
Pintu dibuka. Ada Gerald di depan pintu. "Assalamu'alaikum. Ada Bian, Bu?"
"Waalaikumsalam. Ada, cuma sedang tak enak badan," jawab ibu.
Gerald menaikkan alisnya. "Nastinya bagaimana, Bu, apa dia tidak tahu?"
"Nastinya 'kan kerja. Lagipula hanya demam saja."
"Coba kulihat sebentar." Gerald serta merta masuk ke dalam rumah. "Di mana, Bu, coba kasih tahu."
Ibu membawanya ke kamar Nasti. Di sana Bian tengah tertidur.
Gerald menyentuh kening Bian yang hangat. "Memangnya tadi dia gimana, Bu? Sakit atau bagaimana?"
"Lesu saja. Tidak mau main dan sedikit rewel."
"Dia mengeluh sakit di mana, Bu?"
"Tidak ada. Hanya begitu saja."
"Ya, sudah. Bawa saja ke dokter." Gerald mengangkat dan menggendongnya.
"Eh, tapi ibu harus bilang pada Nasti bagaimana?" Ibu terlihat panik.
"Ibu ikut saja denganku, Bu."
"Oh, iya." Ibu bernapas lega.
Di klinik, Gerald mendaftarkan Bian sedang Ibu menggendong bocah itu. Setelah diperiksa, mereka menunggu di depan apotik.
Gerald yang duduk di samping ibu, mengusap kepala Bian yang tengah dipangku ibu. Bocah itu telah bangun dan bersandar lemah pada tubuh neneknya. Ia diam saja saat Gerald menyentuhnya.
"Untung segera ke sini," ujar pria itu.
"Tapi hanya mau flu saja," sela Ibu.
"Tapi kalau dia flu, kasihan nanti sulit bernapas. Coba sini aku gendong." Dengan hati-hati Gerald mengambil Bian dari ibu.
Awalnya bocah itu merengek tapi setelah dalam gendongan pria itu dengan mengusap-usap punggungnya lembut, bocah itu mulai merasa nyaman. Tak lama Bian tertidur kembali.
"Bu, bisa 'kan, ambil obat Bian?"
"Oh, ya bisa." Ibu memperhatikan saja Gerald yang menikmati menjadi ayah buat Bian. Pria itu menyayanginya. Sepertinya sudah lama sekali pria itu ingin menggendong anak itu seperti sekarang tapi entah kenapa Bian selalu takut pada Gerald.
"Biantoro Akmal!" Ibu kemudian mengambil obat.
__ADS_1
Sekembalinya ke rumah, Gerald kembali meminta Bian pada ibu untuk digendong. Pria itu sampai melepas jas dan kemeja dan menggantinya dengan kaos santai, hanya demi agar Bian tidak kepanasan saat ia gendong. "Aku cuma ingin menggendongnya sebentar di beranda. Boleh 'kan, Bu?"
Ibu mengangguk. Biar bagaimanapun, Gerald memang ayah Bian, tapi ia tetap waspada menjaganya karena ia takut Gerald membawa lari bocah itu.
Pria itu sempat mondar-mandir di teras sambil mengusap lembut punggung bocah itu dengan penuh kasih. Setelah puas, Gerald meletakkan Bian di atas tempat tidur di kamar Nasti. Pria itu beranjak keluar dan segera menelepon wanita itu.
Duh, apalagi sih ini? Nasti yang berada di kantor melihat nama si penelepon dan segera mengangkatnya. "Halo."
"Nasti, anak kita sakit."
"Sakit? Sakit apa? Kau di mana?" Nasti mengerut kening.
"Aku di rumahmu. Tadi aku sudah membawanya ke dokter dan sudah diberi obat. Sekarang dia sedang tidur."
Nasti hampir tak percaya mendengarnya. "Kau membawanya ke dokter?"
"Iya, tadi sama ibu. Kau tak percaya? Aku akan ambil fotonya, tapi kau harus segera pulang atau kau mau aku menungguinya sampai kau pulang? Terserah saja." Gerald menutup teleponnya. Tak lama pria itu mengirim foto Bian yang tidur nyenyak di atas tempat tidur.
Foto itu, langsung membuat Nasti panik karena benar diambil di dalam kamarnya. Ia kemudian meminta izin pada Refan untuk pulang. Dalam perjalanan turun ke bawah menggunakan lift, HP-nya kembali berdering. "Halo, iya aku mau pulang ini," serunya.
"Nasti, ada apa?" Rupanya Iwabe yang meneleponnya.
"Oh, Iwabe. Aku mau pulang. Gerald menelepon barusan, katanya Bian sakit," ucap Nasti kebingungan.
"Benarkah? Kau mau pulang? Aku baru saja mau mampir ke kantormu karena mobilku lewat situ. Ok, aku jemput kamu ya?"
Benar saja. Saat wanita itu keluar dari kantor, Iwabe telah memarkir mobilnya tepat di depan pintu utama. Nasti segera masuk ke dalam mobil.
"Memang sakit apa?" Pria itu penasaran.
"Aku tidak tahu Iwabe. Padahal pagi tadi tidak tampak seperti orang sakit. Gerald menunggu di rumah." Nasti menutup pintu.
Mobil kemudian melaju keluar area gedung kantor itu.
"Kalau ada Gerald, berarti sudah ke dokter dong?" tanya Iwabe.
"Sudah. Katanya sudah diberi obat."
"Lah, lantas kenapa kamu panik?"
"Karena Gerald memintaku pulang. Pasti ada yang penting."
Iwabe tersenyum tipis. "Itu pasti akal-akalan Gerald saja biar kamu pulang menemuinya."
"Tapi tetap saja, ini soal Bian, Iwabe." Nasti tampak khawatir.
__ADS_1
Pria itu menghela napas pelan. "Ya, ok, baiklah. Kita cari tahu."
Sementara itu, Gerald tengah berbaring di samping Bian dengan senyum lebar. Ia menatap bocah itu dengan wajah sumringah.
Akhirnya, aku bisa menggendongmu kembali. Aneh juga, padahal pertemuan pertama kita di Mal waktu itu, kau mau saja kugendong, tapi setelah itu kau malah ketakutan.
Gerald menepikan poni Bian ke samping. Kalau kau bisa membujuk Mama untuk tinggal bersama, Papa akan sangat senang. Bersama kita akan hidup bahagia dan Papa akan beri adik untukmu juga, batin Gerald membayangkan kemenangan.
Sementara itu, Nasti dan Iwabe sampai ke rumah itu dan wanita itu langsung menekan bel. Ibu yang membuka pintu terkejut melihat Nasti. "Lho, kok sudah pulang?"
Nasti mencium tangan Ibu. "Assalamu'alaikum, Bu. Katanya Gerald di rumah? Bian katanya sakit?"
"Eh, iya. Dia ...."
Belum selesai ibu bicara, Nasti sudah melangkah ke arah kamarnya. Ibu terpaksa menunggu karena Iwabe menyalaminya.
Saat Nasti membuka kamarnya, Gerald yang sedang berbaring di atas tempat tidur, segera duduk. "Oh, Nasti. Kau akhirnya pulang." Pria itu mengembangkan senyum bahagianya.
Wanita itu menghampiri tempat tidur. "Bian sakit apa?"
"Oh, hanya demam mau flu. Untung aku membawanya ke dokter jadi sudah diberi obat. Tolong diberikan setelah makan. Eh, ya. Aku beli banyak makanan di lemari es untuk Bian. Aku membelinya di kantin klinik."
Saat Gerald baru saja selesai bicara. Iwabe datang dan ikut masuk membuat senyum pria bule itu menghilang.
"Kau datang bersamanya? Bukannya ini jam kerja? Kenapa kalian datang bersama?" protes Gerald.
"Kau sendiri yang menyuruh Nasti pulang itu apa? Bukankah lebih aneh lagi? Padahal cuma flu biasa, kamu sebagai bapaknya 'kan bisa menangani anakmu sendiri? Kenapa harus panggil Nasti?" Iwabe ikut bicara.
"Hei, ini masalah rumah tangga orang lain ya! Kau tak usah ikut campur!" teriak Gerald yang menyebabkan Bian terbangun. Bocah itu menangis.
Nasti menarik dan mendorong Gerald dan Iwabe keluar dengan kasar. "Kalian berdua benar-benar ya? Tidak tahu anak sedang sakit!" bentak Nasti hingga saat keduanya sudah berada di luar kamar, Nasti menutup pintu.
Gerald dan Iwabe saling pandang. Mereka saling memamerkan wajah kesalnya. Akhirnya keduanya menunggu di kursi sofa ruang tamu dengan duduk saling berjauhan.
Tak lama, Nasti keluar menggendong Bian. "Sekarang aku sudah pulang. Kamu mau apa?" tanyanya pada pria bule itu.
Sambil melirik Iwabe, pria itu bicara. "Aku tadinya mau ngobrol-ngobrol saja denganmu," ucapnya pelan. "Aku 'kan tadi memberi pilihan. Kalau kamu tak pulang, aku akan menjaga Bian."
"Sekarang aku sudah pulang. Kamu bisa kembali ke kantor."
"Rasanya kalau jam segini, aku sudah tidak diperlukan lagi di kantor. Mungkin, orang ini, iya." Gerald melirik Iwabe yang berwajah masam menatapnya.
____________________________________________
Halo reader, masih terus membaca novel ini 'kan? Jangan lupa penyemangat author, like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Gerald yang berhasil menggendong Bian. Salam, ingflora💋
__ADS_1