Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Khawatir


__ADS_3

Bocah itu mengangguk. Pria itu mendekat tapi dengan cepat bocah itu menarik tangan pria itu ke dalam kamar. Ia terpaksa mengikuti hingga terkejut melihat Nasti yang berada di dalam kamar sedang membuka beberapa bungkusan di lantai.


Ternyata ia sudah menyimpan makanan yang sudah matang di dalam kamar sehingga ia tak perlu lagi membuat makanan malam di dapur.


"Oh, maaf." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut pria itu karena mengejutkan wanita itu.


"Eh, tidak apa-apa," ucap Nasti sambil mengangguk, canggung. "Eh, maaf. Bian dari tadi main di dekat pintu dan tiba-tiba saja membuka pintunya," terang Nasti.


Merasa tak diundang, Iwabe pamit. "Eh, ya sudah. Aku ke kamar. Mmh."


"Eh, tunggu!" Nasti jadi merasa tak enak hati karena pria itu sudah masuk kamarnya. "Aku ada buah, Bapak mau?" Ia menyodorkan 2 buah apel merah.


"Ah, aku tak punya pisau. Nanti saja kalau di gedung serba guna," tolak pria itu.


"Oh, aku punya. Ini." Nasti menyodorkan pisau lipat miliknya.


"Oh, tidak usah. Nanti kamu butuh. Aku pasti lupa kalau menyimpan makanan di dalam kamar."


"Ck, ya udah aku kupas ini buatmu!" Nasti merengut. "Semua laki-laki sama saja, malas mengupas!"


Kok dia marah sih? "Nasti, kalau kamu tidak mau ya, tidak usah. Aku gak apa-apa kok. Aku hanya sekedar mampir."


"Tuh, gitu 'kan! Aku kan jadi serba salah, ada tamu gak aku jamu, malah aku usir!" Wanita itu menggembungkan pipinya.


"Eh, bukan begitu, Nasti." Iwade menggoyang-goyangkan tangannya. Pria Jepang itu kebingungan hingga menggaruk-garukkan dahinya yang tidak gatal. "Eh ... ya sudah. Aku menunggumu mengupas." Ia mulai duduk bersila di lantai.


Nasti mengupas apel dengan masih merengut, tapi Bian mengajak Iwade bermain. Ia memperlihatkan mainan barunya pada pria itu, sebuah mobil sedan. "Mobil Om."


"Mmh?" Iwade memperhatikan mobil-mobilan yang dipegang Bian. Warnanya sama dengan warna mobil miliknya. Biru tua. "Oh, iya."


Nasti menyodorkan sepotong apel. "Ini."


"Kenapa sepotong?" Namun pria itu tetap mengambil dan memakannya.


"Nanti menghitam kalau tidak cepat dimakan." Wanita itu masih menunduk dan mengupas.


"Eh, iya." Tentunya sulit buat pria seperti Iwabe, bicara dengan wanita yang sedang ngambek. Ia terpaksa mengikuti permintaan wanita itu. Ia menemani Bian bermain. "Dibelikan ayah ya?"


"Ayah?" Bian terdiam dan menatap pria itu.


"Papa. Dia menyebutnya Papa," terang Nasti.


Ah, tentu saja! Anak ini 'kan menyebutkan Nasti 'Mama'. Pasti ayahnya 'Papa'. Bodohnya! "Oh, begitu," sahut pria itu sambil mengunyah.


"Papa. Ini beli Papa," ujar Bian menerangkan dengan bahasanya yang masih kaku.

__ADS_1


Tapi kenapa dia beli mainan mirip mobilku ya? "Bian suka mobil-mobilan?"


"Mobil Om, ini mobil Om." Bocah itu mengangkat mobil-mobilan yang cukup besar itu kepangkuannya.


"Mungkin karena mobil itu mirip mobilmu, Pak," terang Nasti sambil tersenyum.


Iwabe menoleh dan melihat senyum itu. Sepertinya dia senang bertemu mantan suaminya. Apa mereka mau rujuk? Mantan suaminya sepertinya orang kaya, pastilah ia mau menerimanya lagi. Buktinya banyak bungkusan yang dibawanya pulang. Iwabe melirik tumpukan tas plastik baru yang ada di lantai kamar itu. "Jadi, kamu akan berhenti bekerja?"


Wanita itu seketika melirik Iwabe. "Kata siapa?" Ia memberi potongan apel berikutnya pada pria itu.


"Oh, tidak ya?" Pria itu mengambil apel itu dan mengunyahnya.


"Ya tidaklah. Aku 'kan memikirkan Bian sekolah."


"Bukannya ada mantan suamimu?"


"Oh, dia sudah punya istri. Aku tak mau bergantung padanya walaupun dia bisa."


"Lho, tapi kenapa ia mencarimu tadi pagi? Kamu bahkan kabur darinya kemarin 'kan?"


Nasti berhenti mengupas dan mencoba menerangkan. "Itu karena kemarin aku belum siap bicara padanya. Saat kami bercerai, ia tidak tahu kalau aku hamil Bian." Ia kembali mengupas apel.


"Oh, begitu. Kenapa kau tak mengatakan padanya? Bisa saja 'kan kalian kembali rujuk."


Iwabe terkejut.


Nasti tidak mengangkat kepalanya dan terus mengupas. "Aku tidak mau mengemis, makanya aku tidak memberitahunya."


"Oh, maaf." Iwabe merasa serba salah.


Nasti menggeleng. "Tidak apa-apa."


Iwabe tak berani bertanya. Ia menghabiskan saja apel yang diberikan Nasti kemudian pamit.


Saat di kamar, entah kenapa dadanya terasa lega. Jadi dia tidak kembali pada mantan suaminya 'kan? Ah, apa peduliku! Iwabe mengacak-acak rambutnya. Kenapa pikiranku jadi aneh padanya belakangan ini, ah!


---------------+++------------


Pintu terbuka oleh seorang pembantu rumah tangga. Pria bule itu segera melangkah menaiki anak tangga. Di lantai atas ternyata telah menunggu Miranda di depan kamarnya. "Sayang, kau sudah pulang? Mau kumasakkan sesuatu?"


Pria itu menatap wanita itu sambil berpikir sebentar. "Sepertinya aku ingin mengubah kesepakatan kita. Aku ingin kau segera keluar dari rumah ini."


Wanita itu terkejut. "Tapi Sayang, aku 'kan istrimu?"


"Dan aku menceraikanmu sekarang!"

__ADS_1


"Apa? Gerald!" Wanita itu meraih lengan kokoh pria itu.


Gerald menoleh dan melirik tangannya yang tengah digenggam wanita itu. "Apa kau masih punya nyali menahanku sementara kamu sudah menipuku selama 3 tahun ini? Sungguh, wanita yang memalukan! Aku sudah berbaik hati menampungmu dan memberimu gelar Nyonya di rumah ini." Pria itu menyentuh kasar dada wanita itu dengan telunjuknya.


"Sekarang sudah waktunya kau angkat kaki dari rumah ini, MENGERTI?!!" Pria itu menarik dengan kasar, tangannya yang sedang dipegang oleh Miranda dan segera masuk ke kamar dengan membanting pintu.


Bibir wanita itu bergetar. Kakinya serasa lemas. Ia tak punya kekuatan untuk melakukan apapun selain jatuh bersimpuh di lantai. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia begitu tega padaku? Apa ia sudah menemukan wanita lain lagi yang akan menggantikan posisiku? Siapa dia? Awas saja ...


Ia mengepalkan tangannya dengan erat dan seketika kekuatannya kembali.


--------------+++------------


Seperti biasa, bus keluar dari area mess tapi belum jauh mobil itu melaju, sebuah mobil mewah berusaha menepikan bus itu. Iwabe segera tahu mobil siapa itu hingga ia menepi.


Pengemudinya adalah mantan suami Nasti yang keluar menjemput anak dan mantan istrinya. "Nasti, ayo! Aku antar kau ke rumah orang tuamu dan ke kantor." Ia menghampiri pintu bus. Seketika pintu itu terbuka.


"Gerald, aku bilang tidak usah. Aku naik bus saja," tolak Nasti.


Adegan ini jadi perhatian penumpang karena mereka ingin tahu ada apa sebenarnya dengan mereka berdua, termasuk Iwabe.


"Ayolah! Mulai sekarang aku akan mengantar jemput kamu jadi kamu tak perlu lagi naik bus jelek ini."


Pernyataan Gerald membuat riuh penumpang di dalamnya. Ada yang kesal dan ada pula yang merasa hebat karena pria itu memang terlihat kaya, tapi Iwabe adalah salah satunya yang merasa kesal.


"Gerald ...."


"Sudah, Pak. Kalau dia tidak mau jangan dipaksa," sahut Iwabe yang mulai dongkol melihat sifat pemaksa pria bule itu.


"Hei, sopir! Jangan sok ngatur ya?!! Mau tahu saja urusan orang lain," omel Gerald yang gemas mendengar komentar Iwabe yang menurutnya tidak pantas, apalagi pria itu hanya seorang sopir.


"Sudah, sudah, sudah." Nasti tak ingin ada perkelahian karena dirinya dan akhirnya mengalah. "Ya, sudah aku turun."


Wanita itu kemudian turun menggendong Bian. Sekilas Gerald melirik Iwabe dengan amarah tertahan. Ia membawa Nasti dan anaknya ke mobil dan kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan bus itu.


Karena kesal, Iwabe memukul stirnya dengan keras hingga berbunyi. "Tiiiin!"


Semua orang yang berada di dalam bus terkejut melihat pria Jepang itu marah. Tidak terkecuali Nasti yang belum pergi jauh. Ia menoleh.


"Siapa sih, supir berengsek itu? Kalau kerja padaku, akan kupecat dia! Kurang ajar sekali dia mencampuri urusan orang lain!"


___________________________________________


Yuk intip punya temanku yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2