
Gerald menyempatkan diri untuk mengambil foto mobil Iwabe saat menyetir. Juga saat sampai di mall, diam-diam ia mengambil foto Nasti dan juga Iwabe yang menggendong Bian keluar dari mobil lewat kamera telepon selulernya. Setelah itu ia mengirim foto itu pada seseorang dan juga alamat. Ia kemudian menunggu.
Karena mal masih belum ramai, Iwabe menurunkan Bian. Bocah itu dengan senangnya berlari-lari di tempat luas itu. "Mama! Om!" Setelah berlari jauh, ia kembali.
"Aku tidak ingin merusak ketenangan hidup keluarga orang lain, Iwabe," ujar Nasti melangkahkan kakinya pelan melewati toko-toko yang baru dibuka.
Iwabe yang berjalan bersamanya menoleh pada wanita yang telah mencuri hatinya itu. Kenapa begitu sulit untuk wanita itu menerima hubungan ini? "Kenapa yang ada dipikiranmu hanya mundur? Kenapa tidak berusaha memperjuangkan?"
"Aku merasa kita tak sebanding."
"Apa maksudnya itu?" Langkah Iwabe terhenti. "Apa kata 'tidak peduli' harus terus kudengungkan?"
"Iwabe, perbedaan kita terlalu banyak."
"Lalu, bagaimana caranya kau menikah dengan Gerald dulu?"
"Gerald dan aku seumuran, dan sama-sama single tapi denganmu ...."
Iwabe menyentuh lengan wanita itu. "Nasti. Cinta tak butuh itu. Cinta tak butuh seberapa banyak atau seberapa dangkal pengalaman hidupmu. Seberapa menyedihkan atau seberapa bahagia kamu pernah mengarungi hidupmu. Cinta hanya butuh kau," Ia menunjuk Nasti. "... dan aku." Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi aku tak begitu yakin." Nasti menghentakkan kakinya seraya cemberut.
Pria itu menghela napas pelan. "Apa sih yang membuat kamu tak yakin?"
"Kau terlalu muda untukku."
"Paling, hanya beberapa tahun."
"Aku rasanya ...."
"Bukankah orang lebih suka yang 'daun muda'?" goda Iwabe.
"Ih!" Nasti mencoba mencubit pinggang pria itu tapi Iwabe mampu menghindar. "Aku bukan orang seperti itu!"
"Ya, 'kan tidak apa-apa. 'Kan ada aku. Patut dicoba," Iwabe tergelak.
"Iih!" Wanita itu merengek manja dan cemberut.
"Nasti, sebenarnya masalahmu cuma satu. Kau terlampau serius jadi stres sendiri. Cobalah pandangi hidupmu dengan lebih ringan." Iwabe mengajari.
"Mana bisa, saat aku telah memporak-porandakan hubunganmu dengan orang tuamu."
"Nasti, hidup itu butuh perubahan, ke arah yang lebih baik dan untuk itu ada pengorbanan yang harus dilakukan."
"Dengan merusak hubungan orang lain, begitu?"
"Ini waktunya aku sebagai anak menemukan kebahagiaanku yang orang tua tidak tahu. Apa kelak jika anakmu besar nanti, apa kamu akan tahu kebahagiaannya? Tidak 'kan? Orang tuaku hanya belum mengerti kenapa aku memilihmu tapi yakinlah, suatu saat nanti mereka akan menerimamu." Iwabe menggenggam kedua tangan wanita itu.
Nasti masih merengut.
__ADS_1
"Apalagi? Apa sih, Sayang?" ucap pria itu dengan senyum lebar membuat Nasti melotot karena memanggilnya 'Sayang'. "Kau masih belum menerimaku? Oh, please(tolong) Nasti, susah sekali mendapatkan hatimu."
"Aku masih ...."
Iwabe kini memindahkan tangannya ke arah wajah wanita itu. Ia menangkup wajah itu dan menariknya mendekat. "Nasti lihat wajahku."
Nasti terpaksa menatap wajah pria yang sudah dekat itu.
"Kita coba saja. Ini bukan ujian jadi santai saja. Tidak perlu memikirkan bagaimana nantinya karena tidak yang salah dengan hubungan ini, ok?"
Nasti masih menatap lekat wajah pria itu.
"Nasti."
Wanita itu kemudian menunduk dan mengangguk.
"Nah, gitu dong." Iwabe kemudian mengandeng dan menariknya mendekati Bian yang masih sibuk berlari. "Ayo, kita temani Bian ke arena bermain anak-anak."
Bian tentu saja senang pergi ke tempat arena bermain itu apalagi sesekali Iwabe mendampinginya.
Seperti pergi ke tempat mainan. Iwabe duduk tak jauh darinya dan memperhatikan ia bermain. Saat ia salah memainkan mainannya, pria itu memberi tahu.
"Eh, bukan begitu pasang gambarnya, salah." Iwabe mendatangi.
Bian mengangkat kepalanya.
"Coba diputar."
"Ini?"
"Ini?"
"Coba lihat. Bisa masuk 'kan?"
Bian menyelesaikan puzzle(teka teki) gambar itu.
Saat Bian masuk ke dalam kolam bola, Iwabe menghilang. Bian langsung mendekati pinggir kolam. "Mama, Om mana?"
Nasti mendekat. "Oh, lagi beli minuman."
"Ma." Bian melirik ibunya. Wajahnya terlihat tak percaya.
"Iya, gak ke mana-mana kok Omnya. Kenapa jadi ketakutan begini sih kamu, Bian?" tanya Nasti heran. "Seperti mau meninggalkan kita saja."
Tak lama, Iwabe datang membawa minuman di gelas plastik untuk Nasti dan dirinya. Bian minum bagian ibunya.
"Hah!" Bian mengeluarkan lidahnya.
Nasti tertawa. "Dingin ya?"
__ADS_1
Bocah itu mengangguk. Melihat Iwabe sudah kembali, ia senang. Ia kembali bermain di kolam bola bersama anak-anak lainnya.
Mereka sempat makan siang, sebelum akhirnya pulang. Iwabe mengantar Nasti dan Bian ke rumah orang tua Nasti.
Di perjalanan pulang, ia mulai merasa mobilnya diikuti ketika sebuah mobil tak dikenal berusaha membuatnya menepi dengan memotong jalannya di depan. Jalan itu kebetulan sepi. Ia terpaksa berhenti karena lambat laun mobil yang berjalan di depan melambatkan laju kendaraannya dan kemudian berhenti.
Ia ingin mundur tapi sebuah mobil tiba-tiba juga berhenti di belakangnya tapi kali ini ia tahu mobil siapa itu. Gerald keluar dari mobil itu.
Hei, apalagi yang mau dikerjakannya? Curang dia, main keroyokan.
Namun Iwabe tak gentar. Ia turun dan mendatangi Gerald, tapi sebelum sampai, ada 2 orang pria yang menahan tangannya. "Hei, lepaskan aku!" pria itu berontak tapi sia-sia karena pria yang memeganginya adalah orang-orang yang bertubuh kekar.
Gerald tersenyum penuh kelicikan. "Semua orang yang berani menghinaku akan mendapatkan ganjarannya."
"Kau itu pengecut. Semua orang juga tahu kalau keroyokan itu pasti menang, tapi kalau satu lawan satu apa kamu mampu?" ejek Iwabe pada pria itu dengan tatapan sinis.
Gerald panas. Ia memberi kode dua bodyguard itu untuk melepas pria Jepang itu. Kini Iwabe bisa berhadapan satu lawan satu dengan pria bule itu.
Gerald berusaha meninju wajah pria itu tapi Iwabe sempat menghindar. Iwabe kini meninju perut Gerald.
Bug!
"Ah!"
Bule itu menahan sakit di perutnya tapi tak lama. Ia kembali menyerang Iwabe. Serangan demi serangan beserta tendangan yang tak tepat membuat Iwabe berada di atas angin. Pria Jepang itu bahkan sempat menendang pria bule itu 2 kali di kaki dan tubuhnya.
Gerald geram. Ia memberi kode bodyguard-nya untuk menangkap Iwabe.
"Hei, ini curang namanya!" Iwabe tak bisa menggerakkan tangannya karena ditahan oleh kedua pria bertubuh kekar itu.
Gerald tersenyum miring dan merapikan bajunya yang berantakan. Ia mendekati Iwabe. "Biar bagaimanapun aku benci kalah."
"Pengecut!"
Plak!
Gerald menampar Iwabe dengan keras hingga sudut bibir pria Jepang itu terluka. "Aku tak minta banyak. Aku hanya ingin kau berhenti jadi pacar Nasti dan jauhi dia atau aku akan bertindak lebih dari ini."
"Siapa kamu, berani-beraninya mengaturku?" Iwabe bergeming. Ia tak takut akan ancaman Gerald membuat bule itu naik pitam.
"Kurang ajar!" Gerald menggerakkan kepalan tangannya hendak meninju perut Iwabe tapi sesuatu memukul tangannya.
Tak! Tak!
"Ah!"
Sebuah tongkat panjang.
Tak! Tak! Tak! Tak!
__ADS_1
Tongkat itu memukuli kedua pria kekar yang sedang memegangi Iwabe hingga mereka melepas pria Jepang itu dengan terpaksa.