Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Rambut


__ADS_3

Di dalam mobil, Nasti meminta semua kartu nama katering yang Iwabe dapatkan dan memeriksanya satu-satu. Ia kemudian menelepon katering tersebut.


"Halo Mbak, mau tanya. Apa ini katering Ibanez? ... Oh, ya. Begini, Mbak. Saya mau pesan katering untuk hari ini untuk makan siang dalam jumlah banyak, apa kira-kira bisa ya, Mbak?"


Akhirnya terkumpul beberapa nama katering yang sanggup mengirimkan hari itu dan memastikan tempat. Mobil kemudian, baru berangkat. Nasti sebagai penunjuk jalan memberi arahan ke tempat yang ingin didatangi hingga mereka mendatangi sebuah bangunan kantor di pinggir jalan besar yang termasuk mudah dicari.


"Kenapa aku tidak pergi ke tempat ini dulu ya?" ujar Iwabe yang memarkir mobilnya di halaman depan kantor katering itu.


Nasti tertawa kecil. "Kamu panik ya?"


"Iya," jawab pria itu dengan jujur.


Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung itu dan menemui resepsionis. Mereka kemudian diantar menemui pemilik dan bercakap-cakap.


Anehnya, pemilik lebih memilih bicara dengan Nasti dibanding dengan Iwabe karena penampilan. Nasti yang berpenampilan rapi lebih terlihat mewakili perusahaan dibanding Iwabe yang berambut gondrong dan mengenakan kemeja tangan panjang dengan motif kotak-kotak yang terlihat seperti buruh kasar. Wanita itu tersenyum kecil melihat keberpihakan yang salah dari sang pemilik katering.


"Ibu, sebenarnya saya hanya membantu Bapak ini mencari katering untuk pabrik," terang Nasti pada sang pemilik.


"Oh, begitu. Maaf, saya tidak tahu," ucap wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa, Bu," sahut pria itu ramah.


"Eh, mungkin Bapak dan Ibu mau mencicipi rasa masakan kami. Kebetulan kami tengah produksi pagi ini."


"Oh, boleh. Tentu saja." Iwabe berdiri diikuti Nasti yang kemudian mengekor wanita itu.


Mereka kemudian masuk ke sebuah ruangan panjang yang ternyata sebuah dapur yang bersih dan higienis. Di dalamnya sudah ada beberapa pekerja yang melakukan tugasnya dengan pakaian yang bersih, celemek dan penutup kepala mengerjakan masakan dan pengepakan makanan.


"Katering kami mungkin bisa dibilang sedikit mahal untuk standar pabrik, tapi ini karena kwalitas dan mutu yang kami jaga dari produk kami."


Nasti dan Iwabe mencoba beberapa menu yang sedang dibuat dan mendengarkan keterangan pemilik, kemudian dengan Iwabe, pemilik membuat kesepakatan.


"Untuk sementara saya pesan sesuai kemampuan Ibu sekarang, 100 porsi. Setelah itu saya akan pikirkan kelanjutannya," janji pria itu. Ia kemudian langsung membayarnya dengan kartu debit yang ia dapat dari kantor.


Nasti dan Iwabe kembali ke mobil.


"Agak mahal katering ini. Coba kita ke tempat yang lainnya." Iwabe menarik seatbelt-nya.


"Tunggu dulu!"


"Apa?" Pria itu menoleh.


"Apa kamu tidak merasa terganggu?"


"Terganggu kenapa?"


"Orang lebih melihat ke arahku karena mereka pikir aku pimpinannya."


"Terus?" Wajah pria itu terlihat bingung.


"Bapak tidak bisa begini, Pak. Bapak pimpinan. Coba ganti pakaianmu dengan benar. Yang lebih representatif, begitu."


"Kenapa? Aku nyaman dengan ini."


Nasti terperangah. "Pak, ini dunia kerja. Kalau ingin dipilih, ikuti aturannya."

__ADS_1


"Kalau tidak?"


Nasti memutar bola matanya, tak percaya dengan penuturan pria itu. "Pak, kalau bekerja itu harus mengikuti peraturan yang ada. Pakai kemeja dan celana bahan."


"Aku sudah memakainya kan?" Pria itu melihat dirinya.


"Tapi tidak yang seperti ini, Pak." Nasti menghela napas kasar. "Kalau misalnya ada orang yang berjualan telur. Yang satu berpakaian compang-camping dan yang satu lagi berpakaian rapi. Yang berpakaian rapi, telurnya standar dan yang compang-camping telurnya bagus. Bapak pilih yang mana?"


Pria itu mengerut kening. "Sebenarnya aku ingin beli telur yang bagus tapi ...."


"Nah, Bapak tahu 'kan jawabannya."


"Aku lebih baik berhemat dengan membeli telur yang standar."


Nasti merengut membuat Iwabe tertawa. "Bapak sebenarnya tahu 'kan maksudku, jadi tidak perlu diberi tahu lagi?"


"Aku tidak masalah bagaimana pendapat orang lain tentang diriku."


"Tidak bisa begitu, Pak. Kalau kehidupan sehari-hari, boleh, tapi kalau dipekerjaan Bapak harus mengikuti yang baku agar bisa naik jabatan. Apa Bapak bekerja selama tidak ingin naik jabatan?"


Iwabe menatap wanita itu dengan tersenyum. Aku sebenarnya tidak butuh semua itu, Nasti karena suatu saat, aku pasti akan naik dan menduduki pucuk kepemimpinan di perusahaan. Justru diposisi inilah aku bisa mempelajari berbagai macam karakter manusia dengan kejujuran mereka, dan baru kali ini aku melihat ada orang yang tergerak menolong orang lain jujur dari hatinya seperti kamu, Nasti.


Semua orang di kantor hanya bergerak berdasarkan keinginan untuk mendapatkan posisi terbaiknya dan tidak ada yang ingin mengurusi kehidupan orang lain seperti dirimu. Jujur, itulah daya tarikmu.


"Ya sudah, sekarang kita pulang dan ganti bajumu," titah wanita itu.


"Ganti baju? Tapi aku tidak punya pakaian seperti itu."


"Masa?"


"Iya."


"Ke Mal?"


"Iya."


"Nasti aku belum menyelesaikan tugasku untuk membeli makan siang bagi para pekerja pabrik."


Wanita itu terdiam sejenak. "Ok, setelah itu kita ke Mal. Ok?"


"Ok," janji pria itu.


Mereka kemudian menemui beberapa katering lagi dan memesan makanan dan setelah pesanan terpenuhi, mereka pergi ke sebuah Mal.


Mal terdekat cukuplah bagi standar daerah itu, tidak terlalu besar tapi cukup ramai. Mereka langsung mencari ke toko pakaian pria. Nasti memilihkan beberapa kemeja untuk pria itu dan Iwabe sangat senang. Ia menikmati setiap bantuan yang diberikan.


Nasti merapikan kerah baju pria itu, saat pria itu keluar dari kamar pas. "Bagaimana? Bapak suka yang ini?"


Iwabe membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah cermin. Kemeja warna biru itu bukan kemeja mahal yang biasa ia pakai, tapi karena Nasti yang memilihnya, ia menyetujuinya. "Ok."


"Dua ya?"


"Dua?"


Nasti melihat perubahan wajah pria itu dan menanggapinya berbeda. "Apa uangmu tak cukup? Sini, biar aku yang belikan."

__ADS_1


"Apa? Bukan begitu ...."


"Tidak apa-apa. Mau akhir bulan, belum gajian 'kan?"


"Eh ...." Iwabe memang sedang tidak punya uang banyak. Ia menyesal kenapa tidak mengambil kartu hitam yang ditawarkan ayahnya dulu.


"Nanti kita makan siang di sini saja ya? Nanti aku traktir."


Namun kemudian pria itu menahan tawa dan Nasti melihatnya.


"Kenapa?"


"Eh, tidak." Pria itu menggeleng. Ia melirik Nasti yang sedang membayar pakaian milik pria itu. Kamu tidak tahu 'kan, kalau aku anak orang kaya?


"Sekarang potong rambutmu."


"Eh, apa?"


"Rambutmu." Nasti menatap pria itu untuk meyakinkannya.


"Oh, tidak. Kalau rambut ini, aku tidak mau." Iwabe menyentuh rambutnya.


"Kenapa?"


"Tidak mau saja."


Nasti merengut kesal. "Pak!"


Tak lama kemudian, mereka terlihat sedang makan di sebuah restoran cepat saji.


"Nasti, kenapa kau memilih makan di sini? Bukannya di sini sedikit mahal?"


Nasti hanya meliriknya dan tak berselera bicara. Ia hanya meneruskan makannya.


"Nasti ... kenapa kamu ngambek begitu sih?"


Wanita itu kembali meliriknya dengan kesal. "Kenapa rambutnya gak boleh dipotong sih? Aneh. 'Kan jadi tanggung penampilannya."


Iwabe menyentuh rambutnya. "Aku suka seperti ini."


"Kenapa?"


"Aku belum siap dipotong pendek."


"Kalau kerja 'kan, siap tidak siap harus siap."


"Aku pikir-pikir dulu."


Nasti masih merengut seraya menggigit kentang gorengnya dengan wajah sebal.


____________________________________________


Sambil menunggu up punya author, intip novel yang satu ini yuk? Jangan lupa vitamin author, like, vote, komen, atau hadiah. Salam, ingflora 💋


__ADS_1


__ADS_2