
"Aku, telah membuatmu jauh dari orang-orang terdekatmu," ucap Nasti dengan nada penyesalan.
Iwabe meraih tangan wanita itu. "Nasti, jangan bicara lagi. Sekali lagi kau minta putus, aku takkan dengar 'kan," ancamnya.
"Mungkin kita tidak jodoh," sahut wanita itu pelan dengan mata sayu.
"Kenapa wanita senang sekali bicara perkara jodoh? Bukankah jodoh itu ketika keduanya akhirnya menikah?"
"Tapi jalan menuju ke sana terlihat jelas."
"Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau butuh perjuangan? Tuhan juga melihat seberapa keras kita berusaha. Nasti, jangan menyerah dengan cinta kita."
"Tapi kita harus realistis, Iwabe."
"Realistis adalah saat kamu berjuang," ucap pria itu dengan berapi-api. Ia menggenggam tangan wanita itu dan menatapnya. "Kenapa kamu tidak berusaha berjuang?"
Kantin yang sepi membuat keduanya bisa bicara dengan leluasa tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Aku akan berjuang kalau itu bisa." Nasti menarik tangan pria itu. "Dengar, kalau aku menuruti apa yang kau mau, lalu bagaimana kemudian? Tekanan tetap ada padaku 'kan? Mereka akan menyoroti setiap tindak tandukku dan menunggu aku membuat kesalahan. Saat aku membuat kesalahan, mereka akan buat itu jadi kenangan yang tak terlupakan seumur hidupku."
"Tidak. Orang tuaku tidak seperti itu Nasti." Iwabe menggeleng. "Kamu jangan berpikir berlebihan."
"Sebaiknya kita pisah saja Iwabe, sebelum terlanjur jauh." Nasti menatap ke arah lain.
"Kalau begitu aku akan keluar dari perusahaan ini." Pria itu tak mau kalah.
"Iwabe, dewasalah. Ancaman seperti anak kecil itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu pikir mereka akan senang aku kerja di sini? Tidak Iwabe. Mana ada orang tua yang telah lelah membesarkan anaknya, lalu mau dikalahkan begitu saja oleh seorang wanita yang baru masuk dalam kehidupan anaknya, yang bernama pacar? Pikirkan sakit hati yang aku dan kamu telah lakukan."
"Tapi itu 'kan akibat dari reaksi mereka menutup pintu untuk melihat siapa dirimu yang sesungguhnya."
"Sesungguhnya aku itu siapa? Bukan siapa-siapa, Be."
"Kau adalah wanita hebat yang telah membesarkan Bian."
Nasti menghela napas, menahan sesak. "Pacaran itu butuh dua orang yang saling menerima dan memberi. Kalau yang satunya sudah tidak bisa memberi, sebaiknya putus saja, Iwabe."
"Nasti." Pria itu menggeleng. "Aku tak mau, aku tak mau putus darimu." Ia menggenggam erat tangan wanita itu.
"Iwabe, tolong." Nasti berkata pelan, mengiba.
Pria itu menggeleng. "Kau boleh putus dariku bila aku keluar dari perusahaan ini!"
"Astaga, Be. Jangan mengancam lagi."
"Aku tak peduli. Aku tidak mau orang lain mengatur hidupku, mulai sekarang!" Nada bicara pria itu kembali naik karena marah.
__ADS_1
"Terus kamu mau jadikan aku apa? Orang yang merusak hubunganmu dengan keluargamu begitu?"
"Nasti, percaya saja padaku. Aku pasti bisa membuat mereka mengerti dengan pilihanku dan merestui kita." Iwabe kini bicara dengan suara reda.
"Bagaimana aku bisa bekerja kalau lingkunganku tidak mendukungku." Nasti berusaha untuk terus menerus memberi pengertian pria itu dengan suara pelan.
"Nasti, tolong sabar. Aku akan membuktikan kata-kataku." Kini Iwabe memohon.
Nasti tak yakin, tapi genggaman Iwabe tak juga lepas.
"Nasti, tolong. Kau satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi, bukan orang lain."
Sebenarnya berat melepas pria itu yang menurutnya terlalu sempurna, tapi apa tidak ada salahnya mencoba bermimpi? Setidaknya pernah berjuang walau berakhir dengan sakit hati. Ia menghela napas pelan. "Akan kucoba," ucapnya dengan wajah tak yakin.
-----------+++-----------
Iwabe masuk ke kantor Presdir tapi ayahnya sedang tidak ada di tempat. "Ke mana dia?"
"Ketemu klien, Pak," ujar sang sekretaris.
"Mmh." Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Tapi Bapak diminta untuk menunggu di ruangan menggantikan Presdir, sementara."
"Mmh, ok."
"Pak ada yang cari Presdir."
"Dari mana?"
"Dia tidak mau memberi tahu, hanya namanya Pak Refan."
Iwabe mengerutkan dahi. Seingatnya, ia belum pernah mendengar nama itu. Siapa dia? "Suruh dia masuk."
Seorang pria muda, masuk ke dalam ruangan dengan berpakaian kantor menatap ke arah Iwabe.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Iwabe yang duduk di kursi Presdir menyatukan jemarinya di depan wajah.
Sekretaris itu segera menutup pintu. Pria itu tak menjawab. Ia hanya berdiri mematung memperhatikan ruangan itu.
Iwabe mengerut kening. Pria ini sangat kurang ajar sekali. Diajak bicara malah pura-pura tuli. Ia berdehem sebentar membuat pria itu menoleh.
"Anda siapa?"
"Apa?" Dia pikir dia bicara pada siapa, hah?
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara pada Presdir," ucap pria itu dengan angkuh. Ia kemudian duduk di salah satu kursi sofa yang ada di sana tanpa menoleh pada pria Jepang itu.
"Hei, kau bicara dengan anaknya!" ucap Iwabe kesal.
Terlihat sekali pria itu terkejut. Ia memperhatikan wajah Iwabe lalu berdiri. Refan mendatangi meja Presdir. Sebentar kemudian ia tersenyum miring. "Oh, kau rupanya."
"Apa maksudmu?" Iwabe bingung dengan ucapan pria itu. "Apa kau mengenalku?"
"Kau anak pelakor itu 'kan?"
"Apa?" Iwabe kaget mendengarnya. Juga naik pitam. "Hei, jangan sembarangan bicara, kamu ya!" Ia menunjuk wajah pria itu.
"Tidak, aku tidak sembarangan bicara. Presdir itu ayahku! Ibumu yang merebutnya dari ibuku."
"Apa?" Iwabe kembali terkejut mendengar ucapan pria itu, tapi kalau diperhatikan. Pria itu memang lebih mirip dengan ayahnya dibanding dirinya tapi benarkah? "Kau jangan mengada-ada ya?!" Namun saat mengucapkan kalimat itu, ia sendiri mulai tak yakin.
"Aku tak mengada-ada. Kalau kau tak percaya, tanya saja pada Presdir." Refan melipat tangannya di dada dengan miring.
"Maksudmu kita bersaudara ...."
Refan melirik Iwabe dengan sinis. "Siapa yang bersaudara? Sekali-kali mengacalah dengan benar! Apa kau mirip dengan Presdir Sastra Dirga? Tidak 'kan? Itu karena kau bukan anaknya. Kau mengerti?!" sahut pria itu kesal.
Itu tidak benar 'kan? Tidak benar. Aku anak Sastra Dirga. Namun tak ayal, Iwabe syok! Ia terduduk di kursi dengan wajah masih tak percaya. Aku memang tak mirip ayah, tapi aku anak ayah 'kan? Kalau bukan ... siapa ayahku?
Kembali ia melihat pria itu duduk di kursinya. Kalau diperhatikan, memang raut wajah pria itu sedikit banyaknya mirip dengan wajah ayahnya, Sastra Dirga, tapi benarkah apa yang dibicarakan pria ini?
Refan juga diperkirakan seumuran dengannya. Jadi kalau seumuran berarti ... pria itu benar?
Tapi apa benar ibu melakukan hal sekeji itu? Rasanya tidak. Ibu bukan wanita yang tegas sekali pun ingin, karena itu ia selalu minta dukungan ayah saat menasehatiku. Jadi, ibu tidak mungkin melakukan hal itu. Tidak mungkin!
"Bisa kau mintakan aku minum?"
Sikap angkuh pria itu membuat sebal Iwabe. Namun ... pelan-pelan, entah kenapa ia percaya pada kata-kata pria itu. Saat ia keluar ruangan, ia sudah memutuskan sesuatu.
Ia mendatangi sekretaris ayahnya di depan ruangan. "Tolong kamu buatkan minuman untuk tamu di ruangan."
"Oh, iya, Pak."
"Sama satu lagi. Buatkan aku surat pengunduran diriku untuk Presdir."
____________________________________________
Halo reader. Terima kasih masih membaca novel ini sampai sejauh ini. Jangan lupa beri authornya semangat untuk menulis dengan mengirim vote, like, komen atau hadiah. Salam, ingflora. 💋
Yuk, kita intip novel yang satu ini.
__ADS_1