Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Kita


__ADS_3

Iwabe kembali ke dalam kamar dengan senang. Entah kenapa, dengan Kobayashi memutuskan begitu, ia merasa lega. Mungkin ia tak punya banyak waktu dan mungkin juga tidak tapi ia masih punya kesempatan untuk terus bekerja dan menggali potensinya bersama pria itu walau tak tahu sampai kapan.


--------------+++-----------


Sarapan pagi. Iwabe terlihat bersemangat dengan wajah ceria makan pagi itu. Kobayashi dapat melihatnya dengan jelas.


"Sepertinya kamu senang sekali akan kembali bekerja dengan perusahaan lamamu? Sangat berbanding terbalik dengan ucapanmu semalam." sindir Kobayashi yang masih saja kesal soal kemarin.


"Bapak senang sekali berpikiran buruk tentang diriku, tapi terserah saja, kalau Bapak mau berpikiran seperti itu, ya silahkan. Yang pasti aku bukan orang yang seperti yang Bapak pikirkan, " ucap pria muda itu sambil tersenyum. Ia menggigit rotinya. "Oh, iya. Mungkin aku akan terlambat datang pagi, mulai senin karena aku harus membantu saudara tiriku itu bekerja di kantor."


"Sesuaikan saja waktunya. Berarti kamu lembur."


"Siap, Pak." Iwabe mengangguk. "Oh, iya. Bapak jangan lupa minum obat." Ia mengingatkan.


"Iya," jawab Kobayashi dengan sedikit cemberut. Entah kenapa sejak Iwabe mengatakan 'akan mengurusnya' ia jadi berharap. Bodoh! Kenapa aku jadi begini? Apa karena aku semakin tua? Aku tidak akan pernah bergantung pada siapapun dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Tegar, bodoh!


"Pak."


Tiba-tiba Kobayashi menyadari wajah pria itu sudah dekat hingga ia terkejut.


"Kalau ada apa-apa telepon ya, Pak?"


"Apa-apa, bagaimana?"


"Kalau tidak enak badan. Bapak 'kan sendirian di Jakarta ini tanpa saudara. Bilang saja, nanti saya temani kalau mau ke dokter."


Kalimat itu lagi. Huh! "Sudah, kalau selesai makannya, pergi sana!" sahut Kobayashi kesal. Ia memiringkan tubuhnya mengambil serbet hanya untuk membersihkan ujung jari yang bersih dan melemparnya ke atas meja.


Iwabe tersenyum melihatnya. "Ada berapa orang di dunia ini yang bisa seperti itu ya, Pak?"


"Apa maksudnya?"


"Melempar serbet seperti itu saat kesal, karena aku juga melakukannya."


Kobayashi terlihat bingung untuk menjawabnya. "Entahlah."


"Mmh."


Kobayashi melirik Iwabe yang sedang sibuk makan. Apa dia seperti ini juga saat kesal? Hah! Masa?


----------+++---------


"Om!" Bian sudah meloncat-loncat di pagar.


"Mmh, senangnya yang mau diajak jalan-jalan," ledek Iwabe sambil membuka pintu pagar.


"Iya." Bian langsung memeluk kaki pria itu saat pintu pagar dibuka. "Mama!"

__ADS_1


"Iya, Bian." Nasti bergegas keluar dengan Ibu.


"Ibu, apa kabar? Sehat?" tanya Iwabe ketika menoleh.


"Sehat. 'Kan baru kemarin ketemu? Kenapa nada bicaramu seperti orang yang takut Ibu sakit saja," sahut ibu.


"Soalnya kemarin bos saya sakit, Bu. Apa karena lagi musim hujan tiap sore ya, Bu?"


"Oya?" sela Nasti.


"Entah ya, tapi kasihan sekali bosmu itu. Apa tidak ada keluarganya di sini?" ujar ibu prihatin.


"Setahuku sih tidak ada. Makanya untung saya menginap di sana."


"Sakit apa, Be?" Nasti ikut bertanya.


"Aku tidak tahu, soalnya dia tidak mau pergi ke dokter."


"Oh, mungkin ia sudah tahu penyakitnya."


"Ok, sudah siap 'kan? Ayo kita berangkat." Iwabe menghadap Ibu. "Ibu pamit dulu." Ia mencium punggung tangan ibu. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


----------+++---------


"... Begitu Nasti," cerita pria itu.


"Terus masalah kita, bagaimana, Nasti?" Iwabe meminta kepastian.


Nasti terdiam. Ia meletakkan sendoknya pada piring dan menatap Iwabe. "Masalahnya, orang tuamu, Iwabe. Aku tak bisa kalau harus kawin lari karena aku punya anak dan orang tua yang harus aku pikirkan. Ini bukan hidup jangka pendek, Iwabe. Ini hidup jangka panjang dan aku butuh kedamaian."


"Kau belum apa-apa sudah pesimis begitu," gerutu pria itu kesal. "Kalau kita saling cinta, kita perjuangkan itu bersama."


"Aku bukan anak muda yang masih single, Iwabe. Aku harus memikirkan Bian."


"Kau masih cantik. Kenapa? Kau mau kembali pada Gerald?" Iwabe mulai dongkol bila Nasti bicara soal Gerald.


"Terima kasih." Pipi wanita itu memerah. "Tapi ada Bian di antara kami jadi tidak mungkin aku menyingkirkannya dalam hidupku, Iwabe."


"Iya, aku mengerti, tapi bisa tidak kamu memikirkan kebahagiaanmu."


Nasti terdiam dan menunduk.


"Sebenarnya masalahmu, kamu terlalu khawatir sama yang belum terjadi yang membuat hidupmu jadi rumit. Coba tanya sama diri kamu sendiri, kamu maunya apa? Lihat diriku."


Nasti mengangkat wajahnya menatap Iwabe.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar tidak menginginkanku?"


"Iwabe ...."


"Tidak, coba konsentrasi."


"Tidak, Iwabe."


"Kau menghindar," sergah Iwabe.


"Bukan begitu."


"Nasti. Aku lihat ibuku. Memang ia tidak bersama ayahku dan aku tidak mengenalnya tapi aku merasa bersyukur, dia egois. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka saat berpisah dulu. Walaupun terbersit sedikit pikiran, 'andai keluargaku utuh, andai aku mengenalnya' tapi aku memikirkan perasaan ibuku. Aku, ingin ibuku bahagia."


Nasti menatap Iwabe.


"Karena itu sampai sekarang aku tidak bisa begitu memaksanya tapi ... apa menurutmu Bian juga tidak berpikir begitu tentang ibunya? Ia pasti ingin ibunya bahagia karena bahagia ibu juga bahagia anak, Nasti. Jadi jangan salah menilai anakmu. Ia pasti tahu, dengan siapa ibunya bahagia."


Nasti menjatuhkan pandangannya. Iwabe meraih tangan wanita itu. Ia menggenggamnya. "Coba pikir tentang dirimu sendiri, Nasti. Sudah saatnya. Aku mencintaimu apa adanya. Dengan adanya Bian, dan mantan suamimu itu."


Wanita itu tersenyum.


"Mau 'kan kau berjuang bersamaku?"


Nasti mengangkat pandangannya pada pria Jepang itu. Ia mengangguk pelan. Iwabe tersenyum lega.


--------------+++--------------


Iwabe masuk ke dalam ruangan. Ayah sedang berbicara dengan Refan.


"Oh, jadi bagaimana, Yah?" tanya Iwabe pada Sastra Dirga. Ia mendatangi meja mereka.


"Kenapa kamu terlambat?" wajah Ayah terlihat kesal. Baru kali ini ayah tampak kesal pada Iwabe, padahal ia belum pernah begitu. Apa karena kesal pada Refan?


"Maaf, Yah. Tadi ngobrol sebentar di bawah," ujar Iwabe tanpa perlawanan.


"Ya sudah." Ayah seperti menyesal berucap kasar pada Iwabe.


"Jadi gimana, Yah?"


"Em, mungkin aku meletakkan Refan pada posisi kosong yang ada. Kebetulan posisi GM Marketing kosong setelah pegawai sebelumnya mengundurkan diri." Ayah melirik Iwabe karena mereka tahu, kenapa Sarah dikeluarkan waktu itu.


"Apa kau bisa melakukannya?" tanya pria Jepang itu pada Refan.


"Akan aku coba."


"Mungkin aku bisa sedikit mengenalkan perusahaan kami. Ayo, ikut aku ke pabrik." Iwabe mengambil alih menerangkan pada Refan karena sepertinya ayah masih sedikit emosi pada Refan karena tingkah ibunya.

__ADS_1


"Oh, iya." Refan menurut saja ketika Iwabe mengajaknya keluar. Ia serba salah menghadapi ayahnya sendiri, seperti ada dinding pemisah di antara mereka. Padahal ia adalah anak kandung pria itu. Kalau bukan karena memikirkan ibunya, ia takkan mau masuk dan kerja di perusahaan ini karena sikap ayahnya yang tak bersahabat padanya.


Iwabe dengan telaten memberi tahu tentang perusahaan itu dan memberi banyak tips untuk bisa kerja nyaman di sana. Refan sangat terbantu. Ia menyesal mengapa dulu saat mengenalnya malah memusuhi pria itu sebab ternyata, dari semua, Iwabelah orang yang lebih ramah menyambut kedatangannya di banding anggota keluarganya yang lain.


__ADS_2