Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Waktu Bergulir


__ADS_3

"Lho, apa kamu tidak ingin merubahnya? Kamu 'kan laki-laki, kamu harus tunjukkan pada orang tuamu bahwa kamu punya pendirian." Pria itu menasehati.


"Sudah! Kau tak tahu saja ibuku bagaimana," gerutu Iwabe.


Kobayashi menghela napas pelan. Ia tahu. Ia sangat tahu siapa Maiko karena itu mereka berpisah. Keduanya punya pemikiran berbeda dan sangat keras kepala dengan pemikiran mereka masing-masing hingga saat masalah itu datang, Maiko menuntut cerai.


Wanita itu membawa Iwabe ke Jakarta dan membeli sebuah perusahaan milik salah satu rekan bisnisnya yang mulai bangkrut. Ada sedikit rasa sesal Kobayashi pernah mengenalkan Sastra Dirga pada Maiko. Apalagi kemudian, Maiko membuat perjanjian yang berat sebelah. Ia tidak boleh lagi menemui anak mereka, Iwabe.


Namun kemudian, takdir berkata lain. Walaupun sudah sekuat tenaga ia memegang janji bahkan hingga tak berani datang ke Jakarta, takdir mempertemukan mereka.


Ia datang ke Jakarta untuk mengurus bisnisnya yang terbengkalai dan sempat meminta salah satu bodyguard terbaiknya untuk memata-matai Iwabe, hanya ingin sekedar tahu kabar terakhir anaknya tapi berujung mengetahui bahwa anak itu tanpa pengawalan sama sekali, bahkan bertengkar dengan Maiko hingga bekerja di luar perusahaan milik mantan istrinya itu.


Masuknya Iwabe dalam daftar calon pegawai yang dia butuhkan, benar-benar murni kebetulan belaka, dan ketika bertemu dengan Iwabe ia mulai egois. Apalagi, ada hal lain yang sangat mendesak yang membuat ia makin egois.


Mengetahui Iwabe tak sejalan dengan Maiko, makin membuatnya membulatkan tekad ingin membawa anaknya kembali ke Jepang, tapi bagaimana caranya? Haruskah ia menculiknya?


-----------+++-----------


Mendekati jam makan siang, Maiko mendatangi lantai 2 ingin mengajak makan siang Faza sekaligus ingin mengetahui apa anak itu bisa beradaptasi di perusahaan itu tapi yang ia dapati adalah pemandangan yang membuat ia geram.


Ternyata Iwabe sudah ada di lantai 2 tapi sedang mengobrol dengan Nasti. Dengan cepat ia mendatangi keduanya. "Abe, kenapa kau di sini?"


Keduanya terkejut mengetahui Maiko datang. Nasti berdiri dan sedikit menundukkan kepala ketika wanita paruh baya itu menyambangi mereka.


"Mau makan siang, Bu," jawab Iwabe singkat.


"Faza 'kan ada di ruang Refan?"


"Faza? Aku ke sini cari Nasti, Bu, bukan cari Faza."


Di saat bersamaan pintu ruang GM Maketing terbuka dan ada Refan dan Faza yang keluar bersamaan. Keduanya mendengar perkataan Maiko barusan.


"Oh, Faza. Kau mau keluar makan siang? Kau mau makan siang dengan ibu dan Abe?" tanya Maiko pada Faza.


"Maaf, Bu, aku ada janji dengan Nasti. Lain kali saja ya, Bu?" tanpa bertanya, Iwabe langsung menggandeng tangan Nasti keluar ke arah lift. Ia tak mau melihat ibunya mengamuk.


"Eh, saya juga ada kerjaan, Bu, sama Refan," ucap Faza yang membuat Refan terkejut.


"Eh, apa?"


Faza menarik pria itu kembali ke dalam ruangan dan lalu menutup pintu. Ketika pria itu ingin bertanya, Faza meletakkan jari telunjuknya di depan cadarnya. Refan segera mengerti dan menunggu.

__ADS_1


Maiko tentu saja kesal. Ia ditinggal sendirian sementara beberapa pegawai yang menguping segera pura-pura menyibukkan diri.


Untung lift segera terbuka sehingga Iwabe bisa membawa Nasti masuk ke dalam lift dan turun.


"Iwabe, kamu gak boleh begitu sama ibumu. Aku 'kan jadi gak enak sama beliau. Nanti dikira aku yang mengajarimu jadi seperti itu."


"Nasti, jangan menyalahkan dirimu. Kita 'kan memang janjian, aku gak salah."


"Iya, tapi bukan begitu caranya."


"Harus begitu caranya, Nasti! Kau tak tahu ibuku. Kalau tadi kita terus berada di sana, entah apa yang akan dikerjakannya. Aku tidak mau ada seseorang yang akan terluka. Apa lagi kamu." Pria itu mendekati wanitanya.


Nasti mendorong pria itu menjauh. "Iwabe, jangan dekat-dekat nanti khilaf."


Pria itu tersenyum nakal dan berdiri di sampingnya. "Ibu tidak tahu saja, kalau aku bisa khilaf."


"Jangan coba-coba deh, Iwabe." Nasti memperlihatkan wajah kesalnya dan pria itu tergelak.


---------+++----------


Refan menatap Faza yang sibuk dengan brosur membuat wanita itu mau tak mau meliriknya. "Kenapa?"


"Aku gak tau dengan kamu tapi aku lapar," protes Refan.


"Sampai kapan kita harus sembunyi di sini?"


"Kau tidak mau membantuku?"


"'Kan tidak harus bersembunyi sekian lama. Tadi 'kan bilangnya ada kerjaan, tapi bukan berarti gak makan-makan. Saatnya makan yang kita makan."


"Ya sudah."


"Kamu tidak mau makan?" Refan balik bertanya.


"Kamu gak lapar?"


"Iya, lapar sih."


"Apa kamu gak mau keluar?"


"Aku malas ketemu ibu Maiko."

__ADS_1


"Ya sudah pesan makanan saja, gimana? Aku traktir deh!" ujar pria itu penuh senyum seraya mengeluarkan HP-nya.


Faza mengangguk. "Iya, boleh."


--------------+++-----------


Pintu diketuk.


"Masuk," sahut Sastra Dirga.


Iwabe masuk dengan malasnya. Ayah tahu apa yang terjadi karena istrinya menceritakan kejadian itu tadi.


Iwabe mendatangi meja ibu. "Ibu, maaf." Dengan suara pelan ia menunduk. Ia sebenarnya tak ingin datang kalau tidak dipaksa Nasti, tapi ia lebih takut Nasti meninggalkannya kalau tidak mendengarkan nasehatnya. "Ibu, sudah ... aku hanya ingin dengan Nasti saja," pintanya dengan suara ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar kasar.


"Kamu tidak tahu betapa sulitnya sebuah pernikahan. Banyak yang harus dipikirkan."


"Ibu 'kan waktu menikah dengan Ayah, juga ...." Iwabe melirik ibunya yang masih cemberut dan tak berani meneruskan.


"Silsilah keluarganya juga penting, Abe."


"Dia 'kan pernah menikah dengan bule kaya, Bu."


"Bule itu pemikirannya bebas, Abe."


"Ibu." Tenggorokan pria itu rasa tercekat karena menahan kuat agar tak emosi. "Jangan bicara begitu tentang Nasti, Bu, dia tidak seperti itu. Jujur awalnya aku mengenal Nasti sempat berpikir seperti itu, tapi setelah mengenalnya ternyata pikiranku salah. Aku rasa ibu sama denganku, ibu akan berpikir berbeda setelah mengenalnya."


"Aku seorang ibu, Abe. Kau tak cocok dengannya."


"Apa sih sebenarnya masalah ibu yang membuat Nasti, menurut ibu tidak cocok denganku?"


"Apa kau mau setiap saat mantan suaminya mendatangimu? Bagaimana kalau kalian bertengkar dan mantan suaminya membujuknya kembali? Bagaimana kalau Nasti mau, mereka 'kan ada anak sedangkan kau tidak ada. Ia bisa setiap saat meninggalkanmu, Abe."


Iwabe terdiam sejenak. "Apa Ayah kandungku begitu? Pernah membujuk ibu kembali?"


Sastra yang mendengarkan ikut penasaran.


"Abe, ini masalah lain!" Ibu emosi mendengarnya.


"Apa bedanya? Posisi ibu sekarang ini sama dengan Nasti, Bu. Apa bedanya? Kalau mau jujur, ibu sekarang sedang egois!" Ternyata Iwabe pun tak bisa menahan emosi yang kemudian ia sesali.


Sastra Dirga ingin memisahkan mereka berdua tapi ia tahu Iwabe pasti tahu kapan harus berhenti.

__ADS_1


"Sudahlah, kita bicarakan ini lain kali saja." Pria Jepang itu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Sastra Dirga tak berani bicara. Keduanya memang sama-sama keras hingga ia lebih baik terus berada di tengah-tengah.


__ADS_2