Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Demam


__ADS_3

Terdengar suara mesin mobil yang datang menghampiri pintu depan. Iwabe hanya mendengarkan dari balik pintu kamarnya.


Lalu suara Nasti yang sedang bercakap-cakap dengan Gerald tapi tak lama.


Deru mobil kembali terdengar dan perlahan menjauh, lalu diikuti suara pintu di samping kamarnya.


Sayup-sayup suara wanita itu kembali mewarnai kamar sebelah. Suara lembutnya meminta Bian berganti pakaian. Kini suara itu seperti merayu pria itu untuk tetap mendengarkan.


Pria Jepang itu memeluk kakinya di atas tempat tidur dan mendengarkan dalam diam sambil memangku dagunya diatas lutut. Ia mendengarkan sampai suara-suara itu hilang dan kembali sunyi. Hanya sepi menemani dalam gelapnya malam.


Sebentar kemudian ia meluruskan tubuhnya dan berbaring tenang. Ia lalu mendengarkan suara detik jam di dinding dan detak jantungnya sendiri yang berbunyi halus. Sebentar, ia beringsut merapikan posisi hingga akhirnya memejamkan mata dan terlelap kemudian.


----------+++----------


Pagi yang cerah. Iwabe menyiapkan sarapannya dan kemudian memilih kursi untuk duduk. Namun ia merasakan ada sesuatu yang hilang yang biasanya menghiasi aula itu. Ya, suara Bian.


Mata pria itu melihat berkeliling mencari tapi tak menemukan. Biasanya ruang itu menggemakan langkah-langkah kecil malaikat bule itu berlarian atau berjalan tapi bahkan wujudnya pun dan juga Nasti, tak tampak terlihat. Ke mana kedua makhluk Tuhan yang paling dicari netranya itu kini berada?


Ah, aku lupa. Gerald 'kan biasanya membelikan mereka makanan lebih hingga tak perlu lagi datang ke tempat ini. Kenapa aku sampai lupa?


Namun pria itu makin tak bersemangat makan. Ia membayangkan hubungan ketiganya makin membaik. Sudah Be, kamu 'kan pernah menegaskan pada Nasti agar tidak mendekatimu di hadapan banyak orang, dan sekarang, seharusnya kamu sudah tak merasa khawatir lagi. Iya 'kan?


Entah kenapa ia tak sepaham dengan suara hatinya. Tak hanya dengan suara hati, tapi juga dengan sikap dirinya. Ia merasa pelan-pelan mulai membenci dirinya sendiri, juga keadaan.


---------+++--------


Seusai sarapan, pria Jepang itu buru-buru ke kamar, tapi ia terkejut mendapati Nasti yang terburu-buru keluar kamar dengan menggendong Bian.


"Mau ke mana, Nas?" tanya pria itu heran.


"Oh, aku mau ke klinik. Bian demam."


"Apa?" Iwabe melirik bocah itu yang bersandar pada tubuh ibunya dengan lemah. "Biar aku antar."


"Eh, tapi bajumu?"


Pria itu menatap dirinya yang hanya mengenakan celana jeans dan baju kaos berwarna hitam. "Ada apa dengan pakaianku?"


"Apa lebih baik ...."


"Sudah, Nasti. Kita pergi saja." Iwabe kemudian ke kamar mengambil kunci dan keluar lagi menuju mobil mewahnya.


Tak lama mereka sampai di sebuah klinik yang letaknya tak jauh dari mess dan Iwabe menunggu di ruang tunggu. Pemeriksaannya tak lama sehingga keduanya cepat keluar.


"Kita ambil obat dulu ya?" pinta wanita itu.

__ADS_1


Mereka mendatangi apotik yang tak jauh dari tempat itu tapi kemudian Nasti mendapati teleponnya berdering.


"Tolong pegang Bian dulu sebentar." Nasti mencoba melepas pelukannya tapi Bian menangis. "Bian sama Om dulu ya, Nak ya?"


Bian langsung mengarahkan tangannya pada pria itu. Ia rewel karena tak enak badan, tapi langsung diam saat digendong Iwabe. Dengan wajah lesu ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang pria Jepang itu.


Terasa tubuh bocah itu yang hangat kala memeluk Iwabe. Dalam jaket kecilnya, tubuh Bian mulai berkeringat hingga kepalanya. Iwabe menyugar rambut bocah itu yang mulai basah.


Bian dengan wajah sedikit pucat menengadah menatap pria itu sebentar, kemudian ia menyandarkan kembali kepalanya pada dada bidang pria itu.


"Kamu gak enak badan ya?"


Bian merengek karena ditanyai pria itu.


"Ya udah iya, iya." Iwabe berdiri dan membawanya berjalan.


Sedang Nasti, ia mendapat telepon dari Gerald yang datang ke mess tapi tak bisa menemukan wanita itu. "Aku sedang di klinik. Bian demam."


"Oh, apa harus kujemput?"


"Tidak usah. Kami sedang menunggu obat nanti setelah itu kami pulang. Kamu pergi saja ke kantor."


"Mmh, pagi ini aku ada kesibukan hingga sore jadi tidak bisa menemanimu makan siang. Kau ... tidak ke kantor 'kan, karena Bian sakit."


"Ya, sepertinya begitu."


"Apa? Gerald ...."


Pria itu tergelak. "Ya ... mmh, tidak apa-apa kalau kau tidak suka dengan istilahnya. Yang pasti kita nanti malam, makan malam bersama."


"Aku tidak janji ya, Gerald. Tergantung keadaan Bian."


"Ya, nanti kutelepon lagi."


Telepon kemudian ditutup. Netra wanita itu kemudian mencari-cari Iwabe.


Pria itu tengah menggoyang-goyangkan tubuh Bian kecil sambil berjalan. Bocah itu terlihat nyaman dalam pelukan pria itu.


Nasti mendekat. "Sini, aku gendong."


"Biarkan saja. Nanti saja kalau kau sudah mendapatkan obatnya."


"Mmh, terima kasih ya?" Nasti kemudian menyerahkan resep obat di apotik untuk ditebus. Ia kemudian menunggu di sebuah kursi panjang.


Iwabe masih berjalan pelan tak tentu arah membawa Bian bersama, sampai Nasti mendapatkan obatnya.

__ADS_1


Wanita itu lalu mencoba mengambil Bian. Di luar dugaan, bocah itu menangis. Ia memeluk erat Iwabe.


"Eh, Nasti. Bagaimana kalau kau saja yang menyetir? Kamu bisa 'kan?" Iwabe menyerahkan kuncinya.


Nasti menatap Pria itu dengan rasa bersalahnya. " Duh, maaf ya, Pak, jadi merepotkan."


"Tidak apa-apa. Ayo, kita kembali ke mess."


Nasti mengambil alih mobil. Ternyata ia sangat pandai menyetir. Bahkan ia mengerti bagaimana menggunakan mobil Iwabe yang bermesin otomatis itu.


Sesampainya di mess, Iwabe membawa Bian hingga ke depan kamarnya, tapi kembali lagi ia menangis ketika dipisahkan dengan Iwabe.


Nasti kelimpungan. "Ayo, Nak. Kamu kan belum sarapan."


Bocah itu tetap menangis ketika Nasti memaksanya.


"Eh, bagaimana kalau kau suapi saja saat aku menggendongnya?" pinta Iwabe.


"Tapi aku belum beli makanannya."


"Ya sudah, beli dulu."


Dengan merengut, Nasti membuka pintu kamarnya. Ia makin tak enak hati karena Iwabe terus-terusan membantunya. "Bapak tunggu di kamar saja ya?" Ia kemudian pergi.


Tak lama saat ia kembali, Iwabe tengah duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan masih memangku Bian.


"Maaf ya, Pak merepotkan. Atau berikan saja ia padaku." Nasti kembali mencoba mengambilnya tapi ternyata sia-sia.


Bian kembali menangis. Entah kenapa bocah itu nyaman dipelukan pria itu.


"Sudah, Nasti. Sini biar aku suapi Bian. Kamu makan saja sarapanmu."


Nasti kembali merengut. "Aku lupa tidak membelikan Bapak bubur," katanya malu.


"Tidak apa-apa. Aku sudah sarapan."


Nasti kemudian membukakan bungkusan berisi bubur untuk Bian dan menyerahkannya pada Iwabe. Pria itu menyuapi bocah itu makan. Terbukti Bian bersikap manja pada Iwabe. Sambil makan ia terus memeluk seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.


Ini membingungkan Nasti sebab bocah itu biasanya manja seperti itu pada ayahnya. Belum pernah bocah itu dekat dengan orang lain seperti pada Iwabe. Bahkan pada mantan suaminya saja, Bian masih takut-takut.


Seusai makan pun sama. Bian sulit diberi obat tapi ketika dibantu Iwabe, ia mau. Namun kemudian Nasti harus sedikit memaksanya karena pria itu harus ke kantor.


Bocah itu menangis dan terus memanggil pria itu. "Om ...." Kedua tangannya mengarah pada Iwabe.


Ini membuat Iwabe bingung. Ia tak tega. "Ya udah, sini. Biar Bian tidur denganku saja." Iwabe mengambilnya kembali.

__ADS_1


"Apa?" Nasti melongo.


Iwabe membawa Bian ke kamarnya.


__ADS_2