
"Oh ini? Ini Om terbentur sudut meja," kilah pria itu.
"Masa?" Kini Nasti yang bicara.
"Mmh." Pria itu menatap ke arah lain. "Eh, tolong pangku Bian, aku mau menyetir."
Nasti memangku Bian dan mobil dijalankan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nasti khawatir.
"Apanya?"
"Itu mulutmu."
"Oh, tidak apa-apa," sahut pria itu dengan sedikit kaku.
"Seperti habis berkelahi."
Komentar Nasti membuat Iwabe sedikit panik. Ia tak mau Nasti tahu ia telah berkelahi dengan mantan suami wanita itu karena ia takut masalahnya akan semakin rumit. Ia tak ingin Nasti merasa bersalah lalu meninggalkannya. "Eh, hanya kelihatannya saja."
Nasti melirik Iwabe sekilas. Perasaannya mengatakan bahwa pria itu telah berbohong hanya saja ia tidak punya alasan untuk menanyakannya jadi ia memilih diam.
Dan diam yang dipilihnya membuat suasana di dalam mobil jadi sepi hingga mereka sampai di mess. "Mau makan malam di sini?" tanyanya saat turun membawa Bian.
"Eh, tidak enak dengan yang lain."
Nasti membungkuk menatap wajah Iwabe. Pria itu bukan tidak pernah menolak tapi biasanya dia yang menawarkan. Ada apa ini? Apa karena luka disudut bibirnya itu? "Eh, apa kita makan malam di luar saja?"
"Kau mengajakku?" tanya pria itu terkejut.
"Kalau mau ditraktir juga gak papa."
Iwabe hampir tertawa. "Bukan begitu. Wajahku terlihat aneh dengan luka di mulut ini. Aku jadi harus berhati-hati kalau makan."
"Sudah diobati 'kan?"
"Oh, sudah."
"Terus kenapa? Gak kelihatan ganteng?" ledek Nasti yang membuat Iwabe tertawa. "Ngak mau?" bujuknya.
"Mau." Pria itu terlihat senang.
"Ya sudah, tunggu Magrib aja di sini, setelah itu kita pergi."
"Ok." Akhirnya pria itu turun dengan wajah semringah.
----------+++-----------
Namun hari-hari ke depan dijalani pria itu dengan penuh rintangan setelah ia mengumumkan pacaran dengan Nasti pada orang-orang di sekitarnya. Dunianya mulai berubah. Apalagi setelah sebuah rahasia terbongkar tanpa sengaja.
__ADS_1
"Abe, tolong kamu pergi ke perusahaan ini dan cek produknya. Ayah ingin lihat kualitas produk dan harganya. Kalau dia lebih baik, kita pakai plastik dari perusahaan ini saja."
Iwabe melihat selembar kartu nama yang diletakkan ayahnya di atas meja. Ia meraihnya. "Tapi ayah, kita sudah pakai yang sekarang ini cukup lama, kenapa tiba-tiba ayah ingin menggantinya? Dia tidak menaikkan harga lho, Yah, sekian lama di mana seharusnya dia sudah melakukan penyesuaian harga."
"Mmh, kita harus melakukan perubahan, Be, agar perusahaan bisa maju."
"Tapi pasti kita sudah pakai yang terbaik, karena sejauh ini kita belum pernah diprotes pelanggan soal kemasan."
"Cari tahu saja, Be, barangkali ada inovasi baru yang bisa melahirkan produk baru."
Pria itu menghela napas pelan. "Iya."
Di kantor, orang-orang sedang menggosipkan Sarah yang ketahuan meracuni Presdir dengan obat pencahar. Wanita itu sempat bermalam di penjara sebelum akhirnya dibebaskan karena Presdir menarik tuntutannya. Hari ini, Sarah dikeluarkan dari perusahaan.
"Bagus deh. Si nenek sihir itu dikeluarkan dari perusahaan," celetuk Lia.
"Ih, sadis banget komentarnya." Ulfa tertawa.
"Ya, gak papalah. Berani-beraninya dia malah menunjuk Nasti Sayangku, jadi penjahat." Lia memeluk Nasti di sampingnya membuat wanita itu tergelak.
"Eh, nanti dimarahi Pak Iwabe lho, berani-beraninya mengakui pacarnya," ledek Ulfa.
Ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa. Terdengar suara dering telepon, dan itu dari HP Nasti. "Halo."
"Halo, Sayang," jawab Iwabe di ujung sana.
"Jangan begitu ah!" Namun tak ayal pipi wanita itu bersemu merah.
Wanita itu kemudian membalikkan tubuhnya agar mereka tidak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan dengan Iwabe. "Apa sih, pagi-pagi sudah menelepon?" bisiknya di telepon.
"Enggak, aku sedang keluar. Tempatnya agak jauh jadi aku gak tau apa kita bisa makan siang bersama atau tidak."
"Oh, ngak papa. Kalau ngak bisa juga gak papa."
"Nasti, dipanggil Presdir!" teriak Yoga yang baru masuk ke ruangan, dari jauh.
Wanita itu menoleh. "Oh, iya, iya." Kembali ia menelepon. "Eh, udah ya? Nanti telepon aja kalau gak bisa. Bye!" Ia menutup teleponnya.
Iwabe menutup teleponnya, tapi pikirannya menggantung. Ia mendengar saat Yoga memanggil Nasti dengan jelas. Ada apa Ayah memanggil, Nasti? Jangan-jangan ....
Pria itu menepikan mobilnya.
-----------+++-----------
"Aku hanya membicarakan peraturan di sini, bahwa kalian tidak bisa pacaran. Coba pikirkan lebih bijak kalau mau terus bekerja di sini."
Nasti yang duduk di hadapan Presdir hanya tertunduk diam. Tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya, mengiyakan atau menolak sebab ia sedang mengurai benang kusut yang sedang meliputi dirinya, dimana kehadirannya dipersulit saat meraih bahagia.
Bukankah ia sudah mewanti-wanti dirinya sebelum ini bahwa hal ini suatu saat akan terjadi tapi kenapa ia tetap rapuh ketika hal ini benar-benar terjadi?
__ADS_1
Ia mengangkat wajahnya. Baru saja ia ingin menjawab ucapan Presdir, pintu ruangan itu terbuka.
Iwabe masuk tanpa di sangka-sangka. "Nasti, stop bicara padanya!" Pria itu melangkah mendekati mereka berdua yang tengah terperangah akan kedatangannya.
"Tapi ...."
Iwabe mengangkat telunjuknya di depan wajah Nasti. "Aku tak mau kau dipersalahkan!" Pria itu menatap ayahnya. "Ayah, kenapa kali ini kau curang. Kau curang Ayah!" dengan tegas pria itu bicara.
"Iwabe ...." Nasti berusaha untuk menjelaskan.
"Diam," potong pria itu kembali mengangkat jarinya dengan suara coba dipelankan. Ia beralih pada ayahnya. "Ayah, aku tak mengenalmu. Kenapa kau berubah?"
"Abe ...."
"Peraturan yang sebenarnya, suami istri tidak boleh bekerja dalam satu perusahaan itu benar tapi tak ada perusahaan yang melarang pegawainya pacaran. Itu aturan dari mana, Ayah?" Iwabe terlihat kecewa.
"Abe ...." Pria paruh baya itu tak tahu bagaimana meneruskan kalimatnya.
"Ayah dipengaruhi ibu 'kan? Ayah, kalau Ayah tetap bersikukuh dengan peraturan yang Ayah buat sendiri itu, aku yang akan keluar, dari perusahaan ini," ancam Iwabe.
"Abe ...."
"Pak!" Nasti berdiri dari duduknya.
"Jadi peraturan akan tetap ditegakkan 'kan?" Iwabe kini bertanya.
Nasti melirik Iwabe dan ayahnya. Melihat keadaan makin memanas, ia berinisiatif memisahkan. "Pak, sebaiknya kita keluar saja." Ia menarik pria itu keluar dan mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali meminta maaf pada Presdir. " Maaf Pak, maaf."
Iwabe terpaksa mengikuti Nasti sebab ia juga menyadari ia belum pernah semarah itu pada orang tuanya. Baru kali itu ia berkata kasar pada ayah.
Nasti membawa pria itu ke kantin dan duduk di sana. Ia menunggu amarah pria itu reda.
Pria itu hanya tertunduk dan tak mau melihat wajah wanita itu. Ia malu karena sempat berkata kasar pada wanita itu juga.
Hari ini, ia tak begitu bangga dengan dirinya sendiri, karena keadaan telah membuat ia lepas kendali. Ia tak tahu bagaimana membalik keadaan menjadi seperti sebelumnya.
Lama terdiam, Nasti mulai bicara. "Aku sudah katakan padamu ini sulit," ucapnya hati-hati.
Iwabe mengangkat pandangannya pelan pada wanita itu. "Nasti jangan bilang begitu. Seakan kau ingin minta putus dariku."
"Tapi melihatmu durhaka pada orang tua ...."
Pria itu mengangkat tangannya untuk menyetop wanita itu lanjut bicara. "Jangan lanjutkan kalau bicaramu hanya untuk minta berpisah. Aku ... aku akan bicara dengan orang tuaku, minta maaf pada mereka dan meminta restu mereka. Aku ... akan bicara baik-baik pada mereka."
Iwabe menghela napas yang mulai sesak. "Aku ... aku minta maaf telah kasar padamu tadi. Aku terbawa emosi."
____________________________________________
Yuk, ngintip novel temen author yang satu ini.
__ADS_1