Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Hasil Usaha


__ADS_3

Faza kemudian kembali ke ruang Presdir.


"Lho, Faza? Kok kembali sendiri?" tanya Maiko.


"Oh, Abe sudah pergi kerja, Bu," sahut Faza.


"Oh, begitu."


"Saya mau tanya, Bu. Ruangan saya di mana ya?"


"Ruang kerja, maksudmu?"


"Iya, Bu."


"Sebenarnya ruangnya lagi dikosongkan. Tempatnya di pabrik, agar kamu bisa berinteraksi langsung dengan barang produksi. Untuk sekarang ini, kamu menempati ruang kecil dulu dekat pengepakan tapi ke depannya kamu akan punya divisi sendiri seiring dengan perkembangan pekerjaan yang kamu lakukan."


"Oh, Terima kasih, Bu."


"Tapi untuk sementara, kamu satu ruangan dulu sama Refan di ruangannya di lantai 2, divisi marketing ya? Kamu bisa ke sana sekarang. Mudah-mudahan besok, kamu sudah bisa menempati ruanganmu yang ada di pabrik."


"Iya, Bu." Faza kemudian pergi ke lantai 2. Ia kemudian bertemu lagi dengan Nasti.


"Eh, Faza."


"Mbak Nas, ruangannya Refan di mana ya?"


"Pak Refan?"


"Oh iya, Pak Refan." Faza memperbaiki panggilannya dengan sedikit malu.


"Oh, di situ ruangannya, sebelah kanan." Nasti menunjuk ruangan Refan.


"Oiya, makasih." Faza mendatangi ruangan itu dengan mengetuk pintu.


"Masuk!" terdengar suara dari dalam. Faza kemudian membuka pintu.


Refan terkejut melihat kedatangan Faza. "Ya, ada apa ya? Ada yang bisa dibantu?"


"Eh, maaf. Kata ibu Maiko, saya kerja di sini dulu sebelum ruangan saya selesai dirapikan."


"O-oh, begitu." Antara panik dan senang, ia bingung wanita itu harus duduk di mana. "Eh, kamu duduk di mana ya?" gumamnya. Ia melihat seisi ruangan hingga tangannya menyentuh dahi.


"Gak usah susah-susah kok Pak, aku hanya butuh untuk meletakkan tasku saja, karena aku mau kembali ke pabrik. Di sofa saja gak, papa," ucapnya sopan.


"Oh, tapi kalau kamu butuh meja, bilang ya? Kamu bisa pakai mejaku."


"Iya," jawab wanita itu sedikit membungkuk. Ia hendak meletakkan tasnya di sofa tapi kemudian Refan memberi alternatif.


"Oh, mungkin taruh tasnya di atas meja di sana saja." Pria itu menunjuk meja yang menempel ke dinding. "Takutnya kalau ada tamu, tasmu ...."


"Oh, maaf ya?"


"Oh, bukan begitu. Aku juga mau ke pabrik. Takutnya pas ditinggal, ada tamu datang. Aku takut ada yang jahil dengan tasmu saat kita tak ada." Refan berdehem, sambil mengusap belakang lehernya.

__ADS_1


"Oh, begitu." Faza meletakkan tasnya di atas meja yang ditunjuk pria itu.


"Eh, jadi kita ke pabrik sama-sama?"


"Oh, boleh."


Keduanya pun keluar bersama. Refan hanya mencari alasan agar bisa keluar bersama dan ingin mengenalnya lebih dekat. Apalagi kesempatan itu juga datang padanya. Kenapa tidak?


Sambil melihat-lihat pekerja pabrik bekerja, ia juga memperhatikan Faza bertanya pada para buruh pabrik yang sedang bekerja.


Ia juga menemani wanita itu memeriksa isi lemari pendingin yang menyimpan bahan beku di sana.


"Apa kau punya brosur produk?" tanya Faza.


"Oh, orang marketing pasti punya, Za."


"Di mana?"


"Di kantor."


"Pak Refan sudah selesai? Aku mau balik ke kantor."


"Oh, ya sudah. Kita kembali ke kantor."


"Beneran sudah selesai?" tanya wanita itu memastikan. "Aku tidak mau mengganggu pekerjaan Bapak lho!"


"Iya, cuma periksa sebentar. Ayo, kita kembali ke kantor."


Pintu dibuka. "Oh, Nak Gerald. Tumben ke sini lagi?"


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Ibu.


"Memangnya aku tidak boleh bertemu dengan anakku lagi, Bu?" tanya Gerald dengan santai.


"Oh, tentu saja boleh." Ibu tersenyum sambil membuka pintu. "Masuklah. Bian baru selesai mandi. Sebentar Ibu panggilkan."


Ibu kemudian masuk dan pria itu duduk di kursi sofa ruang tamu. Tak lama ibu datang bersama Bian.


"Bian. Coba lihat sini Papa bawa apa?" Gerald mengeluarkan mainannya berupa kotak berukuran sedang dan bungkus kecil dari bungkus plastik yang dibawanya.


Seperti biasanya Bian terheran-heran dengan mainan baru yang dibawa Gerald, setiap datang ke sana. Ada beberapa mainan yang dibawa pria itu yang dia tidak suka tapi ada juga yang ia suka seperti sepeda roda tiga yang sering dimainkannya di halaman rumah.


"Sini ayo, Papa ajari cara mainnya."


Ibu duduk dekat Gerald agar Bian juga mau duduk dekat pria itu. Kali ini Bian walau duduk dekat neneknya tapi terlihat tidak begitu takut lagi berada di dekat Gerald. Ia memperhatikan pria itu membuka mainannya di atas meja.


Gerald membuka bungkus kecil tembus pandang berisi lilin mainan yang masih berbentuk kotak dan berwarna warni. "Ini namanya lilin."


"Lilin?" Baru kali itu Bian mau buka suara dihadapan Gerald membuat pria itu bersemangat memperkenalkan mainan itu pada anaknya.


"Iya. Nanti lilinnya bisa dibentuk-bentuk seperti ini ya?" Gerald membuka satu bungkus lilin berwarna hijau dan mengulung-gulungnya di atas meja dan kemudian menekannya hingga rata. Ia membuka kotak yang satu lagi yang merupakan alat untuk cetakan berbagai rupa dari bahan plastik.

__ADS_1


Ia mengambil satu cetakan berbentuk bintang berwarna biru dan mencetak lilin itu dengan cetakan. Terangkatlah lilin yang tercetak bentuk bintang.


Bian melongo melihat mainan itu.


"Ini, Bian mau main?" Pria itu menyodorkan cetakan itu pada Bian.


Bocah itu mengambilnya.


"Ini adalagi untuk buat cetakan lilin berbentuk mi."


"Mi?" beo bocah itu masih melongo.


Gerald mengeluarkan satu lagi berbentuk mirip mesin penggiling cabe. Ia meletakkan lilin yang sudah di gulung di atasnya dan ia memutar penggilingan itu. Di bawah keluar lilin yang sudah terpisah berbentuk mi.


Bocah itu masih melongo.


"Wah, bagus ya mainannya," seru ibu senang.


Gerald juga senang kali ini Bian mulai bisa diajak bicara dan mulai dekat dengannya. Sebentar kemudian ia bermain dengan Bian dengan mainan lilin itu.


Ibu kemudian membuatkan mantan menantunya itu teh hangat. Pria itu kini juga tak lagi datang dengan kemeja dan jas kerja bahkan cenderung santai dengan hanya memakai kaos lengan pendek. Ia lebih bisa menikmati bermain dengan anaknya tanpa perlu memikirkan masalah kantor. Kini, ia sedang menikmati hasil usahanya mendekati Bian yang berbuah manis.


---------+++---------


"Bagaimana, Pak?" tanya Iwabe melihat pada Kobayashi yang serius melihat lembar kertas yang telah ia print(cetak) dari laptopnya.


"Mmh?" Pria paruh baya itu menoleh dan melempar lembar kertas-kertas itu ke atas meja. "Tidak ada yang cocok denganku."


"Bapak lihat dulu, Pak. Ada orang Jepang yang kerja di banyak perusahaan Eropa dan itu sangat cocok dengan kebutuhan Bapak."


Pria paruh baya itu menatap tajam Iwabe. "Tahu dari mana, apa yang aku butuhkan, Iwabe?"


"Lho, itu sesuai dengan yang Bapak minta pada saya."


"Tapi aku ingin orang Indonesia," ucap Kobayashi dengan keras kepala.


"Itu 'kan ada juga, saya lampirkan, Pak."


"Ini dia ada di luar negri. Di China. Pasti dia tidak bisa bahasa Inggris."


"Bisa kok, Pak."


"Nah, terus interview-nya bagaimana?"


"Dia kebetulan mau pulang ke Jakarta, Pak. Kalau Bapak setuju, dia bisa mempercepat kepulangannya, biar Bapak bisa interview di sini."


"Kenapa kau tidak cari orang yang kebetulan ada di Indonesia ini, merepotkan."


Iwabe menggaruk-garuk kepalanya. "Aku 'kan kuliah di luar negeri jadi temanku banyak di sana. Teman SMA-ku juga banyak di Amerika."


"Lalu kenapa kau tak pindah ke luar negeri? Kau 'kan bisa kerja denganku di Jepang. Gajimu akan aku naikkan dua kali lipat sesuai dengan standar di sana."


Iwabe yang tadinya berapi-api menerangkan, kini luruh. "Tidak bisa, Pak. Lagi pula Ibuku ingin aku mengelola perusahaan keluarga yang kini mau diperbesar." Pria itu tertunduk.

__ADS_1


__ADS_2