Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Bekerja


__ADS_3

"Itu suami Mbak?" Seorang wanita yang senam dekat Nasti bertanya. Ia melihat mereka datang bersama, hanya ragu karena wajah mereka yang sama sekali tidak mirip satu sama lain.


"Oh, teman tapi anak itu anak saya." Nasti masih mengikuti gerak senam dari instruktur senam di depannya.


Tentu saja jawabannya menimbulkan pertanyaan lain. "Oh, suami Mbak bule? Anaknya lucu."


"Mantan."


"Apa?" Kata-kata yang singkat sering tak terdengar karena suara musik untuk senam yang cukup keras.


"Mantan suami!"


Ibu-ibu yang lain ikut mendengarkan.


"Oh." Wanita itu melirik Iwabe. "Ganteng juga."


"Apa?"


"Ganteng juga!"


Kembali ibu-ibu yang ikut senam menoleh.


"Oh," jawab Nasti singkat.


Tak lama senam usai. Banyak ibu-ibu muda yang mendekati Nasti ingin tahu tentang Iwabe.


"Oh, itu mantan suami Mbak?" Seorang wanita berbaju training hijau bertanya lebih dulu.


"Bukan, teman."


Wanita itu terlihat senang. "Boleh kenalan sama temannya, Mbak?"


"Eh, kamu mah gak usah. Kayak saya, masih single, tuh baru," Seorang wanita yang lebih tua menyikutnya.


"Ya, Allah ingat umur, Tante." Seorang gadis berkuncir satu di belakang menepuk bahu wanita itu. Ia maju dan tersenyum dengan kawat behel di gigi dan jerawat yang bertaburan di pipi.


"Waduh, kalau gigi masih perlu ke bengkel, nanti-nanti aja cari pacarnya." Seorang wanita cantik berambut panjang yang dikuncir ke belakang mendorong bahu gadis yang berjerawat itu.


Yang lain tertawa. Nasti mau tak mau mendatangi Iwabe dengan para wanita itu di belakangnya. Iwabe sedikit terkejut dengan banyak wanita yang mendatanginya.


"Eh, ini. Ibu-ibu ini mau kenalan, katanya," ujar Nasti dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


Satu persatu ibu-ibu itu menyebut namanya pada Iwabe dan Iwabe mendengarkan. Namun setelah itu pria itu hanya diam membisu.


Nasti dengan inisiatif, mengenalkan Iwabe pada ibu-ibu yang dibawanya mendatangi pria Jepang itu. "Ini Iwabe teman kerja saya."


"Sayang, kamu ngomong apa sih?" tegur Iwabe.


"Eh, mereka mau kenalan, Iwabe, kenapa ka—"


Tiba-tiba Iwabe berdiri dan merengkuh wanita itu dari samping sekaligus mengecup keningnya. "Udah ah, bercandanya. Kita 'kan udah mau nikah." Ia menarik wanita itu menjauh dari rombongan itu.

__ADS_1


"Eh, maksudnya gimana ini?" Ibu-ibu itu mulai ribut sendiri sementara Nasti yang dibawa pria itu juga kebingungan dengan pipi memerah.


"Iwabe."


"Untuk apa kamu kenalin aku sama mereka? Memangnya kamu kenal mereka siapa?"


"Eh, tidak."


"Nah, maka itu. Hidup dengan orang yang kita kenal aja kadang ada masalah, apalagi dengan ditambah dengan banyak orang. Tambah banyak masalah. Kamu mau hidup banyak masalah atau hidup damai?"


"Hidup damai."


"Pintar. Ayo, kita pulang. Bian!" Pria itu menatap ke arah depan di mana Bian tengah bersepeda jauh.


Bocah itu mengayuh sepeda mendekati mereka. "Apa Om?"


"Kita pulang."


"Pulang apa?"


"Ke tempat Nenek."


"Iya." Bocah itu mengikuti Iwabe dan Nasti sambil bersepeda di dekatnya.


----------+++----------


Dua minggu berlalu dan Iwabe mulai mengerti pekerjaannya. Ternyata pekerjaannya sangat fleksibel soal waktu karena ia juga harus memeriksa perusahaan-perusahaan pria itu di belahan bumi lainnya yang menyebabkan Iwabe harus mencocokkan waktu di mana perusahaan itu berada. Kadang ia bekerja pagi sampai sore atau siang sampai malam. Kadang di perusahaan Traks atau di hotel tempat Kobayashi tinggal.


"Om!" panggil Bian. Bocah itu melihat Iwabe dari tadi sibuk menulis di sebuah buku. Pria itu sedang latihan menulis hiragana.


"Apa Bian?" Pria itu terpaksa menoleh.


"Main," ucap bocah itu mengerucutkan mulutnya.


"Apa kamu tidak bisa main sendiri?"


"Om!" rajuk bocah itu yang kini mulai memiringkan kepalanya.


"Kamu 'kan mulai besar. Mulai pintar. Anak pintar 'kan bisa main sendiri," bujuk pria itu yang kemudian mulai menulis lagi.


Bocah itu tak kehabisan akal. Ia mendatangi Iwabe dan mulai memanjati tubuhnya dengan berusaha naik lewat pangkuan.


"Eh?" Iwabe terpaksa menghentikan latihan menulisnya dan membantu bocah itu naik ke pangkuan.


Bocah itu langsung memeluk leher pria Jepang itu.


"Bian."


"Gak mau!" Bocah itu menggoyang-goyangkan kakinya tanda ia protes.


Iwabe menghela napas panjang. Ia memeluk Bian dengan hangat. "Kenapa sih, Nak? Om harus belajar biar pintar. Apa kamu gak mau Om pintar, mmh?" tanyanya dengan lembut. Ia mengusap pucuk kepala Bian.

__ADS_1


"Mmmm." Pelan terdengar isaknya.


"Eh, kok nangis?" Iwabe berusaha melepas pelukan Bian pada lehernya. Terlihat pipi bocah itu yang tengah basah. "Hei, kenapa?"


"Mmh ... Bian sini, Om gak ada. Bian sini, Om gak ada!" Bocah itu dengan susah payah merangkai kata. Rupanya Bian mengadukan kesepiannya setiap datang ke rumah itu, di mana Iwabe sering tidak ada dan ketika ada, Iwabe sibuk dengan pekerjaannya. Ia mengerucutkan mulutnya dengan air mata masih mengalir.


"Iya, iya. Maaf ya? Om sibuk dengan pekerjaan Om, sampai lupa Bian ada di sini. Ya udah, Om temani main. Udah, jangan nangis lagi." Iwabe mengusap kedua pipi bocah itu dengan kedua ibu jarinya.


Setelah itu, bocah itu bersandar di dada bidang pria itu. Iwabe menggendongnya keluar. Ia mencoba membujuk Bian untuk naik ke atas sepeda.


Perlahan bocah itu turun dan naik sepeda. Sebentar kemudian wajahnya cerah dan berputar-putar dengan sepeda di ruang tengah dengan riangnya.


"Kita main di luar saja ya?" ajak Iwabe.


Tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Iwabe yang tadinya mau keluar, membuka pintu.


Gerald yang berada di depan pintu, terkejut melihat Iwabe ada di dalam rumah. "Lho, kenapa kamu ada di sini? Bukannya seharusnya kamu bekerja?"


Bian segera turun dari sepeda dan berlari ke arah Iwabe. Ia memeluk kaki pria itu.


"Eh, Bian." Iwabe memegangi tangan bocah itu. Ia merasa tidak punya hak untuk berada di tengah Bian dan Gerald hingga ia menengahi. "Bian, Papamu datang. Coba salim."


Bocah itu memeluk erat kaki Iwabe dan menggeleng.


"Bagus. Begitu, tahu diri." Gerald merapikan kerah bajunya. "Bujuk dia agar bisa dekat denganku," titah pria bule itu lagi.


Iwabe hanya meliriknya sebentar kemudian beralih pada Bian. "Bian?"


Kembali bocah itu menggeleng.


Iwabe menggendongnya. "Kalau ada tamu harus sopan ya? Coba salim." Pria itu mengangkat tangan bocah itu pelan dan mengarahkan pada Gerald.


Gerald meraih tangan bocah itu dan menyodorkan punggung tangannya ke arah mulut bocah itu untuk dicium.


Walaupun begitu, Gerald sangat senang bisa bersalaman dengan anaknya sendiri. Ini saat berharga, di mana setiap kali berdekatan, bocah itu ketakutan. Ia menahan genggaman tangannya. "Ini Papa bawa mainan baru. Mobil dengan remote control," ucapnya, tapi Bian ingin cepat-cepat menyudahi salaman itu dengan menarik tangannya.


Bocah itu segera memeluk leher Iwabe membuat pria itu terkejut.


"Owowow."


Bian tertawa.


Tentu saja Gerald mangkel karena merasa tak dianggap keberadaannya. "Bisa tidak, kamu bertukar dengan Ibu?" tanyanya pada Iwabe. Ia malas berhadapan pria Jepang ini.


Iwabe segera mengerti. "Sebentar." Ia segera ke dalam memanggil ibu, kemudian bersama-sama ibu kembali keluar. Ia memberikan Bian pada Ibu. "Aku akan ke kamar, Bu. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."


Ibu mengangguk. Kemudian iwabe masuk lagi ke dalam.


"Tunggu dulu. Pria itu tinggal di sini?" tanya Gerald pada ibu Nasti tak percaya.


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2