
Namun kemudian pria paruh itu mengingat sesuatu. "Oh iya, kamu menginap di sini ya? Aku lupa." Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Iya, Pak." Iwabe bernapas lega.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Iwabe. "Tetap saja, kau lancang masuk ke dalam kamarku!!" teriaknya dengan pandangan menghujam.
Iwabe sampai mundur kembali mendengar pria paruh baya itu menghardiknya. "Eh, ini sudah sore, Pak. Bapak belum bangun-bangun. Jadi aku periksa, takut Bapak sakit," terangnya.
Kobayashi terdiam sejenak. Walaupun wajahnya masih terlihat galak, tapi dari matanya yang redup, 'es' itu sepertinya sudah mencair. Ia melirik jam di dinding.
"Sudah terlalu sore, Pak. Rasanya jam kerja saya sudah mau habis."
"Kata siapa kamu ke sini lagi untuk kerja?"
"Lho, jadi?"
"Kamu tidak dengar aku bicara waktu itu? Aku bilang kamu hari ini menemaniku." Pria itu kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Mmh?" Iwabe tetap tidak mengerti. Kalau aku menemaninya hari ini, berarti aku benar-benar pulang besok dong, bukan karena ada pekerjaan lemburan. Hah ... padahal tidak ada yang aku lakukan juga di sini. Namun Iwabe teringat sesuatu. Ia duduk di tepian tempat tidur. "Bapak kurang sehat ya? Aku periksa tadi, Bapak demam."
Pria itu menoleh. "Mengapa kenapa kalau aku demam? Aku memang sering begitu."
"Jadi aku ...."
"Kau masih belum mengerti juga?!" kata pria itu sedikit marah.
"... menemanimu."
"Nah, begitu."
Iwabe masih tanda tanya. "Apa yang akan kita lakukan?"
"Eh, mmh ... nanti saja. Aku mau istirahat dulu." Pria paruh baya itu menarik selimutnya.
Eh, ini bagaimana sih? Kok, aku ditinggal tidur? "Bapak sebenarnya sakit atau tidak sih?" Iwabe langsung mengecek suhu tubuh pria itu di leher dengan punggung tangannya. Tubuh pria itu memang benar hangat. "Bapak sakit ya? Ini masih demam. Biasanya sakit apa, Pak?"
Pria itu melirik Iwabe yang masih saja lancang menyentuh tubuhnya, padahal selama bekerja dengannya ia belum pernah menyentuh kulit Iwabe sekalipun.
Ia memang begitu pada para pekerjanya dan bila ada yang berani menyentuhnya, alamat akan dipecat.
Pria itu menatap Iwabe tajam.
"Oh, biar aku tebak. Darah tinggi. Coba kurangi daging-dagingan, Pak, dan minum jus. Sebentar lagi makan malam, biar aku pilihkan menu makanan sehat untuk nanti malam. Mmh, bagaimana dengan Salad Thailand? Itu cukup sehat dengan daging dada ayam tanpa lemak."
Kobayashi segera duduk karena Iwabe tidak bisa melihat matanya yang kesal dan sibuk dengan aturan yang dibuat pria muda itu. "Tahu tidak? Aku ini atasanmu!"
"Dan sekarang diluar jam kerja. Jadi aku bukan bawahanmu lagi. Bapak tidak bisa memerintahku."
Benar juga omongan anak ini. He!
__ADS_1
"Aku bukan berusaha membuat Bapak merasa tidak nyaman, bukan. Aku sedang mengkhawatirkan Bapak, apa Bapak tidak menjaga kesehatan?"
Kenapa anak ini mengganggu sisi personalku. Aku tidak suka ada orang yang tahu ... Ia menghela napas pelan. Sisi terlemahku.
"Sudah, Bapak 'kan katanya minta ditemani, tapi aku tidak bisa membiarkan Bapak sakit selama berada bersama saya. Saya seperti itu, Pak, orangnya."
"Lalu apa maumu, sekarang?" Masih dengan pandangan sinis tapi sudah tidak segarang tadi.
"Biarkan aku merawatmu."
Kalimat itu menyentuh hati Kobayashi. Ada sesuatu yang runtuh seketika saat mendengarnya. Jauh, di dalam dada.
Iwabe segera mendorong tubuh pria paruh baya itu ke belakang. "Sekarang Bapak istirahat dulu kalau masih belum sehat. Bapak sudah minum obat 'kan?"
"Sudah, tadi siang," jawab pria itu tanpa perlawanan. Ia menurut saja pada Iwabe seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
Iwabe merapikan selimut Kobayashi. "Nanti aku datang lagi, pas jam makan malam," janjinya. Ia pun keluar.
Setelah sholat Maghrib, Iwabe mendatangi kamar Kobayashi. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. "Pak, makan malam sudah tersedia."
"Iya." Kobayashi segera turun dari tempat tidur.
Iwabe menunggu di meja makan. Tak lama pria paruh baya itu keluar dari kamar dan mendatangi meja makan. Keduanya kemudian makan bersama.
Kobayashi tak bisa makan banyak. Ia lebih sering mengaduk makanan dibanding memakannya dan Iwabe memperhatikannya.
"Apa gak enak, Pak? Mau makan yang lain?"
Iwabe makin khawatir melihat pria paruh baya itu makan sedikit. Biasanya ia selalu menghabiskan makannya tapi kali ini setengah piring saja, kurang. "Pak, apa tidak sebaiknya ke dokter?"
"Tidak usah. Aku segera tidur saja." Kobayashi meninggalkan Iwabe, tanpa menoleh.
Iwabe makin bingung. Ia makin tak berani bicara kalau ia sebenarnya ingin berhenti bekerja dari Kobayashi.
Karena tak ada yang dikerjakannya, sehabis makan malam, ia menonton televisi di ruang tengah. Ia sengaja nonton di sana agar bisa sewaktu-waktu mengecek keadaan Kobayashi, tapi karena saking asyiknya menonton televisi ia malah lupa hingga tiba-tiba pria itu datang menghampiri. "Lho, Pak. Bapak butuh apa?" Iwabe berdiri dari duduknya karena terkejut.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menonton bersamamu." Kobayashi mendekat dan duduk di sampingnya.
Iwabe kembali duduk dan menonton.
"Kau menonton apa?"
Iwabe menoleh. Padahal sudah jelas apa yang di tontonnya. "Olahraga basket."
"Coba kau ganti."
Iwabe mengambil remote televisi. "Bapak mau nonton apa?"
"Berita."
__ADS_1
Iwabe lalu mencarikan. Mereka kemudian menonton siaran berita.
"Ganti saja."
Kembali Iwabe menoleh sambil mengambil remote televisi. "Apa?"
"Cari saja."
Iwabe kemudian mencari sambil menunggu reaksinya, tapi ia terus saja minta ganti hingga di penghujung channel siaran. "Sudah terakhir, Pak," jawab Iwabe dengan sabar.
Kobayashi terdiam sejenak. Iwabe menunggu.
"Bagaimana kalau kita ke bioskop?" Kobayashi menoleh pada Iwabe.
Iwabe menoleh dengan membulatkan matanya. "Bioskop? Ini sudah malam."
"Kenapa orang muda boleh, aku tidak?"
"Eh, bukan begitu ...."
"Aku ingin menonton di bioskop dan kamu harus menemaniku."
"Tapi Bapak 'kan lagi kurang sehat, jadi ...."
"Apa kau mau menemaniku besok siang?"
Iwabe kemudian berpikir tentang janjinya pada Ibu, tapi kemudian. "Ya sudah."
"Aku mau sekarang."
"Eh?" Pria keras kepala ini! Kenapa kehidupan sehari-harinya tak jauh beda dengan saat bekerja dengannya? "Tapi harus pesan dulu dari sekarang secara online, Pak. Kalau tidak, bisa kehabisan tiket. Itu pun mungkin dapat yang midnight(tengah malam)"
"Lakukan saja."
Iwabe terpaksa memeriksa lewat HP-nya.
"Aku mau nonton film perang."
Iwabe melirik pria itu tapi tetap saja mencarikan. "Adanya film super hero Amerika."
"Iya. Itu cukup bagus."
Kemudian Iwabe memesannya. Mereka lalu pergi ke bioskop di sebuah Mall. Ternyata hanya di area bioskop saja, sangat ramai pengunjung malam itu. Tentu saja, karena itu malam Minggu. Banyak pasangan yang datang ke sana.
Iwabe membeli tiket dan makanan.
"Aku tidak suka soda, orange juice saja."
Iwabe kemudian membeli minuman dan popcorn. Sesudahnya, mereka mengantri ke dalam ruang nonton bioskop.
__ADS_1
Dari sejak datang, Kobayashi memperhatikan semua sudut ruangan. Ia sering melewati bioskop tanpa pernah memasukinya. Bukan tidak pernah, tapi itu sudah lama sekali.
Bertemu dengan Iwabe, sesuatu yang di luar ekspetasi. Ia tidak pernah mengira Iwabe melamar pekerjaan di tempat partner bisnisnya, dan setelahnya ia menyadari sesuatu. Ia telah banyak kehilangan. Kehilangan kesempatan mengenal dan masuk ke dalam kehidupan anaknya.