Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Ikuti Aku


__ADS_3

Iwabe menutup telepon.


Tiba-tiba Bian muncul dari balik pintu. "Apa Om?"


Rupanya, saat pria itu pulang, Bian sedang dimandikan neneknya sehingga Iwabe harus menunggu.


"Sini, Om mau cerita."


Bocah itu diam saja saat Iwabe memangkunya.


"Om mulai besok sudah mulai kerja. Jadi setiap kamu ke sini, Om gak ada," terang pria itu.


"Kenapa?"


"Om kerja."


"Kenapa?"


"Untuk cari uang."


"Kenapa?"


Ini kalau aku jawab, gak ada habis-habisnya ya? "Kalau kamu sudah dewasa nanti, kamu akan mengerti kalau kamu harus hidup dengan bekerja dan mendapatkan uang. Apalagi kalau kamu laki-laki."


"Kenapa?"


"Kamu harus membiayai wanitamu."


"Kenapa?"


Pria Jepang itu mengusap wajahnya. Bocah ini tidak mengerti. "Eh, karena Om kerja, Om tidak ada di rumah ya?"


"Yaaaa." Bian bersandar manja pada tubuh pria itu dengan wajah kecewa.


"Tapi Sabtu atau Minggu, kita bisa jalan-jalan sama Mama."


"Iya?" Bocah itu mendongakkan kepalanya ke arah Iwabe.


"Iya. Sekarang, yuk! Om temani main sepedanya." Iwabe menurunkan Bian dari pangkuan. "Kamu bisa gak kalau naik sepeda cuma roda 2."


"Dua apa?"


"Segini." Iwabe memperlihatkan jari telunjuk dan tengah pada bocah itu.


Bian meniru. "Ini apa?"


"Oh, iya. Kamu belum bisa berhitung ya?"


"Berhitung apa?"


Iwabe tertawa lepas. "Ya sudah, kalau tidak mengerti tidak apa-apa. Yuk, naik sepedanya yuk!"


Pria itu mengangkat tubuh bocah itu dan menaikkannya ke kursi sepeda. Bocah itu kemudian berputar-putar dengan sepedanya di halaman.


-----------+++----------


Iwabe mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka oleh salah seorang bodyguard yang bertubuh atletis. "Dozo.(silahkan)" Ia membuka pintu lebar-lebar untuk pria itu.

__ADS_1


Iwabe masuk. Ia melihat ruang tamu yang besar dari president room terpampang di depannya. Ia kemudian duduk di sana dan menunggu.


Tak lama pria yang ditunggu keluar dari salah satu kamar di sana. Ia memperhatikan pakaian Iwabe yang sederhana sambil tersenyum. "Akhirnya sampai juga."


"Aku tidak mengerti kenapa Bapak bilang nomor kamar Bapak 228. Padahal itu kamar biasa. Seharusnya ...."


"Kau masuk kamar itu?" potong pria itu.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena Bapak punya banyak bodyguard jadi tak mungkin kamar sesempit itu disewa oleh Bapak. Kamar itu mungkin hanya punya tempat tidur single atau double."


"Bagus, nalarmu jalan."


"Jadi itu ujian?"


Pria itu hanya melirik ekspresi wajah Iwabe selebihnya tidak peduli. Ia kemudian mendekati Iwabe. Sesuatu dikeluarkannya dari balik jas dan diletakkan di pangkuan Iwabe. Setumpuk uang yang masih tersegel berjumlah 10 buah.


"Mmh? Ini apa? Gajiku?"


"Uang operasional hari ini. Kalau kurang tinggal bilang padaku. Nah, ayo, kita berangkat." Pria itu melangkah mendahului.


"Oh, i-i-iya." Iwabe mencoba memasukkan uang itu dalam kantong celana yang membuat kantong itu penuh dan sulit berjalan. Ia kemudian menguranginya dengan memindahkan beberapa di kantong baju hingga terlihat normal.


Beberapa bodyguard pria itu melihat Iwabe dengan menahan tawa.


Sial! Pria ini mengerjaiku terus. Ia sedikit merengut.


Mereka satu mobil duduk di dalam sebuah mobil mewah sewaan. Mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Iwabe agak sungkan duduk dengan pria itu tapi tidak dengan pria itu.


"Mmh, perusahaan ini termasuk perusahaan yang cukup kuat di Jakarta, sekarang. Dia satu-satunya perusahaan berbasis teknologi yang mencampur teknologi dengan ilmu pengetahuan.


Gedung-gedung yang sudah dibangun lewat perusahaan ini termasuk indah arsitekturnya dan telah menjadi contoh untuk perusahaan-perusahaan lain membuat gedung dengan arsitektur yang rumit.


Ada juga tehnologi daun ulang untuk air bersih dan plastik dan banyak lagi yang masih dalam penelitian."


"Mmh. Di banyak bidang yang mereka miliki, kami tertarik dengan gedung artistik ini, sedang perusahaan ini ingin belajar tekhnologi daur ulang yang kami miliki jadi kami bertukar tekhnologi."


"Mmh."


Pria itu melirik Iwabe. Ia melirik dari wajah hingga tubuhnya. Kau kini tumbuh jadi pria dewasa, Iwabe. Tak kusangka waktu berlalu begitu cepat.


Pria itu tidak menyadari bahwa Iwabe melihat pria itu memperhatikannya dari cemin kecil di depannya. Kenapa dia memperhatikanku? Ada apa? Apa dia mau mengerjaiku lagi? Iwabe tentu saja was-was.


Sesampainya di perusahaan, mereka berdua mendapatkan pengawalan dari staf di sana untuk berbagai informasi tentang perusahaan termasuk apa saja yang perusahaan sedang kerjakan.


Ternyata ada proyek baru yang tengah diuji cobakan. Yaitu handphone seluler. Proyek itu telah berjalan dua tahun dan kelihatannya pria paruh baya itu tertarik untuk menanamkan sahamnya di sana. Iwabe diminta untuk memeriksa detail seluk-beluk produk dan juga data penjualannya.


Sementara pria paruh baya itu menunggu di luar, Iwabe mencek detailnya pada perwakilan perusahaan. Saat telah selesai, ia keluar ruangan bersama perwakilan perusahaan itu.


Namun ia terkejut ketika ia melihat pria paruh baya itu bicara dengan seorang pria. Pria itu tentu saja Iwabe langsung mengenalnya, karena saat ini ia menggenggam tongkat yang sama yang telah memukul mundur orang-orang Gerald dan menyelamatkannya. "Ah, kau yang waktu itu ...." Ia menunjuk pria itu.


Keduanya menoleh.


"Apa?" tanya pria paruh baya itu pada Iwabe.

__ADS_1


"Dia pernah menolongku."


"Kenapa waktu itu kau pergi?" tanya Iwabe pada pria bertongkat itu.


"Dia itu anak buahku. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia," terang Kobayashi.


"Ya, tapi 'kan seharusnya dia ...."


"Dia seorang samurai. Dia tidak boleh banyak bicara."


"Samurai? Yang di film-film itu?" Iwabe hampir tertawa ketika dilihatnya Kobayashi memasang wajah serius. "Samurai masih ada?"


"Dan masih berguna di Jepang," terang Kobayashi lagi.


"Oh, maaf."


Pria bertongkat itu pergi dengan pamit pada Kobayashi.


"Ayo, sudah kau dapatkan datanya?" tanya pria paruh baya itu pada Iwabe.


"Oh, sudah." Iwabe memperlihatkan berkas yang dibawanya.


"Ok, sekarang ikut aku."


Mereka kini naik mobil kembali dan mendatangi sebuah mal.


"Belum jam makan siang, Pak," ujar Iwabe melirik jam tangannya.


"Untuk orang yang berposisi tinggi, pakaianmu sangat tidak layak," ujar pria itu dengan sinis.


Iwabe memandangi pakaiannya. "Oh, maaf."


"Apa kau tahu, perusahaanku termasuk nomor 5 terbesar di dunia?"


"Eh, iya," jawab Iwabe dengan suara rendah.


"Yang sangat-sangat bisa mempengaruhi mata uang dolar di pasar saham."


"Iya." Dan makin rendah.


"Masa punya bawahan pakaiannya seperti ini?"


"Oh, maaf."


"Kau lihat bodyguard-ku kan? Semua berpakaian mahal. Iya kan?"


Iwabe melirik semua bodyguard pria itu yang duduk di depan maupun yang di mobil satu lagi. Memang mereka semua berpakaian mahal dan hanya dirinyalah yang berpakaian sederhana sehingga akhirnya ia terpaksa diam.


"Jadi jangan menghindar atau menolak pilihan baju yang akan aku berikan."


Iwabe sebenarnya gemas dengan kecerewetan pria itu yang mengharuskannya melakukan hal-hal yang tidak penting menurutnya itu, tapi ia terbayang Nasti. Ia ingin hidup mapan, dan layak untuk wanita itu walaupun ia tidak ingin kaya tapi bersaing dengan Gerald inilah yang membuatnya kini bertahan di samping pria paruh baya bernama Kobayashi ini. Demi agar ia dapat diperhitungkan sepadan dan pantas untuk dipilih.


Kamulah alasanku, Nasti hingga mau hidup sekacau ini. Kamulah tujuan hidupku kini.


___________________________________________


Sambil menunggu sambungannya, yuk intip novel teman author, yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2