Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Foto


__ADS_3

Pagi itu Iwabe tampak beda. Ia sarapan di rumah tapi tak banyak bicara. Ia takkan bicara kecuali di tanya.


Sastra Dirga sangat faham. Iwabe mulai acuh dengan sekitar yang berarti ia sedang sangat-sangat marah. Ia tengah melakukan protes dengan tidak merespon apapun selain melakukan tugasnya.


Pria paruh baya itu mulai pusing dengan pertengkaran ibu dan anak ini yang mulai terlihat jelas, tak ada ujungnya. Yang pasti, salah satu harus mengalah kalau ingin hidup damai. "Iwabe, kamu mau semobil dengan ayah?"


Iwabe mengangkat kepalanya dan melirik ibu. "Tidak usah. Aku mungkin butuh mobil, jadi bawa mobil sendiri saja." Kemudian ia kembali menunduk.


Tak lama setelah sarapan, ia berangkat. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut ibu dan ayah.


Setelah Iwabe pergi, ayah mulai bicara. "Maiko, bisa tidak sebagai ibu, kamu sedikit mengalah. Tidak ada gunanya kamu keras kepala karena Abe sudah besar. Sudah dewasa, Maiko. Ia sudah bisa menentukan keinginannya sendiri."


"Dengan terjebak oleh janda itu?"


"Maiko, aku tidak pernah menjelek-jelekkan orang karena ia janda, dan kita tidak pernah mengajari anak seperti itu 'kan?"


Wanita itu sepertinya tersadar. Raut wajahnya berubah. "Maksudku bukan menjelek-jelekkan orang lain tapi bagiku Iwabe harus sempurna. Hidupnya tidak boleh tercela."


"Dan siapa kita, kalau Tuhan menakdirkan mereka bersama?"


Maiko terlihat risih dan mulai menangis. "Dan aku ibunya tidak boleh berharap, begitu?" Air matanya mulai menitik.


"Maiko ...." Sastra Dirga menarik tubuh wanita yang sedikit gempal itu dalam pelukan. "Aku hanya ingin kalian menyudahi pertengkaran ini karena aku ingin ada damai di rumah ini. Itu saja." Pria itu mengusap punggung wanitanya. "Kalau kau bisa membiarkan Iwabe bahagia dengan pilihannya, aku yakin kau akan bahagia juga, Maiko."


Wanita itu segera mendorong tubuh pria itu menjauh. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan merestuinya!" Ia kemudian berdiri dan berlari ke arah kamar. Tinggal Sastra Dirga sendirian dan tak tahu harus berbuat apa.


-----------+++---------


Iwabe menjalankan tugasnya sebagai Wakil Direktur sementara ayah dan ibunya datang agak siang untuk melihat apa saja yang sudah dikerjakan pria itu. Setelah melapor, Iwabe pamit pindah ke ruang Refan.


Refan sedikit tak nyaman karena Iwabe memakai kursi tamu untuk ia duduk. "Iwabe, kamu duduk di sini saja jangan di sana."


"Tidak apa-apa, tidak ada yang aku bisa kerjakan karena ayah dan ibu sudah datang."


"Aku mau ke pabrik. Kau bisa pakai mejaku."


"Tidak perlu. Tidak ada ada gunanya." Iwabe menegaskan.


"Em, apa kau mau ikut aku melihat pabrik?"


"Untuk apa? CEO Nathan tadi aku suruh ke sana memeriksa pabrik."


"Ayolah Iwabe, bantu aku."


Iwabe melirik pria itu. "Ada apa sih, Kak?" Ia menatap mata pria itu, lekat. "Kakak, suka sama Faza ya?"


"Sst!" Pria itu meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Jangan sampai ada yang tahu. Kalau di tolak aku malu."

__ADS_1


Iwabe tersenyum lebar.


Refan memang tidak tahu kalau Faza bekerja di sana demi agar dekat dengan Iwabe dan pria Jepang itu lega, ada yang menyukai Faza ternyata.


"Kak, memang Kakak tahu wajahnya seperti apa?" tanya Iwabe ingin tahu.


"Tidak. Aku penasaran, tapi aku suka dengannya. Entah kenapa. Mungkin karena pembawaannya yang lemah lembut."


"Bener gak tahu wajahnya?" Pria Jepang itu mendekatkan wajahnya.


"Iya. Memangnya kamu tahu?"


"Mmh ...." Iwabe memberi jawaban menggantung.


"Kamu sudah lihat wajahnya?" Refan tak percaya.


"Wajahnya biasa aja, Kak. Yakin mau sama dia?" Iwabe berbohong.


"Tidak apa-apa. Entah kenapa kalau dekat dengannya, nyaman aja. Eh, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa lho ya?" Kembali Refan mengangkat jari telunjuknya.


"Iya, paling minta traktir."


Refan mendorong Iwabe ke samping membuat adik angkatnya itu terkekeh. Belakangan keduanya mulai akrab karena Iwabe sepertinya melupakan semua kesalahan Refan, yang membuat pria berwajah Jawa itu pun senang mempunyai adik seperti Iwabe.


Refan belum pernah merasakan punya saudara, sehingga ia menerima Iwabe yang memang ramah pada siapa saja. "Gimana?"


"Begitu aja minta ditemenin," ledek Iwabe.


"Kak!" Iwabe kembali terkekeh.


-----------+++-----------


Di pabrik, Iwabe melihat-lihat pekerjaan buruh pabrik. Tentu saja buruh pabrik sedikit tegang karena beberapa petinggi perusahaan berada di dalam pabrik. CEO Nathan, Refan, Iwabe dan juga Faza.


"Pak, Bapak ke sini ...."


Ucapan Nathan segera terhenti ketika Iwabe menunjuk Refan. Iwabe tak bisa jauh-jauh dari Refan karena pria itu sedang mendekati Faza. Setiap Iwabe menjauh, Refan menariknya kembali agar tak jauh darinya. Sedang Faza sibuk memperhatikan buruh yang melakukan proses pembersihan hasil laut dan proses pemotongan.


Melihat Iwabe datang, Faza tentu saja senang. Refan bukan tidak tahu Faza menyukai Iwabe karena adik angkatnya itu memang tampan. Iwabe sudah punya pacar karena itulah makanya Refan berani membawa pria itu sebagai pancingan.


"Oh, Pak Refan, Abe. Kalian butuh apa?" tanya Faza pada keduanya.


"Mau mmh, buat brosur baru. Makanan kaleng penjualannya masih belum banyak. Mungkin karena baru tapi aku ingin menjajal untuk membuat brosur baru. Mungkin saja brosur sebelumnya kurang menarik."


CEO Nathan menguping. Refan memberi kode Iwabe agar mengusir Nathan.


Iwabe mendatangi Nathan. "Mmh, coba kau cek bagian pengiriman. Jangan sampai kejadian seperti dulu lagi. Ada barang yang raib."


"Oh, iya, Pak."

__ADS_1


"Cek datanya jangan lupa," teriak pria Jepang itu ketika CEO itu menjauh.


Pria berkulit putih itu mengangguk, mengiyakan.


"Kak, aku cari ...."


Refan langsung menahan lengan Iwabe, dan berbisik. "Nasti pacarmu, aku yang jaga. Sekarang giliran kamu bantu aku dong."


Dibilang begitu, Iwabe tak tahu bantuan apa yang bisa ia lakukan.


Refan berdehem sebentar. "Kamu bantu aku dong, cari posisi untuk foto di brosur yang bagus yang bagaimana."


"Oh, begitu. Ok." Iwabe melihat sejenak pada mesin pengalengan makanan yang sedang memproses makanan yang akan dikalengkan. "Bagaimana dengan foto mesinnya?"


"Mmh." Refan cemberut. Sepertinya ia punya maksud lain yang tidak Iwabe tahu dan Iwabe sedang berpikir keras untuk mengerti apa itu.


Bertepatan dengan itu, Nasti datang. Terbit senyum di wajah Iwabe. "Eh, Nasti!" Ia melambaikan tangan agar wanita itu segera mengetahui keberadaannya dan cepat datang.


"Iwabe, kamu sedang apa?" tanya wanita berjilbab itu yang datang sendiri.


Iwabe beralih pada Refan. "Kak, foto aku berdua Nasti, Kak."


"Apa?" Refan terlihat bingung.


"Foto saja dengan HP-mu, soalnya aku gak punya foto sama Nasti."


"Oh, iya." Nasti merapikan jilbabnya dan bersanding di samping Iwabe.


Refan akhirnya mengabadikan gambar keduanya lewat HP. "Sudah."


"Ok." Iwabe kemudian mengambil HP Refan.


"Mmh?"


"Biar aku yang ambil foto Kakak, Kak."


"Tapi ...."


"Kakak diam aja di situ, Kak. Disamping mesin, iya." Pria Jepang itu mengarahkan gaya.


Di dalam kamera ada gambar Refan di samping mesin dan Faza di belakang.


"Oh, iya, Nasti. Tolong bantu Faza berdiri di sebelah Refan."


"Mmh?" Namun Nasti segera mengerti maksud Iwabe hingga menarik Faza ke depan bersanding dengan Refan.


"Apa ini?" tanya Faza bingung.


"Tenang, kita cuma difoto. Tahan 1 ... 2 ... 3!" Foto pun diambil Iwabe dengan menggunakan HP Refan. "Sudah." Ia menyerahkan HP itu pada Refan. "Tolong kirim foto aku berdua Nasti ke HP-ku, Kak, biar aku juga bisa kirim ke Nasti fotonya," pintanya.

__ADS_1


"Lalu fotoku?" Faza masih tidak mengerti apa yang terjadi. Ia dijebak Iwabe foto berdua Refan.


__ADS_2