
"Nasti!" Nasti yang baru keluar dari kantor bertemu Iwabe dan Refan di perparkiran.
Nasti sedang bersama Lia. "Iwabe."
"Kamu mau pergi ke klien ya?" Iwabe menghampiri.
"Iya."
"Ini kenalkan, Kak Refan." Iwabe memperkenalkan Refan pada Nasti.
Mereka bersalaman.
"Dan ini Lia." Iwabe memperkenalkan Lia pada Refan. Keduanya bersalaman.
"Dan keduanya adalah Marketing Manager," terang Iwabe pada Refan.
"Oh."
"Ini GM Marketing kalian yang baru ya?" terang Iwabe pada Lia dan Nasti. "Tolong dibantu ya?"
"Iya, Pak," jawab Lia.
"Oiya, Nasti ini pacarku, Kak. Tolong dijaga ya?" kata Iwabe lagi pada Refan yang membuat pria itu kebingungan.
"Iwabe!" Nasti cemberut sedang Lia menahan tawa.
Pacarnya lebih tua ya? Mungkin seumur denganku, batin Refan.
Iwabe hanya tertawa lepas. "Ya sudah. Kalau mau berangkat, berangkat saja."
"Berangkat dulu, Pak," seru Lia menganggukkan kepala.
Iwabe menarik Refan masuk ke dalam gedung kantor.
"Wah, boleh juga. Atasan kita sekarang cowok ya? Asyik! Mudah-mudahan gak kayak Mbak Sarah lagi, curang," celoteh Lia.
"Semoga."
"Kok Pak Iwabe panggil Pak Refan 'Kak' ya?"
"Itu kakaknya."
"Kakaknya?"
"Kakak tiri."
"Oh."
-------------+++----------
"Ini ruanganmu ya, Kak."
Refan memperhatikan ruangan itu secara seksama.
"Mmh, sudah ya? Aku mau balik kerja." Iwabe pamit.
"Eh, tunggu."
"Apa, Kak?"
"Boleh aku tahu nomor teleponmu?"
Iwabe memberikan nomor teleponnya. Setelah itu ia mendatangi ruang kerja ayahnya. "Ayah, aku sudah memberi tahu sedikit tentang perusahaan kita pada Refan, dan sekarang dia ada di ruangannya."
"Mmh." Sastra Dirga menatap Iwabe dengan pandangan sayu. "Maaf, Ayah terbawa emosi tadi."
"Tidak apa-apa, Yah. Aku juga pernah begitu pada Ayah. Maafkan aku, Yah."
Dengan hati-hati Iwabe mulai bicara. "Mmh, tapi Ayah bisa restui kami tidak, Yah. Aku sangat mencintai Nasti, Yah. "
"Abe."
"Aku tak mau melepaskannya. Apa salahnya? Karena dia janda? Ibu juga janda waktu nikah dengan Ayah."
__ADS_1
"Abe."
"Ayah sekali-sekali punya pendirian dong, Yah. Jangan selalu dengar kata Ibu."
Sastra Dirga menghela napas kasar.
"Apa karena Nasti bukan orang kaya? Ibu mendekati Ayah saat Ayah bangkrut, lalu di mana letak bedanya? Apakah kaya dan miskin adalah sebuah ukuran? Apakah itu penting dalam sebuah kehidupan? Kaya dan miskin itu terjadi karena ridho Allah, Yah, bukan jeri payah manusia, tapi kenapa kita seolah bangga hingga menganggap diri sendiri lebih baik daripada orang lain?"
Iwabe menatap kedua bola mata ayahnya dengan sungguh-sungguh. "Aku rasa ... kalian berdua 'kan tidak pernah mengajariku jadi manusia seperti itu."
Ayah terdiam.
"Ayah ... maafkan aku bila aku terdengar egois, tapi aku sangat mencintainya, Yah. Tolong restui kami."
"Aku tidak bisa menyalahkan Ibu karena Ibu sangat menyayangimu. Ibu mau yang terbaik untukmu, Be."
"Nasti yang terbaik buatku, Yah."
"Tapi Ibu tidak sependapat dengan itu."
Keduanya tertunduk lemas.
"Ayah. Aku belum bisa kembali bekerja di sini karena atasanku minta aku mencarikan penggantiku sebelum aku berhenti, jadi untuk sementara waktu, aku hanya bisa memeriksa perusahaan di pagi hari, sebentar saja, setelah itu aku melanjutkan kerja di sana."
"Ya sudah. Nanti aku akan beri tahu Ibu."
"Dan tolong, beri Ibu pencerahan." Iwabe menyatukan tangannya di depan dada.
"Abe." Ayah menatap sejenak dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu bikin ayah pusing."
----------+++--------
Iwabe masuk ke kamar. Ia segera menelepon Nasti seraya naik ke atas tempat tidur dengan berbaring tengkurap.
"Halo."
"Halo, Sayang dong. Masa cuma halo aja?" protes pria itu.
"Eh, kenapa? Aku kan pacarmu."
"Gak usah pacaran lah. Kalau serius, langsung lamar saja."
"Serius?" Wajah Iwabe begitu senangnya. "Kamu mau aku lamar?"
"Ya, tapi 'kan kita menunggu persetujuan orang tuamu."
"Tadi aku sudah mengajak bicara Ayah, dan sepertinya Ayah setuju."
"Jangan sepertinya ...."
"Ya, pasti deh! Tinggal Ibu."
"Ya sudah."
"Nasti." Pria itu memutar tubuhnya dan berbaring terlentang. "Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu."
"Mmh."
"Kamu juga pasti sama 'kan?"
"Ih, apa sih?" Pipi wanita itu kemerahan.
"Pasti wajahmu malu."
".... "
"Malu-malu mau." Iwabe tergelak.
"Iwabe ...." Pipi Nasti semakin memerah di ujung sana.
"Mudah-mudahan cepat ya?"
"Amin."
__ADS_1
"Cepat serumah denganmu."
"Amin."
"Cepat sekamar."
"Iwabe."
"Biar bisa mandi sama-sama."
"Astaga, Iwabe."
"Biar ...."
"Stop, Iwabe. Stop, ya!"
Iwabe menahan tawa.
"Hal-hal seperti itu dipikirkan nanti saja ya?"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Karena kalau tidak terjadi bagaimana? Bagaimana kalau Ibu tetap tidak merestui?"
"Kamu jangan pikir yang buruk-buruk dong, Nas. Omonganmu sering kejadian." Pria itu merengut.
"Lho, bukan begitu. Hanya kita tidak boleh mendahului Tuhan. Pastikan dulu, baru buat rencana baru."
"Ck! Kamu rumit!"
"Iwabe ...."
"Iya, iya." Iwabe masih merengut. "Sekali-sekali bilang sayang dong, padaku."
Nasti menerbitkan senyuman di bibirnya. "Iya, Sayang," ucapnya lembut.
Iwabe mulai tersenyum. "Selamat tidur, Sayang."
"Selamat tidur juga, Sayang."
Iwabe menutup teleponnya dengan hati berbunga-bunga.
-----------+++-----------
Makan malam yang tidak nyaman, pasalnya ibu berkeras tidak mau merestui Iwabe dan Nasti.
Iwabe langsung kehilangan selera makannya dan hanya mengaduk-aduk makanan di piring tanpa berniat untuk memakannya. Ia lalu beranjak berdiri. "Maaf, Bu. Aku mau keluar sebentar."
"Abe."
Namun pria itu tetap pergi tanpa mempedulikan panggilan ibu. Ibu juga kehilangan selera makannya seketika. Ayah tidak mau berkomentar bila keduanya sedang berkonfrontasi seperti itu karena lebih aman tetap menjaga netralitas menghindari salah satunya merasa dianaktirikan olehnya.
Sangat sulit berada di antara keduanya saat bertengkar karena saat ia membela istrinya, Iwabe selalu menganggap dirinya terlalu mudah dipengaruhi istrinya, tapi bila ia membela Iwabe, istrinya menganggap dirinya terlalu mencampuri masalahnya dengan anaknya hingga ia sulit untuk berdiri dikaki sendiri karena dicurigai oleh keduanya.
Iwabe ternyata hanya berjalan kaki keluar rumah mencari udara segar. Ia tak tahu, harus bagaimana lagi bicara pada ibunya. Ibu adalah termasuk wanita keras kepala yang tak pernah ia bisa taklukkan selama ini hingga ia selalu bersabar.
Namun mengenai Nasti, ia tak mau mengalah. Ini hidupnya. Ia ingin ibunya mengerti. Bahkan minta tolong pada ayah pun tak menolong. Ia sudah kehabisan akal, bagaimana lagi cara agar ibu mengerti tentang pilihannya.
Tanpa sadar, ia berbelok ke tempat sepi dan sedikit gelap. Seseorang tengah membuntutinya hingga sampai ke sebuah pohon besar di pinggir jalan. Orang itu mendekati Iwabe dengan menggerakkan sesuatu ke pinggangnya. "Hei, jangan menoleh," bisiknya dengan nada kasar.
"Eh?"
"Serahkan dompetmu sekarang juga!"
"Tapi aku tidak bawa apa-apa."
"Jangan bohong! Cepat serahkan!" Pria itu menekan pinggang Iwabe dengan sebuah benda tajam. "Atau mau, kurobek-robek perutmu, hah?"
Iwabe melihat sebilah pisau ditekan ke pinggangnya. "Kalau mau, kita kembali saja ke rumahku dan ...."
"Memangnya aku bodoh!" Pria itu mengangkat pisau itu ke atas hendak menghujamkan pisau itu pada punggung Iwabe, tapi sebuah tongkat berhasil membuat pisau terbang ke udara dan dengan keahlian orang itu, dengan tongkat itu ia membalikkan menuju ke si pemilik tongkat yang segera menangkap pisau itu dengan sekali tangkap.
Keduanya heran dengan siapa pisau itu kini dipegang.
__ADS_1