Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Janji


__ADS_3

"Aku terpaksa melakukan ini, Nasti, karena aku mencintaimu. Please, Nasti. Percayalah padaku. Kau akan bahagia denganku kali ini karena aku akan memegang janjiku."


"Aku pernah percaya padamu, Gerald tapi kau menghancurkannya. Kini kau tawarkan hal yang sama padaku tapi ... hatiku tak lagi bisa untukmu. Aku sudah memberikannya pada orang lain."


"Nasti, coba cintai aku lagi, aku janji. Janji, kali ini aku akan menepati janji suci kita." Gerald mendekat.


"Percuma, Gerald. Cinta itu sudah tak tersisa lagi untukmu." Nasti terlihat kecewa.


Pria bule itu menghela napas pelan. "Maaf, Nasti, tapi aku takkan bisa membiarkanmu bersama pria itu. Aku tetap akan menikahimu besok, suka atau tidak suka." Ia melirik para preman itu dan memberi kode agar mereka membawa Nasti dan anaknya ke dalam rumah.


Nasti terpaksa mengikuti para preman itu.


-------------+++------------


Iwabe membuka mata. Di mana ini? Dahinya berkerut melihat ia tengah berada di belakang sebuah kursi. Kursi apa ini? Kursi ... pesawat?


"Kau sudah bangun, Iwabe?"


Ia menoleh. Pak Kobayashi? Kenapa aku ada di ... dalam sebuah pesawat bersamanya? Matanya masih sedikit menyipit dan saat ia mencoba untuk menegakkan punggung, tengkuknya terasa sedikit sakit. Ia mengusapnya pelan.


Perlahan ingatannya kembali. Kenapa aku di sini? Bukankah aku ... eh, kenapa aku ada di dalam pesawat? Bola mata pria itu membulat. "Eh, kenapa aku di sini?" Ia menoleh pada Kobayashi. "Bapak, kita ke mana? Kenapa aku ada bersamamu?"


"Kita ke Jepang," ujar pria paruh baya itu dengan tenang. Ia duduk di samping, di kursi seberang dekat jendela.


"Jepang?" Iwabe segera berdiri dan keluar dari kursinya. "A-aku tadi bersama Nasti, kenapa aku ada di sini?"


"Nasti sudah bersama mantan suaminya. Mereka akan menikah."


"A-apa?" Iwabe syok. Pria itu mundur menyentuh sandaran kursi. Ia berpegangan pada kursi itu. "Tidak mungkin. Itu tidak mungkin." Ia menggeleng sambil membayangkan.


"Sudahlah, lupakan wanita itu. Kau bisa cari wanita lain di Jepang."

__ADS_1


"Tidak. Gerald pasti memaksa Nasti untuk menikah dengannya. Aku harus menolongnya." Iwabe bergerak ke arah kokpit. Di sana ada beberapa bodyguard yang langsung menyergap Iwabe. "Tolong, lepaskan aku! Aku mau pulang!" Dengan segenap tenaga Iwabe meronta.


"Kau akan ikut aku ke Jepang, Iwabe, kau dengar itu." ucap Kobayashi pelan.


"Ah, apa hakmu mengatur hidupku! Aku sudah berhenti bekerja darimu, dan kau juga bukan siapa-siapaku, jadi tolong, lepaskan aku!" teriak Iwabe yang masih berusaha melepaskan diri.


"Oh, tentu saja aku berhak mengatur hidupmu," katanya setengah tertawa. "Kenapa ibumu boleh dan aku tidak." Terlihat kemarahan tertahan di wajah pria itu.


Iwabe terkejut. A-apa maksudnya ini? "Kau ...."


"Ya. Aku ayahmu, Iwabe. Otousan. Aku berhak 'kan menyuruhmu pulang kembali ke Jepang?!" ucap Kobayashi dengan tegas.


Iwabe masih tak percaya dengan pendengarannya. Pria di hadapanku ini ... pria ini ... Tidak mungkin. Iwabe masih menatap lekat Kobayashi. "Bapak bohong 'kan? Bapak bohong agar aku ikut Bapak ke Jepang, 'kan? Pak, ini sungguh keterlaluan!" Ia masih berusaha melepaskan diri walaupun kedua tangan dan tubuhnya kini dipegangi oleh 3 orang bodyguard.


Pria itu tersenyum mendengar penyangkalan Iwabe. Sempat menatap ke arah jendela, kembali ia kini menatap Iwabe. "Kau tahu siapa namaku? Aku selalu menulis, I. Kobayashi. Aku tak suka orang yang tidak aku kenal memanggil namaku, karena itu aku menulisnya begitu. Namamu berasal dari namaku Iwabe. Namaku Iwahara."


Iwabe masih terlihat bingung.


Iwabe tak tahu harus berkata apa, ia benar-benar bingung tapi kemudian ia sadar pegang para bodyguard itu mulai melonggar. Di saat itulah ia mendorong mereka semua, dan berlari ke arah kokpit.


Tentu saja, para bodyguard itu tidak bodoh. Dengan cepat Iwabe kembali ditangkap.


"Hei, lepaskan aku! Lepaskan!"


Para bodyguard itu kembali membawa Iwabe pada Kobayashi.


"Lepaskan aku!" teriak Iwabe pada Kobayashi.


"Kau harus tetap pergi ke Jepang! Kau akan memimpin perusahaan dari sana." Kobayashi memastikan.


"Aku tidak mau!" Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri. "Kenapa kalian orang dewasa selalu memaksaku!"

__ADS_1


"Karena kau anakku! Aku berhak melakukannya!" Kobayashi kini sudah memberi perintah dan tidak ada seorang pun yang boleh membantahnya. Ia memberi kode para bodyguard itu untuk mendudukkan kembali Iwabe di kursinya sementara ia memanggil seseorang yang kebetulan duduk paling belakang.


Ya, seorang wanita dengan pakaian perawat. Ia menyuruh wanita itu menyuntikkan obat penenang pada Iwabe.


"Jangan, jangan! Aku mau pulang! Aku mau pulang!" teriak Iwabe panik melihat perawat itu mengeluarkan alat suntik sementara di sekelilingnya para bodyguard memegangi tubuh dan tangannya. "Tolong lepaskan aku ...." Ia mengiba.


Perawat itu tetap menyuntik lengan Iwabe tanpa perlawanan yang berarti.


"Pak, tolong. Aku ingin kembali ke Jakarta," pinta pria muda itu pada Kobayashi.


"Dan kembali pada ibumu yang memusingkan itu? Kenapa kau terus kembali padanya kalau usahamu tidak pernah dihargai dan kau juga tidak pernah dilindungi. Bersamaku, aku akan melindungimu dan mendengarkan ceritamu," ucap pria paruh baya itu yang kini datang mendekat.


Tubuh Iwabe mulai melemah karena mulai kehilangan kesadarannya. Di tengah-tengah tubuh yang tidak bisa diajak kompromi itu, ia berusaha berjuang demi Nasti. Ia berusaha membayangkan wanita itu agar ia bisa menyuarakan apa yang diinginkannya. "Dengarkan aku Pak, aku ingin kembali ... Aku ingin kembali."


"Untuk apa? Tidak ada yang penting untukmu di Indonesia. Ikuti saja aku dan kau akan lihat, aku akan meletakkan dunia di tanganmu."


"Dengarkan aku, Pak. Dengarkan aku," ucap pria muda itu dengan mata yang mulai mengantuk. Para bodyguard itu kini telah melepaskan pria itu karena sudah tak berdaya oleh suntikan obat dari perawat tadi. "Duniaku hanya Nasti, Pak. Hanya Nasti ... Aku mencintainya ... Tolong aku ... Otousan." Setetes air matanya mengalir jatuh dan ia kemudian pingsan.


Kobayashi terdiam. Ia menghela napas panjang.


-------------+++-------------


Nasti tengah menyuapi Bian makan di kamarnya. Ya, kamar yang ditempatinya dulu bersama Gerald, hanya kini ada beberapa perabot yang telah diganti.


"Mama, Om mana?" tanya Bian pada ibunya. Ia berlari-lari mendekat. Di kamar seluas itu ia bisa berlari-lari dengan leluasa. Apalagi di salah satu sudut ruangan, ada mainan yang sengaja diletakkan tersusun rapi di sebuah wadah dengan warna-warna yang menarik.


"Eh, Mama juga tidak tahu." Karena omongan Bian ia kini teringat pada Iwabe, padahal ia barusan gundah dengan permintaan Gerald.


Iwabe, kamu di mana? Apa Gerald juga yang telah menculikmu, tapi ... orang-orang yang membawamu pergi itu sepertinya orang Jepang. Apa jangan-jangan mereka orang-orang dari ibumu yang telah membawa kamu kembali? Iwabe ... bagaimana ini? Bisakah kita bersatu? Besok, aku harus menikah dengan Gerald. Tak terasa air matanya, jatuh.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang membuat Nasti segera menghapus air matanya. Gerald masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Bian yang tengah mengintip kotak mainan, kembali ketakutan melihat Gerald dan segera berlari mendatangi Nasti dan memeluknya.


__ADS_2