
Kobayashi ternyata sangat senang pergi ke bioskop, ia ingat saat dulu sering pergi ke bioskop menonton film perang dan film action. Bahkan waktu bersama mantan istrinya hingga akhirnya lahir Iwabe. Ia tak pernah pergi ke bioskop lagi sejak itu.
Namun masa lalu tidak mengurangi kegembiraannya kini karena kini ia pergi ke bioskop bersama Iwabe dan juga menyalurkan hobinya yang sejak lama terbengkalai. Nonton bioskop. Kobayashi malah yang paling banyak makan popcorn. "Kenapa kamu beli popcorn sedikit sekali? Uangnya kurang?"
Iwabe menoleh, heran. Padahal ia beli popcorn dengan ukuran wadah yang paling besar yang cukup untuk makan berdua, bahkan lebih. "Bapak mau lagi? Akan saya belikan."
"Tidak. Ini untukku saja. Kau beli untuk dirimu sendiri sana!" Padahal wadah popcorn itu sudah ada di pangkuannya sejak awal.
"Tidak usah, Pak. Aku mau nonton saja." Netra Iwabe kembali ke layar.
Sehabis menonton, Kobayashi malah menginginkan makan malam.
"Restoran sudah tutup, Pak. Kecuali makanan siap saji. Atau Bapak ingin makan di restoran bioskop ini, ini satu-satunya restoran yang masih buka," terang Iwabe.
"Boleh."
Mereka kemudian masuk ke dalam restoran milik bioskop itu bersama bodyguard-nya yang sedari tadi menunggu mereka di luar ruang nonton bioskop.
Tanpa diduga, Kobayashi menghabiskan makan malam sampai tandas tak tersisa. Ia pun dengan semangat makan malam dengan lahapnya. Iwabe terheran-heran melihat perubahan ini.
Bukan saat itu saja tapi sebenarnya sejak tadi, sejak pria itu menghabiskan popcorn di wadah yang paling besar, sendirian. Sesekali ia sempat melihat wajah pria itu banyak senyum di dalam bioskop saat sedang menonton. Ia bisa melihatnya walau dalam gelap.
Kobayashi mengusap perutnya karena kekenyangan. "Mungkin Minggu depan, aku akan meminta kau menginap lagi."
"Apa?"
"Oh, jangan takut. Aku akan bayar gajimu dobel saat itu."
"Aku tidak bisa."
__ADS_1
"Kenapa?" Mata pria paruh baya itu kembali angker.
"Eh, aku 'kan punya kehidupan pribadi, Pak. Masa setiap hari aku harus bersama Bapak?"
Lho, bukannya dia bilang tadi akan mengurusku? Kobayashi kemudian berdehem sambil mengoreksi pikirannya. Ada apa dengan diriku? Biasanya aku mengurus diriku sendiri tapi kenapa saat Iwabe berbicara seperti itu aku jadi ingin tergantung padanya? Ada yang tidak beres dengan diriku! Aku seharusnya tidak bergantung pada orang lain, iya 'kan? "Ya sudah kalau tidak mau."
"Lagi pula ... aku ingin mengundurkan diri, Pak." Iwabe tertunduk. Ia tak tega melihat pria itu yang begitu gembiranya di penghujung hari, harus ia patahkan dengan berita seperti ini.
"Apa?" Ini benar-benar berita yang mengejutkan Kobayashi. Setelah ia bersusah payah mengajarkan pria itu dari nol. Itu saja belum sampai pada taraf yang memuaskannya. Apakah semua kebaikannya hari ini karena dia ingin mengundurkan diri?
Saat itu Kobayashi benar-benar marah tapi ia ingat Iwabe belum menandatangani perjanjian apapun dengannya, karena perjanjian itu ia sendiri yang pending(tahan) karena ia ingin melihat level pekerjaan yang bisa Iwabe kerjakan selama sebulan dan Iwabe memang belum sampai sebulan bekerja dengannya.
Dengan sangat kesal, Kobayashi berdiri dan meninggalkan tempat itu.
"Eh, Pak!" Iwabe ikut berdiri dari kursinya tapi ia ingat makanan belum sempat dibayar. Segera ia menyelesaikan pembayaran sebelum mengejar pria itu. Ia tahu, Kobayashi pasti kembali ke mobil.
Iwabe menyusul ke mobil dengan pikiran yang memenuhi kepalanya. Pada saat pintu dibuka, Kobayashi memandang ke arah lain dengan angkuhnya. Iwabe mencoba menata hati dan masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di kamar hotel, Kobayashi memanggil Iwabe sebelum masuk ke kamarnya. "Tunggu sebentar, aku ingin bicara denganmu."
"Apa tidak besok saja, Pak. Bapak 'kan harus beristirahat, karena sudah malam dan Bapak pasti belum sembuh benar." Iwabe menyesali mengatakan perihal pengunduran dirinya terlalu cepat sebab Kobayashi kemungkinan tidak bisa tidur nyenyak memikirkan hal itu malam ini.
"Tidak, aku tidak akan bisa tidur kalau belum menuntaskan masalah ini," seru pria itu dengan suara tajam.
Sesuai dugaan. Iwabe terpaksa duduk di kursi sofa berhadapan dengan Kobayashi dengan kepala tertunduk.
"Kenapa kau ingin berhenti bekerja denganku? Apa pekerjaannya terlalu sulit. Pria harus berjuang untuk jadi yang terbaik. Apa lagi dalam soal pekerjaan."
"Bukan itu, Pak."
__ADS_1
"Atau kamu tidak suka lembur? Baik. Lembur ditiadakan. Asal, kamu datang tepat waktu saja, cukup bagiku."
Iwabe bungkam.
"Ok, hari Sabtu kau tak perlu menginap. Cukup 'kan?" suara pria itu mulai parau karena negosiasi yang ia buat. Ia tidak pernah mengemis tapi kali ini tak terhindarkan.
Iwabe mengangkat kepalanya dengan mata yang sayu. "Bukan itu masalahnya, Pak. Saya sekarang sudah kembali ke rumah ibu saya, dan ia berharap saya bekerja lagi di perusahaan keluarga.
Sebenarnya saya punya perusahaan keluarga dan saya bekerja di situ sebelumnya. Maaf saya merahasiakan ini, tapi saya benar-benar ingin kerja di luar tapi ibu saya tidak mengizinkan," ucapnya dengan jujur.
Kobayashi mendengarkan dan melihat kejujuran dari wajah Iwabe. Ia kemudian memutar otak kembali, bagaimana cara menahannya. "Ini sudah tanggung jawabmu, Iwabe, karena aku sudah mendidikmu tapi tiba-tiba kau mundur. Di luar alasan yang kamu buat, apa kamu pikir apa yang kamu kerjakan ini termasuk kewajaran, begitu! Sesuatu yang harus aku maklumi?" Nada bicaranya makin meninggi karena emosi yang mulai tak bisa dikontrolnya.
Iwabe tertunduk. Kalau bisa memilih, ia ingin terus bekerja dengan pria itu, tapi ia tak bisa memilih.
"Kamu tidak pikirkan waktuku yang terbuang sia-sia karena memilihmu, mmh?! Kau tidak punya kualitas yang aku inginkan tapi aku memilihmu!"
Para bodyguard yang duduk berjauhan kini menoleh ke arah keduanya. Walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang mereka dibicarakan, tapi menilik dari nada suaranya mereka tahu, Kobayashi sedang marah besar.
Terbukti dengan wajahnya yang mulai memerah dengan dahi berkerut dan alis yang ditautkan dengan kasar. Urat-urat di leher hampir menonjol karena emosi yang tak dapat lagi diredam.
"Maaf."
"Kau tidak bisa seenaknya saja keluar dari perusahaan ini tanpa membantuku menemukan seseorang untuk menggantikan dirimu, dan selama itu kau harus tetap bekerja denganku. Mengerti?!" Kobayashi mulai bisa menguasai dirinya.
"Baik, Pak." Iwabe mengangkat kepalanya. Hatinya mulai lega. Berarti sudah ada kesimpulan yang nyata. "Apa kandidat kemarin tidak bisa, Pak?"
"Tidak. Aku tidak akan 'menjilat ludah sendiri'. Bisa jual mahal, mereka! Carikan aku yang baru!"
Wajah Iwabe, sumringah. Setidaknya ia masih bisa bekerja di sana sementara waktu. "Aku pasti akan dapatkan, Pak. Jangan takut." Iwabe kemudian permisi dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Kobayashi masih mematung duduk di kursi itu. Dan aku pastikan, aku juga tidak akan menerima siapapun selain kamu, Iwabe. Aku akan cari cara agar kamu bisa tetap bekerja padaku.
Aku tidak menyalahi janjiku 'kan? Aku hanya minta Iwabe bekerja padaku bukan tinggal denganku. Jadi siapa yang egois di sini, hah?