
Iwabe mematut diri di cermin memperhatikan jas barunya. Sang istri yang datang dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dan menyandarkan kepala di punggung teduhnya. Pria itu menyatukan tangan mereka di sela-sela jari. "Mmh, permainanmu sangat manis semalam. Memang kalau yang sudah profesional, beda."
Wanita itu mengangkat kepala dan mencubit pinggang suaminya gemas.
"Aduh!" Namun Iwabe tertawa sedang wajah istrinya merah merona.
"Katanya mau bikin bayi, ya harus pelan-pelan dan sabar." Wanita itu masih belum kehilangan warna merah meronanya di wajah.
Pria itu memutar tubuh menghadap wanitanya lalu melingkarkan tangan di pinggang ramping itu dan menariknya lebih dekat. "Iya, Sayang. Kamu yang terbaik."
Nasti merengut dengan manja.
Pria itu gemas melihat mulut wanita itu yang mengerucut hingga ia mengecupnya singkat. Ia menyatukan wajah mereka dan merasakan hangat yang mengalir di wajahnya. Hangat yang memberi energi bahagia dan merasa beruntung telah mendapatkannya. "Sayang, aku ke kantor dulu ya?" Ia melepas pelukan.
Nasti merapikan jas suaminya dan menemani pria itu menuruni tangga menuju ruang tengah. Ada Iwahara dan Bian di meja makan.
"Om!"
"Eh, jangan panggil Om. Panggil Ayah," terang Iwahara pada Bian.
"Kenapa?"
"Karena sekarang dia ayahmu."
"Kenapa?"
"'Kan tadi sudah Kakek bilang."
"Kenapa?"
Iwahara mengusap keningnya. "Apa ada yang bisa menerangkan padanya apa maksudku dengan jelas? Kenapa bahasa Indonesiaku tidak dia mengerti?" tanyanya pada Nasti dan Iwabe yang datang mendekat. Keduanya tertawa.
"Bukan bahasa yang dia tidak mengerti tapi ia memang tidak mengerti," terang Nasti.
"Hingga sampai kapanpun ia akan menjawab 'kenapa?'"
"Iya, betul, Otousan," sahut Iwabe.
"Huh!"
Iwabe dan Nasti tersenyum melihat kebingungan Iwahara.
"Ya sudah, ayo berangkat."
__ADS_1
Seorang pelayan wanita berlari-lari kecil mendatangi mereka, kemudian menganggukkan kepala pada Iwahara. Ia melaporkan sesuatu yang dijawab dengan helaan napas panjang oleh pria itu. Ia menganggukkan kepala hingga pelayan itu pergi dengan segera. Pria itu menoleh pada Nasti dan Iwabe. "Ibumu datang, Iwabe."
"Apa?"
"Tapi kau ingat janjimu 'kan?" ucap Iwahara pada anaknya. "Kau harus menepati janji."
"Janji apa?" sela Nasti ikut bicara. Ia menatap kedua pria itu tapi tak satu pun yang mau menjelaskan.
"Mmh ...." Iwabe mencoba bicara.
"Aku tak mau kau bicara dengan ibumu. Biar aku yang bicara."
"Tapi, Otousan. Aku belum pamit padanya."
"Tidak usah. Setiap kau bicara padanya, kau tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya 'kan? Sudah, tidak usah."
"Otousan, dia ibuku. Biar bagaimanapun aku harus bicara padanya."
"Tidak usah! Aku bilang, tidak usah, ya tidak usah!" ujar pria paruh baya itu berkeras.
"Tapi, Otousan ...."
Iwahara menoleh pada para Bodyguard-nya yang tengah bersiap di salah satu sudut ruangan dan memberi isyarat agar mereka bersiap-siap. Nasti yang merasa keadaan genting, menggendong Bian dengan segera.
Tak lama Maiko, Sastra dan seorang wanita masuk ke dalam rumah. Dengan spontan Iwabe maju ingin bicara tapi dengan cepat Iwahara merentangkan tangan agar anaknya itu tak bergerak lebih jauh. Mulut Iwabe terkunci karena bimbang.
Iwabe dan Nasti yang coba mendekat ditahan oleh bodyguard Iwahara. Keduanya akhirnya hanya bisa mendengarkan dari ruang tengah.
"Hebat sekali dirimu ya, sampai meminta bala bantuan kakakmu ini," ledek Iwahara.
"Aku membawanya agar kita netral, tidak berat sebelah. Aku hanya menagih janjimu. Bukankah sekarang kau tidak menepati janjimu?"
Iwahara tersenyum mengejek. "Kau minta aku menepati janji? Bukankah kamu yang lebih dahulu menyalahi janji?"
"Janji apa?" Wanita itu mengerutkan dahi.
"Bahwa kau akan menjaga dan mendidiknya dengan benar."
"Aku sudah melakukannya."
"Lalu kenapa saat seseorang menyerangnya di jalan, tidak ada satu pun yang datang menolongnya? Iwabe tidak punya bodyguard. Bahkan pekerjaannya di perusahaanmu seperti kacung saja, disuruh ke sana kemari tanpa jabatan yang jelas! Apa itu yang dinamakan menjaga dan mendidik versi kamu yang maha benar itu, hah?" Pria itu menginterogasi dengan melipat tangannya di dada.
"Aku tidak melihat kau berusaha melakukan apapun, bahkan terlihat menelantarkannya sementara kau sibuk dengan suami barumu itu. Apa ucapanku salah?" Iwahara akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini ia pendam sekian lama dan kini Iwabe mengetahuinya.
__ADS_1
"Biar aku coba jelaskan." Sastra ikut bicara.
"Aku tidak butuh penjelasanmu karena aku sedang bicara dengan mantan istriku, apa kau mengerti itu, hah?!" ucap Iwahara tajam dengan jari telunjuk menunjuk pada pria itu.
"Tapi akulah yang meminta Iwabe untuk bekerja seperti itu. Selain mengerti cara mengelola perusahaan dari bawah, aku bisa mengetahui siapa-siapa yang berkhianat di dalam perusahaan."
"Dengan mengorbankan anak sendiri? Oh, maaf. Dia bukan anakmu ya? Pantas saja kau mengorbankan anakku demi kepentingan bisnismu sendiri," sarkas ayah kandung Iwabe lagi.
"Tidak, aku tidak ...."
Maiko menyentuh lengan suaminya agar berhenti. "Apa karena itu kau menyalahi janji? Iwabe kami didik dengan cara kami sehingga dengan begitu tidak ada yang mencurigainya dia anak orang kaya. Jadi ...."
"Kau memang selalu benar," potong pria Jepang paruh baya itu kembali mengejeknya.
"Lalu kamu sendiri?!" ujar wanita itu kembali mengerut dahi.
"Aku? Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia mendaftar di perusahaan tempat aku bekerjasama dan aku disodori namanya sebagai salah satu kandidat. Aku mengambilnya sebagai pegawai ketika mengetahui ia kabur dari rumah! Bukankah aku sedang menyelamatkannya?!" ejek Iwahara lagi.
"Kalau begitu, kembalikan dia padaku."
"Tidak. Aku lihat kau tidak menjalankan janjimu jadi aku cabut lagi janjiku padamu. Aku takkan menyerahkan Iwabe padamu!" ucap pria Jepang itu dengan tegas.
Jawaban Iwahara membuat wanita itu mulai kesal. "Aku tidak menjalankan janji bagaimana?! Aku sudah melakukannya dengan maksimal! Sekarang ini Iwabe tengah duduk di kursi pimpinan di dalam perusahaan, apa kamu tidak percaya? Kamu bisa tanyakan ini langsung padanya," ujarnya setengah mendengus.
"Jadi, kalau kamu menjalankan janji dengan semaumu, aku tidak boleh, begitu? Kau tidak pernah cocok dengannya, bahkan menikah dengan istrinya yang sekarang saja kau halangi, bagaimana kalau kau saja yang melepaskan Iwabe agar aku bisa mengurusnya!" ucapnya santai dengan nada mengejek.
"Apa?" ujar wanita itu dengan suara yang makin meninggi. "Itu tidak bisa! Aku ibunya, aku yang lebih tahu bagaimana mengurusnya! Ia sudah bukan urusanmu lagi. Bukankah kau sudah menyerahkan segala urusan Iwabe padaku pada saat kita bercerai dulu?"
"Tidak. Itu maumu! Kau yang memaksaku untuk melakukan itu. Aku tidak pernah menyerah soal anakku. Dia anakku!"
Suasana mulai memanas membuat Iwabe berdiri mengkhawatirkan keduanya. Biar bagaimanapun, keduanya adalah orang tuanya, dan ia takkan sanggup memilih salah satu dari mereka. Ia bergerak maju hingga kembali ditahan bodyguard Iwahara. "Sudah jangan bertengkar!" teriaknya.
Nasti hanya bisa melihat saja. Ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Kedua orang tua Iwabe masih adu mulut dan tak ada satu pun yang ingin mengalah.
"Kalau kau sudah menyerahkan Iwabe padaku, sudah tinggalkan, jangan pura-pura peduli!" Wanita itu mulai meledeknya.
"Aku tidak pernah pura-pura peduli karena aku memang peduli! Dia darah dagingku!"
Keduanya mulai berdiri dan berbicara keras membuat Kakak Maiko dan Sastra berusaha untuk memisahkan.
"Apa yang kau pedulikan tentang Iwabe, hah! Apa kau tahu bagaimana susah payahnya aku berjuang untuknya saat kau tak ada, hah?!" ucap Maiko makin keras. Ia menghempaskan tangan suaminya yang berusaha untuk meredam kemarahan sang istri.
___________________________________________
__ADS_1
Novel ini sebentar lagi tamat ya? Jangan lupa kawal terus novel ini sampai selesai dan jangan lupa penyemangat author, like, komen, vote atau hadiah. Ini visual Iwabe dengan jas barunya. Salam, ingflora 💋