Kamulah Alasan

Kamulah Alasan
Terganggu


__ADS_3

Iwabe menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Menyebalkan. Kenapa di usiaku sekarang ini, ibu masih saja mengaturku? Tidak bisakah aku berdiri sendiri seumur hidupku? Ia kemudian menghubungi Nasti. "Halo."


"Iwabe, kau dari mana saja?" Nasti memberondong pria itu dengan pertanyaan.


"Aku sakit, Nasti. Sekarang ada di rumah. Tengok aku dong, Sayang," ucap pria itu manja.


"Sakit? Di rumah? Aku bagaimana caranya ke situ?" keluh wanita itu.


"Ya pakai mobil dong, Sayang."


"Bukan itu masalahnya. 'Kan ibumu tidak ke kantor. Pasti ada di rumah 'kan? Pasti dia juga tidak izinkan aku menjengukmu," terang wanita itu lagi.


"Mmh ... ingin rasanya aku kabur sebentar keluar ingin bertemu denganmu. Ibu terlalu berlebihan dan aku pengap berada di sini." Kini Iwabe yang mengeluh.


"Ada apa lagi?" Nasti mulai mendengarkan sehingga memalingkan wajahnya dari layar laptop dengan duduk miring ke samping dengan kursi putarnya.


"Aku sebenarnya kemarin pingsan di tempat Pak Kobayashi hingga tadi pagi baru sadar."


"Apa? Ka-kamu kenapa, Iwabe?" Nasti langsung gagap dan panik. "Kamu sakit apa?"


"Aku pun tidak tahu. Yang aku tahu ketika bangun, kepalaku pusing dan susah berdiri. Baru agak siang aku bisa pulang dan ibu marah-marah. Ibu tidak izinkan aku bekerja lagi dengan Pak Kobayashi. Padahal kemarin Ibu bilang akan kasih waktu seminggu, tapi sekarang berubah lagi. Aku harus ngomong apa sama Pak Kobayashi kalau begini? Nanti dianggap aku lepas tanggung jawab lagi. Padahal tidak begitu.


Dia juga keras kepala. Aku carikan dia kandidat tapi malah santai-santai aja, gak mau interview jadi aku bingung harus bagaimana."


"Siapa? Pak Kobayashi? Mmh, mungkin karena dia nyaman denganmu."


"Terus, aku harus bilang apa pada Pak Kobayashi?"


"Mmh, apa adanya saja, toh ini memang permintaan orang tua, bukan pilihanmu. Perkara Pak Kobayashi percaya atau tidak itu terserah Pak Kobayashi saja, kamu tak usah pusing dengan penilaiannya."


"Mmh, begitu ya?"


"Kamu 'kan berusaha jujur, apa lagi?"


"Iya sih."


"Ya sudah, selamat istirahat ya, Sayang. Pasti nanti kita ketemu lagi di kantor. Ngak papa 'kan aku gak nengok kamu hari ini?"


Iwabe tersenyum lebar. "Iya, gak papa. Maaf mengganggumu."


"Gak papa."


Iwabe menutup teleponnya. Dalam banyak hal pria itu selalu mendiskusikan setiap gerak langkahnya pada Nasti. Bukan saja karena Nasti lebih pengalaman, tapi juga agar apa yang dilakukannya tidak berseberangan dengan keinginan wanita itu. Ia benar-benar menjaga perasaan wanita itu, lebih dari apapun.

__ADS_1


Iwabe kemudian menghubungi Kobayashi.


------------+++-----------


Kobayashi masih terdiam di dalam kamarnya mengenggam handphone. Satu tangan lainnya terkepal erat. Wajahnya terlihat dingin seketika dengan berkecamuk pikiran di dalam kepala. Ia sudah mengangkat handphone itu ke atas hendak membantingnya, tapi tiba-tiba urung.


Sebuah kepastian terlintas di kepala, hingga ia duduk di tepian tempat tidur. Ia menghubungi seseorang. Ia memerintahkan seseorang dalam bahasa Jepang dengan beberapa kalimat saja. "... wakatta?(mengerti?)"


"Haik!(baik!)" Pria di ujung sana kemudian mematikan handphone-nya. Ia tersenyum senang. "Saigoka? Yos, kaero!(Terakhir ya? Yah, kita pulang!)" ucapnya pada para anak buah.


Beberapa pria yang duduk satu meja dengannya bersorak.


"Kampai!(Tos!)" Salah seorang dari mereka menaikan gelas birnya diikuti yang lain.


"Kampai!" Pria itu menaikkan gelas birnya juga dan menyenggol gelas bir yang lain.


Yang lain tertawa dan meminum bir mereka di gelas besar bersama-sama.


Pria itu terlihat sumringah. Ia mengambil tongkatnya yang ia letakkan di samping kursi. Sekali hentakkan, tongkat itu meninggi. Ia terlihat bangga menatap tongkat di tangannya itu.


----------+++---------


Esoknya, Iwabe mulai masuk kerja di perusahaan keluarga.


"Terlalu rumit, Bu. Aku lebih suka yang seperti ini saja, cukup."


"Ok, pagi ini kau antar Faza ke pasar ikan. Dia ada yang mau dibeli sebagai bahan percobaan."


"Kenapa tidak dengan Refan?"


Ibu memberi pandangan mata menghujam.


"Iya." Iwabe melangkah keluar ruangan dengan enggan. Ia mendatangi Faza di pabrik. Wanita bercadar itu tengah ada di ruangannya.


"Mengantarku? Aku pikir aku akan pergi dengan supir." Faza keheranan.


"Ya, mungkin supirnya sudah terpakai semua. Kamu mau gak, pergi denganku?" tanya Iwabe setengah hati.


"Oh, ya sudah."


Mereka pun naik mobil Iwabe. "Apa tidak terlampau mewah naik mobil ini ke pasar ikan?"


"Adanya cuma ini. Kita nanti ke pasar ikan yang bagus saja, yang mirip supermarket."

__ADS_1


"Memangnya ada?"


"Ada," jawab Iwabe tanpa menoleh.


Faza bisa merasakan, pria itu terpaksa menemaninya tapi ia tak melepas kesempatan itu. Walaupun Iwabe sudah punya kekasih, mungkin saja mereka tak berjodoh mengingat orang tua pria itu tak merestui dan pilihan jatuh padanya. Lagipula, ia tak bisa menampik pesona pria Jepang yang seagama dengannya ini.


Terjebak macet di dalam tol membuat Iwabe hanya bisa duduk diam.


Faza mengajaknya bicara. "Kata ibu Maiko, kamu lulusan Oxford ya?"


Pria itu melihat sekilas pada Faza. "Oh, iya, tapi hanya ambil S1 saja."


"Kenapa? Kamu ngak mau meneruskan?"


"Mau, tapi tidak dengan Ibu. Ibu nekat mau beli rumah dekat kampus kalau aku tetap meneruskan kuliah dan dia akan tinggal di sana menungguiku kuliah."


Faza tertawa. "Masa sih?"


"Iya."


"Aku saja yang perempuan tidak pernah ditunggui ibu kuliah, sampai ambil gelar S3."


"Apa kau punya saudara lain?"


"Oh, iya. Aku punya 3 saudara laki-laki di atasku. Kini mereka sudah menikah semua."


"Hebat ibumu. Kamu padahal anak perempuan satu-satunya tapi bisa melepasmu dan memberi kepercayaan. Apalagi kamu anak paling kecil. Biasanya manja dengan orang tua tapi sepertinya kamu tidak terlihat seperti itu," sahut pria itu.


Faza hanya tertawa. "Tiap rumah beda-beda cara mendidiknya, Abe. Di rumahku, semua sama. Tidak ada laki-laki, perempuan, selalu diberi tugas dan tanggung jawab yang sama. Jadi kami mandiri dari kecil."


"Kenapa ibuku tidak mencontoh ibumu ya? Padahal mereka berteman," sesal pria itu.


"Mungkin karena kau anak satu-satunya, Abe. Bila apa yang diterapkan padamu tidak sesuai, mungkin hancur semua cita-citanya."


"Aku bukan ibuku. Aku adalah orang berbeda. Kenapa ibuku tidak bisa lihat itu?"


"Ya, kamu harus menyadarkannya pelan-pelan."


Iwabe menatap wanita itu. "Kau tidak seperti penampilanmu. Kau lebih dewasa dari umurmu padahal aku lebih tua darimu. Apa semua wanita begitu ya? Lebih dewasa dari umurnya."


Dipuji begitu, pipi Faza merah merona tapi Iwabe tak bisa melihatnya karena wanita itu memakai cadar.


"Nasti juga begitu, karena itu aku selalu mendengarkan nasehatnya."

__ADS_1


Pacarnya lagi. Apa sebenarnya kehebatan pacarnya yang tidak aku punya? Padahal aku yakin, pendidikanku paling tinggi di dalam perusahaan itu dan juga pasti paling cantik hanya Iwabe belum melihat saja. Suatu saat akan kutampakkan wajahku agar ia berpikir ulang tentang kekasihnya itu.


__ADS_2