
"Oh, kau!" Iwabe mengenali pria itu. Pria itu adalah anak buah Kobayashi yang pernah menolongnya dulu menghadapi Gerald dan anak buahnya.
Perampok itu hendak kabur tapi pria bertongkat itu tidak membiarkannya lolos begitu saja. Ia menyerang perampok itu dengan tongkat dan pisau milik perampok itu sendiri.
Cepatnya gerakan tangan pria bertongkat itu membuat perampok itu kewalahan. Dengan beberapa kali serangan, tubuh perampok itu dipenuhi dengan tanda merah dan luka-luka sayatan di sekujur tubuhnya. Bajunya pun robek-robek di banyak tempat.
"Sudah, sudah!" Biar bagaimanapun, Iwabe tak tega melihat perampok itu mulai mengeluarkan darah dari luka-luka bekas sayatannya.
Perampok itu ketakutan dan juga lemas, tapi ia berusaha berdiri tegak di mana ia sudah tak mampu.
Pria bertongkat itu berhenti, tapi sebagai gantinya, ia menarik Iwabe keluar dari tempat itu. "Sir, you must go back home.( Tuan, anda harus kembali ke rumah)."
"What? You can speak english?(Apa? Kau bisa bahasa Inggris?)"
"Sir." Pria itu mengingatkan.
"Tell me why you're here?(Katakan padaku kenapa kamu ada di sini?)" tanya Iwabe penasaran.
Pria bertongkat itu tak menjawab dan masih menariknya.
"Did you spy on me?(apa kamu memata-mataiku?)"
Pria itu terus saja menarik lengan Iwabe tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat Iwabe bingung berbicara dengan pria itu.
"Ok, ok, I'll get it.(Iya, iya, aku mengerti)" Iwabe menarik tangannya kembali tapi pria itu tak mau melepaskan. Iwabe terus saja dibawa melangkah ke arah rumahnya seakan pria itu ingin memastikan Iwabe benar-benar pulang ke rumah.
"Hei, please!(hei, tolong!)" Iwabe benar-benar tak suka ditarik seperti itu tapi pegangan pria itu benar-benar kuat. "I can walked by myself,(aku bisa jalan sendiri)" Ia berusaha meronta, tapi sulit.
"Did Mr. Kobayashi ask you to do this?(apa tuan Kobayashi yang menyuruhmu melakukan ini?)" tanya Iwabe lagi.
Mereka sudah berada di depan rumah Iwabe dan saat itu pula pegangannya dilepaskan. Pria itu membungkukkan badan pada Iwabe, lalu pergi.
Iwabe kesal tapi ia bersyukur pria itu sekali lagi telah menyelamatkan nyawanya dari orang jahat di jalanan tapi kenapa setiap ada orang yang ingin mencelakainya di jalan, pria itu selalu muncul?
Dilihatnya lagi pria itu yang dijemput sebuah mobil berwarna hitam. Pria itu melipat tongkatnya secepat kilat dan masuk ke dalam mobil itu.
Apakah pria itu suruhan Pak Kobayashi, tapi ia sudah bertemu dengan pria itu sebelum mengenal Pak Kobayashi. Apa ini hanya kebetulan?
--------------+++------------
Banyak mata tertuju pada pria Jepang itu di ruang serba guna itu, tapi yang jadi perhatian malah tak peduli. Pria itu sibuk bercanda dengan Bian, bocah bule yang tengah bersandar di pangkuannya.
"Om, tadi naik apa?"
"Mobil. Mau naik mobil Om lagi?"
Bian mengangguk. "Mau."
__ADS_1
"Kamu udah mandi belum?"
Bian menggeleng. "Belum."
"Ya udah, nanti habis sarapan kamu mandi ya? Om tunggu."
"Iya." Bocah itu menghentakkan kakinya karena senang, dan masih bergelayut di pangkuan pria itu.
Nasti datang dengan membawa baki berisi tumpukan piring, sendok dan semangkuk besar nasi goreng.
"Wah, ada nasi goreng. Ayo Bian, kita sarapan."
Nasti mengambilkan nasi goreng ke piring pertamanya dan menyerahkan pada Iwabe. Piring kedua, piring plastik milik Bian dan kemudian piring Nasti. Setelah itu mereka makan bersama.
Iwabe tersenyum melihat Bian yang mulai pintar makan sendiri. Walau masih sering tumpah, bocah itu jadi bisa duduk tertib dan makan dengan santun. "Ternyata bisa duduk tertib juga kamu ya?"
"Iwabe, apa ibumu tidak marah?"
"Marah? Marah kenapa?" Iwabe terlihat tidak peduli.
Nasti menghela napas. "Kamu tidak sarapan dan berangkat, lalu sarapan di sini."
"Dia sudah mengerti."
Rupanya, ini bukan kali pertama Iwabe ngambek dan tidak mau sarapan bersama orang tuanya. Sehingga, ketiadaan dirinya pagi itu di rumah, bukan lagi barang baru di sana.
"Iwabe."
"Iwabe."
"Jangan membuatku merasa bersalah. Kita bicara yang lain saja, ok?" Tiba-tiba pria itu ingat sesuatu. Wajahnya yang murung berubah penasaran ketika membicarakan hal ini. "Kemarin waktu aku keluar malam-malam ada yang mau merampokku tapi ada yang menolong saat itu. Tebak siapa?"
"Apa?" Nasti menggeleng.
"Pria bertongkat. Dia 'kan pernah menolongku waktu ...." Iwabe sadar, ia tak boleh menceritakan tentang Gerald yang pernah menyerangnya dan ia lupa.
"Ya?" Nasti penasaran.
"Aku dulu pernah dirampok juga. Ingat 'kan waktu bibirku luka?" Iwabe berbohong.
"Astaga, jadi itu benar habis berkelahi waktu itu?" Nasti menutup mulutnya karena syok.
"Eh, iya." Pria itu terpaksa menceritakan dengan sedikit kebohongan. "Eh, dan waktu itu ada seorang pria Jepang bertongkat yang datang menolongku. Nah, ini dia datang lagi kemarin menolongku. Menurutmu, apa dia mengikutiku?"
Nasti terdiam sejenak. "Aku tidak tahu."
"Soalnya dia anak buah Pak Kobayashi lho! Aku pernah lihat dia berbicara dengannya."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tapi kejadian dulu itu waktu sebelum mengenal Pak Kobayashi. Menurutmu, bagaimana?"
"Tanyakan saja dengan Pak Kobayashi, tapi kalau mendengar ceritamu, mmh .... aku tak tahu," jawab wanita itu setelah berpikir lama.
Iwabe makin penasaran.
"Soalnya, kalau dibilang kebetulan ya ... kok aneh."
"Kenapa?"
"Aku hanya berpikir, mmh ... apa yang dilakukan pria itu di sana?"
"Aku juga tidak tahu. Aku sempat menanyakan hal ini padanya tapi ia tidak mau menjawabnya. Pernah aku tanya hal ini pada Pak Kobayashi, tapi dia bilang samurai memang tidak bicara, katanya." Iwabe kembali menyendokkan nasi gorengnya ke mulut.
"Samurai?" Nasti hampir tertawa hingga ia melihat wajah Iwabe yang serius. "Beneran ada?"
"Iya."
Nasti tak bicara selain menyuap nasinya.
-------------+++-------------
"Tugas dia memang ke mana-mana, memang kenapa?" Kobayashi balik bertanya.
"Iyah, tidak apa-apa, tapi kok bisa pas waktu ketemunya, gitu lho Pak." Iwabe sebenarnya agak segan bertanya langsung pada pria itu tapi terpaksa karena pria itu anak buah Kobayashi dan juga memuaskan rasa penasaran. "Eh, dia bisa bahasa Inggris ya?"
"Ya, betul." Kobayashi mengerut dahi.
"Siapa namanya, Pak?"
"Satoshi. Kenapa?"
"Eh, tidak apa-apa. Ingin tahu saja."
Menghindari pertanyaan lebih lanjut, Kobayashi mengalihkan perhatian dengan langsung pada tugasnya. "Ngomong-ngomong soal Inggris, kita ke London sekarang."
"Eh, iya, Pak." Iwabe segera mengecek di internet.
Kobayashi memperhatikan wajah Iwabe. Tentu saja dia untuk mengawasimu di luar sana, Iwabe. Aku terkejut mengetahui kau tidak punya bodyguard sama sekali. Uh, aku benar-benar kesal! Bisa-bisanya kamu tanpa perlindungan sama sekali di luar sana.
Dua kali sudah kejadian yang hampir mencelakai putraku dan dia tetap merasa aman-aman saja? Awas saja kalau aku benar-benar naik pitam, kau tidak bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan bila sampai itu terjadi, Maiko. Ingat itu!
"Ini, Pak."
"Oh, sudah." Kobayashi memperhatikan ke layar laptop.
__ADS_1
Iwabe melirik Kobayashi. "Bapak sudah minum obat?"
"Mmh, oh sudah."