
Nasti diam saja mengikuti pria Jepang itu. Antara sungkan dan ingin dibantu, bergolak di dada. Mereka menaiki mobil mewah milik Presdir.
Gerald bukannya tidak tahu. Ia melihat pria itu menggandeng mantan istrinya dan ia geram. Bisa-bisanya dia membawa Nastiku pergi. Mau cari gara-gara denganku ya? Ok, aku ladeni. Awas kau ya! Pria itu menangkap tinjunya di tangan.
Nasti masih terlihat canggung di dalam mobil hingga ia diam saja selama perjalanan tapi ketika mobil bergerak ke arah berbeda, wanita itu mulai buka suara. "Eh, kita ke mana ini?"
Pria itu tertawa. "Aku pikir kamu tidak bisa bicara," ledeknya.
Nasti merengut.
"Temani aku dulu ya, tengok ayahku di rumah sakit."
"Ah, jangan!" Nasti terlihat panik.
"Kenapa?" Iwabe menoleh. "Apa karena kamu tersangka?" tanya pria itu ingin tahu.
"Bukan begitu ... nanti Presdir berpikir macam-macam tentang aku dan kamu."
Kembali pria itu tertawa. "Biarkan saja. Kenapa kamu pusing sih?"
"Takutnya nanti Presdir mengira aku merayumu agar dibebaskan dari tersangka." Wajah Nasti memerah membuat Iwabe kembali tertawa.
"Coba rayu aku." Dan pria itu kembali tergelak membuat Nasti gemas dan mencubit pinggangnya. "Aduh, ampuuun!" Pria itu berusaha menghindar hingga memberhentikan mobilnya secara mendadak.
"Ah!"
Untungnya, mobil di belakang berjarak agak jauh tapi tak ayal membunyikan klakson karena terkejut.
Tiiiin!
Keduanya menoleh ke belakang.
"Aduh, Nastiii."
"Kamu sih, jahil!" Wajah wanita itu masih memerah. Namun Nasti akhirnya mau tak mau ikut juga ke rumah sakit menengok Presdir.
"Ini Nasti, Yah. Yang Ayah bilang tadi."
Nasti menganggukkan kepala pada Presdir dan istrinya yang datang dan duduk di samping tempat tidur suaminya. Keduanya membalas anggukkan Nasti.
"Ini benar kamu yang beli rujaknya?" tanya Presdir pada Iwabe.
"Iya, Yah. Aku juga sempat coba makan buahnya satu potong tapi aku sehat-sehat saja 'kan? Apa mungkin makanan sebelumnya yang menyebabkan Ayah sakit? Atau kondisi badan Ayah yang sedang drop(turun)? Tapi Ayah tidak terlihat sakit sebelumnya."
"Hasil lab dari kepolisian sudah keluar. Mereka juga memeriksa restoran langganan Ayah makan dan hasilnya ...." Presdir melirik Nasti. "Ada yang memasukkan obat pencahar dalam rujak itu."
"Sudah kuduga."
"A-aku tidak menggunakan obat itu lho. Tidak punya," sambung Nasti menggoyang-goyangkan tangannya.
"Mungkin Sarah menggunakan obat itu, Yah dan tumpah ke dalam rujak Ayah secara tidak sengaja. Sudah maafkan saja. Toh, ini bukan kasus keracunan. Drop(dihapus) saja kasusnya, jangan dibuat besar."
__ADS_1
Nasti melirik Iwabe yang membela Sarah. Ternyata masih suka ya, sama Sarah.
"Eh, jadi Nasti teman Abe?" Pertanyaan bergeser pada Wanita itu. Kedua orang tua Iwabe melirik pada Nasti dengan serius. Belum pernah Iwabe membawa teman wanitanya pada mereka.
"Eh, ya," jawab Nasti berusaha sopan.
"Yang punya anak itu 'kan ya?" tanya Presdir.
Dengan enggan wanita itu menjawab. "Iya."
"Punya suami maksudnya?" tanya Ibu.
"Oh, dia single parent(orang tua tunggal) ," terang ayah pada Ibu.
"Ooh."
"Aduh, Ayah, tanya apa introgasi sih, Yah?" ledek Iwabe.
"Kamu benar, teman Abe?" tanya Ibu pada Nasti.
"Ini juga. Ibu lagi," gerutu Iwabe.
"Memangnya ibu tidak boleh tanya?" omel Ibu pada Iwabe.
"'Kan tadi Abe udah kasih tahu." Iwabe berusaha melindungi Nasti yang sedikit canggung berada bersama orang tuanya.
"Tolong dompet Ayah, Bu," pinta Ayah pada Ibu.
"Lho, bukankah Ayah sudah sembuh. Wajah Ayah sudah mulai kemerahan." Namun pria itu menerima juga kartu itu.
"Ayah sudah tidak muda lagi, Abe tidak secepat itu pulihnya. Butuh waktu, tapi Ayah sudah tidak bolak-balik lagi ke kamar mandi, dan itu saja sudah buat Ayah bersyukur."
"Jadi Ayah kapan pulangnya dari rumah sakit?"
"Ah, kamu mau tahu saja. Ayah ingin sedikit dimanja Ibu sesekali. Pacaran sesekali. Sudah, sekarang kamu sudah selesai tengok Ayah 'kan? Ayah ingin berduaan dengan Ibu sekarang," usir Presdir yang membuat Ibu tersenyum lebar.
Iwabe cemberut.
Nasti pun hampir tertawa dan melupakan kecanggungannya melihat keakraban Iwabe dan orang tuanya.
"Ya Allah Ayah, anaknya diusir," komentar pria itu. "Ya udah. Aku pacaran ah, sama Nasti." Ia mendorong punggung Nasti ke arah pintu.
Nasti tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Ayah dan anak ini dalam bercanda. Mereka terlihat sangat dekat.
Ketika Iwabe dan Nasti sudah keluar dan menutup pintu, orang tua Iwabe saling berpandangan.
"Kalau benar Abe pacaran dengan wanita itu bagaimana, Yah?" tanya Ibu.
"Ah, kenapa sih wanita sering resah sama yang belum terjadi?"
Di luar, Iwabe mengajak Nasti makan di kantin.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pulang saja? Anakku ...."
"Anakmu sama kakek neneknya. Sudah, kita makan dulu sebentar lagi mau Magrib."
"Apa sholat dulu saja?"
Iwabe melirik jam di tangan. "Boleh juga."
--------------+++-----------
Mobil akhirnya sampai ke mess.
"Terima kasih, Pak sudah mengantarku pulang," ucap Nasti sedikit formal.
Iwabe memandangi wajah wanita itu. "Terima kasih sudah menemaniku menjenguk Ayah." Ia pun melakukan hal yang sama pada Nasti.
Terdiam sejenak, keduanya kemudian tertawa. Hanya Bian yang terlihat bingung.
"Kenapa sih kamu tiba-tiba jadi kaku seperti ini? Aku tidak berubah, Nasti. Aku tetap Iwabe yang dulu."
"Apa Bapak akan pindah ke rumah Bapak?"
"Mmh, entahlah. Kalau aku pindah sekarang percuma. Aku anak satu-satunya. Kalau aku pulang, tidak ada siapa-siapa di sana."
Bian menguap karena ngantuk.
"Oh, ya sudah, Pak saya turun dulu." Wanita itu masih bersikap formal.
"Nastiii."
Wanita itu tersenyum dan keluar dari mobil itu. Iwabe hanya bisa menghela Napas pelan.
---------+++----------
Pagi itu, seperti biasa ia telah bangun dan memasak sarapan. Namun kali ini ada yang beda. Pandangan orang terhadapnya di ruang serba guna itu. Orang-orang tidak lagi bisa sembarangan bicara dan sedikit canggung berhadapan dengannya, tapi Iwabe tak peduli karena itu sudah menjadi konsekuensinya sebagai seorang anak pemilik perusahaan.
Seusai sarapan, ia kembali ke kamarnya dan bersiap ke kantor. Saat ia keluar, ia melihat Nasti yang didatangi mantan suaminya yang membujuknya untuk diantar ke kantor.
Pria itu berusaha untuk tidak peduli karena sampai kapanpun Nasti bukanlah siapa-siapanya selain teman dan yang pasti ia tidak bisa terus menerus menolongnya. Ya, dirinya hanya sebatas teman bagi Nasti. Bukan begitu? Entah kenapa, jauh dilubuk hatinya tersimpan kecewa yang tak tahu sebabnya.
Haruskah ia menolong wanita itu lagi? Atas dasar apa? Teman?
"Gerald, aku mau naik bus, sudah ya?" tolak Nasti.
Gerald melirik Iwabe yang terlihat tidak peduli dan memasuki mobilnya. Ia merasa di atas angin. "Ayolah, Nasti. Anak kita 'kan juga ingin naik mobil."
Nasti bimbang. Ia juga tahu diri dan tidak bisa setiap saat meminta Iwabe menolongnya. Ia harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sementara Iwabe di dalam mobil ragu-ragu menjalankan mobilnya seakan menunggu keputusan Nasti.
Lalu?
__ADS_1