Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Penampilan


__ADS_3

Iwabe menghentikan mesin mobil dan Nasti membuka seatbelt. Pria itu meraih bungkusan plastik di kursi belakang. "Makasih ya, Nas. Nanti gajian aku ganti." Ia menggoyang-goyangkan bungkusan itu.


"Iya, ngak papa."


Keduanya keluar dari mobil. Walau tak banyak orang, banyak yang terkejut melihat penampilan baru Iwabe di perparkiran karena wajahnya semakin terlihat tampan dan bersih. Walau masih terlihat urakan.


Nasti juga diam-diam mengagumi ketampanan pria itu tapi berusaha tak ditunjukkan. Tanpa sadar dengan lancangnya, merapikan kerah pria itu di kamar pas tadi, cukup mengejutkan dirinya sendiri.


Terbiasa merapikan kerah baju mantan suaminya membuat Nasti begitu saja merapikan kerah baju pria itu dan sudah terlanjur. Kesudahannya ia sendiri merasakan pipinya panas karena memerah.


Ia, bisa menatap langsung wajah pria itu dari dekat dan merasa malu. Secepatnya ia membuang wajahnya ke samping, agar pria itu tidak menyadarinya. Untung saja, pria itu sibuk bercermin hingga Nasti bisa menunggu hawa panas di wajahnya itu mereda.


Nasti menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa, Nas?"


Lia sedang menatap wanita itu.


"Oh, tidak." Nasti tertawa dengan canggungnya. Apa yang kupikirkan ... Nasti menepuk dahi sendiri. Ayo kerja, kerja, kerja! Ia kemudian memasang mimik serius.


------------+++-----------


Iwabe sempat bertemu Sarah di lantai 1 dan ingin meminta maaf atas kejadian perdebatan tadi pagi, tapi sepertinya wanita itu tidak ingin bicara dengannya dengan menghindar. Malah CEO Nathan yang sedang lewat dijadikan sasarannya. "Pak Nathan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu tapi sebaiknya kita keluar saja karena kebetulan aku ingin keluar."


"Oh. Mengenai apa? Bagaimana kalau kita ke kafe?"


"Oh, ok. Tidak apa-apa."


Nathan yang seperti mendapat angin segar karena sudah lama mengejar wanita itu, bersorak dalam hati. Senyumnya saat itu terasa begitu indah.


Iwabe hanya sanggup melihat, wanita incarannya pergi dengan pria lain.


Sarah sempat melirik lewat sudut matanya penampilan baru pria Jepang itu yang cukup memukau. Sayang kau bukan anak orang kaya. Huh!


Iwabe adalah tipe realistis. Bisa memisahkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Dari situlah orang beranggapan ia pria yang tegas.


Ia kembali memasuki ruang kerja ayahnya dan mengunci pintu seperti biasa. "Sore, Yah." Pria itu langsung menyerahkan sejumlah kartu nama yang telah diberikan ayah padanya untuk diperiksa. "Ini, Yah beberapa katering yang sudah kudatangi."


Namun pria paruh baya itu bergeming. Ia sedang memperhatikan penampilan baru anaknya yang terlihat berbeda. "Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya tak percaya.


"Ada, orang marketing namanya Nasti. Itu lho, Yah, orang baru yang tinggal di mess."


"Yang janda itu?"


"Iya."


"Hati-hati lho! Dia bisa jadi istrimu."


"Ayah!"

__ADS_1


Presdir itu tertawa. "Ok, apa?"


"Ini, Yah. Kebetulan kita pakai beberapa katering untuk memenuhi makan siang buruh tadi, dan aku rasa mereka sudah mengantarkannya karena kulihat semua pegawai pabrik sudah mendapatkan makan siang."


"Mmh, menurutmu, mana yang bagus?" Pria itu mengecek kartu nama dan brosur.


Tak lama, akhirnya selesai juga mereka berdiskusi.


"Ayah berniat untuk memperbanyak varian. Mungkin dimulai dari produk makanan kaleng," ucap pria paruh baya itu sambil bersandar ke belakang.


"Oh, ide brilian."


"Aku dapat masukan dari GM kita, Sarah."


"Cerdas juga dia."


"Iya. Makanya cari pacar yang secantik dan sepintar dia."


"Ayah!" Pria itu kesal dengan ledekan ayahnya.


Ayah tertawa.


Ternyata, dia wanita yang cerdas.


------------+++-----------


Seorang pegawai pabrik keluar dengan wajah lesu dari divisi keuangan. Ia bertemu Iwabe di pintu keluar.


"Oh, Pak. Bagaimana? Jadi ambil cutinya?" tanya pria Jepang itu.


"Entahlah Pak, uangnya saja tidak keluar, bagaimana mau pulang kampung," ujar pria itu lemas.


Pria itu adalah pegawai baru di pabrik, tapi ia terpaksa harus pulang kampung karena anaknya sakit. Bagian keuangan tidak bisa mengeluarkan uang untuk kasbon karena pria itu bekerja kurang dari setahun.


"Bapak perlu berapa?" Iwabe mengeluarkan dompetnya.


"Eh, tidak usah, Pak." Pria itu terkejut.


"Udah, gak apa-apa. Sama saya ini." Iwabe mengeluarkan 10 lembar uang merah. "Ini, cukupkan." Ia meraih tangan pria itu dan meletakkan uang itu pada telapak tangannya.


"Tapi ini banyak sekali, Pak."


"Udah, gak papa. Untuk jaga-jaga."


Pria itu menggenggam uang itu dan hampir menangis haru. "Terima kasih, Pak. Kenapa bapak percaya pada saya, padahal saya bisa saja membawa lari uang ini atau tidak kembali."


"Ya terserah nasib uang itu saja. Aku memberinya karena lihat sepertinya bapak butuh."


Pria itu mengangguk-angguk. "Terima kasih."

__ADS_1


Iwabe menepuk-nepuk lengan pria itu. "Iya, gak papa."


Keduanya kembali ke pabrik.


Hari itu, pengerjaan pabrik selesai sejam sebelum waktunya karena kebetulan pabrik kekurangan stok bahan untuk pengerjaan. Terpaksa, pekerja pabrik dipulangkan sebelum waktunya.


Iwabe biasanya memeriksa pabrik sebelum meminta satpam menguncinya. Ia tengah memeriksa bagian ruangan pendingin.


Ruangan pendingin adalah sebuah ruangan yang fungsinya telah diubah menjadi seperti lemari es. Di ruangan ini biasanya disimpan bahan-bahan seperti daging beku.


Seorang pria tengah mengamati Iwabe yang telah masuk ke dalam ruangan pendingin itu. Pabrik telah sepi karena semua pegawai telah pulang. Pria itu mendekati ruangan itu yang pintunya sedikit terbuka. Ia segera menutupnya.


Iwabe terkejut. Ia mendengar seperti ada seseorang di dekat pintu masuk ruang pendingin dan ternyata setelah diperiksa, pintunya terkunci. "Hei! Siapa itu di luar, buka pintunya!" Pria itu memukul-mukul pintu. "Hei! Masih ada orang di dalam, jangan dikunci!" Pria itu berusaha membuka pintu dari dalam tapi sia-sia. "Tolong! Buka pintunya!"


Pria di depan ruang pendingin itu hanya tersenyum. Itu balasannya karena telah memasukkan saudaraku ke penjara! Ia kemudian melenggang pergi dari tempat itu dengan santainya.


"Hei, buka pintunya!" Iwabe masih memukul-mukul pintu itu tapi sepertinya tak berguna karena pintunya tebal hingga ruangan itu kedap suara. "Tolong, buka pintunya!!!" Ia menendang pintu itu dengan sangat kesal.


Pintu yang dirapatkan membuat udara dingin di ruangan itu meningkat dan pria Jepang itu mulai menggigil kedinginan.


Ia mulai menggosok-gosokkan lengan mengurangi rasa dingin. Orang gila mana yang sudah mengunci pintu tanpa memeriksanya terlebih dahulu? Orang gila mana?!! Ah, pasti orang itu telah sengaja mengunciku di sini.


Menyadari itu, Iwabe pergi ke sudut ruangan dan duduk di lantai. Ah, adakah orang yang mencariku? Aku di sini, tolong ... teriaknya dalam hati. Ah, dingin sekali. Ia ingin bersandar ke dinding pun tak bisa karena dindingnya pun dingin.


_____________________________________________


Masih membaca novel ini kan reader? Jangan lupa kasih semangat author dengan vote, like, komen, dan hadiah. Salam, ingflora. 💋


Ini ada novel baru dari teman author. intip yuk!


Dear, Pak Boss


Author: Ika Oktafiana


Stella tidak pernah menduga bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan seorang Arshaka Virendra, sang Direktur Utama di perusahaan tempat Stella bekerja.


Kejadian itu bermula ketika Stella merasa tertantang dengan sikap Shaka yang dingin dan kaku. Bahkan, untuk sekedar mengulas senyum saja tidak pernah.


Berbagai cara Stella lakukan untuk membuat Shaka mau tersenyum. "Senyum dong, Pak. Biar semakin tampan," goda Stella tempo hari saat keduanya tidak sengaja bertemu di saat hujan sore hari.


Dikala itulah, awal mula hidup Shaka berubah menjadi lebih berwarna, Stella berhasil menjungkir-balikkan hidup Shaka dan mulai mengenal rasa bernama 'cinta'.


Perlahan, penyebab dari sikap dingin Shaka terkuak, hidup yang keras dan masalalu yang kelam. Hal itu justru semakin membuat Stella begitu kagum dengan sosok Shaka. Seketika timbul rasa ingin selalu ada dan memeluk dikala pelik kehidupan menderanya.


Bagaimana kelanjutan kisahnya?


Baca terus yuk^_^


__ADS_1


__ADS_2