
"Oh, maaf. Apa ayahku tidak memberi tahu Bapak kalau sekarang saya akan tinggal di Jepang," tanya Iwabe pada ayah Nasti.
Pria paruh baya itu terkejut. Ia menoleh pada Kobayashi dan Iwabe.
Nasti pun sama terkejutnya.
"Otousan ...," keluh Iwabe.
"Aku lupa," jawab Kobayashi santai.
"Ck!" Iwabe mendengus kesal. Ia menoleh pada ayah Nasti dan menerangkan semuanya agar orang tua Nasti mengerti. "Karena itu saya minta izin bapak tadi," keluhnya.
"Maaf Pak, sebenarnya orang tuaku sudah bercerai dan sebelumnya aku tinggal dengan ibu dan ayah tiriku tapi ibuku belum merestui pernikahan kami.
Ketika aku bertemu dengan ayah kandungku, ia mendukung pernikahan ini asalkan aku mau tinggal dengannya. Ia tinggal di Jepang karena itu aku akan membawa Nasti dan Bian untuk tinggal di sana.
Maaf, aku harus buru-buru pergi karena hubungan kedua orang tua kandungku sangat buruk dan aku sampai kini belum bilang pada ibuku kalau aku pergi dengan Otousan. Jadi ...."
"Baiklah, baiklah, Ayah mengerti." Ayah Nasti tersenyum menatap pria di depannya.
"Kau juga tadi tak bilang padaku," protes Nasti dengan suara pelan.
Iwabe menoleh pada istrinya. "Kalau aku katakan, apa kau tetap akan menikah denganku? Aku ragu. Kamu pasti akan menundanya lagi karena itu aku bergantung pada Otousan. Aku tak tahu kalau dia belum mengatakannya pada ayahmu."
Wanita itu hanya mengerucutkan mulutnya.
Pria itu kembali menoleh pada ayah Nasti. "Maaf, Ayah. Keluargaku serumit ini, tapi kalau Ayah dan Ibu ingin bertemu dengan Nasti dengan berkunjung ke sana, beri tahu saja. Aku akan mengirimkan tiket pesawatnya untuk kalian. Aku pun mungkin akan sering keliling dunia karena pekerjaan dan akan menjenguk kalian kalau sedang melewati Indonesia."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Pria paruh baya itu menepuk pundak Iwabe.
"Maaf aku harus cepat-cepat pergi sebelum ketahuan ibuku, kalau aku sedang bersama Otousan."
Nasti pamit pada orang tuanya. Pamitan yang mengharukan.
Selagi diberi kebahagiaan berupa anaknya menikah lagi dengan suami yang memang diinginkan Nasti, anak mereka, orang tua Nasti dihadapkan pada kenyataan bahwa anak mereka harus pergi jauh mengikuti sang suami tinggal di luar negeri. Sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Namun demi kebahagiaan Nasti, mereka merelakan.
"Bagaimana kalau ibu atau ayah tirimu bertanya padaku soal kamu, Iwabe?" tanya ayah Nasti lagi.
"Katakan saja yang sebenarnya, tidak apa-apa." Iwabe meraih tangan pria itu dan mencium punggung tangannya. "Aku pamit Ayah, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Keduanya kemudian menatap ke arah Ibu Nasti yang masih menangis memeluk anak perempuan satu-satunya yang akan pergi jauh mengikuti suaminya. Iwabe pun kemudian pamit pada Ibu Nasti.
Rombongan itu kemudian pergi dilepas oleh kedua orang tua Nasti di depan pintu pagar. Mereka saling melambaikan tangan.
__ADS_1
Tak jauh dari sana ada mobil Gerald yang masih mengintai tapi sudah tak berani mendekat. Pria itu menangis berurai air mata mengingat kegagalannya hari ini.
Nasti kemudian sempat ke mess mengambil pakaiannya. Walaupun Iwabe sudah menjamin akan membelikan pakaian selama di perjalanan, tapi ia bersikeras mengambil pakaian demi kebutuhan Bian. Iwabe terpaksa menurut. Wanita itu bertemu Lia di mess.
"Kalian sudah menikah. Wah selamat ya?" Lia menyatukan tangannya.
"Terima kasih," sahut Iwabe senang.
Lia melihat Nasti mengepak barang-barangnya. "Oh, kamu mau pindah ke rumah Presdir?"
"Oh, bukan. Kami akan ke Jepang. Kami akan tinggal dengan ayah suamiku di Jepang."
"Ayah Pak Iwabe?" tanya Lia memastikan.
Nasti akhirnya bercerita apa yang terjadi membuat Lia bingung tak tahu harus berkomentar apa.
"Tapi eh ... jadi ...."
"Kalau Pak Sastra Dirga bertanya katakan saja sebab ini masalah orang tua, kami tidak ingin ikut campur. Iya 'kan, Sayang?" Nasti minta persetujuan suaminya.
"Iya," jawab Iwabe masih dengan senyum lebarnya. Ia mengaminkan saja semua keinginan istrinya karena sekarang ia tengah berbahagia. Dunia serasa indah walau badai apa pun menerpa, asalkan ia tetap bersama orang-orang yang dicintainya.
Selesai mengepak, Nasti pamit pada Lia.
"Hei! Nanti 'kan aku masih balik ke Jakarta, main. Masih ada orang tuaku di sini, soalnya." Nasti pun juga matanya berkaca-kaca menatap sahabat sekaligus teman kerjanya itu. "Lagipula, 'kan bisa telepon. Oh ya, aku minta tolong buatkan surat pengunduran diriku ya, dari perusahaan." Ia menghapus air matanya yang terlanjur keluar.
"Iya, Mbak. Eh, berarti mereka tahu dari aku dong." Lia pun sudah banjir air mata. Keduanya akhirnya kembali berpelukan meluapkan emosi. Setelah reda Nasti pun pamit.
Saat mereka membuka pintu mobil, ternyata ada Bian yang tidur melintang di kursi belakang. Iwabe menggendongnya hingga keduanya bisa masuk. Lia melambaikan tangan saat rombongan mobil itu pergi.
-----------+++---------
Sastra Dirga masih bingung dengan hilangnya Iwabe yang bahkan tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak bisa tersambung sama sekali menandakan ponsel itu dimatikan atau rusak. Ia melirik istrinya yang gelisah di sampingnya. "Apa mungkin dia kembali dibujuk bosnya yang orang Jepang itu?"
"Aku tidak tahu. Apa perlu kita lapor polisi?"
"Tapi Iwabe bukan anak kecil lagi. Kalau ternyata ini pilihannya, polisi tidak bisa menyeretnya pulang."
"Ck! Rumit sekali, tapi bagaimana kalau ternyata anak kita mengalami penculikan atau kecelakaan? Aduh, Ayah ...." Maiko sangat-sangat khawatir. "Lapor saja pada polisi, agar masalah ini jelas."
"Iya, iya, iya." Pria itu mengambil kembali ponselnya.
-----------+++-----------
Pesawat pribadi itu, baru saja tinggal landas. Iwabe yang duduk di sebelah Nasti, entah kenapa terus menerus melirik Kobayashi di kursi berbeda. Namun kemudian ia memutuskan untuk mendatanginya. Ia melepas seatbelt. "Sebentar ya?" ucapnya pada istrinya.
__ADS_1
"Mmh."
"Otousan," ujar pria muda itu.
"Apa?"
"Mmh, boleh aku pinjam ponselku sebentar?"
"Untuk apa?" Pria paruh baya itu melirik curiga.
"Mmh, aku ingin bilang sendiri pada Ibu. Aku tidak e—"
Kobayashi tiba-tiba meraih tangan Iwabe dan menariknya ke arahnya hingga wajah mereka berdekatan. Ia sangat marah mendengar ucapan Iwabe barusan.
"E, e, Otousan ...." Iwabe terkejut karena ditarik demikian rupa.
Nasti pun tak sengaja melihat dan terkejut.
"Aku sudah bilang, kau tak boleh lagi berhubungan dengan ibumu tanpa izinku, mengerti?" Pria itu memperingatkan. Wajahnya kembali menyeramkan setiap Iwabe menyebut tentang ibu pada Kobayashi. "Setiap kali kau berbicara pada ibumu, kau lemah. Sepertinya setiap kau bicara dengan wanita, kau memang begitu ya?" Ia melirik Nasti yang menoleh kepadanya.
"Bukan begitu, Otousan. Aku merasa berdosa kalau tidak bicara padanya. Dia ibuku. Orang yang melahirkanku. Jadi ...."
"Nasti!" panggil Kobayashi.
"Eh, iya." Wanita itu kebingungan.
"Tolong bawa suamimu kembali ke tempatnya. Aku sedang tidak ingin diganggu!" teriak pria paruh baya itu dari kursinya.
Bian terpaksa turun dari pangkuan Nasti hingga wanita itu bisa berdiri dari kursinya.
"Otousan ...." Iwabe masih memohon.
Bian berlari-lari mendatangi kursi Kobayashi. "Apa?"
Melihat bocah kecil itu, Kobayashi langsung tersenyum. "Kamu mau duduk sama kakek?"
"Mmh?" Bian hanya menatap pria paruh baya itu.
Nasti sudah menarik suaminya kembali ke kursinya.
"Tapi, Nasti ...."
"Sudah, jangan ganggu Otousan yang sudah menikahkan kita. Hargai usahanya." Nasti baru tahu adat mertuanya yang terlihat gampang marah dan gampang bersahabat itu, maka tidak aneh bila ia berwajah galak. Sebenarnya tidak jauh beda dengan Iwabe yang saat marah tidak dapat menahan emosinya, tapi juga pria yang terbilang ramah. Begitulah, dan Iwabe tidak menyadarinya.
Nasti menoleh pada Kobayashi yang kini asyik bercengkrama dengan Bian yang duduk di sampingnya.
__ADS_1