jangan tinggalkan aku."
Iwabe kemudian menemani ayahnya dalam ambulan sementara Nasti dan Bian dibawa dengan mobil milik Iwahara sedang Maiko beserta suami dan kakaknya naik mobil milik Reiko ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Iwabe mendampingi ayahnya melakukan pemeriksaan, sementara Reiko mengurus administrasi.
Reiko sedikit merasa bersalah pada keduanya karena sebenarnya ialah yang memperkenalkan Iwahara pada Maiko. Maiko yang waktu itu baru lulus kuliah, ingin coba bekerja pada orang lain.
Reiko yang sudah memegang bisnis keluarga waktu itu memperkenalkannya pada teman bisnisnya waktu itu hingga Maiko akhirnya bekerja pada Iwahara.
Di lobby, Sastra Dirga dan Maiko duduk terpisah dari Nasti dan Bian. Mereka menunggu dengan hati tak karuan.
Nasti tak tahu harus bersikap apa pada mantan bosnya yang kini jadi mertuanya. Ia ingin menawarkan minum tapi ia sendiri tidak memegang uang sepeser pun. Ia bingung bagaimana menyapa mereka.
"Mama, haus," sahut Bian.
"Mmh, haus ya?" Kini Nasti kebingungan karena ia sendiri tengah memakai baju piyama datang ke tempat itu. Ia ingin menelepon suaminya tapi mereka sama-sama tidak punya handphone. Apalagi mencari Iwabe, ia harus ke mana? Bahasa Jepang saja ia tidak bisa, bagaimana caranya bertanya?
"Eh, Nasti." Tiba-tiba mertuanya datang menghampiri. "Bagaimana kalau kita ke kantin?" tanya Maiko pada wanita itu.
"Eh, maaf, Bu tapi aku ...."
"Aku traktir bagaimana?"
Nasti mendongakkan kepalanya. Apa yang ingin dikatakannya padaku? Apa ia ... ah tak perlu suudzon. "Eh, iya, maaf merepotkan Ibu."
__ADS_1
Mereka kemudian pergi ke kantin rumah sakit itu kemudian membeli makanan.
"Kau mau apa? Kami kebetulan belum sarapan," ujar Maiko pada Nasti, berusaha ramah.
Nasti tahu, butuh jiwa besar untuk mertuanya itu bisa mengakuinya. "Tidak usah, Bu. Aku mau air mineral saja."
Wanita itu terdiam dan menatap Nasti. "Apa kau tidak ingat, aku mengunjungi orang tuamu?"
Seketika, Nasti teringat kejadian ia kehilangan handphone yang direbut Iwahara waktu itu. "Oh, iya."
"Waktu itu sebenarnya aku mengirimkan seserahan pernikahan pada kedua orang tuamu."
Nasti terperangah. "Se-seserahan?"
"Iya. Kau 'kan sudah jadi menantuku, apa lagi?"
Nasti menatap mertua perempuannya itu. Walaupun wanita itu tidak bisa tersenyum, setidaknya wanita itu tidak terlihat marah atau kesal padanya. Mungkin, belum seutuhnya tapi Maiko sudah menerimanya. "Maafkan aku, Ibu," ucapnya berurai air mata.
Maiko memeluknya. Mereka bertangisan berdua sementara Sastra masih memegang baki makanan.
"Mama ...," rengek Bian.
Maiko segera melepas pelukan. "Oh, iya, Sayang. Mau minum apa? Coba tunjuk sendiri mau apa."
Selagi bocah itu menunjuk minuman yang diinginkan, Maiko dan Nasti berusaha menyeka air mata mereka masing-masing. Sastra tersenyum karena keduanya sudah mulai berdamai. Nasti kemudian menemani mertuanya makan di kantin.
-----------+++-----------
Iwabe merapikan selimut ayahnya yang terbaring di tempat tidur. Wajah pria paruh baya itu tampak sedikit pucat.
"Boleh aku bertanya?" ucap Iwabe pelan.
"Apa?"
"Kenapa kalian berpisah?"
Wajah Iwahara tampak kesal.
__ADS_1
"Kalau Otousan tak ingin menceritakannya, tidak apa tapi suatu hari nanti aku akan mengetahuinya juga 'kan? Apa tidak sebaiknya aku dengar dari mulut kalian sendiri sebelum aku mendapatkan informasi yang ternyata salah?"
Pria paruh baya itu menatap kedua manik mata anaknya. Kalau aku katakan, apakah ia juga akan meninggalkanku dan kembali pada Maiko?